
Hari telah berganti, para petugas hotel telah hilir mudik menyambut tamu yang datang untuk check in maupun check out. Peristiwa pertemuan tadi malam bagaimanapun tetap membekas di hati para pengawal Haris, khususnya mereka-mereka yang merupakan para pengawal lama.
Adapun para pengawal baru, mereka tidak terlalu hanyut dalam perasaan seperti yang dirasakan oleh para pengawal lama, karena mereka masih sibuk menikmati euforia kebahagiaan, sebab setelah begitu lama mereka tidak mendapatkan pekerjaan, namun sekarang telah mendapatkannya, apalagi sebagus pekerjaan yang hari ini mereka terima.
Bersamaan dengan itu Haris juga sudah bangun dan hari ini dia memulai paginya dengan melakukan jogging, atau lari pagi dengan santai tanpa memberitahukan kepada para pengawalnya.
Begitupun para pengawal terdekatnya yang kesetiaan mereka itu tidak perlu diragukan lagi, setelah mengetahui kepergian Haris lewat pemberitahuan pengawal lainnya yang bertugas di hotel malam itu, segera menyusul Haris.
Khususnya tiga serangkai Riston, Amanu dan juga Halim. Mereka segera mengejar Haris dengan menaiki mobil, yang dibawa oleh pengawal lainnya yakni Anton bersama Erik.
"Apa benar Tuan pergi lari pagi sendiri Riston..?"
"Iya, itulah yang disampaikan oleh Jackie teman kita yang bertugas malam ini Anton. Jadi kita harus segera mengejar Tuan, apalagi sedang dalam masa-masa gawat begini, kita sama sekali tidak boleh jauh-jauh dari Tuan dan membiarkan beliau sendiri."
"Ya itu benar. Tidak boleh terjadi sesuatu terjadi pada Tuan, tanpa kita ketahui atau tanpa pengawalan dari kita."
"Itu benar kawan-kawan. Sepertinya kalian bertiga saja yang berlari ikut Tuan kita Riston, Halim dan Amanu, biarkan kami mengikuti kalian dari belakang."
"Ya sepertinya itu ide yang baik Erik."
Para pengawal Haris membuat kesepakatan.
Setelah berjarak tidak berapa jauh dari Haris, Halim, Amanu dan Riston segera turun dari mobil, lalu berlari cepat untuk sampai pada keberadaan Haris.
"Tuan..!"
"Eh kalian juga ada disini..?"
"Kami sengaja mengejar Tuan, kenapa Tuan tidak mengajak kami kalau akan pergi lari-lari santai begini..?
Bukannya lari pagi bersama-sama itu lebih bagus dan lebih meriah, daripada harus lari sendiri Tuan."
"Ha..ha..ha Ya tadinya aku pikir kalian masih beristirahat, karena pertemuan tadi malam ditambah memang hari ini kita juga tidak punya jadwal pekerjaan maupun pertemuan resmi yang mendesak.
Namun memang entah kenapa, aku juga merasa bahwa kalian akan menyusul, terbukti sekarang kalian sudah ada di sini bersamaku ha..ha..ha."
"Ah Tuan memang selalu begitu, selalu bisa membaca pikiran kami."
"Baiklah karena kalian sudah ada di sini, sepertinya kita harus memperjauh rute jogging kita."
"Bagaimana kalau kita ke arah pegunungan saja Tuan.? Maksud saya ke arah perbukitan tempat di mana kita akan membangun lokasi hotel itu nantinya Tuan."
"Ide yang bagus, kalau begitu kita ke sana saja dan memang betul udara di sana akan lebih segar lagi nantinya, apalagi kulihat mobil sudah stand by mengikuti kita di belakang, artinya tidak ada salahnya kalau kalian itu berkegiatan lebih keras pagi ini, sebab pulangnya nanti bisa saja kita akan menaiki mobil bukan..? ha..ha."
'Ya itu rencana yang bagus Tuan, tapi kita lewat jalur mana Tuan ke sananya Tuan..?"
