Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _150 : Kesepakatan Istri Haris


__ADS_3

[Sistem]


"Ting...! Misi berhasil dengan sukses. Tuan berhak mendapatkan 20.000 Point sistem (PS) plus hadiah sistem berupa 50 hektar lahan kosong di lembah gunung Tombayaha, yang melimpah dengan kandungan emas berkualitas tinggi, plus satu paket jarum perak akupuntur yang juga berfungsi sebagai senjata rahasia yang mematikan.


Sebaiknya Tuan hanya memakai jarum akupuntur emas, khusus untuk keluarga saja. Kualitasnya untuk penyembuhan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jarum akupuntur perak, hanya saja ada kekhususan tersendiri dari sistem, bahwa jarum-jarum itu kedepannya memang harus diperuntukkan khusus buat lingkaran keluarga Tuan saja."


"Wah kenapa begitu sistem..?"


[Sistem]


"Ya begitulah Tuan. Ada rahasia dibalik hal itu, yang hanya akan kita ketahui seiring waktu berjalan."


"Oh begitu ya. Baiklah terima kasih sudah mengingatkan.


Tapi ada apa tadi, lahan kosong yang mengandung emas sistem..?"


[Sistem]


"Benar Tuan.


Lahan itu tadinya adalah lahan perkebunan milik warga yang merupakan seorang pengusaha, yang telah lama memiliki lahan itu. Namun lahan itu kemudian akhirnya dibiarkan terbengkalai, setelah pemilik lahan itu meninggal di ladang miliknya disebabkan belakangan karena usahanya tumpur dia memilih untuk berladang untuk menenangkan pikiran.


Anaknya kemudian memilih untuk hidup di kota bersama mertuanya, lalu menjual lahan itu dengan memasang iklan di surat kabar daerah dan juga lewat teman-temannya.


Sistem telah membelinya atas nama Tuan dan menugaskan orang-orang kita melakukan pembayarannya dan telah lunas."


"Lalu apakah dia tahu soal kandungan emas itu sistem..?"


[Sistem]


"Sama sekali tidak tahu Tuan, yang dia tahu dia hanya menjual lahan bekas ladang itu.


Tapi Tuan jangan khawatir. Sistem tahu betul pasti Tuan akan merasa kasihan kalau orang itu akan merugi. Sistem sudah mengantisipasinya."


"Kalau begitu kamu sudah menaikkan harganya sistem, sebab kasihan orang itu kalau harus dibeli dengan murah."


[Sistem]


"Sistem sudah memberikan harga yang terbaik Tuan. Sistem sudah memberikan kelebihan harga bahkan dari yang ditetapkan oleh si penjual.


Sehingga harga itu sudah sangat layak dan pantas, sebab untuk bisa mengeksplorasi kandungan yang ada di tanah itu kelak juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit Tuan, jadi sebenarnya orang itu sudah tidak dirugikan."


"Kau yang terbaik sistem. Aku paling suka dengan gayamu."


[Sistem]


"Terima kasih Tuan, sistem senang jika Tuan merasa bahagia. Sistem merasa bahwa keberadaan sistem itu betul-betul bermanfaat jika Tuan bahagia, sistem juga merasa sukses kalau Tuan merasa demikian.


Sekarang sebaiknya Tuan fokus pada keadaan yang ada di sekitar Tuan. kelihatannya istri Tuan sudah mulai heran melihat Anda yang tampak dari luar, termenung begitu lama."


"Sempurnalah kamu sistem, selain kamu bisa membereskan segala urusan, kamu juga sangat pengertian. Jadi aku akan keluar sistem."


[Sistem]


"Baik Tuan."


"Kenapa Adek diam saja Dek Shasmita.?"


"Bagaimana tidak diam..? Adek melihat Abang dari tadi juga termenung terus. Apa yang Abang pikirkan sebenarnya..?"


"Abang sedang berpikir tentang formulasi obat yang cocok untuk Bang Nurdin, selain itu Abang juga memikirkan formulasi obat untuk orang tuanya Jenderal Gunawan. Adek tahu sendirilah Dek Shasmita, kalau mereka tentunya sangat berharap banyak dengan kesembuhan yang total.


Itulah yang Abang pikirkan dari tadi Dek."


"Ya itu jugalah yang Shasmita rasakan, makanya Shasmita tadi diam dan membiarkan saja Abang tidak bicara. Shasmita tahu pasti ada hal penting yang sedang Abang pikirkan."


