
"Halo Nando."
"Iya Bos ada apa..?"
"Begini Nando coba kamu jemput seseorang bernama Pak Slamet, beliau itu adalah orang yang pernah menolong Abang dulu waktu masih susah-susahnya.
Abang ingin malam ini pak Slamet itu juga ikut berada di tengah-tengah kita, merasakan kebahagiaan yang sama.
Darman, pernah saya ajak ke rumahnya, kamu panggil saja dia untuk menemanimu nanti dan menunjukkan jalan, saat menjemput pak Slamet bersama keluarganya kemari.
Jangan lupa minta juga dua pengawal kita untuk mengawal kalian ke sana."
"Iya Bos siap, kami akan berangkat sekarang Bos."
Kemudian Nando pergi bersama dua orang pengawal yang baru datang dari kantor ekspedisi untuk menemani dan mengawal Nando dari belakang.
Setelah menjemput Darman, Nando segera bergegas menuju Desa Pak Slamet dan menjelaskan segala sesuatunya tentang undangan Haris yang kemudian disetujui oleh Pak Slamet, yang bersedia datang bersama istri dan juga anaknya.
Tidak butuh waktu lama bagi Nando dan rombongannya, untuk kembali ke Villa yang menjadi hunian milik Haris.
Bersamaan dengan selesainya sholat isya di daerah itu, semua keluarga Haris sudah berkumpul di halaman Villa dan semua makanan dan juga minuman telah terhidang di tempat yang sudah tersedia.
Semua orang yang hadir larut dalam kebahagiaan.
Haris dan yang lainnya seperti sedang merayakan hari Lebaran saja yang begitu semarak dan meriah.
"Teman-Teman semuanya, Puspa dan Wulan serta David, Anton dan Salman.
Betapapun semarak dan meriahnya acara ini, khusus bagi kita harus tetap berjaga dan bersiaga sebaik mungkin, seperti mata elang kita harus terus memantau setiap sudut dan tempat, serta senantiasa bersikap hati-hati dan juga waspada.
Demikian juga para satuan pengaman penjaga gerbang, jangan memasukkan sembarang orang ke Villa ini kapanpun dan dalam situasi apapun, ini adalah arahan dari Tuan Haris buat kita semua"
Nando memberikan pengarahan sebagaimana yang Haris perintahkan untuk disampaikan.
"Ya kita semua sudah menyimak pesan dari Tuan Teman-Teman, jadi mari kita bekerja dengan baik, pastikan semua aman dan jauhkan segala potensi bahaya dari keluarga Tuan."
David merespon pengarahan yang diberikan oleh Nando atas perintah Haris tersebut, kemudian melakukan koordinasi kepada rekan-rekannya sesama pengawal.
"Ya itu benar, saatnya kita bekerja."
Acara briefing singkat yang dipandu oleh Nando itu kemudian berakhir dan semua orang kembali ke pos dan posisinya masing-masing.
Sejak saat itu standar pengamanan di setiap Villa maupun tempat-tempat yang didatangi oleh Haris dan keluarganya mulai berubah dan menjadi lebih serius dari biasanya.
"Para sedulur dari barisan orang-orang tua, mungkin ada diantara kita yang belum saling kenal, mari berkenalan."
Papa dan mama Kirana istri Haris, mengajak semua orang untuk saling berkenalan.
Ayah dan ibu Diana, serta paman dan juga bibi dari Diana, istri pertama Haris begitu pula Pak Slamet yang punya tempat istimewa di hati Haris, tidak terkecuali mertua Darman dan juga mertua Jhon, yang turut hadir saling memperkenalkan dirinya masing-masing bagi yang belum saling mengenal.
Semuanya sibuk bertukar cerita dan pengalaman dalam suasana kekerabatan, mereka semua berinteraksi dengan penuh keakraban dan bercengkrama sesama mereka.