"Ya kita ambil rute yang sunyi saja, rute yang merupakan jalan potongan.
Baik jika begitu, persis di persimpangan jalan yang ada di depan, kita akan berbelok ke arah kanan ya."
Haris, Amanu, Riston dan juga Halim berlari santai, dengan kecepatan yang teratur.
Sementara mobil pengawal yang tadinya membawa ketiga pengawal yang merupakan tiga serangkai itu, terus mengikuti di belakang.
"Tuan sambil berlari begini apakah boleh saya bertanya seputar pembahasan kita tadi malam pada saat pertemuan itu Tuan..?"
"Kenapa tidak, silakan saja."
"Terima kasih Tuan. Begini Tuan, tadi malam sebenarnya setelah selesai pertemuan kita itu, kami masih cukup lama berdiskusi dan membahas tentang keadaan orang yang menjadi lawan kita itu.
Bersamaan dengan itu juga, Albert terus melacak dan mencari segala sesuatu hal yang diperlukan terkait pihak musuh kita itu dan kami mendapati fakta yang sangat mengejutkan, bahwa saudara laki-laki atau Abang kandung dari wanita yang mengganggu Nyonya besar itu, adalah sosok yang sangat penuh dengan catatan kejahatan Tuan.
Maksudnya ia adalah seorang pria mata keranjang yang sangat kotor, hobi mabuk, berandalan dan juga penggila wanita.
Jadi kami berkesimpulan untuk meminta saran dan juga petunjuk dari Tuan, sekaligus memberikan masukan di mana bukankah lebih baik kita tunda dulu pertemuan dengan pihak mereka Tuan..? Sebab dengan kekuatan kita yang ada sekarang, aku khawatir nanti mereka yang bisa membaca keadaan kita yang masih berada di bawah mereka, sesuai karakter mereka, malah semakin bersemangat untuk menggigit kita Tuan.
Kami juga sangat khawatir mereka akan semakin bersemangat, untuk mengganggu maupun mengambil alih serta mencaplok segala usaha yang telah kita bangun selama ini Tuan.
Apalagi kalau mengingat ucapan Tuan, kalau kemungkinan sepulangnya dari Jepang Tuan akan bisa mengungguli kemampuan seorang Grand Master."
Riston yang terbilang sudah merupakan pimpinan dari tiga serangkai sahabat yang merupakan pengawal Haris itu, memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang dia rasa perlu untuk dia sampaikan, sesuai hasil musyawarah dan penelitian seadanya yang mereka lakukan tadi malam.
"Bagaimana menurutmu Halim..? Apakah kau setuju dengan usul dari Riston.?"
"Pasti setuju Tuan, pada prinsipnya kami semua sangat setuju dengan hal itu Tuan, bahkan jujurnya itu sudah merupakan hasil musyawarah kelompok kecil kami yang tadi malam melakukan pertimbangan dan penelitian terhadap sosok musuh kita itu Tuan."
"Dan kau juga setuju dengan hal itu Amanu..?"
"Ya Tuan. Kami sudah satu suara soal itu."
"Baiklah, apa yang kalian usulkan itu cukup baik, nanti aku akan sampaikan hal itu kepada Jenderal Gunawan, agar ketika orang-orang itu menghubunginya untuk menyampaikan maksudnya, Jenderal Gunawan bisa mengatakan satu alasan sehingga pertemuan kita dengan mereka tidak harus dilaksanakan."
"Hah syukurlah Tuan setuju dengan hal itu, sebenarnya kami sangat khawatir kalau Tuan akan menolak, Tapi dengan persetujuan dari Tuan kekhawatiran kami sedikit menghilang, karena bukan apa-apa Tuan kalau memang pria itu sebusuk dari informasi apa yang kami dapatkan, lewat penelusuran Albert dan juga salah seorang temannya yang merupakan hacker handal.