"Adek sendiri memangnya sedang berpikir apa saja tadinya, saat Abang diam dan termenung begitu lama..?"


"Terus terang Adek kepikiran dengan Linda Bang. Setelah mendengar ucapan polos dari Syawal, tentang teman-temannya yang mengejek mereka karena tidak sekolah dan membully keadaan mereka yang susah, keadaan rumahnya yang reot hampir rubuh ditambah keadaan ayahnya juga yang kita ketahui begitu parah sebelumnya, rasanya sesak juga Bang di dada memikirkan itu.


Kok bisa ya, di saat kita merasakan begitu terhamparnya kelapangan hidup dan di saat kita merasa begitu luasnya kelegaan, ternyata masih ada banyak keluarga di luar sana yang bahkan untuk makan saja sangat susah.


Itulah yang Shasmita pikirkan dari tadi Bang."


"Ya Abang juga sempat berpikir begitu sebenarnya Dek. Abang sangat paham dan cukup bisa mengetahui, seperti apa beban yang mereka harus tanggung selama ini."


"Iya Bang. Coba Abang bayangkan, apalagi anak yang tiga itu bahkan saat mereka belum dewasa dalam berpikir karena memang masih anak-anak, masih kecil-kecil, akan tetapi sudah dihadapkan pada kenyataan pahit dan kerasnya dunia ini.


Herannya anak-anak yang lain yang juga notabene adalah tetangga-tetangga mereka, bahkan mungkin ada juga yang bukan hanya sekedar teman tapi malah ada tautan kekeluargaan, lalu mereka kok bisa-bisanya ya mengejek dan merendahkan orang lain sampai sebegitunya.?


Apa orang tua mereka, tidak melarangnya sama sekali.?


Rasanya untuk suatu tempat yang masih kental dengan adat istiadatnya seperti di daerah kita ini, hal itu Adek rasa masih sangat kurang cocok lho Bang."


"Ya itu benar Dek. Abang juga merasa yakin kalau hal yang sama bahkan mungkin lebih parah telah dialami oleh Linda di sekolahnya, oleh karenanya besok kita harus tampil sebagai orang tua angkat Linda, di hadapan orang-orang yang berada di sekolahnya. Linda harus tampil terkesan sebagai sosok dari anak orang yang besar dan terhormat.


Abang akan memakai pakaian jas seperti pejabat dan kita akan memakai mobil mewah kita yang harganya ratusan miliar. Sebenarnya Abang jarang sekali tertarik untuk memakai mobil itu, Tapi kali ini Abang akan memakainya.


Abang akan angkat dan mencoba membangun kembali keyakinan dan kepercayaan diri dalam diri Linda, agar dia bisa tegak berdiri dalam memandang dunia ini.


Tidak merasa minder dan tampil lebih percaya diri, yang mana praktis hal itu secara otomatis juga sangat berguna untuk menjatuhkan mental-mental, dari orang-orang yang selama ini sudah begitu merendahkan Linda."


"Ya cara itu sangat cocok untuk meruntuhkan kesombongan mereka para pembully itu Bang, namun masih berada dalam bingkai yang elegan, dalam wujud sikap dan penampilan saja bukan dari ucapan yang menyakitkan hati, apalagi provokatif.


Ha..ha..ha Shasmita tidak sabar untuk menunggu sampai besok."


"Lho kenapa Dek Shasmita, bukannya seharusnya Adek pengen malam begitu panjang..?"


"Hmmm Abang inilah memang..! Ya bagaimana ya Bang..? Terus terang hari ini Shasmita merasakan, seolah kita sedang berpetualang begitu lho he..he.


Shasmita merasa kita sangat hebat hari ini, bisa jadi pahlawan bagi satu keluarga yang selama ini sangat termarginalkan. Itu satu perasaan yang keren lho bang dan itu baru episode petualangan kita di ladang, nah bagaimana pula serunya besok saat episode petualangan kita saat jadi seolah orang tua angkat di sekolah.? Shasmita tidak sabar ingin melihat seperti apa gaya Abang nantinya..ha..hah."


"Gaya apa memangnya Dek.? Abang memangnya bisa gaya apa..? BIasa sajalah, paling juga gaya permen yang dibalut bungkusnya ha..ha..hah. Abang akan pakai baju jas, pakai dasi, pura-pura manis, pura-pura seperti jadi pejabat atau orang-orang penting begitulah pokoknya ekekekkkk."


