
Wah ada misi baru ya sistem...?
[Sistem]
"Benar tuan, kali ini misinya adalah mendirikan lembaga bantuan kemanusiaan, bernama Haris Foundation tuan."
"Hmmm... Boleh aku tambahkan nama kedua istriku sistem...?"
[Sistem]
Oh tentunya itu lebih bagus lagi tuan.
"Baiklah sistem, aku akan selesaikan dulu masa bersantai hari ini, besok aku akan mulai mengurusnya.
[Sistem]
Baik Tuan, memang lebih baik jikaTuan mengerjakannya nanti saja selesai masa bersantai ini, agar tuan bisa fokus mengurusnya.
Oh ya Tuan...!
Mengenai uang yang saya kirimkan ke korporasi Kaya dan jaya bersama group, itu adalah uang yang merupakan sebahagian dari akumulasi keuntungan dan hasil dari usaha hotel ekspedisi serta pendapatan dari 10 kapal milik tuan, di mana semua uang itu mengalir ke rekening bank milik tuan, yang terhubung dengan sistem tuan.
Selain itu ditambah juga uang dari keuntungan Tuan, sebagai pemegang saham yang tuan terima dari korporasi Kaya dan jaya bersama group itu Tuan.
"Oh begitu ya...?
Akhirnya saham itu berguna juga.
Lalu apa poin sistem yang kudapat dari misi membangun rumah sakit itu sudah dipakai juga sistem...?"
[Sistem]
Oh itu belum diganggu sama sekali tuan, sesuai yang Tuan minta agar hadiah dari poin sistem itu disembunyikan, maka sistem juga tidak berani membukanya sebelum Tuan yang menyuruhnya."
"Jadi begitu rupanya.
Sistem aku masih ingin berbicara banyak hal kepadamu, tapi tampaknya ini belum waktunya.
Aku sedang fokus untuk menghibur si John temanku, agar dia cepat bangkit dan sembuh, apakah kamu keberatan kalau kita hentikan pembicaraan ini sampai di sini dulu sistem...?"
[Sistem]
Tentu tidak Tuan.
Sistem juga hanya sekedar menyebutkan misi yang terpicu itu, sesuai dengan dorongan hati yang ada dalam diri tuan, yang selalunya ingin membantu dan meringankan beban orang lain.
Jadi ketika suatu misi terpicu, sistem harus membicarakannya secara langsung tuan."
"Baiklah sistem kau memang paling mengerti tentang keadaan diriku dan suasana hatiku, kalau begitu kita berhenti sejenak membahas ini, nantinya setelah berada di hotel, aku akan kembali bicara panjang lebar denganmu."
[Sistem]
"Silahkan Tuan."
"Baik terima kasih sistem, kau yang terbaik."
[Sistem]
" Terima kasih Tuan senang mendengar hal itu dari anda."
Setelah selesai berkomunikasi dengan sistem yang dimilikinya, Haris kembali fokus pada orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Belum juga Haris sempat bicara kepada mereka, tiba-tiba saja HP miliknya sudah berdengung kembali dan ada sebuah panggilan dari Darman.
[Panggilan masuk]
"Iya Darman, bagaimana keadaan di sana...?"
"Begini bos Haris kami saat ini, bersama pak Balyan dan pak Kusno sedang berada di desa.
"Tadi kami sudah bertemu dan bicara tentang beberapa hal kepada pak kepala desa, yang merupakan pimpinan di wilayah ini.
Jadi menurut Pak kepala desa, sesuai hasil musyawarah yang langsung mereka lakukan tadi malam.
Mereka mengambil keputusan, bahwasanya mereka mendukung bahkan meminta agar secepatnya bisa didirikan pabrik pengalengan ikan, yang telah kita bahas sebelumnya. Artinya warga desa dan kepala desa sudah setuju bos Haris.
Warga desa bahkan sangat antusias, mereka sangat bahagia, tidak lupa juga menitip salam dan ucapan terima kasih atas dua sapi yang telah disumbangkan oleh Bos Haris.
