Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 93


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dua hari berselang, akhirnya keturunan Biantara lahir kedua satu hati lebih awal dari perkiraan dokter. Jangan tanya bagaimana paniknya Adam saat itu karna ia tak melangkah satu jengkal pun dari sisi Ayunda.


Gadis itu kini tak hanya sebagai istri tapi juga sebagai pemilik Surga putranya.


"Terima kasih sudah berjuang demi anakku" bisik Adam yang kemudian menciun kening Ayunda, ia benar-benar terharu bisa menyaksikan sendiri bagaimana proses lahirnya sang buah hati mereka ke dunia.


"Terima kasih juga sudah menemaniku, kamu tepati semua janjimu, Sayang" balas Ayunda dengan wajah pucat yang sudah banjir keringat.


Ayunda yang sudah tidak memiliki siapapun tentu hanya Adam dan kedua orangtuanya saja yang menemani selama di rumah sakit, hal itu lah yang membuat Adam tak pernah berniat melepaskan sang istri karna adanya rasa kasihan, belum lagi peran Tuan Jammy yang begitu berarti di saat ia berada di titik terendah sampai akhirnya bisa bangkit lagi membahagiakan Diana.


Mama dan papa secara bergantian menggendong cucu mereka, gurat bahagia jelas terpancar dari wajah pasang baya itu, satu alasan sederhana yang harus membuat Adam lagi dan lagi harus mengalah dan menekan egonya adalah demi kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya.


*****


Hari ketiga akhirnya Ayunda pulang bersama seorang bayi laki-laki berwajah tampan dalam gendongannya.


Kamarnya kini sudah di ubah sedemikian rupa, banyak pernak pernik berwarna biru dah putih khas Baby boy.

__ADS_1


"Suka?" tanya Adam pada istrinya, Ayunda hanya mengangguk senang karna ia tak tahu sama sekali dengan perubahan kamarnya.


"Apapun yang kamu lakukan, aku akan suka" jawab Ayunda sambil meletakkan bayinya kedalam box tepat di sisi tempat tidurnya yang berada di tengah kamar yang luas.


Mama yang tadi ikut masuk pun akhirnya keluar, ia membiarkan anak dan menantunya itu memiliki waktu sendiri bersama anak mereka karna tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Adam dan Ayunda, keduanya begitu pandai berakting menjadi pasangan yang menunjukkan kasih sayang. Hal itu selalu di manfaatkan Ayunda untuk bebas memeluk dan mencium suaminya, sebab hanya di hadapan orang lain lah Adam bersikap begitu manis padannya.


"Kamu mau beri nama siapa anak kita?" tanya Ayunda saat Adan duduk di sofa single dengan ponsel di tangannya.


Mark Marcelino Biantara


Ayunda tersenyum kecil, ia bahagia saat nama belakang suaminya tersemat di nama putra pertamanya itu, Adam benar-benar mengakui hasil keringat satu malam mereka yang tak pernah terulang lagi sampai detik ini.


"Suka tak suka kamu harus suka" tegas Adam sambil bangun dari duduk lalu mendekat kearah istrinya.


"Aku pergi dulu, mungkin malam nanti baru datang lagi. Istirahat yang cukup karna kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri" pesan Adam setelah mencium kening Ayunda dan juga putranya.


Pria tinggi tampan itu keluar dari kamar tanpa menoleh lagi, Ayunda hanya bisa membuang napas kasar karna ia tahu akan kemana suaminya pulang.


Diana yang sudah tiga hari berada di ibu kota tentu tak membuang waktunya, ia bertemu dengan Amel dan menghabiskan harinya itu dengan satu satunya sahabat yang ia miliki sampai akhirnya Adam merasa bosan menunggunya pulang ke hotel.

__ADS_1


"Jangan bodoh, Dee" cetus Amel sambil memegang tangan Diana, gadis cantik yang kini beranjak dewasa itu nampak lebih manis dengan rambut sepinggangnya.


"Aku bosan di sebut bodoh" cibirnya yang lalu terkekeh.


"Lalu sebutan apalagi yang pantas untukmu? apa ada orang yang lebih bodoh dari mu yang terus mengharapkan suami orang meski kalian saling mencintai?"


"Aku hanya mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku dari awal, dia yang sudah masuk tanpa permisi kedalam hubungan kami, lalu salahku dimana?" Diana balik bertanya pada Amel yang duduk di hadapannya.


Diana bagai buah simalakama, tak ada yang menguntungkan baginya. Hanya bisa melanjutkan jalan yang sudah terlanjur ia pijak selama ini. Ia akan terus maju meski begitu banyak persimpangan yang ia temukan.


"Dia cinta pertamaku, cinta yang harusnya ku berikan pada sosok ayah yang tak kudapatkan, Aku aman dan nyaman saat bersamanya. Selagi di matanya hanya aku, aku tak akan menuntut apapun dari dia yang kini sah sebagai suami dari seorang perempuan lain. Aku masih memiliki hatinya secara utuh meski waktu dan raganya aku harus rela terbagi."


"Apa dia adil?" tanya Amel penasaran.


"Tak ada yang bisa berbuat Adil kecuali Tuhan, Adil bukan harus sama rata tapi adil siapa yang lebih membutuhkan dialah yang akan dapat lebih banyak. Jika kali ini waktunya lebih banyak kesana aku cukup paham karna anak istrinya lebih butuh dia dibanding aku yang sendiri. Itu versi adil menurutku, lalu bagaiamana versi adilmu?"


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Noh ada yang bisa jawab gak?? 🤣🤣🤣

__ADS_1


Komennya yuk ramein tapi sopan ya 🤗🤗🤗


__ADS_2