"Ha..ha..hahah bakalan seperti apa ya..?"

__ADS_1


"Kok malah jadi Adek yang penasaran sih..?"


"Ya namanya juga suami baru aku, tentu aku jadi penasaran lho Bang.


Tentu Adek ingin melihat seperti apa nantinya, karena belum pernah melihat penampilan Abang dengan gaya 'pecicilan' begitu sebelumnya."


"Memangnya Dek Shasmita belum pernah melihatnya, pada suami yang lama..?"


"Lho kok suami lama sih..? Shasmita kan baru ini punya suami..?


"Oh kirain, mana tahu iya kan..?


"Ah Abang jahat, memangnya Shasmita tidak gadis lagi sama Abang..?"


"Ha..ha..ha..! Bercanda lho Dek."


Haris dan istrinya Shasmita terus bersenda gurau dalam perjalanan.


Keduanya tampak begitu mesra, harmonis, tapi tetap tampil santai. Seringkali para pengawalnya sangat tertarik untuk melihat kepada keduanya yang duduk dan berbicara di belakang sopir. Tapi tentu saja mereka tidak akan berani melakukannya.


Desa demi Desa dilalui dan dilintasi oleh mobil yang membawa Haris dan juga istrinya dokter Shasmita. Mereka sengaja melakukan perjalanan dengan santai, karena Haris memintanya demikian, sebab Haris juga merasa kurang puas berkeliling hari ini disebabkan ternyata cukup cepat sekali dia menemukan sosok yang menjadi target misi, yang disebutkan oleh sistem.


Setelah menempuh jarak yang telah mereka lalui sebelumnya, akhirnya Haris telah tiba kembali ke istananya yang ada di Desa P itu.


Bersamaan dengan masuknya mobil Haris, mobil pick up yang membawa hasil panen dari ladang Nurdin juga ikut masuk ke pelataran halaman villa itu.


"Kak Diana..! Itu suami kita sudah datang."


"Lho bawa apa itu Dek Kirana, kok ada mobil pick up..?"


"Entahlah Kak Diana.? Bukannya itu mobil inventaris di kantor ekspedisi kita..? Tapi kok bawa jagung segala ya..?"


"Ah sudahlah Dek Kirana, nanti juga bakalan tahu ceritanya.


Ayo sambut dulu Ratu kita. Ratu Shasmita dokter cantik kita yang manis dan unyu-unyu.


Selamat datang kembali. Halo sayang bagaimana perjalanannya hari ini..? Menyenangkan tidak Bu dokter kami yang cantik..?"


"Ih kakak, baru juga nyampe sudah digoda begitu."


"Ha..ha..ha ternyata benar yang dikatakan Dek Kirana, enak sekali menggoda Dek Shasmita. langsung connect dan berasa ha..ha..ha


Hei Dek Shasmita.! Bagaimana dong perjalanannya hari ini, menyenangkan tidak..?


Cerita dong."


"Ya bagaimana ya Kak, dibilang menyenangkan lebih cocok disebut menegangkan sih, karena kami itu lewat ke jalan-jalan yang rusak begitu lho, mana naik sepeda motor lagi Kak Diana, tadi aku simpan kok rekaman videonya.


Nanti sajalah kita lihat ya.? Sudah laper nih, mana haus dan pengen pipis lagi."


"Wek..wek..wek rempong amat sih nih anak."


Diana dan Kirana tertawa terbahak-bahak, melihat Shasmita yang kemudian berlari masuk ke dalam villa. Sebenarnya Shasmita masih sangat malu dan belum terbiasa dengan pembawaan Kirana dan Diana yang suka ceplas-ceplos apa adanya pada dirinya di depan umum.


"Lho mana Dek Shasmita tadi..?" Haris yang baru saja memeriksa semua hasil panen yang dibawa dalam mobil pick up itu, heran sebab tidak melihat keberadaan Shasmita


"Oh katanya kebelet pipis tadi Bang, tuh orangnya sudah lari ke dalam."


"Oalah masa cuma perjalanan dari kota P sampai kemari sudah kebelet pipis sih..? Alasan saja barangkali, apa kalian baru saja menggodanya..?"


"Dibilang menggoda sedikit sih he..he..he. Ayolah Bang masuk ke dalam."