Di barisan anak ada Beni dan Roni beserta istri dari keduanya, juga Diana dan Kirana serta Haris, Jhon dan Darman beserta istinya masing-masing yang ikut menyimak cerita dari barisan para orang tua mereka, sambil sesekali ikut menimpali pembicaraan.
Sedangkan dari barisan anak muda ada Nawir, Andre, Juli dan juga anak-anak dari Darman John serta yang lainnya.
"Ayo Jhon kita mulai kegiatan memanggangnya."
"Oke siap Bos."
Makan malam bersama yang terbilang jarang dilakukan itupun berjalan penuh kehangatan dan nuansa kekeluargaan yang kental.
Masing masing makan dengan cara lesehan di lantai granit plataran Villa.
"Nando..!"
"Iya Ver..! Ada apa..?"
"Melihat keadaan ini, Aku semakin ingin sekali masuk ke dalam barisan daftar keluarga bos kita.
Aku tidak ingin hanya sebagai bawahan ataupun ajudan Tuan, Aku ingin sekali menjadi bagian dari keluarga ini, bagaimana menurutmu kalau aku jadian dengan Juli putri dari paman dan bibi Nyonya Diana kita..?"
"Wah kalau untuk itu Aku menyerahkan sepenuhnya padamu Very, namun kalau motivasimu hanya sekedar masuk lingkaran Tuan, aku sarankan jangan terlalu terobsesi begitu.
Sebab bukankah kamu lihat Bos kita ini sebenarnya juga tidak terlalu memandang status, artinya jangan kamu berpikir kalau berada di luar anggota keluarganya kita itu seolah menjadi rendah.
Tapi kalau keinginanmu untuk menjadi bahagian dari keluarga Tuan adalah sesuatu yang didasari atas rasa cinta yang tulus pada Julianti, yang sudah seperti adik kandung Tuan, itu tidak ada masalah dan bukan juga sesuatu hal yang mustahil bagimu, yang paling penting bagi Tuan kita itu adalah karakter dan sikap.
Bahagian terbaiknya yang aku tahu kamu itu selalu baik kok dalam pandangan Tuan.
Jadi aku mendukungmu untuk lanjut kalau memang kau serius dengan Juli, itu kuncinya bro.
Aku ingatkan padamu sebaiknya kamu pastikan hatimu itu, apakah memang suka, bahagia dan senang bersamanya, jangan sampai niat untuk dekat itu justru nantinya akan menjauhkanmu dari Tuan sehingga menjadi musuh yang sangat dibenci oleh Tuan kedepannya."
"Iya aku faham itu Nando, sebenarnya alasan untuk masuk dalam keluarga itukan adalah nomor kesekian, intinya dan hal paling utama karena aku mau dan suka dengan si Julianti."
"Baik kalau begitu tidak ada masalah.
Ya sudah pikirkan itu nanti saja, jangan kita bahas disini takutnya ada yang mendengar sebelum terjadi kan nggak enak juga Ver..?"
"Iya kau benar Nando"
Nando dan Very yang duduk agak jauh dari rombongan keluarga Haris, merasa bebas untuk berbicara membahas suasana hati Very yang sudah semakin suka dengan Julianti putri dari paman dan bibi si Diana.
Haris yang melihat gelagat keduanya dari tempat yang jauh kemudian memanggil
"Hei...! Ada apa kalian menjauh begitu..?
Datang kemari, ayo bergabung dengan semuanya, ini adalah malam berbahagia yakni malam kebersamaan.
Ayo sini saling berkumpul dan bergembira bertukar cerita bersama, jangan berpisah-pisah."
"Saya akan bersama dengan Bang Jhon saja Tuan, lagipula saya juga ingin mengambil ilmu cara rahasia memanggang yang enak itu, bagaimana..ha..hah."
"Ya terserah kalian saja tapi jangan mengasingkan diri seperti tadi."
