
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kedatangan Cahaya di sambut baik oleh orangtuanya. Pasalnya si bungsu tak memberi kabar lebih dulu jika aka pulang. Reza langsung menggendong Awan mumpung cucu pertamanya sudah berangkat ke sekolah. Ia akan leluasa bermain dengan Awan tanpa gangguan sang Tutut.
"Aku pergi kantor dulu, jam makan siang aku akan menelepon mu seperti biasa ya, Sayang" pamit Langit saat ia tinggal berdua saja dengan istrinya di ruang tamu, sebab mertuanya sudah naik ke lantai atas bersama si kembar.
"Hem!" sahut Cahaya hanya berdehem.
"Dek, jangan gitu dong. Ok, abang usahain untuk pulang cepet ya. Kamu jangan diemin Abang begini. Abang gak bisa di gin'in, apalagi gak lihat senyumnya kamu, Abang gak akan tenang di kantor" lirih Langit yang benar-benar frustasi dengan sikap rajukan cahaya hatinya tersebut.
"Ya udah, gak usah kerja!" cetus Cahaya. Meski suaminya tak ke kantor setahun pun tentu tak masalah baginya karna harta yang di turunkan Reza tak akan habis meski ia berbelanja setiap hari.
"Jangan gitu, Abang bukan hanya mencari nafkah tapi juga ini tanggung jawab. Sampai akhir bulan ini jadwal Abang sibuk. Abang mohon pengertianmu ya, Cantik. Awal bulan besok kita jalan jalan, gimana?" tawar Langit masih merayu.
"Aku gak pengen jalan-jalan, karna cukup kita ngobrol berdua kaya gini aja aku udah seneng" tegas Cahaya.
Ya, hidup dengan kemewahan sudah sangat biasa baginya. Ia kini hanya butuh sandaran untuk melepas lelah setelah seharian mengurus Awan dan Senja, tapi apa yang ia harapkan itu harus pupus saat sang suami selalu pulang ketika ia sudah terlelap bersama si kembar.
Kesibukan Langit memang luar biasa, jangankan untuk Cahaya, terkadang untuk dirinya Sendiri pun tak ada. Pria itu memang benar-benar sedang berada di puncak kesuksesan dalam dunia bisnis.
"Ok, Abang akan usahakan malam ini untuk Quality time denganmu" rayu Langit yang tak mendapatkan respon apapun dari Cahaya.
Langit menciumi seluruh wajah istrinya dengan lembut, lalu pergi menuju kantor membawa rasa bersalah luar biasa.
.
.
.
__ADS_1
Cahaya yang merasakan sakit luar biasa di bagian kepala memiliih untuk istirahat di kamarnya. Ia akan membiarkan si kembar bermain lebih lama dengan orang tuanya. Sampai jam makan siang tiba pintu berwarna putih itupun di ketuk oleh sang mama.
Tok... tok... tok...
"Dek, kamu masih tidur?" teriak Melisa.
"Hem, iya mah" sahut si bungsu sambil bergeliat.
Cahaya tak langsung bangun, ia biarkan semua kesadarannya berkumpul lebih dulu beberapa saat.
Cek lek..
"Makan dulu yuk, Sayang" ajak Melisa sambil mengusap pipi anak perempuan satu-satunya.
"Iya, Mah."
"Kamu Sakit? kenapa pucat? atau mama bawakan makanannya kesini aja" tawar Wanita yang sudah melahirkannya ke dunia.
Melisa hanya tersenyum simpul, jadilah dua wanita paling berarti bagi Langit itu berjalan beriringan menuju lantai bawah dimana ruang makan beraada.
"Loh, Senja mana?" tanyanya saat melihat hanya ada Awan di pangkuan Reza.
"Senja di bawa Hujan ke kamarnya, tadi langsung pengen di gendong." jawab Reza.
"Adek susulin ya, kita makan sama-sama"
Kali ini Cahaya kembali ke lantai dua tidak dengan menaiki tangga, melainkan masuk kedalam kotak besi. Lelah rasanya jika harus naik turun dalam satu waktu di tambah perutnya yang sudah terasa lapar.
Tok.. tok.. tok...
__ADS_1
"Kak Hujan...?" panggil Cahaya pada kakak iparnya yang sebenarnya satu tahun lebih muda darinya itu.
"Iya, dek"
Cek lek
"Cari senja ya?" tanyanya langsung sambil tersenyum setelah Sekilas saling berpelukan.
"Iya, mana?"
"Tuh, lagi sama Sam di tempat tidur" jawab Hujan, keduanya masuk dan melangkah menuju ranjang.
"Nja, main sama kak Tutut ya" ledek Cahaya seperti biasa. Sam yang mendengarnya pun langsung merengut kesal sambil melayangkan aksi protesnya.
"Kakak dede, Oey!"
Hujan dan Cahaya pun tertawa bersama.
Senja yang mendengar suara Cahaya, dengan cepat menoleh dan merangkak mendekat.
.
.
.
Mih... atut Ajah...
__ADS_1
Turunan Phyton takut di injek Gajah 🤣
Tuh Gajah sama Phyton ajakin Rujak timun aja coba sekalian sama pepaya gantunnya 😂😂