"Iya ayo Dek."


"Oh ya, itu apaan sih Bang yang ada di mobil pick up..?"


Kirana yang berjalan di samping kiri Haris juga ikut bertanya.


"Itu hasil panen dari warga Dek. Panjang ceritanya sih, nanti sajalah kita ceritakan di kamar Dek. Sekarang Abang mau segera mandi saja dulu.


Gerah soalnya rasanya. Kami cukup berpanas-panasan hari ini."


"Iya tadi Dek Shasmita juga sudah mengatakan Abang dan dia berpetualang katanya."


"Berpetualang ya..? Hanya ke ladang saja sih sebenarnya, tapi kok sudah dibilang berpetualang, oleh istri Abang yang satu itu.


Ya sudahlah ayo kita masuk saja. Nurul putri Ayah yang cantik, sudah mandi nak..?"


"Sudah dong Ayah. Sudah mamam malah sama nenek dan kakek tadi."


Diana menjawab pertanyaan Haris bertindak seolah yang menjawab adalah Putri pertama mereka Nurul.


Haris lalu menggendong putrinya Nurul, kemudian mereka masuk ke dalam villa secara bersamaan.


Melihat ruang tamu cukup lengang dan kosong, Haris langsung segera menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas tempat keberadaan ruang dan kamar mereka berada.


"Oh ya, anak-anak pada kemana Dek..?"


"Ada, sama nenek dan kakeknya semua Bang."


"Oh syukurlah."


Saat telah sampai di depan ruangan mereka di lantai atas, yang keseluruhannya kini sudah diperuntukkan untuk mereka. Kirana segera ditarik oleh Shasmita ke balkon yang ada di depan.


Diana tidak terlalu menanggapi hal itu, melainkan hanya tersenyum melihat keakraban dua madunya itu, lalu terus mengiringi Haris masuk ke dalam ruangan mereka.


Haris segera pergi mandi sementara Diana istrinya menyediakan pakaian ganti yang akan dia kenakan. Sesudahnya tak lama kemudian baik Kirana maupun Shasmita telah datang dengan raut wajah yang tampak berbeda dari biasanya bagi Diana.


"Ayo Dek Kirana kita pergi ke kamar Kita yang lain, sudah cukup kita menyambut suami. Sekarang kita harus memberikan ruang yang lebih kepada Dek Shasmita."


"Ehemm... Sebenarnya tadi kami baru saja membicarakan sesuatu hal yang penting, tentang apa yang kakak barusan sebutkan, sebagai ruang yang lebih itu."


"Maksudnya apa Dek Kirana..?"


"Ayo sampaikan Dek Shasmita sama Kak Diana."

__ADS_1


"Ah Kak Kirana saja, yang menyampaikannya Shasmita malu."


"Memangnya ada apa sih Dek Kirana, Shasmita..?"


"He..he..he harus dimulai dari mana ya menjelaskannya..? Jadi intinya begini lho Kak Diana. Dek Shasmita ini mengatakan kalau dia kewalahan tadi malam, itu sebabnya dia tertidur sampai-sampai seperti orang pingsan. Itu pula sebabnya kenapa mereka terlambat tadi pagi, berangkat ke rumah Jenderal Gunawan. Jadi Dek Shasmita meminta agar kita seperti biasa saja, tidak usah ada waktu khusus untuknya seperti yang kita sepakati di awal.


Kita tetap saja sama-sama berada di ruangan ini, walaupun nantinya akan tidur di kamar masing-masing tapi tidak harus pergi ke kamar yang ada di ruangan yang lain di lantai ini, seperti yang kemarin kita lakukan."


"Kamu yakin Dek Shasmita..? Ini baru satu hari lho sejak hari pernikahanmu. Jangan begitu ah, jangan terlalu pikirkan kami. Kami biasa saja kok, jadi Dek Shasmita jangan terlalu merasa tidak enak hati begitu.


Lagi pula nanti suami kita marah lho dan tidak suka kalau tidak diberi waktu yang lapang untuk Dek Shasmita."


"Siapa yang marah.? Tak ada yang marah tuh, sejak awal kan kalian yang buat peraturan itu..? Abang mana pernah ditanyai pendapat soal itu."


Tiba-tiba saja Haris sudah berada tidak jauh dari mereka dan mengambil Pakaiannya yang sebelumnya telah disediakan oleh Diana. Tentunya dengan kemampuan pendengarannya yang semakin tajam Haris sudah bisa mendengar ucapan atau apa yang menjadi pembahasan dari ketiga istrinya.