Nando memilih untuk ikut membantu memanggang daripada harus berkumpul bersama yang lainnya, setelah mendengar panggilan yang merupakan perintah dari Haris itu, begitu pula Very ikut bersama Nando menemani Jhon dan membantunya memanggang ikan dan juga ayam yang sudah disediakan.
[Panggilan dari kepala Polisi kota]
"Halo tuan Haris, apakah saya mengganggu..?"
"Oh tidak, tidak sama sekali pak Agus. Apakah ada sesuatu hal yang penting untuk Bapak sampaikan.?"
"Ada sesuatu hal yang sangat penting untuk saya sampaikan, ini terkait dengan pesan dari Jenderal Gunawan yang kemungkinan akan berpindah tugas ke daerah yang lain Tuan Haris.
Jadi beliau meminta saya tadi menghubungi Tuan Haris, untuk memberitahukan kalau barangkali beliau tidak bisa lagi bersama kita.
Sekaligus juga memberi pesan bahwa mungkin saya juga akan digeser atau dimutasi dari jabatan."
"Oh ya..? Kenapa begitu mendadak..? Apakah ini sesuatu yang memang normal menurut Pak Agus..?"
__ADS_1
"Ya di atas kertas, ini akan dikatakan sebagai sesuatu yang wajar, tapi biasanya hal begini hanya terjadi bila ada kesalahan.
Tuan tahu sendirilah bagaimana arus persaingan dan perebutan begitu kental pada semua lini di dunia ini.
Namun sekedar warning dari Jendral Gunawan beliau punya firasat kalau ini juga terkait dengan pihak Marlon, artinya ada tangan-tangan kuat yang bermain di balik layar."
"Oh begitu ya..?"
"Iya benar sekali Tuan Haris, artinya kalau Jenderal Gunawan sampai dipindahkan atau dimutasi ke tempat lain, lalu saya juga kemudian bergeser, mungkin banyak sekali langkah dan niat baik kita dalam memerangi kejahatan yang sudah kita mulai, akan terkendala.
Selain itu pihak-pihak yang selama ini mendukung Marlon, barangkali bisa sangat menyulitkan kita."
"Apa menurut Pak Agus tidak ada peluang buat Jenderal Gunawan bertahan..?"
"Peluang-peluang semacam itu tentu selalu ada saja Tuan Haris, tapi jelas kita harus punya sosok pendukung kuat juga tentunya.
Apakah pak Haris kenal seseorang dengan sosok semacam itu..?"
"Sebenarnya saya tidak kenal satupun sosok yang seperti Pak Agus maksud, tapi kalau memang itu begitu penting, saya akan coba jejaki, tapi kita tidak perlu banyak berharap."
"Baik terima kasih sebelumnya atas niat baik Tuan Haris, tapi saya juga seperti yang Tuan sampaikan tidak akan terlalu berharap banyak.
Yang jelas saya sudah menyampaikan pesan dari Jendral Gunawan dan kalau berkenan sepenuhnya saya ingin tetap berada di pihak Tuan atau tetap berhubungan dengan Tuan Haris."
"Baiklah Pak Agus saya juga berterima kasih atas ketulusan dan juga niat baik dari Pak Agus saya tidak akan melupakan Pak Agus hanya karena Pak Agus tidak lagi menjadi kepala Polisi kota nantinya, jangan terlalu khawatir sebab bagaimanapun kita pasti akan bisa menghadapi seperti apapun gelombang badai yang akan datang."
"Ya terima kasih Tuan Haris, saya nantinya tidak akan merasa sungkan kalau memang pergeseran jabatan itu tetap terjadi.
Baiklah Tuan dari yang saya dengar, seharusnya di tempat Tuan saat ini sedang ada acara, sangat terdengar dari riuhnya suara disana, saya tidak akan berpanjang kata lagi, selamat malam Tuan Haris."
"Iya selamat malam Pak Agus, selamat malam.
Sampaikan salam saya juga kepada Jenderal Gunawan."
Baik Tuan, nanti akan saya sampaikan."