Saat ini sudah selesai dipotong dan dikerjakan semuanya, hanya tinggal memasak.
Kaum Ibu di desa ini, lagi seru-serunya memasak ini bos Haris."
"Oh bagus, bagus kalau begitu. Jadi kalau sudah begitu aku sudah bisa menghubungi orang-orang kita, agar mereka segera mengurus segala sesuatu yang diperlukan baik perizinan maupun pendirian pabrik itu, katakan titip salam sama Pak kepala desa dan warga semuanya, Bos Darman.
Sampaikan kalau kita mengucapkan banyak terima kasih, Insya Allah hal itu nantinya akan sangat berguna sekali.
Oh ya, sekalian juga sampaikan kalau niat untuk mendirikan rumah ibadah serta sekolah swasta itu juga, akan kita laksanakan nantinya."
"Baik bos Haris, baik.
Kalau begitu aku akan menyampaikannya nanti, kebetulan aku juga di sini mewakili bos Haris, jadi itu sebabnya aku perlu menanyakan pada bos Haris apa yang harus aku sampaikan nantinya.
__ADS_1
Jadi kalau sudah beginikan sudah dapat gambarannya, sehingga enak semuanya bos."
"Aduh bos Darman jangan sungkan-sungkan, lagian kenapa sih harus manggil bas bos bas bos begitu, tidak bisakah manggil teman saja misalnya...?"
"Oh ya enggak bisa bos.
Kalau lagi kerja dan jam kerja ya harus manggil bos, kita sedang membiasakan diri untuk bersikap profesional.
Namanya juga sama pimpinan ya harus hormat hahaha."
"Oh begitu ya bos Darman...?
Baiklah kalau begitu.
Kami sekarang ini sedang berada di Kedai Kopi Bang Edi, nah hari ini kami jadi juga membawa bos John kemari dan Dia sangat senang.
Dia mengatakan ternyata dunia ini begitu luas, mungkin beberapa hari ke depan kita juga akan membawa bos Jhon ke area perkebunan, sekaligus untuk melihat keindahan pantai yang ada di sana."
"Oke Bos Haris siap Bos.
Mudah-mudahan bos John cepat sembuh, kita semua berharap itu."
"Baik. Bos Jhon pasti mendengarnya."
"Terimakasih do'anya bos Darman...! Sekarang ingin rasanya bergabung bersama tim disana untuk bekerja, aku rasa tidak lama lagi aku juga akan sembuh bos Darman."
"Ya sembuhlah segera bos Jhon, kita akan tunjukkan rasa terima kasih kita pada bos Haris, dengan berbuat yang terbaik."
"Ya itulah yang aku pikirkan bos Darman."
"Baiklah semuanya, aku sudahi dulu ya, disini masih ada beberapa hal yang harus kami lakukan, bos Haris titip salam sama bang Edi ya."
"Kenapa harus titip..?
Bang Edi ada disini sampaikan saja langsung."
Haris menjawab ucapan Darman yang menelepon dari wilayah pantai timur.
"Ya benar, aku mendengarmu bos Darman, kebetulan aku juga ikut duduk disini bersama bos Haris dan bos Jhon."
"Wah ternyata abang juga ada disana, sehat selalu ya bang hehe, nanti kalau ada waktu kita akan berjumpa lagi."
"Iya bos Darman, tidak disangka meski hanya baru bertemu sekali, tapi bos Darman masih ingat saja dengan pedagang kecil ini."
"Ha..ha..ha..! Abang ini terlalu merendah, pedagang kopi yang sukses tapi ya bang.
Pedagang kopi kalau pembelinya sudah bos Haris, itu bukan lagi pedagang kopi biasa bang.
"Iya.. iya betul sekali bos Darman, apalagi sekarang aku duduk bersama dua bos ini, ah memang betul betul sukseslah ini.
Apalagi anak-anakpun sudah diterima kerja di hotel sekarang.
Maka boleh dikatakan sudah sukses kalipun memang...!"
"Nah itulah yang aku maksud bang Edi, makanya kita kalau sudah berhubungan dengan bos Haris, yakinlah bakal sukses.