"Ah Abang. Shasmita minta maaf ya Bang, bukan maksud Shasmita itu hendak menjadi istri yang tidak mau melayani suami dengan baik, tapi memang Shasmita merasa canggung saja begitu, kalau tiba-tiba diasingkan seperti sekarang ini.


Jadi kalau memang Abang sejak awal tidak ikut menjadi orang yang membuat peraturannya memang harus seperti sekarang. Biarkan sajalah kami seperti biasa bersama-sama Bang, seperti saat kita belum menikah.


Lagi pula Shasmita siap kok kapan saja Abang butuhkan, Shasmita tidak akan menghindar apalagi menolak, Shasmita kan juga sudah menjadi milik Abang sekarang. Tapi tolong ya Bang, Kak Diana dan Kak Kirana di sini saja.


Abang tidak marah kan..?"


"Kenapa harus marah.? Justru kalau kalian sepakatnya begitu, Abang makin senang tuh. Jadi Abang juga bisa pindah pindah tempat baik malam ini atau kapanpun. tanpa harus khawatir ada salah satu diantara kalian yang marah, atau tidak suka he...he.!"


"Bagaimana Kak Diana..? Sepertinya begitu lebih cocok deh." Kirana yang memang tidak ingin berjauhan dengan Haris, layaknya Diana yang dahulu memberi ruang padanya saat dia yang menjadi pengantin baru, entah kenapa hal yang sama tidak ingin dia lakukan kepada Shasmita, terlebih juga Shasmita tidak menginginkan hal itu.


"Ya sudah, kalau suami kita juga memang pengennya begitu, kita kan sifatnya hanya menuruti saja. Malah makin baik dong kalau Adek Shasmita memang ikhlas. Kakak juga kalau ditanya hatinya sih, Kakak juga sebenarnya makin senang nih begini, makin girang malah sampai pengen lompat-lompat.he..he.


Apalagi Dek Kirana yang paling agresif, pasti akan sangat senang iya kan..?"


"Ah kakak, buka kartu saja nih. "


"Ha..ha..ha...!!" Ketiga istri Haris tertawa begitu keras dan tampak lepas, kemudian mereka saling berpelukan. Haris hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian pergi menjauh dari mereka untuk mengambil sisir dan menata rambutnya.


Baik Haris maupun ke-3 istrinya, sambil menunggu selesainya waktu Isya di mana mereka rencananya akan berkumpul sambil membakar-bakar jagung dan juga merebus kacang tanah pada malam itu, mengisi waktu mereka dengan menonton bersama di ruangan khusus menonton, tempat di mana diletakkannya televisi layar lebar milik mereka, sekaligus menonton video yang direkam oleh Shasmita.


Mereka berkumpul, mengobrol dan bercerita soal perjalanan Haris dan Shasmita hari itu, juga tentang keadaan keluarga Nurdin dan Darmilawati serta niat mereka besok yang akan mendaftarkan kembali Linda ke sekolah.


"Diana setuju niat baik Dek Shasmita."


"Kirana juga setuju dan kalau dibolehkan juga ingin ikut melihat mereka besok."


Kedua istri Haris memuji sikap dan langkah yang diambil oleh Shasmita dan mendukung penuh kegiatan itu.


"Kenapa harus tanya boleh atau tidak, bukankah sejak malam ini tidak ada lagi pembagian yang kalian sebutkan itu..?"


"Oh iya ya bang Kirana sampai lupa, berarti sudah bebas ya Kirana tidak harus menjaga jarak.


Hmmm.. Kirana jadi heran sekarang, kalau teringat waktu Kirana yang masih jadi pengantin baru, kok Kak Diana sabar sekali ya..? Kirana belum menjalaninya dan masih mendengarnya saja, sudah begitu hilang semangat rasanya.


Bagaimana ya, seperti jadi jauh saja rasanya. Memang lebih enak sekaranglah, kalau begitu besok Kirana juga akan ikut, tapi kalau soal mendaftarkan sekolah itu Kirana tidak usah ikut dan cukup menunggu di hotel saja atau ke salon barangkali.


Kak Diana ikut tidak ke sekolah atau kita pergi ke salon saja.?"


"Sepertinya ke salon saja deh, sudah lama juga kita tidak ke sana."


