
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Adam yang sedang menimang cucu laki lakinya seakan tak ingin melepaskan Awan, bayi itu terus di dekapnya penuh kasih sayang. Ia ingat bagaiamana dulu Mark dan Langit saat balita, meski ia begitu sibuk tapi masih berusaha untuk datang dan bermain bersama walau hanya beberapa jam lamanya.
Di ciuminya wajah tampan yang sekilas mirip dengannya itu dengan Lembut sampai Diana yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa tersenyum simpul. Masa muda mereka seakan berputar kembali di otaknya.
"Pih, Awan tidur gak?" tanya Diana yang berjalan mendekati suaminya.
"Sedikit lagi, kamu jangan berisik, Dee"
Cup.
Diana mencium pipi sang Mafia dengan sangat gemas, semakin tua ternyata cintanya semakin luar biasa. Mereka yang kini saling bergantung satu sama lain seakan trauma dengan perpisahan.
Dimana ada Adam, disitulah kini Diana berada tepat di sampingnya bukan lagi bersembunyi di balik punggungnya.
"Udah nyenyak, biar aku kasih ke Cahaya. Biar kalo bangun bisa langsung di susui" pinta Diana sambil meraih tubuh mungil cucu pertama mereka yang lahir dua menit sebelum Senja.
"Tapi belum puas gendong, aku masih kangen, Bee" tolak Adam sedikit memelas sedih. Ia yang dua hari ini berangkat pagi dan pulang larut malam memang tak banyak waktu bersama kedua cucunya kecuali mencium mereka secara bergantian.
"Nanti kalau bangun, aku kasihin lagi ke kamu. Biarin sekarang Awan sama Mimihnya dulu" ucap Diana.
Dia yang tak pernah merasakan hangatnya memiliki ibu mertua tentu akan memberikan yang terbaik untuk sang menantu. Terlebih ibu Cahaya sudah mengurus Langit dengan sangat baik selama lebih dari dua puluh tahun, anggaplah ini bentuk balas budinya dengan cara memperlakukan Cahaya penuh kasih sayang dan perhatian. Menganggap si bungsu Rahardian sebagaimana putrinya sendiri.
.
__ADS_1
.
.
Tok.. tok.. tok..
Diana mengetuk pintu kamar anak menantunya dengan sangat pelan, ia tak ingin menganggu Awan dalam gendongannya atau mungkin Senja yang sama sedang terlelap di dalam.
Cek lek
"Mamih, Awan tidur?" tanya Cahaya saat membuka pintu.
"Iya, habis di timang-timang langsung tidur" jawab Diana.
"Mungkin Awan kangen, papih dua hari ini gak gendong kalo mau berangkat ke kantor" Cahaya langsung mengambil alih tubuh mungil putra keduanya dari dekapan sang ibu mertua.
"Iya, barusan banget. Makanya aku sedikit lama bukain pintu pas Mamih ketuk ketuk soalnya susah banget di lepasnya kalo belum nyenyak" jelas Cahaya.
"Iya gak apa-apa, Mamih ngerti kok"
Keduanya berjalan bersama menuju tempat tidur dimana Senja berbaring dengan sangat lelapnya. Bungsu Biantara itu terlihat sangat cantik dengan bandana merah muda di kepalanya.
Cahaya yang duduk di tepi ranjang hanya bisa menghela napas panjang, ia perhatikan dua anaknya yang tertidur berjejer dengan sangat lucu, tapi kegemasan itu pasti buyar saat keduanya bangun secara bersama lalu menangis bersama juga. Untunglah mama dan kakak iparnya senasib dengan dirinya yang kebetulan memiliki si kembar, sedikit banyak Cahaya mengerti dan paham bagaimana mengurus AwanSenja berbarengan termasuk saat keduanya ingin menyusu.
"Cha, itu kado dari siapa?" tanya Diana saat ia melihat ada kotak berukuran sedang ada diatas meja rias sang menantu.
__ADS_1
"Oh, itu dari papih, se malem kasih tapi aku lupa buka. Untung mamih ingetin" ucap Cahaya sambil meraih kotak tersebut.
"Papih kasih hadiah?" tanya Diana memastikan.
"Iya, buat Awan dan Senja"
Diana hanya mengangguk, rasa penasaran menyelimuti hatinya karna sang suami tak bercerita apapun tentang hadiah untuk kedua cucu mereka.
"Aku buka ya, Kira-kira Papih kasih apa" ucap Cahaya antusias yang di balas anggukan kepala oleh ibu mertuanya.
Cahaya membukanya dengan pelan, ia tak ingin sampai merusak isinya yang entah apa karna dari beratnya ini terlalu ringan saat diangkat
.
.
.
Huaaaaa.... ULAR!!!!!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mafia soleh iseng banget 🤣🤣🤣
__ADS_1
Mau di hak paten ya, Bang. Kalo turunan Biantara itu Timun makan PHYTON 🐍🐍🐍🐍