Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 103


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dua tahun berselang, akhirnya garis dua pada sebuah alat tes kehamilan bisa pasangan siri itu dapatkan. Diana hamil dua minggu setelah melakukan pemeriksaan di rumah sakit, sungguh perjuangan yang luar biasa bagi keduanya menanti sang buah hati.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan Adam sekarang, jika ia bisa mungkin hal yang ingin ia lakukan adalah memeluk dunia untuk mengucap rasa syukur.


"Jaga anakku, jangan lakukan banyak hal yang membuatmu lelah, paham!" pesan Adam pada istri sirinya itu.


Diana benar-benar di jaga ketat oleh orang orang yang berada di apartemen, Adam pun lebih banyak meluangkan waktu dengan Diana meski gadis itu sering kali menolak, ia masih cukup tahu diri dan terus meminta suaminya itu memperhatikan anak istrinya yang lain juga.


Trimester pertama Diana melewati masa hamilnya seperti ibu muda yang lain, mual dan pusing tak terlewat satu hari pun sampai Adam sering menangis karna tak tega saat istri mudanya itu enggan makan karna biasanya pasti akan di muntah kan kembali.


Semua mereka lalui bersama meski Adam juga harus tetap membagi waktu dan raga tapi tidak dengan cintanya, semua tetep sama karna hatinya sudah penuh dengan satu nama.


Trimester kedua semua sedikit kembali normal, makanan apapun bisa masuk ke dalam perut si calon ibu meski harus dengan sabar dan tenang, Diana baru bisa menikmati apa apa yang di makan saat benar-benar ingin, Adam ataupun Eyang tak bisa lagi memaksa karna Diana akan berkata.

__ADS_1


Bukan aku yang nolak, tapi Baby nya yang mau makan...


Dan ini adalah trimester terakhir, menurut pemeriksaan dokter bayi mereka akan lahir dua minggu mendatang, rasa yang tak bisa Adam ungkapkan meski ini bukan yang pertama tapi jelas rasanya beda. Jika Adam dulu mengantar Ayunda itu jelas karna tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah dari bayi yang ia kandung, tapi sembilan bulan terakhir ini Adam melakukannya dengan penuh cinta dan harapan.


Ia berharap anak keduanya ini bisa lahir selamat dan sukses di masa mendatang, setidaknya buah hatinya bersama Diana tak ada ada darah MAFIA yang sesungguhnya berbeda dengan si sulung Mark.


"Sayang, berat banget" keluh Diana saat ingin bangun dari sofa depan tv ruang tengah.


Adam yang terkekeh tentu langsung mengulurkan tangan kanannya, wajah tampannya semakin dewasa aura kebapak annya sungguh jelas terlihat.


"Mau apa lagi, ke kamar atau ke dapur?" tanya Adam, ia a


selalu siap menuntun Diana yang kini kakinya membengkak.


"Aku mau ke kamar, pengen pipis" bisiknya malu karna ada Reno yang baru saja datang.

__ADS_1


Diana tak pernah banyak bertanya, entah itu tentang pekerjaan sang suami ataupun hubungannya dengan Ayunda, yang Diana tahu Adam memenuhi nafkah lahir bathinnya lebih sari cukup selama ini.


"Aku antar"


"Gak usah, selesaikan saja urusan kalian. Aku bisa Sendiri" tolak Diana, dari raut wajah Reno ia sudah bisa menebak jika ada yang ingin pria itu bicarakan dengan serius dan penting.


"Baiklah, hati hati ya" pesan Adam, ia terus memperhatikan langkah istrinya sampai hilang di balik pintu kamar mereka.


Diana yang memang akhir-akhir ini lebih sering buang air kecil harus rela bolak balik kamar mandi meski Adam telah memintanya memakai diapers karna takut istrinya itu lelah.


.


.


.

__ADS_1


Loh, aku ngompol ya?


__ADS_2