
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Empat puluh hari meninggalkannya bapak semua kembali normal, bahkan Adam dan Diana sudah pindah ke apartemen baru mereka yang jauh lebih mmewah dan aman karna Diana pernah sekali mendapat teror sebuah paket bangkkai burung merpati yang berlumuran darah, dari situ tak ada siapapun tak di izinkan untuk mmmembuka paket kecuali Adam atau Reno.
"Tidurlah, aku pergi sebentar" ucap Adam pelan setelah mencium kening istri sirinya yang nampak begitu terlelap di balik selimut yang menutupi tubuh polosnya usai bercinta.
Adam akan ke lobby apartemen untuk bertemu dengan seorang dokter yang menangani Diana selama ini. Ia mulai khawatir dengan kondisi pemilik hatinya itu yang tak kunjung juga hamil meski rutin periksa dan meminum berbagai obat penyubur kandungan.
"Selamat siang, Tuan" sapa sang dokter saat Adam sudah berdiri dengan angkuhnya tanpa senyum.
"Siang juga, dok" balasnya sambil duduk saling berhadapan.
"Anda pasti tahu tujuan kita bertemu disini, kan?"
Dokter Akbar mengangguk seraya tersenyum, Adam memang sering berkonsultasi padanya seperti hari ini. Ia mencurahkan semuanya di depan pria berumur tiga puluh tujuh tahun itu.
"Tetaplah berdoa, tak ada usaha yang mengkhianati hasil, Tuan"
"Tapi aku sangat sangat ingin memilikinya, aku ingin istriku cepat hamil, dok"
__ADS_1
"Jadwal datang bulan Nona Diana sudah normal, kalian hanya menunggu hasilnya dan apabila Nona tak kunjung hamil, mungkin kalian bisa melakukan cara lain contohnya bayi tabung?" saran dokter Akbar.
"Apa hasilnya pasti?"
"Bisa di coba lagi jika gagal, Tuan" kekeh sang dokter yang langsung membuat Adam kesal.
.
.
.
"Sayang" seru Diana yang terkejut ketika menoleh.
"Apa aku kurang tampan? sampai kamu tak berkedip sama sekali saat melihat mereka!" oceh Adam, ia tetap saja cemburu meski tahu jika para pria yang di sukai istrinya itu hanya sekedar bermain drama di layar kaca.
"Maaf sayang, aku bosan tanpamu" sindir Diana, ia kadang kesal jika bangun dari tidur Addam pergi tanpa pamait meski hanya sebentar.
"Aku ada urusan tadi, tapi besok pagi aku akan kerumah ya" izinnya pada si istri kedua yang langsung di jawab anggukan kepala, Diana tak pernah sekalipun melarang Adam untuk datang ke istri pertamanya karna ia tahu jika tujuannya hanya ingin bertemu sang buah hati hasil cinta satu malam mereka yang kini bertambah besar dan lucu. Tak jarang Diana terkekeh gemas dan tertawa saat Adam memperlihatkan tingkah putranya dan itulah yang menjadi alasan utama ia ingin Diana cepat hamil agar gadis kesayangannya tak lagi merasa kesepian.
__ADS_1
"Pergilah, luangkan lebih banyak waktumu untuknya" jawab Diana dalam pelukan Adam.
"Kamu ingin bertemu? aku akan mengajaknya kemari agar kalian bisa saling mengenal. Mark pasti bahagia karna memiliki ibu yang begitu perhatian dan sabar" ucap Adam.
"Jangan, ia cukup tahu punya satu ibu dan satu ayah. biarkan selalu seperti itu. Aku akan mempperkenalkan diriku sebagai orang lain bukan sebagai ibunya"
"Baiklah, tapi aku ingin Mark dekat denganmu, mungkin cara itu bisa memancingmu agar cepat hamil, iya kan?"
Diana langsung mendongakkan wajahnya sambil tersenyum simpul, ia selalu merasa bersalah jika Adam sudah menyinggung tentang kehamilannya karna dulu ia sudah sangat gegabah memilih untuk mencegany dalam waktu cukup lama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Akan ku pastikan keturunan Biantara lahir dari rahimku!"