[Panggilan berakhir]
[Sistem]
"Tuan.! Anda tidak perlu terlalu khawatir, bagaimanapun sistem tidak akan meninggalkan dan membiarkan Anda berjuang sendirian."
"Ya. Aku faham, aku sangat faham itu sistem.
tetapi kalau tidak mengatakan ucapan seperti yang aku sebutkan tadi, seolah-olah kita tidak menghargai persahabatan dan kerjasama selama ini.
Bagiku sih sama saja, baik mereka masih menjabat atau tidak, akan tetapi namanya berteman harus saling menjaga perasaan."
[Sistem]
Ya betul sekali Tuan.
Apa yang sudah Tuan sampaikan itu betul sekali, begitupun tidak ada salahnya bagi Tuan kalau ingin menjejaki seperti yang Tuan sebutkan sebelumnya.
Namun yang jelas meskipun pergantian itu harus terjadi kita tidak akan hancur karenanya."
"Aku setuju itu sistem."
[Sistem]
Baiklah Tuan saya hanya merasa perlu mengingatkan hal itu, selebihnya sekarang silahkan Tuan melanjutkan kegiatan bersama yang lainnya.
Silahkan Anda berbahagia bersama anggota keluarga Anda.
"Baiklah sistem Terima kasih untuk semuanya kau tetaplah yang terbaik."
[Sistem]
"Ya senang mendengar hal itu dari Tuan, dengan senang hati sistem akan mengatur segalanya untuk Tuan."
Apa yang sistem milik Haris ucapkan, sangat membantu diri Haris untuk meyakinkan dan memantapkan pikirannya.
Memang sebelumnyapun dia tidak begitu terganggu dengan kabar yang datang dari Agus, sepenuhnya dia lebih yakin kepada sistemnya, toh tanpa sistem dia tidak akan pernah berkenalan apalagi dipandang oleh sosok-sosok kepala Polisi daerah, maupun kepala Polisi kota yang dikenalnya itu.
Haris kemudian kembali fokus pada orang-orang yang berada di sekelilingnya.
"Anton, David dan Salman, ayo datang kemari, tenang saja jangan terlalu kaku, untuk saat ini tidak ada potensi bahaya, dengan berada disini tidak akan membuat kalian lengah, kemarilah."
"Iya Bos, siap Bos."
Ketiga pengawal itu kemudian mendekat kepada kelompok barisan muda dari keluarga itu, yang diisi oleh sosok Haris dan lainnya.
Disisi lain baik Puspa dan Wulan juga tidak pernah jauh dari Kirana dan Diana.
Malam yang cerah dan ditaburi bintang menambah semarak acara kebersamaan yang Haris lalui bersama dengan yang lainnya.
Malam yang seharusnya terasa dingin dan sejuk itu, terasa hangat dengan kebersamaan yang ada di antara mereka.
Suasana kebersamaan itu seolah-olah menjadi api unggun yang menghangatkan tubuh dan hati semua orang.
"Kita beruntung punya sosok seperti Nak Haris di keluarga kita, semoga keluarga kita diberkati dengan kesehatan, kemakmuran dan juga kemuliaan dunia dan akhirat."
Papa Kirana menyebutkan apa yang dia rasa perlu untuk dia sebutkan.
Dan ucapannya ditanggapi oleh ayah Diana.
"Apa yang Pak Wicaksono sebutkan itu benar adanya, sebentar lagi kita akan di berkahi dengan tambahan cucu dari putri putri kita, semoga kita semua akur dan mengutamakan kebersamaan serta kekeluargaan ke depannya."
"Iya benar sekali Pak."
"Ayo tambah makanan dan minumannya, ini masih banyak."
Haris mengarahkan semua orang yang ada disana, menikmati semua hidangan yang ada.
"Bos.! Ikan dan ayam panggangnya sudah ada lagi yang masak, bang Jhon katakan ini sudah bisa dihidangkan."