Pertemuan kita nantinya, bisa saja memicu bentrok di mana Tuan sendiri tahu kalau ada 10 pengawal wanita di sisi kita, yang mana mereka semuanya itu terbilang merupakan wanita-wanita yang cantik dimana sebahagiannya adalah istri-istri kami dan kekhawatiran kami paling besar adalah ketiga nyonya besar Tuan."
"Ya itu benar Tuan. Pastinya tidak akan ada salah satu dari kita pun, yang akan tahan kalau sampai manusia bajingan itu mencoba melakukan satu perbuatan yang berpotensi menyinggung Nyonya maupun melecehkan salah seorang dari 10 pengawal wanita kita."
Halim dan juga Amanu ikut menjelaskan kekhawatiran mereka, yang mana hal itu juga bersinggungan langsung dengan risiko yang melibatkan istri-istri mereka
__ADS_1
"Terima kasih kalau kalian berpikir sampai sejauh itu. Aku bisa memaklumi hal itu.
Itulah gunanya kita semua bersaudara dan saling menjaga.
Dengan adanya usul semacam ini dan ide dari kalian yang seperti ini, tentu akan meminimalisir peluang mereka untuk mendapatkan jalan, untuk bersinggungan dengan kita.
Selain itu sepertinya kalau memang pengobatan Pak derajat dan juga Bang Nurdin selesai hari ini, bisa saja kita menjadwalkan ulang atau mempercepat keberangkatan kita ke Jepang. Bagaimana menurut kalian..?"
"Tapi bukankah para pengawal baru kita itu belum tahu apa-apa yang harus mereka mereka lakukan Tuan..? Atau kami separuh saja yang berangkat Tuan, sedangkan separuh lagi biarkan saja berada di sini untuk mendampingi mereka dan mengajari mereka.?"
"Tidak usah. Itu tidak perlu, yang jelas kita berikut semua para pengawal lama akan berangkat pada saatnya, karena hal ini juga terkait dengan satu misi rahasia yang kalian sendiri tidak akan paham tentang itu.
Jadi setelah kita kembali ke hotel, kalian lakukan pertemuan terbatas sampaikan ini pada Wilson. Jelaskan perubahan rencana itu agar dia bisa menyusun ulang strategi, tentang bagaimana mengatur dan menata posisi maupun letak dari pengawal-pengawal atau satuan pengaman baru kita,
Aku juga nanti akan menyampaikan hal ini pada Jendral Gunawan, agar dia bisa membantu kita dalam hal pengamanan beberapa titik lokasi usaha kita dengan orang-orang yang berada di bawah kendalinya.
Jadi sepertinya tidak ada masalah yang cukup serius soal itu, dengan begitu musuh kita juga masih belum bisa mendapatkan momen yang tepat untuk menjalankan aksinya.
Jadi kalian tidak usah terlalu panik, masih ada jeda waktu yang cukup bagi kita untuk jauh dari masalah yang kalian khawatirkan."
"Iya tapi tetap saja kalau harus berangkat besok itu terlalu mepet tuan. Apa tidak sebagusnya dua hari ke depan atau lusa saja Tuan."
"Ya begitu juga boleh atau kalau memang hal itu terlalu memberatkan kita, biarkan saja kita tetap berada pada jadwal kita semula yang akan pergi seminggu yang akan datang."
'Saya rasa 2 hari sepertinya sudah cukup Tuan dan itu lebih ideal daripada besok atau Seminggu yang akan datang. Itupun kalau Tuan setuju."
"Baiklah untuk hal ini aku akan serahkan kepada kalian saja. Bagaimana kalian rasa baiknya itulah yang aka kita lakukan. Ayolah kalian jangan terlalu takut, apa kalian begitu takut dengan mereka..? Kalau aku mau habis-habisan percayalah mereka hanya akan menemukan kehancuran bila terlalu bernafsu untuk berurusan dengan kita.
Kalau begitu kita akan pergi lusa, kita sudahi saja pembicaran soal itu. Ayo semuanya..!"
Haris kemudian menambah kecepatan gerakan larinya, sehingga ketiga para pengawalnya itu terpaksa harus mengikuti kecepatan Haris. Tidak lama Haris bersama tiga pengawalnya itu telah memasuki area perbukitan.
