
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari yang di nanti tiba, pernikahan Langit dan Cahaya akhirnya dilaksanakan hari ini di salah satu masjid milik keluarga Rahardian.
Jangan tanyakan soal perasaan sang calon mempelai laki-lakinya karna sudah bisa di pasti kan pria dewasa itu begitu gemeteran sampai meminta Mami dan Papinya untuk menenangkan.
Hawa panas tapi dingin, Langit rasakan sedari turun dari mobil. Ia bagai tak menapak ke tanah saking tak kuasa menahan debaran jantung yang berdetak ribuan kali lipat. Pantas kah Langit merasakan itu semua? padahal sang calon istri sudah sedari bayi bersamanya.
Didalam masjid, Langit kini duduk berhadapan dengan Reza, keduanya berjabat tangan bukan lagi sebagai ayah dan anak atau sebagai Presiden Direktur dan Direktur Utama melainkan sebagai Calon mertua dan calon menantu yang siap menyerahkan dan juga menerima tanggung jawab.
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Langit Marvelio Biantara bin Adam Biantara dengan putri saya yang bernama Cahaya Rimeza Rahardian Wijaya binti Reza Rahadian Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan satu set perhiasan berlian, di bayar Tunai"
"Saya Terima nikah dan kawinnya Cahaya Rimeza Rahardian Wijaya binti Reza Rahadian Wijaya dengan mas kawin tersebut, TUNAI."
Kalimat ijab Qabul berhasil Langit ucapkan dengan begitu lantang dalam satu tarikan napas, ia yang masih berjabat tangan langsung dengan Reza tentu bisa paham jika pria di depannya kini merasakan hal yang sama dengannya.
Hari ini Reza melepas putri bungsunya, putri kesayangannya yang ia jaga dan ia kasihi lebih dari apapun. Bukan karna Cahaya sakit tapi karna gadis itu begitu cantik dan penurut, mungkin jika bukan Langit jodohnya entah syarat apa yang akan di berikan Tuan besar Rahardian itu untuk calon menantunya.
__ADS_1
.
.
#Makan Malam Di Hotel.
Setelah halal serta resmi menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama dan negara tentu pasangan itu semakin tak bisa lepas, terbukti dengan Langit yang terus menempel sampai Cahaya harus memukul lengan pria yang baru beberapa jam jadi suaminya.
"Abang bisa geser gak?"
"Ya ampun! aku masuk kamar ah, Abang nyebelin"
Cahaya menarik ujung gaunnya dan berjalan cepat menuju kamar pengantinnya. Melihat sang istri pergi tentu itu bagai angin segar bagi Langit. Ia bahkan tak kalah cepat saat menyusul wanita halalnya.
"Dek, Sayang" panggil Langit saat ia membuka pintu kamar.
"Abaaaaaang" teriakan Cahaya dari dalam kamar mandi langsung membuat Langit panik dan mendobrak pintu dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Apa? kamu kenapa? apa kamu terluka? apa ada yang sakit, mana? ayo bilang sama abang!" tanyanya sambil memeriksa seluruh tubuh Cahaya terutama di bagian tangan dan jari jarinya.
"Enggak, aku mau minta tolong bukain pasta gigi, cepet!" titah si bungsu sambil menahan tawa, wajah tampan suaminya tertutup sudah dengan raut khawatir tingkat dewa
"Please dek, jangan teriak kaya gitu lagi, abang lemes banget. Abang takut kamu kenapa kenapa" pintanya seraya menarik pinggang ramping Cahaya.
Terlalu banyaknya kejadian yang menegangkan selama ini membuat Langit masih saja takut, Cahaya yang memang belum sembuh total masih ada kemungkinan hal buruk terjadi padanya sewaktu waktu.
"Maaf, abis Abang maki ganteng kalau panik. Aku suka itu" goda Cahaya yang membuat Langit semakin mengeratkan pelukannya.
.
.
.
"Kamu berani ngerjain Abang? Ok, nanti malem Abang bakal bikin kamu sampe jerit jerit minta ampun!"
__ADS_1