"Ya sudah letakkan disana saja David, para orang orang tua kita, lebih dahulu diutamakan."
"Baik Bos."
"Mari semuanya Ayah dan Papa juga Mama dan Ibu, ayo dinikmati ayam dan juga ikan hasil panggangan si Jhon, ini tidak kalah dengan sajian hotel bintang lima.
Bapak dan Ibu juga jangan sungkan, kita ini adalah keluarga, Si Jhon dan Si Darman adalah seperti saudara kandung bagiku, maka Anda semua juga begitu adanya, sudah seperti ayah dan ibu bagiku."
Haris menyebutkan hal itu kepada mertua si Jhon dan mertua si Darman serta Pak Slamet, agar tidak lagi merasa sungkan dan ragu-ragu juga agar bertindak dan bersikap seperti sedang berada di rumah sendiri.
Semua orang begitu dekat, begitu akrab, layaknya keluarga dan tidak ada jarak sama sekali, termasuk untuk para pengawal Haris yang merasa kalau mereka sudah diterima sebagai bahagian dari keluarga ini.
Acara berlanjut sampai dini hari, kemudian baik Kirana maupun Diana diarahkan oleh orang tuanya masing-masing untuk beristirahat dikarenakan keadaan mereka yang sedang berbadan dua.
Puspa dan Diana mengantar kedua istri Haris itu ke kamar dan menjaga serta menemani keduanya di kamar besar itu.
__ADS_1
Menjelang pagi para kaum bapak, yang sebelumnya memilih terus berada di sana, menjelang pagi juga pergi beristirahat ke kamar yang ditunjuk oleh lima orang wanita pengurus Villa bahagian dalam.
Sedangkan Haris, Beni, Roni maupun si Darman dan si John juga para pengawal pria yang lainnya memilih melanjutkan acara mereka sampai shubuh.
Setelahnya mereka kemudian melakukan ibadah shalat subuh di masjid yang ada di desa itu.
"Bang Beni, Bang Roni Darman dan juga Jhon, bagaimana kalau kita minum kopi di kedai Bang kules mumpung lagi ada waktu.
Siapa tahu kedepannya nanti, kita tidak sempat dan tidak punya waktu lagi minum kopi bersama karena sibuk dengan kegiatan masing-masing."
"Cocok sekali Bos Haris, rasanya ini seperti bernostalgia kembali ha..ha..ha."
"Apa yang Bos Haris sebutkan itu benar sekali, rasanya waktu begitu cepat berlalu.
Tidak terasa sudah beberapa tahun saja, sejak kita minum kopi terakhir kali, saat sedang susah-susahnya di desa ini."
"Sudahlah Darman. Jangan lagi ingat ke belakang, Kita ingat yang baik-baik saja, betul tidak Bos Haris...?"
"Betul sekali Jhon. Ayolah kita maju bergerak ke depan dan lupakan hal hal yang tidak enak dimasa lalu."
Haris membenarkan nasehat Jhon dan Roni Abang ipar si Haris juga ikut bersuara.
"Ya Aku setuju, apa yang Haris dan Jhon sebutkan, Darman mari kita berpikir ke depan."
Kelima orang itu lalu pergi ke kedai kopi, sedangkan Anton dan dua pengawal lainnya pergi ke rumah, untuk menjaga dan memantau pengamanan situasi disana.
"Pagi hari yang indah dan sejuk ini semakin bertambah cerah saja rasanya.
Mimpi apa Aku semalam sehingga pagi-pagi saja para Bos besar sudah datang kemari.
Mari masuk.. mari masuk Bos Haris dan bos yang lainnya, ayo silakan duduk. Aduh sepertinya kedai ini sudah harus disediakan bangku khusus dan istimewa kalau sudah begini."
Kules menyambut kedatangan Haris yang sudah seperti Raja baginya setelah apa yang Haris perbuat baginya belakangan ini.
"Ah biasa saja Bang Kules, yang datang juga langganan lama kok nggak usah repot-repot dan sungkan."
