Selir Cinta Sang Mafia

Selir Cinta Sang Mafia
SCSM 144 S2 CahayaLangit


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


masih area 21 +


.


.


.


"Bang, kok ini ade kaya?"


Cahaya yang menggantung ucapanya langsung membuat Langit bingung, pasalnya ia pun tak mengerti yang di maksud istrinya.


"Kaya apa?"


"Kaya pipis sedikit, gak enak banget" jawabnya pelan dengan wajah sedikit memerah menahan malu.

__ADS_1


Langit yang akhirnya paham mencium gemas pipi kanan Cahaya yang sepertinya sudah sedikit terangsang denga sentuhannya.


"Itu tandanya harus lanjut, kalo sampe gak jadi nanti bahaya, dek"


Langit tak memberi kesempatan untuk istrinya menjawab, ia ***** lagi bibir ranum itu dengan sedikit kasar dan menuntut.


Ciuman pertama bagi keduanya yang baru di lakukan dan di rasakan seumur hidup mereka.


"Engap, Bang" keluh Cahaya yang membuat Langit terkekeh geli.


"Maaf, ambil napas dulu yang banyak"


Ciuman bibir berlanjut ke ceruk leher, dengan tangan yang sudah mulai nakal meraba apapun itu termasuk sesuatu yang dulu hanya ada dalam mimpinya.


Kenyal namun padat dan begitu pas di tangan, itulah yang Langit rasakan saat ia menyentuh bagian tubuh istrinya yang teramat sensitif.


Dengan bibir yang masih liat bermain dileher, Langit mulai semakin agresif. Desisan suara seksi Cahaya membuatnya lupa dan semakin penasaran.

__ADS_1


Piyama yang di kenakan sang istri pun sudah berantakan, Langit melepas kaos yang ia pakai karna sudah tak kuat menahan hawa panas meski biasanya dinginnya AC sangat menusuk ke tulang ya.


"Buka ya, Sayang"


Lagi lagi anggukan kepala Cahaya membuat Langit begitu senang bukan kepalang, satu persatu kancing piyama ber model dress itu ia buka sampai tersingkap, kini terlihat lah bentuk tubuh adik kecilnya yang hanya memakai dalam an saja, Langit yang baru pertama kali melihat sungguh membuat hatinya berdebar hebat.


Ia tanggalkan satu persatu semua yang menempel di tubuh mereka hingga polos tanpa benang sehelai pun untuk menutupi bagian-bagian sensitif yang kini terpampang jelas.


"Kita lakuin sekarang ya, bilang aj kalau sakit"


Cahaya tak menjawab, kedua matanya terlihat sedikit ketakutan dan ada keringat dingin karna rasa gugup yang Langit rasakan juga saat bibirnya kembalikan menikmati tubuh sang istri. Dua bagian yang terlihat menantangpun tak luput dari sentuhan nya. Ia bagai bukan Langit yang biasanya, Langit yang sabar dan lembut tapi kini hanya ada Langit yang menuntut lebih dan lebih.


Gelinjangan dan desa han Cahaya semakin menjadi saat lidah yang dulu hanya sebagai mengecap rasa makanan kini mulai nakal menikmati ujung puncak bongkahan daging kenyal yang selama dua puluh tahun tersembunyi rapih.


Langit melakukannya secara bergantian dari kiri dan kanan. Sesap annnya semakin kuat saat Cahaya terus menarik rambut dan mencengkram bahunya.


Sesuatu yang sudah sangat tegang kini mulai bersiap untuk berkenalan dan menerobos lorong yang katanya akan memberikan menikmati tiada tara.

__ADS_1


Langit bangun dan memposisikan dirinya senyaman mungkin, ia tersenyum tak percaya saat melihat ada beberapa tanda merah di bagian dada Cahaya karna ulahnya bahkan ia seperti tak sadar sama sekali.


Kedua kaki Cahaya kini ia renggang kan selebar mungkin, bi rAhinya semakin memuncak saat dengan jelas sesuatu yang paling sensitif kini bisa ia sentuh dengan bebasnya. Jarinya mengusap serabut yang menutupi lahan RUJAK TIMUNnya.


__ADS_2