Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 114


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Di dalam ruangan yang tak terlalu besar kini ada dua pria yang duduk saling berhadapan dengan hanya sebuah meja segi empat sebagai penghalang. Mereka adalah Adam dan Reno.


Adam lebih memilih menjerumuskan dirinya sendiri dibanding Reno yang harus masuk ke dalam jeruji besi karna masalah akan merambat kemana-mana.


Pria tampan tapi kurus itu sangat percaya jika Reno masih bisa di andalkan saat ia di dalam penjara dalam waktu yang tak sebentar.


"Ini masih terlalu lama, Ren" lirih Adam. Rasa rindunya seakan tak lagi bisa ia tahan pada kedua putranya dan satu istri sirinya..


"Ini keputusan fisnishnya, Tuan"


"Hem, baiklah. Aku akan sabar hingga waktunya tiba. Semoga aku kuat menjalani sisa hukuman yang tinggal sembilan tahun lagi." lirih Adam.

__ADS_1


Selama ia tinggal di hotel prodeo, hanya Ayunda yang sering menjenguknya bersama si sulung meski jauh di dalam hati Adam ia ingin Diana lah yang datang meski hanya satu menit lamanya. Adam ingin memohon ampun pada wanita yang selama ini selalu sabar dengannya.


"Semua baik-baik saja, Tuan. Nona Diana beserta putra anda masih ada dalam pantauan saya" tegas Reno. Pria yang dulu pernah membantu Adam itu memang tahu dimana Diana dan Langit berada.


"Bagus, aku akan datang saat waktunya tiba"


*****


Tapi hari-hari Diana tentu jauh lebih berwarna dan bahagia sejak bertemu Reza, pria tampan itu dengan tegas memastikan jika Langit memang benar putra kandungnya.


Diana begitu bersemangat jika datang ke sekolah Keynara karan ia pun akan melihat buah hatinya meski dari kejauhan. Reza meminta agar Diana cukup melihat Langit dari jauh dan berhenti memberi makanan apapaun pada Langit karna bocah itu tentu tak akan memakannya sama sekali.


Diana cukup paham, tak ada sedikit pun rasa marah atau benci pada orang-orang yang kini mengurus putranya ia justru ingin berterimakasih karna Langitnya di urus dengan begitu baik penuh kasih sayang dan cinta.

__ADS_1


"Di, kamu gemukan loh sekarang" goda Nyonya Hana sambil terkekeh.


"Masa sih, Nyonya? iya celanaku udah berasa sempit" jawab Diana sambi membereskan kamar tidur Keynara usai mengantarnya ke sekolah tadi pagi.


"Saya juga lihat kamu lebih fresh, banyak senyum dan gak nangis terus"


Diana langsung menoleh dan mengulum senyumnya. Ia tak menyangka jika rasa bahagianya dirasakan juga oleh orang lain.


"Kamu punya pacar kah? saya rasa gak apa-apa kamu buka lembaran baru hidupmu, Dee. Saya gak akan kasih saran untuku kamu menunggu atau melepas suamimu itu tapi jika ada yang jauh lebih baik kenapa tidak, maaf jika saya lancang" ujar Nyonya Hanna, karna baginya Diana bukan sekedar Babysitter tapi ia dan suaminya sudah sangat menganggap wanita malang itu sebagai saudara mereka sendiri. Selama bekerja Diana selalu melakukan yang terbaik bahkan tak sekalipun ia mendapat aduan yang macam-macam dari Keyanara tentang pengasuhnya itu.


"Saya tak pernah punya pikiran kesana, Nyonya. menunggu tidak berharap pun tidak. Semua saya jalani ikuti arus kemana Tuhan akan membawa saya. Jika masih berjodoh mungkin kamu akan kembali tapi jika tidak, tentu Tuhan akan memberi jalan lain." jawab Diana. Bohong memang jika ia tak merindukan sosok sang suami, tapi Diana bisa apa? ia sudah berjanji pada Madunya untuk tidak muncul lagi di hadapan Adam sejak kemarin, sekarang lusa dan selamanya.


Nyonya Hana hanya bisa memeluk Diana, entah terbuat dari apa hati wanita itu bisa sesabar dan sekuat ini menjalani hidupnya. Diana yang sudah ikut bertahun-tahun di keluarga Sanjaya sudah menceritakan semua kisah hidupnya. Hanya satu yang tak ia katakan jika sebenarnya sang suami adalah seorang MAFIA.

__ADS_1


__ADS_2