Para langganan dan pengunjung kedai kules juga ikut menyambut dengan ramah kedatangan Haris dan empat orang yang bersamanya.
Haris adalah pahlawan bagi mereka, yang sudah membayar minuman mereka di kedai itu selama ini, sehingga semuanya bisa minum bebas dan gratis makan gorengan juga rokok mereka yang ditanggung.
"Halo semuanya.!
Apa kabar, apakah semuanya baik-baik saja..?"
"Ya Bos Haris Alhamdulillah kita semua baik-baik saja disini tidak ada yang sakit, semuanya sehat, keluarga juga sehat. Cuma usaha barangkali Bos yang kurang sehat belakangan ini, karena sering hujan."
"He..he.. kalau masalah usaha itu masih bisa kita siasati dan kita akali, tetapi kalau sudah kesehatan yang terganggu bagaimana mau berusaha pak..?
Ya, saya datang kali ini juga membawa kabar baik, mumpung semuanya lagi berkumpul di sini.
Saya ingin bertanya satu hal kepada semua orang.
Jadi begini, di desa P desa kelahiran saya, kita sudah membuat usaha dan juga membangun serta memperbaiki rumah-rumah warga disana.
Karena saya juga sudah merupakan bahagian dari Desa ini, dimana sebelumnya telah lama juga tinggal di desa ini dan bukan suatu kebetulan dimana saya juga memiliki istri dari Desa ini, jadi saya merasa terpanggil serta merasa perlu untuk memperhatikan saudara-saudara saya di sini.
Saya punya niat untuk menggerakkan suatu usaha yang kiranya bisa menaikkan sumber pendapatan dan juga taraf hidup kita di Desa ini.
Kalau saya perhatikan hampir dua pertiga dari warga kita di desa ini, sangat mengandalkan penghasilannya dari ikan, banyak dari kita ini adalah para pemancing maupun pencari ikan dengan berbagai cara dari sungai-sungai yang ada di sekitar desa kita maupun ke daerah lain.
Bagaimana kalau kita buat saja lahan perikanan modern seluas beberapa hektar misalnya, khusus untuk memelihara berbagai jenis ikan seperti ikan nila ikan mas ikan lele termasuk juga barangkali ikan jurung dan ikan lainnya, apalagi kalau bisa juga beberapa jenis udang.
Nanti kita buat sistem irigasinya dengan bagus, saya akan menanggung semua biayanya kita bangun bendungan lalu kita ambil air dari sungai sana dengan pipa-pipa atau parit semen besar, yang akan kita alirkan ke lahan perikanan itu dan nantinya lahan itu akan menjadi sumber hasil bersama, menjadi aset bersama dan semua hasilnya itu akan dibagi rata kepada seluruh masyarakat yang memang ikut melakukan kegiatan usaha disana."
"Wah itu kabar yang bagus sekali Bos Haris, kalau memang itu berhasil, tentu kita tidak perlu terlalu mengandalkan hasil karet di mana hasil itu juga tidak memadai serta sawit yang lahannya serba tanggung ini.
Saya sangat setuju sekali Bos, kapan bisa kita laksanakan atau bia akita mulai..?"
"Kalau masalah pelaksanaan, itu bisa saja kita laksanakan segera bahkan hari inipun juga sudah bisa dimulai.
Masalahnya adalah soal lahan. Siapa yang mau memberikan lahannya untuk disewa atau dibeli untuk kepentingan itu..?
Biarlah saya beli lahannya tapi saya tidak akan mengambil hasil apapun darinya, selamanya lahan itu bisa menjadi aset keluarga di desa ini.
Tujuannya agar pemilik lahan tidak dirugikan sedangkan orang yang tidak punya lahan juga bisa diuntungkan dengan usaha yang ada."
