Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 114


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Bisa kita bicara?"


Suara berat seorang pria mengagetkan Diana yang sedang berdiri di samping mobil milik majikannya, nyonya Hanna.


Diana yang menoleh langsung mengernyitkan dahinya karna tentu ia tak mengenal sosok pria tampan dan tinggi dengan stelan jas merah maroonnya yang terlihat lebih gagah.


"Bicara? anda siapa?" tanya Diana saat keduanya saling berdiri berhadapan.


"Saya Reza, orangtua dari anak yang sudah beberapa hari ini mendapat kan kotak makan dari anda" sahut si pria tersebut dengan nada tegas penuh penekanan.


Diana yang kaget tentu di buat salah tingkah, ia yang ingin pergi langsung di cekal oleh Reza dengan cepat sampai harus merintih karna menahan sakit.


"Maaf kita tak saling mengenal, mungkin anda juga salah orang" seru Diana masih mencoba menghindar.


"Saya tak mungkin salah, Anda Diana, kan?" tanya Reza dengan senyum menyeringai.


"Ada yang saya bicara kan, saya harap kamu mau ikut dengan saya" pinta Reza lagi sedikit memaksa karna terbukti jika Diana kini sudah ada dalam mobil mewah milik Reza.


.


.

__ADS_1


.


.


"Maaf, mungkin kamu tak nyaman dengan sikap saya yang datang tiba-tiba seperti ini" ucap Reza mengawali obrolan mereka di sebuah salah satu restaurant dekat sekolah Langit dan Keynara.


"Hem, aku hanya menganggap kita tak saling mengenal saja"


Reza tersenyum simpul sambil berdehem kecil sebelum ia melanjutkan niatnya ingin berbicara berdua dengan Diana.


"Kalau begitu saya akan memperkenalkan diri lebih dulu padamu, bagaimana?" tanyanya yang di Jawab anggukan kepala oleh Diana.


"Saya Reza Rahadian Wijaya, orangtua angkat dari Langit"


Detak jantung Diana bagai berhenti begitu saja saat tahu siapa pria yang di depannya itu yang mengatakan jika ia adalah orangtua angkat, berarti besar kemungkinan jika Langit yang dimaksud memang benar putranya.


"Langit, Langit mu pasti itu adalah Langit ku, kan?"


Reza hanya mengangguk pelan, wajahnya tak menyiratkan ekspresi apapun membuat Diana ragu untuk bertanya lebih lanjut.


"Dia putramu yang di temukan istriku enam tahun lalu, kami menyayanginya sama seperti kami menyayangi anak-anak kandung kami. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan pintar juga penyayang. Terima kasih sudah melahirkan sosok Langit untuk kami"


"Kami?" tanya Diana tak paham dengan alis saling bertautan.

__ADS_1


"Ya, saya sudah resmi mengangkatnya sebagian anak, terbukti jika kini ia memakai nama keluarga besar saya yaitu Rahardian Wijaya" tegas Reza lagi, kini ia akan bersikap egois tak perduli wanita di hadapannya kini sudah menitikan air mata.


"Dia anakku, meski secara hukum itu anak kalian! tapi Langit lahir dari rahimku, Tuan" ucap Diana di sela isak tangisnya sambil meremat kain baju bagian dadanya.


"Ya, saya tahu itu. Tapi saya mohon maaf karna saya tak akan menyerahkan Langit begitu saja. Nyawanya bisa terancam jika ikut denganmu"


"Nyawanya kenapa? apa ada masalah?" tanya Diana penasaran.


"Suami mu yang di hukum hanya lima belas tahun penjara tentu membuat beberapa musuhnya masih mengincar nyawa orang-orang di sekelilingnya. Saya harap kamu paham. Jika ingin putramu selamat, izinkan ia tetap ikut saya, bagaimana?" tawar Reza mulai menegosiasi.


"Adam!" lirih Diana, pria yang kini tak tahu kabarnya itu semakin membuat Diana menangis pedih. Ia rindu suaminya yang selalu memberi rasa aman dan nyaman untuknya.


"Selama itu ia di hukum?" tanya Diana. Karna yang ia tahu Adam hanya di penjara tapi tak pernah tahu hukuman apa yang di Terimanya.


"Ya, lebih baik dari pada hukuman seumur hidup atau hukuman mati" sahut Reza berkata dengan jujur apa yang ia tahu, semenjak Langit bercerita tentang kentang goreng yang sering di dapatnya tentu Reza tak tinggal diam, ia yang tadinya tak berniat mencari tahu tentang Langit atas permintaan Melisa akhirnya di buat penasaran dan bertindak dengan cepat.


Dan betapa terkejutnya ia saat tahu siapa Langit yang sebenarnya.


.


.


.

__ADS_1


Ini kartu nama saya, simpan dan hubungi saya jika ada sesuatu yang mengancam keselamatanmu.


__ADS_2