Oh ya bang, titip salam ya bang sama keluarga di sana, sama kakak juga anak-anak.
Mungkin itu saja bang, Darman nggak bisa lama-lama bicara, segan juga di sini itu semuanya sudah pada kerja, kepala desa juga sudah ikut terjun langsung, jadi kalau kita lain sendiri di sini, agak risih juga rasanya.
Karenanya aku pamit dulu ya bang."
"Oke bos, siap bos Darman Siap."
"Ya terima kasih bang Edi, sudah ya.
Maaf kalau aku tutup teleponnya."
"Oke bos Darman silahkan."
[Panggilan berakhir]
Setelah berakhirnya pembicaraan antara Darman dengan Haris, selanjutnya baik Haris Edi maupun John, yang duduk bersama di bawah sebuah pohon rindang, di ketinggian bukit yang berada di pinggiran kota P, melanjutkan pembicaraan mereka dengan berbagai topik, disertai dengan selingan canda tawa yang membuat ketiganya begitu merasa riang dan gembira.
Hawa yang dingin ditambah hembusan angin sepoi-sepoi, membawa nuansa ketenangan kepada siapa saja yang menghabiskan waktu, untuk menenangkan pikiran maupun sekedar melakukan pertemuan dengan teman atau rekan kerja yang ada di lokasi tersebut.
Mereka bicara tentang banyak hal sampai hari menjelang petang, untuk urusan makan siang mereka, baik Nando maupun Very menjemput makanan dari Rumah makan bagi rombongan Haris.
Tidak ada hal yang mengganggu pikiran mereka, sehingga semua orang yang ada di sana, benar-benar bisa menikmati waktu santai mereka dengan bahagia dan penuh keleluasaan.
Setelah petang menjelang, baik Haris dan rombongan kemudian kembali menuju hotel tempat mereka akan menginap beberapa hari ini.
"Nah akhirnya kita sampai juga di hotel, hari ini betul-betul hari yang sangat membahagiakan.
Mungkin aku pribadi tidak akan keluar malam ini, bang Edi dan Jhon, aku mau fokus istirahat saja di kamar malam ini.
Abang Edi sudah tahukan kamarnya...? Kalau si Gunawan nanti langsung ikut staf hotel yang lain aja biar bisa bersosialisasi langsung."
"Iya bos Haris, kalau begitu abang juga tidak keluar malam ini.
Tapi kalau bos Jhon mau di temani keluar malam ini, abang siap menemani."
__ADS_1
"Ah nggak usah bang, aku juga sudah puas berada di luar seharian, sekarang mau menikmati kebersamaan bersama istri dan anak anak saja Bang.
Kasihan juga mereka ditinggal seharian, paling tidak malam ini mereka bisa aku temani."
"Kalau begitu kita semua sepakat tidak ada yang keluar.
Baiklah ayo pergi ke kamar masing masing."
Setelah mengurus Jhon sampai masuk ke dalam kamarnya, Haris meninggalkan kamar John dan pergi menuju lift untuk naik ke lantai paling atas, tempat dimana ruangan miliknya berada.
Para pengawal termasuk Nando beserta Very, juga pergi menuju ruangan yang memang disediakan untuk mereka.
Setelah meletakkan Cardlock di sensor dan menekan sandi, Haris masuk ke ruangan pribadi miliknya bersama istrinya.
"Abang sudah pulang...?
Lama betul di luarnya."
"Iya dek Diana, hari ini kami pergi ke kedai teman yang aku ceritakan tadi, Alhamdulillah hari ini Semangat John untuk kembali bisa seperti semula cukup baik dan meningkat.
Semoga saja dia bisa segera sembuh sepenuhnya dan bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala.
Oh ya ngomong-ngomong, bagaimana urusan ke salonnya...?
Kok Abang lihat kedua istri Abang sudah makin cantik aja nih nampaknya, sudah seperti bidadari yang turun dari surga lho."
Ah masa sih Bang...? Bagaimana penampilan Diana setelah salon di tempat salon langganan adik Kirana Bang...?"
