Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 115


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁.


Hari berganti hari bulan pun tentu ikut silih berganti, tak ada yang berubah dalam keseharian Diana yang masih berkerja di kediaman Sanjaya.


Wanita cantik yang masih memiliki rambut panjang hitam sepinggang itu pun tetap memperhatikan Langit dari kejauhan tanpa berani menyapa apalagi memeluk meski ingin.


"Kenapa aku tak melihatnya hari ini?" gumam Diana saat kembali masuk kedalam mobil usai mengantar Keynara sampai Kelasnya.


Langit yang selalu datang hampir di waktu yang sama tentu membuat Diana mudah melihat putranya itu. Tapi hari ini sampai bel masuk nyatanya bocah sembilan tahun itu tak nampak juga batang hidungnya. Bukan hanya Langit yang tak ada tapi si kembarpun seperti sama.


"Kemana mereka? sayangnya Keynara hanya sekedar kenal tapi tak akrab. Ia pasti curiga jika aku sering bertanya soal Langit"


Diana membuang napas kasar, ia yang hari ini begitu kacau karna resah hanya bisa melamun sepanjang perjalanan pulang.


Braaak..


"Aw.." pekik Diana yang keningnya terbentur kursi depan saat mobil yang ia naiki mengerem secara mendadak.


"Ada apa, Pak?"


"Mobilnya di tabrak dari belakang, Mbak" jelas si supir yang turun dari mobil, Diana yang kaget pun ikut turun untuk melihat kondisi kereta besi mewah milik Nyonya Hanna.


"Kok bisa begini? yang nabrak mana?" tanya Diana karna memang ia tak tahu apa-apa.


"Udah kabur tadi, mana saya gak liat nomor polisinya" ujar si supir kesal.

__ADS_1


"Ya udah, yuk buruan pulang. Kita bilang Nyonya"


Keduanya kembali masuk kedalam mobil yang bagian belakangnya sedikit rusak. Ini baru pertama kalinya terjadi jadi mereka belum bisa menebak apa yang akan di lakukan majikannya nanti.


.


.


.


Hal yang di kira Diana hanya sebuah kejadian tanpa sengaja itu pun nyatanya terus terulang, dari kasus ditabrak nya dari belakang, di pepet dari samping hingga puncaknya ia hampir tertabrak oleh sebuah mobil JEEP besar yang lagi lagi tanpa nomer polisi. Diana yang berotak cerdas tentu langsung bisa merangkai kejadian demi kejadian yang menimpanya akhir akhir ini. Dan ia yakin jika ini semua adalah bentuk kesengajaan untuk mencelakakan dirinya.


Tut... tut.. tut...


Hanya nada dering yang di dengar Diana sedari tadi meski sudah berulang kali ia mencoba menghubungi.


"Iya, Hallo, maaf saya habis rapat. Ada apa?" tanya seseorang di sebrang sana yang tak lain adalah Reza, orangtua angkat Langit


"Bisa kita bicara sebentar, ada yang ingin saya ceritakan, Tuan" pinta Diana. Meski jujur jauh di dasar lubuk hatinya ia sangat ragu meminta hal ini pada Reza mengingat jika mereka sama-sama sudah berkeluarga, tapi bukankah pria itu yang dulu menawarkan bantuan jika Diana mulai merasa terancam.


"Besok siang, bagaimana?"


"Baiklah, kita bertemu di tempat yang dulu, Tuan"


Setelah kedunya saling sepakat Diana pun menutup teleponnya. Ini baru pertama kalinya ia menghubungi Reza setelah pertemuan tempo hari. Memang tak pernah ada komunikasi apapun diantara keduanya meski jelas Diana selalu menyimpan kartu nama Ayah angkat Putra semata wayangnya.

__ADS_1


.


.


Hari yang di tunggu pun tiba, kini Diana dan Reza sudah duduk saling berhadapan di jam makan siang tapi tak ada hidangan apapun di atas meja kecuali satu cangkir kopi panas dan juga satu gelas air jeruk peras hangat. Cuaca yang masih mendung usai hujan lebat di pagi hari memang membutuhkan sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh.


Dan tanpa basa basi lagi, Diana langsung menceritakan semua yang terjadi padanya yang hampir saja merenggut nyawa jika saja ia kurang berhati-hati.


"Kamu yakin ini di sengaja?" tanya Reza memastikan semua yang di ungkapkan ibu kandung Langit tersebut.


"Tentu, Tuan. Jika ini hal biasa mana mungkin saya berani mengadukannya pada Tuan. Saya benar-benar takut dalam artian bukan takut saya yang celaka tapi saya takut keluarga majikan saya pun kena imbasnya" tegas Diana yang berharap Reza paham dan mau membatunya kali ini saja.


"Baiklah, saya akan selidiki semuanya lebih dulu, kamu yang tenang dan jangan khawatir" pesan Reza. Kali ini ia cukup lengah untuk tidak terlali memperhatikan Diana.


"Tuan yakin jika semua akan baik-baik saja? jika targetnya masih diriku, aku cukup sadar diri tapi ku mohon untuk tidak menyangkut pautkan keluarga Sanjaya dalam masalahku yang entah ini dengan siapa" kata Diana semakin bingung dan tak ingin menebak.


"Kalau begitu kamu harus ikut perintah ku agar semua ini tak melebar kemana-mana" tawar Reza dengan raut wajah cukup serius.


"Caranya?" tanya Diana.


.


.


.

__ADS_1


.


Berhenti bekerja lalu ikut denganku, dan akan ku pastikan tak ada satu orangpun yang akan berani menyentuhmu.


__ADS_2