Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 110


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Baguslah, aku minta padamu untuk tidak muncul lagi ke hadapan suamiku. Pergilah yang jauh, cari anakmu dan urus dia dengan baik tanpa Adam!


Kalimat perkalimat yang Ayunda katakan terus terngiang di telinga Diana, hidupnya kini benar-benar tanpa arah dan tujuan.


Diana yang diturunkan dari mobil yang membawanya setelah perjanjian yang ia dan Ayunda sepakati kini hanya bisa melangkah sambil berurai air mata karna bayangan putra semata wayangnya kini selalu berputar di pelupuk matanya yang sudah sembab karna tak hentinya menangis.


Diana yang bagai tuli dan buta itupun terus berjalan di tempat yang nampak sepi, hanya angin yang kini menyelimuti tubuh lelahnya di jam yang pastinya sudah lewat tengah malam.


Braaakkk..


Diana yang terserempet pun akhirnya tersungkur ke aspal, ia yang sudah sangat lemah, lelah dan lapar itu pun langsung tak sadarkan diri seketika membuat yang orang yang baru turun dari sebuah mobil pun terlihat begitu panik.


"Ya ampun! Mbak.. mbak bangun, Mbak?! " seru seorang pria paruh baya sambil mengguncang bahu dan pipi Diana.


Dirasa tak ada luka atau darah yang keluar dari tubuh wanita yang tak sengaja di serempetnya itu, ia pun segera membopong Diana untuk di masukkan kedalam mobilnya.


Ia pun kembali melajukan kereta besinya itu menuju rumah dimana anak dan istrinya sedang menunggu.


Selama perjalanan, pria tersebut selalu menoleh ke kursi belakang dimana Diana terbaring belum sadar, meski ia yakin hanya pingsan tapi tetap saja rasa takut terselip di hatinya.


Mobil berhenti di sebuah bangunan satu lantai yang cukup besar, gerbangnya pun sudah terbuka sebelum ia menekan klakson.


"Bantu ayah untuk membawa seseorang kedalam yuk" pinta pria tersebut pada anak sulungnya yang baru saja mengunci pagar besi.


"Maksud ayah apa?"


"Ayah abis nabrak orang, ayo bantu"

__ADS_1


Seorang anak laki-laki berumur delapan belas tahun itupun mengangguk paham dan tak banyak bertanya lagi.


Ia justru sangat sigap membantu ayahnya membopong Diana keluar dari mobil yang kemudian di bawa masuk kedalam rumah mereka.


"Ya ampun, Ini siapa yah?" pekik seorang wanita dengan daster batik yang membalut tubuh gemuknya.


"Maaf, Bu. Ayah abis nabrak orang, semoga gak apa-apa" jawab Ayah penuh sesal, takut dan bersalah.


Diana langsung di baringkan di kasur kecil depan TV, dengan ayah terus memijit ibu jari kaki Diana sedangkan ibu dengan sabar mengoles minyak telon kearea hidung dan pelipis Diana.


Hampir tiga puluh menit menunggu, akhirnya Diana mengerjapkan matanya.


"Langit... ini Mami, Nak" lirihnya sedih dan pelan.


Ayah, ibu serta anak sulungnya hanya bisa saling pandang, Diana sedikit di sandarkan punggungnya dengan beberapa bantal sebagai penyangga karna ibu akan memberinya sedikit demi sedikit teh manis hangat pada Diana.


"Nak, kamu sudah Sadar?" tanya Ibu yang langsung membuat Diana menoleh.


"Maaf, bapak sudah menabrak mu, Nak. Ini rumah bapak, kamu bisa disini dulu sampai lebih membaik" ucap Bapak yang sadar betul jika wanita di depannya itu seperti sedang tertimpa masalah besar.


"Terimakasih, tapi saya tak ingin merepotkan" ujar Diana tak enak hati, tangannya pun langsung di cekal saat ingin bangkit dari duduknya.


"Setidaknya jangan sekarang, Nak. Minum dulu, hangatkan tubuhmu" titah Ibu sambil menyodiry segelas hangat yang di balas anggukan oleh Diana.


Ibu dan Ayah tersenyum simpul saat melihat Diana langsung menegak minumannya hingga tandas tak tersisa, begitupun dengan beberapa potong kue yang disajikan.


"Lanjutkan istirihatmu ya, kita bicarakan lagi esok lagi" ucap Ayah seraya bangun dan berlalu ke kemar mereka bersama sang putra


.

__ADS_1


.


.


Pagi yang di nanti pun tiba, usai sarapan bersama di dapur kini Diana dan sang empunya rumah sudah berkumpul di ruang tamu. Lagi dan lagi Ayah meminta maaf atas kecerobohannya semalam tapi hanya di balas anggukan oleh Diana karena disini tentunya ia juga bersalah karna terus melamun.


"Saya akan antar kamu pulang, dimana rumahmu" tanya bapak yang di jawab gelengan kepala oleh Diana.


"Namamu siapa, Nak?" kali ini ibu yang bertanya, jiwa penasarannya mulai meronta dalam hati.


"Namaku Diana. Aku asli dari kota B tapi pernah tinggal di ibu kota beberapa tahun lalu" jawab Diana yang sedikit membuat pasangan baya itu paham.


"Oh, begitu, lalu sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Bapak lagi.


"Aku tak. punya rumah dan keluarga, aku sedang mencari putraku yang dibawa orang tak di kenal"


Ibu langsung meringsek mendekat kearah Diana yang tangisnya langsung pecah, sebagai sesama wanita ia tahu bagaimana sedihnya kehilangan anak karna beberapa waktu juga ia pernah merasakannya.


"Maaf, bukan maksud kami membuatmu bersedih, Nak" ujar Ibu sambil mengusap punggung Diana.


Diana hanya menganggukkan pelan, ia merasakan kehangatan yang dekapan seorang ibu yang ia rindukan.


.


.


"Tinggalah disini beberapa waktu sambil mencari anakmu, Nak"


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Fokus ke Diana ya, karna pas Langit udah sama Melisa udah pada tau kan yeeeee... 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2