"Area persawahan yang berada di Hulu desa selain lokasinya yang strategis karena langsung berbatasan dengan Jalan Raya, kemudian tidak pula jauh dari sungai dan untuk pembuangannya juga tidak perlu dikhawatirkan karena tinggal mengalirkan ke jurang sana agar kembali ke sungai, sepertinya itu lahan yang sangat ideal tinggal memusyawarahkannya saja, apakah warga desa pemilik lahan itu mau atau tidak, lahannya Itu disewa atau dibeli.
Tapi kalau boleh saya memberikan usul sebaiknya dibeli saja Bang Haris, karena kalau sistem sewa susah juga nantinya, kalau sistem sewa tahulah jiwa manusia ini berbolak-balik, nanti ada sedikit perasaan tersinggung belum apa-apa lahannya sudah ditarik oleh pemilik lahan bagaimana, persoalan baru lagi bukan..?"
"Iya betul tuh Bos Haris, itu juga perlu kita pertimbangkan."
Pembicaraan itu begitu begitu menarik minat warga, sehingga beberapa warga kemudian secara Intens ikut terlibat dalam pembicaraan.
"Ya ide dan gagasan begini sangat bagus.
Kalau begitu silahkan bapak-bapak musyawarahkan kepada siapa saja yang memiliki lahan itu, Saya rasa kalau lokasi sawah yang Bapak sebutkan itu tidak banyak pemiliknya paling hanya 4 atau 5 orang ya kalau tidak salah..?"
"Iya betul sekali Bos Haris dan kelimanya itu sebenarnya bukan orang-orang yang sulit untuk diajak musyawarah."
Warga desa yang lain yang merupakan kerabat pemilik sawah ikut bersuara.
"Baiklah kalau begitu, kalau memang bisa sampaikan kepada mereka berpikir dua-dua hari ini, jangan sampai saya sudah punya kesibukan lain nantinya sehingga hal ini gagal dilaksanakan.
Setelah ada jawabannya baru kita bicara lagi tahap selanjutnya ya.!"
"Baiklah nak Haris, saya juga akan membantu membujuk mereka nantinya."
Seorang pria sepuh yang merupakan tokoh masyarakat di desa itu, juga merasa tertarik dengan ide Haris. kemudian menyatakan sikapnya yang akan ikut mendukung program itu.
"Ini Bos minumannya, silahkan minum, buat para Bos semuanya."
"Iya nih mari Bang Beni Bang Roni, Bos Darman dan Bos Jhon mari minum.
Bang Beni, kok diam-diam aja dari tadi, lagi puasa bicarakah ha..ha..ha...?"
"Tidak juga Ris, tapi abang lagi senang mendengar saja. Abang juga sangat senang dengan rencana ini, kalau rencana ini sukses wah bakalan maju Desa kita ini, akan dikenal sebagai Desa penghasil ikan air tawar dengan kualitas yang baik.
Jadi begini saudaraku semua, saya juga sebagai orang yang memiliki istri dari Desa ini, ikut jugalah meminta kepada masyarakat kita semua, supaya bersatu dalam hal ini.
Kalau sudah adik saya Haris ini yang sudah mau berbuat,pasti akan terlaksana.
Tinggal di masyarakat kitanya saja, mau atau tidak..?"
"Iya betul Bang Beni, kalau sudah Bang Haris yang bicara, kita semua pasti percayalah.
Saya sebagai warga sangat berharap usaha ini berhasil dikerjakan."
"Ya sudah Pak. Makanya kalau bisa dua hari yang diberikan ini bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya."
"Iya benar."
__ADS_1
Semua orang yang berada di kedai itu begitu bahagia, dengan kabar yang diberikan oleh Haris.
Mereka sangat senang Haris begitu peduli dengan kehidupan mereka,.ternyata diam-diam Haris juga pikirannya sampai untuk meningkatkan kehidupan mereka, yang membuat mereka semakin sayang dan semakin suka dengan Haris, sebaliknya semakin merasa menyesal pula atas perlakuan mereka di masa lalu.