"Cocok kalau begitu, tapi nanti kita juga bakal ketemu kok dengan keluarga Bang Nurdin itu kalau memang saat ini mereka ada di hotel.


Bukannya begitu Bang"


"Begitu juga bagus Dek Kirana. Ya sudah kita sudah sepakat soal itu."


"Jadi tidak, malam ini kita bakar-bakar jagungnya Bang..?"


"Jadi dong Dek Shasmita, hitung-hitung jadi ajang berkumpulnya kita semua sekeluarga saja.


Tadi sewaktu kalian Abang tinggal saat berbicara dan terbahak-bahak itu, sebenanrnya Abang juga sudah menelepon si Darman dan si Jhon agar datang.


Apalagi kalau soal bakar membakar dan panggang memanggang, teman Abang yang bernama si Jhon itu adalah ahlinya, dia akan tahu nanti bagaimama resepnya agar jagung itu hasil panggangannya menjadi lebih lezat dari apa yang kita buat tadi di ladang.


Tambahannya tentu si Jhon juga bakal memanggang ikan jurung dan juga ayam, yang sudah menjadi menu favorit kita setiap kali ada perkumpulan keluarga.


Selain itu Abang juga hendak membicarakan posisi baru bagi si Jhon dan si Darman yang tidak lagi akan berada di wilayah timur."


"Memangnya rencana Abang mereka akan kemana Bang..?"


"Rencana Abang tadinya ingin membuat mereka berkecimpung di bidang perhotelan saja. Hotel bintang 5 kita yang jarang kita datangi yang ada di kota P, tempat dilaksanakannya pernikahan Juli dan yang lainnya itukan bisa menjadi tempat, di mana Darman akan mulai belajar melatih diri dan berkarir di dunia perhotelan.


Abang akan minta kepada manajer hotel itu untuk mengajarinya segala sesuatu hal, tentang apa yang perlu Darman ketahui dan setelah Darman sudah mampu di situ maka dia yang akan jadi managernya.


Pemilik posisi manager sebelumnya akan dinaikkan kepada tingkatan yang lebih tinggi, di mana dia akan menjadi manager salah satu Hotel kita yang berada di ibukota provinsi, yang merupakan hotel super mewah itu."


"Jhon sendiri bagaimana Bang..? Apa dia juga akan di hotel..?".


"Kalau soal si Jhon, bila dia masih ingin bergerak di bidang kapal, kitakan punya usaha baru galangan kapal, yang ada di pelabuhan yang berada di kota M itu, jadi biarkan juga dia belajar sambil mengambil pengalaman disana.


Tapi kalau dia juga mau berkarir di bidang hotel, ya tinggal kita serahkan saja hotel yang lain berada dalam penanganannya setelah belajar sama seperti si Darman tentunya."


"Kalau Diana pada prinsipnya senang-senang saja, kalaupun Abang mau mengaturnya begitu, tapi yang mengurus usaha perkebunan sawit kita di wilayah timur siapa bang..?"


"Kan ada Fauzan Dek..? Selama ini pun dia yang menghandle di sana, jadi biarlah dia sekarang menjadi bosnya di sana. Pak Samsul juga akan selalu sedia mendukungnya. Biarkan saja sekalian pabrik kelapa sawit juga mereka yang menanganinya."


"Baiklah terserah Abang saja, lalu Dek Shasmita apakah dia masih akan terus jadi direktur di rumah sakit atau posisinya akan diberikan kepada yang lain Bang..?


"Kalau soal itu kita serahkan saja kepada Dek Shasmita kalau memang dia masih ingin berkecimpung dan berkegiatan di Rumah sakit ya biarkan saja, toh Rumah sakitnya juga dekat dari sini."


"Iya juga sih, bagaimana Dek Shasmita..?"


"Sementara ini biarkan Shasmita di sana sajalah Kak, tapi kalau nanti Shasmita mulai merasa berat, baru Shasmita pilih nanti siapa yang cocok menggantikan atau mewakili di sana."


Pembicaraan Haris dan ketiga istrinya berlangsung harmonis, menghasilkan kesepakatan dan penuh rasa kekeluargaan dalam nuansa kasih sayang yang sangat hangat.


Mereka terus bercerita berbagai hal, sampai kemudian saat berkumpul bersama seluruh keluarga telah tiba.

__ADS_1


__ADS_2