Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 88


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


BRAAAAKKK...


Papa melempar beberapa berkas hasil tes DNA yang dilakukan Adam di usia kehamilan istrinya yang menginjak empat bulan. Pria baya itu begitu geram dan kesal dengan tingkah putra keduanya yang menurutnya tak masuk akal.


"Kamu meragukannya, kenapa?" tanya papa dengan sangat serius ketika keduanya itu duduk berhadapan di ruang kerja Tuan Biantara.


"Jawab, Adam!" sentak papa lagi saat di rasa anaknya itu enggan membuka suara.


"Aku hanya tak yakin, aku hanya melakukannya sekali kenapa bisa hamil" jelasnya sedikit menaikan nada bicaranya.


"Sekali?"


Adam mengangguk kan kepalanya yakin, meski ia ragu kalau papanya itu akan percaya dengan ucapannya.


"Ayunda anak baik, apa setega itu kamu mencurigainya? coba lihat kakakmu, dia...."


"Cukup, Pah! Kali ini tolong berhenti membandingkan kami karna aku dan dia tak akan pernah sama" teriak Adam kesal, ia kembali membangkang seperi biasanya jika papanya sudah menyebut nama sang kakak sebagai perbadingan.


Adam yang bangun dari duduk langsung keluar tanpa menoleh lagi, bahkan ia membanting pintu dengan sangat keras sampai membuat Ayunda yang berada di dekat tangga terlonjak kaget.

__ADS_1


"Jaga anakku! aku tak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu padanya, Paham!" ancamnya pada sang istri lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju pintu utama.


*******


Penantian dan kerja keras Adam dalam menuntut ilmu akhirnya berakhir, hari ini adalah hari wisudanya. Satu hal yang membuat ia bangga adalah hadirnya keluarga Biantara termasuk Ayunda, meski ia tak mendapat nilai yang terbaik tapi setidaknya ia lulus tepat waktu dengan nilai yang lumayan memuaskan.


"Kita rayakan kelulusanmu dengan makan malam bersama" ucap mama sambil mengelus lengan anak keduanya itu.


"Lain kali saja, Mah. Aku ada urusan mendadak" sahutnya yang memang terlihat sangat buru buru sekali.


"Mau kemana?" tanya Ayunda, ia yang memang menaruh curiga tetapi tak bisa berbuat banyak.


.


.


.


CEKLEK


Adam yang pulang kerumah Diana tentu di sambut baik oleh kekasihnya yang sudah menunggu dari setengah jam lalu itu.

__ADS_1


"Lama ya?" ucap Adam sambil memeluk tubuh langsing pemilik hatinya yang kian hari kian dewasa dan semakin cantik.


"Lumayan, sayang"


Adam yang melihat Diana sudah rapih langsung menggandenganya menuju mobil, dua hari lalu Adam sudah mengatakan akan membawa gadis cantik itu untuk makan malam romantis berdua di salah satu tempat yang sudah ia sewa. Keinginan dan ajakan Adam tentu langsung di iyakan oleh Diana yang memang sudah lebih dari satu minggu tak berjumpa. Hubungan keduanya selalu baik dan semakin baik walau begitu banyak masalah yang mengguncang hati dan cinta yang seakan tak henti menguji kesabaran juga kesetiaan. Janji yang keduanya pegang memang tak main main untuk bertahan meski ribuan orang meminta mereka saling melepaskan.


Sampai di tempat yang di tuju Adam dan Diana duduk saing berhadapan, senyum tak lepas tersungging di bibir keduanya dengan tangan saling menggenggam. Di iringi dengan suara deburan ombak Adam mulai mengeluarkan sebuah kotak berwana merah dari saku jasnya.


Diana menngernyitkan dahi saat ia sadar benda apa yang kini di pegang oleh kekasihnya itu, Adam mengeluarkan cicin putih bermatakan berlian sembari berkata...


.


.


.


.


.


"Dee, maukah kamu menikah denganku?"

__ADS_1


__ADS_2