
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Diana yang baru saja menginjakkan kaki di ibu kota langsung dibawa Adam ke salah satu hotel mewah, Diana sempat menarik tangan kekasihnya itu saat sampai di depan pintu.
"Kenapa?" tanya Adam.
"Ngapain kesini?" bukan menjawab, gadis cantik berambut sepinggang itu malah balik bertanya.
"Istirahat, emang kamu gak capek?"
Diana dengan cepat menggelengkan kepalanya, matanya sendi seakan memohon untuk tak masuk kedalam sana.
"Aku udah janji sama Amel, apa bisa aku bertemu dengannya sekarang?" pinta Diana belum melepas genggaman tangannya.
"Jangan sekarang, setidaknya kamu istirahat dulu" tegas Adam sambil menarik tangan Diana untuk masuk kedalam kamar hotel.
Jika dulu Diana selalu takjub dengan kemewahan, tapi tidak untuk dua tahun belakangan ini. Ia selalu di manjakan dengan berbagai barang mahal meski sebenarnya tak pernah berfungsi, Diana yang di kurung dalam rumah hanya bisa pergi saat Adam datang.
Adam mendudukkan gadis kesayangannya itu di tepi ranjang besar, ia berjongkok sambil menciumi tangan Diana dengan begitu lembut.
"Aku pergi sebentar, tunggu sampai aku pulang ya"
"Kemana? aku ikut." ucapnya seraya bangun dari duduk sampai Adam bangkit juga dari jongkok nya.
"Hanya sebentar, aku janji akan pulang dalam dua jam."
Diana melipat tangannya di dada, gadis berumur dua puluh tahun itu membuang napas kasar saking kesalnya, ia datang ke kota bukan untuk di kurung lagi dan lagi.
"Apa aku tugasku hanya menunggumu? menunggu orang yang teramat ku cintai datang."
Adam yang merasa serba salah langsung meraih tubuh Kekasihnya untuk dibawa kedalam dekapannya.
"Maaf, tunggu semuanya selesai. Setidaknya sampai aku lulus kuliah, aku hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu"
__ADS_1
Diana yang tahu jika Adam memang dari keluarga terpandang dan kaya raya memang tak pernah menaruh curiga sedikitpun, Adam juga tak pernah bercerita tentang bagaimana ia yang diperlakukan tak adil oleh kedua orang tuanya, semua luka hatinya Adam simpan sendiri tanpa ada yang tahu.
"Aku pergi ya, maaf karna aku akan menguncimu dari luar"
Diana hanya mengangguk paham, ini bukan yang pertama baginya menunggu tanpa bisa keluar sama sekali karna jangankan di hotel di rumahnya sendiri pun Diana tak pernah menginjakkan kakinya sendiri di luar pagar.
"Pergi dan datanglah sesuka hatimu, Dam"
Adam mencium kening dan kedua pipi Diana dengan lembut tak lupa juga ia me lu mat sebentar bibir ranum kekasih hatinya itu.
"Aku mencintaimu, Dee"
******
Adam pergi dengan membawa kunci kamar hotel, sebelum ia ke markas untuk mengambil barang yang akan ia antar Adam akan lebih dulu pulang kerumah.
Tiga hari ini ia belum menginjak kan kakinya di kediaman Biantara tapi tak ada satu pesan pun dari orangtuanya yang menanyakan keberadaannya selama tak pulang dan itu tentu semakin menambah luka hatinya.
Supir kini melanjukan mobil mewahnya menuju kos an Akram karna disanalah motor besarnya berada.
Tok.. tok.. tok...
"Kram, gue nih" teriak Adam dari luar pintu.
"Ya, tunggu" sahut pria berotak cerdas itu dari dalam
Cek lek
"lama amat" cetus Adam sambil melengos masuk kedalam kos'an Akram.
"Lo gak liat gue masih pake anduk, berarti lagi mandi" jawab Akram kesal.
"Gue mau pulang, kunci motor mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan.
__ADS_1
"Tuh di gantung di tempat biasa"
Adam berjalan ke arah samping lemari, ada kotak kecil diatasnya yang berfungi menaruh barang-barang penting.
"Gue balik ya" Pamitnya kemudian yang di jawab anggukan kepala oleh Akram.
"Tiati lo"
Adam keluar dari kos'an Akram menuju motornya yang terparkir di dekat gerbang kos, ia membuka jok motornya lebih dulu untuk mengambil sesuatu yang tersimpan disana.
Kini sebuah seragam berwarna merah bertuliskan salah satu perusahaan jasa kirim barang telah melekat di tubuh tingginya yang sempurna.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kang paket otewe!
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