Keempatnya begitu riang gembira bahagia dan penuh canda tawa, seolah-olah tak pernah ada masalah dan kekhawatiran sebelumnya.
Sikap dan pembawaan Haris yang senantiasa membawa keceriaan harapan dan juga ketenangan bagi seluruh orang yang berada disekitarnya berpengaruh besar pada sikap para pengawalnya, padahal ketiganya tadinya sudah sangat bingung dan cukup panik, menghadapi situasi yang ada di hadapan mereka, termasuk kawan-kawannya yang lain yang merupakan sesama ketua regu maupun grup satuan pengawalan dan pengamanan.
"Nah kita sudah sampai di kedai Bang Edi, sepertinya Bang Edi belum datang. Ayo kita lanjutkan ke lokasi perbatasan antara pemerintah Kota dan pemerintah Kabupaten.
Sesuai apa yang dikatakan oleh Bang Edi, tepat di tanah yang merupakan areal tapal batas itulah, keberadaan tanah atau lokasi di mana kita akan membangun hotel nantinya.
Menurut laporan dari Pak Marwan yang telah masuk padaku tadi pagi-pagi sekali, kita bisa memperoleh tanah itu dan pemiliknya telah setuju untuk menjualnya kepada kita."
"Wah itu bagus sekali Tuan. Jadi itu sebabnya Tuan mengajak kita sampai ke lokasi itu, padahal tadi kami bermaksud kita hanya sampai di area kaki bukit saja Tuan."
"Ya boleh dibilang begitulah. Karena memang kalian mengajak ke area perbukitan, apa salahnya kita sampai kepada lokasi ini."
Haris kemudian bersama kelompoknya memasuki area perkebunan Pohon pinang yang tertata rapi dan berbaris-baris, lalu karena melihat di sana ada sebuah gubuk sederhana yang terlihat asap mengepul dari atapnya, jelas sekali terlihat kalau gubuk itu sepertinya merupakan tempat tinggal dari orang yang menjaga kebun dan lahan perkebunan itu, Haris dan para pengawalnya pun menuju ke tempat itu.
"Ya sepertinya di pondok atau gubuk yang disana itu ada penjaga kebun ini. Karena memang suasananya sudah gerimis dan telah turun rintik-rintik hujan begini, bisa saja gerimis ini nanti akan berubah menjadi hujan yang lebat, karenanya tidak salah kita menumpang berteduh di sana."
"Iya, itu benar sekali Tuan. Sepertinya terjadi perubahan cuaca yang mungkin saja ini akan menjadi hujan yang lebat."
Haris dan ketiga pengawalnya kemudian meminta izin pada pemilik gubuk itu untuk dibolehkan masuk ke dalam.
"Bapak sepertinya hari sudah mulai hujan, apakah kami boleh menumpang di tempat bapak.?"
"Oh Mari Pak, silakan Pak. Tapi ya beginilah pak keadaannya, harap maklum semua berantakan begini.
Silakan masuk Pak."
"Ya terima kasih Pak."
Haris kemudian masuk diikuti oleh Amanu, Halim dan juga Riston.
Tidak lama setelahnya, para pengawal Haris lainnya yang sejak tadinya membawa mobil, juga ikut keluar dari mobil dan berlari menuju gubuk untuk bergabung bersama kelompok Haris.
"Maaf kalau boleh tahu, sebenarnya Bapak berenam ini dari mana dan mau ke mana..?"
"Oh kami memang bersengaja datang kemari Pak, siapa ya namanya Pak..?
"Oh saya syukur Pak, Ahmad syukur. Saya yang menjaga atau dipercayakan menjaga kebun ini Pak."
"Oh Pak syukur ya.? Nama yang bagus Pak."
'Terima kasih, kalau Bapak siapa namanya..?"
