Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 148 S2 CahayaLangit


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Diana yang baru saja membereskan tempat tidur kini tinggal menunggu suaminya selesai membersihkan diri, sudah ada satu stel pakaian kantor yang akan dikenakan Adam pada rapat pagi ini di salah satu hotel ternama ibu kota.


Cek lek


Suara pintu yang terbuka membuyarkan sedikit lamunan wanita yang selalu setia dengan satu hati.


Diana tersenyum saat melihat sandaran jiwanya mendekat dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang.


"Bisa kita bicara?" pinta Diana sambil mangancingkan kemeja putih di tubuh tegap sang suami.


"Ada apa? sepertinya serius"


"Tentu, ini tentang kita, Pih" sambung Diana lagi.


"Kita? apa ada masalah dengan kita, kurasa semua baik-baik saja atau kamu mulai tak merasa nyaman lagi disini?" tanya Adam mulai sedikit panik mengingat keseharian Diana jika siang hanya menemani Ayunda.


"Enggak, Pih. Aku kamu dan dia semua baik. Aku bahagia tapi entah antara kamu dan Langit" ucap Diana membuat Adam bingung. Ia sampai mengernyit kan dahinya tak paham apalagi saat nama sang putra kebanggaannya lolos begitu saja dari mulut sang pemilik hati.


"Langit? ada apa lagi dengan Putraku. Aku baik baik saja dengannya, dua hari lalu aku bahkan makan siang bersamanya di resto depan kantor Rahardian, bukankah aku sudah cerita padamu semalam?" ucap Adam yang belum bisa menebak arah pembicaraan Diana.


"Justru karna semalam kamu bercerita padaku, makanya hari ini sangat gelisah, Pih"

__ADS_1


"Katakan!"


Diana duduk di tepi ranjang yang susah ia bereskan karna sebelumnya terlihat sangat berantakan mengingat semalam ia dan sang suani usai melakukan hal yang menyenangkan lagi dan lagi dimana Phyton besar milik Adam begitu ganas mengobrak-abrik dan menyemburkan lahar panas kedalam cangkang kerangnya.


Diana yang sedari tadi hanya memainkan jari jari di atas pangkuannnya pun langsung membuat Adam berjongkok di hadapan wanita yang dua kali menikah dengannya itu.


Ia raih tangan yang kini dengan sangat lembut mengurusnya.


"Jangan membuatku khawatir, Anak kita kenapa, Mih?" tanya Adam lagi dengan pelan.


"Bagaimana aku tak khawatir, sedangkan putra kita orang yang sangat baik, Pih"


"Aku tahu, dan aku sangat bangga, Sayang" balas Adam


"Kalau kamu tahu, Lalu apa kamu bisa membayangkan hancurnya perasaan Langit jika ia tahu Papihnya seorang Mafia?"


.


.


#Apartemen.


"Abang mau di pecat jadi mantu sama Mama" ucap Cahaya santai sesantai posisi duduknya kini di punggung ranjang.

__ADS_1


Langit yang berada di sofa dengan laptop di atas pangkuannya pun refleks menoleh kearah sang istri yang kedua matanya tetap fokus pada layar ponsel yang ia pegang.


"Maksud adek gimana?"


"Abang kalo lembur terus di kantor dan masih bawa kerjaan pulang kata Mama mau di pecat jadi mantunya" jelas Cahaya lagi dengan mengulang ucapannya.


Tubuh tinggi yang tadi sibuk menyelesaikan pekerjaannya pun kini bangun dan mendekat, ia duduk di tepi ranjang tepat di depan wanita halalnya.


"Kok gitu?"


"Iyalah, emang Abang pikir di cuekin kaya gini tuh enak? dari pagi sampe malem Abang kerja terus, nih adek sama siapa?!"


"Sama Abang lah" sahut Langit masih biasa saja, ia tahu kini sang istri sedang merajuk manja padanya.


"Mana ada? Abang dari habis makan malam langsung buka laptop!"


"Oh, adek mau di buka sama Abang, ok! bilang dong kalo pengen jangan berbelit-belit kaya maen uler tangga" kekeh Langit yang langsung membuka kaos oblong nya.


.


.


.

__ADS_1


.


Astaga... kenapa jadi begini sih? !


__ADS_2