
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
#Pengantin baru rasa lama
Adam yang mendapatkan lagi mainan barunya tentu lagi senang-senangnya mengulang apa yang telah lama tak ia mainkan.
Diana yang tak sekuat dulu hanya bisa pasrah apapun yang di perbuat suaminya.
"Sayang, cepat mandi. Bersihkan dulu tubuhmu itu" titah Diana yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia yang masih mengenakan baju handuk kimono terus mengguncang bahu polos sang suami.
"Hem, nanti"
Keindahan dunia bagai kembali kedalam genggaman Adam, ia bagai remaja yang baru jatuh cinta karna tak adanya sikap dewasa yang ia tunjukan jika sedang bersama dengan ratunya. Ia selalu merajuk manja dalam dekapan wanita yang kini sudah ia halalkan secara resmi.
Ceklek.
Diana membuka pintu kamar apartemennya berbarengan dengan sang menantu yang juga baru keluar dari dalam kamarnya.
"Pagi sayang" sapa Diana pada Cahaya.
"Pagi, Mih" sahut si bungsu Rahardian yang lalu berhambur memeluk mertuanya.
"Gimana? tidurnya nyenyak gak semalam?"
"Lumayan, tapi sempet bangun karna mual, Jadi aku sama Abang baru tidur subuh tadi" jawab Cahaya, tubuhnya yang memang belum pulih total memang sudah biasa merasakan mual dan pusing mendadak yang kadang tak ingat waktu dan tempat.
"Ya sudah, Mami buatkan teh hangat dulu ya buatmu"
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju dapur, apartemen yang memang tak terlalu besar ini lumayan cukup menampung empat orang yang kini berstatus kan pengantin baru karna mereka hanya menghabiskan waktu di kamar.
"Abang masih gak ke kantor?" tanya Diana sambil menyodorkan satu cangkir teh untuk istri putranya.
"Belum, nanti siang aku sama Abang mau ke apartemennya buat liat renovasi yang masih di kerjain, soalnya besok atau lusa sudah mau di isi" jawab Cahaya sambil mengaduk tehnya.
"Kenapa gak disini lebih lama? temenin Mami"
"Kan ada Papi yang ngekor terus di belakang Mami jadi Mami gak mungkin kesepian" kekeh Cahaya saat meledek mertuanya. Tingkah pasangan yang baru bertememu setelah sekian tahun berpisah itu memang sangat menggemaskan.
"Papih Abang itu udah kaya bayi yang anteng kalo penangkalnya di sumbat" bisik Diana yang malah membuat Cahaya tertawa terbahak-bahak.
Dulu Diana mana berani mengatakan hal itu pada orang lain termasuk eyang tapi kini ia memiliki seseorang untuk bekeluh kesah soal ranjang dengan menantunya. Mereka yang sama-sama memiliki pasangan bucin tingkat dewa tentu bisa bertukar cerita maupun saling bertukar pengalaman.
Obrolan ringan namun yang bisa mengocok perut itupun berhenti saat Langit datang, pria yang masih menjabat sebagai Direktur Utama Rahardian Group itu langsung menarik kursi meja makan dan ikut bergabung.
"Enggak, kita lagi bahas merk shampo yang aman di pakai setiap hari atau mungkin sehari berkali-kali" jawab Cahaya di sela Gelak tawanya.
"Jangan sering-sering keramas, Dek, nanti rambutmu rontok" ucap Langit yang sepertinya belum paham.
"Abang yakin memintaku seperti itu?"
"Tentu, sayang"
Cahaya dan Diana malah terkekeh, keduanya tak bisa menebak antara ia pura pura tak tahu atau memang benar benar tak tahu.
.
__ADS_1
.
.
Sebelum makan siang, Langit dan Cahaya bergegas ke apartemen milik Langit yang memang tak jauh dari kantornya dan juga apartemen Diana.
Keduanya berniat untuk cepat pindah meski Diana sedikit tak mengizinkan.
Wanita itu tentu tak rela karna akan kembali merasa kesepian tapi untuk memberi rasa adil bagi Mami dan Bunanya Langit harus melakukan hal ini.
ia tak mau memihak salah satunya hingga membuat ada yang mengganjal dalam hati dua wanita kesayangannya itu.
"Aku udah hubungin ART buat temenin kamu di apartemen ya, dek" ucap Langit yang masih memutar setir mobilnya.
"Yang nginep?"
"Iya, kan buat temenin kamu. Kalau yang buat beres beres aja sih kayanya belum butuh banget kecuali kita punya Baby" jelas Langit lagi.
"Emang Abang mau aku lahirin anak berapa?"
.
.
.
Lima...
__ADS_1