"Oh saya Haris. Nama saya Haris Pak dan ini adik-adik saya yang 5 orang ini adalah adik saya, kalau nama mereka yang ini namanya Riston, yang ini Halim, ini Amanu yang satu lagi Anton dan itu paling pinggir dekat pintu namanya Erik Pak."
"Oh iya. Lalu, terus bapak-bapak ini mau ke mana dan punya keperluan apa tadinya..?"
"Oh kita memang tujuannya bersengaja datang kemari, untuk melihat lokasi kebun ini Pak.
Tanah dan kebun ini akan dijual oleh pemiliknya kepada kita Pak. Jadi ya selagi ada waktu kita ingin untuk melihat-lihat kemari
Rencananya nanti di area ini akan kita bangun hotel bertingkat yang merupakan hotel berbintang 5."
"Mendengar penjelasan dari Haris, orang tua itu terlihat menghempaskan nafasnya dengan mendesah cukup berat dan sepertinya dadanya terasa semakin berat.
Haris yang melihat reaksi itu segera paham apa yang pria tua itu rasakan. Haris telah kenyang dan sangat akrab dengan perasaan semacam itu setiap hari dahulunya, ketika masih menjaga atau merawat kebun milik orang lain di masa lalu."
__ADS_1
"Pak syukur terlihat sangat sedih soal itu. Pak syukur tidak usah khawatir, kalau memang Pak Sukur mau, Pak syukur tetap bisa bersama kita, artinya Pak syukur akan bekerja bersama kita saja, untuk membantu merawat lingkungan ini nantinya. Sebab saya berencana untuk mempertahankan sebagian dari kebun-kebun ini, meskipun nantinya di area ini akan dibangun hotel."
Mendengar hal itu keceriaan segera terlihat kembali di wajah tua Pak syukur. Senyumnya pun telah kembali mulai sumringah terlihat seperti saat awal mula rombongan Haris datang.
"Bapak benar-benar akan tetap mempekerjakan saya di sini..?"
"Ya tentu saja. Malah nanti pekerjaan Bapak akan lebih ringan bersama kita, tapi hasilnya akan lebih besar dari biasanya.
Saya lihat tidak ada orang lain di sini selain bapak. Apakah memang hanya bapak sendiri yang tinggal di gubuk ini..?"
"Tidak Pak. Sebenarnya saya tadinya bersama istri dan juga dua orang anak saya di sini. Tapi belakangan ini hasil kebun Pinang tidak memadai, sehingga mereka harus mengungsi dan ikut kepada anak saya yang lainnya yang juga sudah berkeluarga, mereka tinggal di kota P anak saya itu sehari-harinya bekerja berjualan sayur di pasar. Itulah sebabnya saya sendiri saja di sini, sehingga ya seperti yang bapak lihat gubuk ini berantakan Pak."
"Kenapa Bapak tidak menyewa rumah saja Pak di agar bisa berkumpul bersama keluarga, karena sepertinya kan Pinang ini tidak harus selalu dijaga, artinya tidak ada bala sebenarnya untuk Pinang ini kecuali hanya manusia yang mencuri. kalau untuk hewan sepertinya tidak ada pengganggu apalagi di daerah yang dekat dengan kota seperti ini."
"Ya itu benar pak, sebenarnya kita juga ingin memiliki rumah tempat tinggal walaupun kecil di desa atau paling tidak bisa menyewalah Pak, tapi itu tadi memang ya masih beginilah pak keadaannya. Hidup dengan umur yang setua ini, saya masih terpaksa berkutat dengan kesempitan hidup dan juga penderitaan yang tampaknya tiada akhir ini Pak.
Selain itu saya punya kebun sayur dan juga sedikit kebun jeruk yang harus saya jaga, sebab memang dari sanalah sumber keuangan kami pak utuk biaya hidup selama ini."
"Hmm.. Begitu ya Pak. Mungkin pertemuan kita inilah jalan keluarnya kalau begitu Pak. Jadi nanti bapak ikut saja dengan kami, kita akan mengunjungi Ibu yakni istri Bapak ke rumah anak Bapak yang Bapak katakan itu.