"Makin cantik dong, sebelumnya sajapun istri Abang memang sudah cantik, apalagi setelah perawatan he he."
"Kalau adek bagaimana bang....?"
Kirana istri muda Haris juga ikut ikutan bertanya, pendapat suaminya tentang dirinya.
"Ya sama, cantik juga seperti bidadari, abang jadi pengen dipeluk dua bidadari ini."
Haris menarik kedua istrinya kedalam pelukannya, untuk beberapa saat keduanya berada dalam dekapan penuh kasih sayang dari suami mereka.
Kedua istri Haris merasa sangat bahagia dan keduanya tersenyum hangat penuh kasih dan memperlakukan Haris sebagai raja mereka.
"Eh sampai lupa ternyata abang belum mandi lho dek."
"Belum mandi aja aroma tubuh abang sudah harum yakan kak Diana...?"
"Iya dek Kirana, kakak jadi pengen di kelon terus wkwkwk."
"Ya sudah abang mandi sebentar ya, setelah itu abang ingin mengajak kallian berolah raga, agar kalian bahagia dan tidur nyenyak malam ini."
"Ah itu kabar yang sangat menggembirakan abang sayang, ya nggak kak Diana...?"
"Iya. Harus pesan makanan lebih awal nih, biar jangan terganggu iklan nantinya dek Kirana wkwkwk."
"Ah kalian berdua ini ada ada saja, seolah kita baru akan melakukannya kali. ini saja.
Ya sudah abang mandi sebentar, lalu kita akan makan malam nanti."
Haris lalu pergi mandi di kolam renang pribadi miliknya, setelahnya dia mandi air hangat di bathtub yang ada di kamar mandi.
Setelahnya Haris makan malam bersama dan melanjutkan kegiatannya, seperti apa yang mereka bahas sebelumnya.
Kedua istrinya begitu bahagia dan tidur dengan pulas, dalam suasana yang tenang dan penuh kedamaian malam itu, setelah dimanjakan oleh Haris sebelumnya.
Saat Haris sendiri masih terjaga dan belum mengantuk, maka ia membuka pembicaraan yang sempat tertunda dengan sistemnya.
"Sistem...!"
[Sistem]
"Ya tuan."
Jadi seperti apa Yayasan kemanusiaan yang kita bahas tadi, saat berada di bukit pinggiran kota...?"
[Sistem]
Itu sama saja Tuan, seperti misi-misi yang sebelumnya, di mana Tuan cukup untuk merealisasikan terwujudnya misi itu, sehingga misi bisa sukses dan Tuan akan mendapatkan poin sistem yang telah ditentukan.
Misi kali ini juga sama seperti misi yang lain, dimana itu sepenuhnya terpicu oleh perasaan dan juga pemikiran Tuan, yang selalu ingin membahagiakan dan meringankan beban orang lain.
Tentu Tuan sangat faham, bahwa ada begitu banyak orang-orang yang hidup dalam kehidupan yang kurang baik, di mana mereka tidak memiliki pilihan yang lebih baik, daripada apa yang terpaksa harus mereka jalani.
Dengan keberadaan Yayasan kemanusiaan itu, Nantinya Tuan bisa membantu meringankan beban mereka Tuan.
Yang tentu hal itu juga sekaligus akan menghadirkan kebahagiaan dalam kehidupan mereka, Yayasan itu bisa bergerak dalam bidang pemberian bantuan sembako misalnya, atau pelayanan kesehatan gratis, apalagi setelah adanya atau selesainya rumah sakit milik Tuan nantinya.
Kemudian Yayasan itu juga bisa mendanai murid-murid yang terpaksa putus sekolah, karena kekurangan biaya atau karena kemalangan nasib yang diderita oleh keluarganya.
Atau bisa juga bantuan kemanusiaan pada masyarakat yang terdampak bencana
Intinya Yayasan itu nantinya akan sangat membantu Tuan."
"Membayangkannya saja aku sudah begitu bahagia, apalagi jika Yayasan itu sudah berdiri dan berjalan sesuai fungsinya."
__ADS_1