Setelahnya kita akan mencari sebuah rumah di sekitar rumah anak Bapak, atau mungkin Bapak ingin di daerah yang lain juga boleh.
Bagaimana apa bapak suka..?"
"Oh suka Pak, suka. Terima kasih Pak kalau bapak bersedia membayarkan sewa rumah untuk saya. Saya berjanji akan bekerja yang rajin nanti dan saya akan mencicil sewa rumah itu dari gaji saya Pak."
"Ha..ha..ha Pak syukur ini orang yang penuh semangat ternyata. Sudahlah tidak usah pikirkan itu Pak.
Oh ya Pak sepertinya hujan juga sudah reda. Apakah Pak syukur mau membawa kita berkeliling untuk melihat batas-batas Tanah ini."
"Oh tentu. Saya akan membawa bapak semua berkeliling. Bapak tidak usah khawatir lahan ini selalu saya pelihara sehingga senantiasa bersih dan di sebelah sana itu juga nanti kita bisa penen buah jeruk Pak, lumayan nanti buat dimakan.
Bapak bisa makan jeruk asli dan segar dari batangnya. Selain itu di sebelah sana juga ada kebun sayur-sayuran, dari situlah sayur yang kemarin dibawa oleh istri saya ke tempat anak saya itu pak."
'Iya kita juga bisa melihat itu Pak Syukur. Baiklah kalau gitu silakan Pak syukur memimpin di depan."
Pria tua bernama Pak Syukur itu kemudian membawa Haris dan kelima orang pengawal setianya, berjalan menelusuri seluruh batas-batas tanah yang merupakan tanah yang akan dibeli oleh Haris, yang luasnya kurang lebih berkisar 7 hektar, sesuai dari penjelasan pemilik tanah itu.
Cukup lama Haris dan pria tua bernama Pak Syukur itu berkeliling dan melihat semuanya dari dataran yang ada di bukit yang merupakan area perbatasan pemerintah Kota dan pemerintah Daerah itu.
"Nah ini dia Pak, yang tadi saya sebutkan kebun jeruknya. Coba Pak silakan Bapak coba jeruk yang ini."
"Ya Terimakasih Pak Syukur."
Haris menerima satu buah jeruk yang lumayan besar dari Pak Syukur dan kemudian segera mengupas dan mencicipinya.
"Hmm... Rasanya manis Pak Syukur."
Pria tua itu yang tadinya begitu bahagia menawarkan beberapa buah jeruk yang terlihat segar dan lumayan besar untuk kemudian dinikmati oleh Haris dan pengawalnya sangat senang dengan pujian Haris pada buah jeruk yang selama ini susah payah dia rawat itu.
"Iya beneran manis Tuan."
"Iya nyata memang manis. Luar biasa, tidak kalah dengan jeruk yang biasa dijual di Swalayan."
Anton, Erik dan juga Riston merasa buah jeruk yang ada pada mereka juga manis.
"Benar jeruk yang ada padaku ini juga rasanya sangat manis."
"Iya benar, yang aku makan juga manis."
Halim dan Amanu juga menyebutkan apa yang mereka rasakan.
Ternyata mereka semua mendapatkan jeruk yang rasanya sama-sama manis, sehingga mereka kemudian lanjut mengupas kulit jeruk yang kedua, karena ketagihan dengan rasanya.
"Tuan juga bisa membawa jeruk-jeruk ini nantinya pada keluarga sebagai oleh-oleh. Apakah Tuan mau..?"
"Ya kalau memang Pak Syukur mau membaginya kepada kita, tidak apa-apa. Kita akan bawa nantinya beberapa buah lagi."
"Tentu saja Tuan, kalau begitu tunggu sebentar saya ambilkan."
Pria tua itu dengan sigap segera mengambil tempat dan terlihat memilih beberapa buah jeruk yang ukurannya besar dan juga matang ke beberapa pohon yang ada di sana.
Pak Ahmad syukur juga sudah ikut-ikutan memanggil Haris dengan panggilan Tuan. Sebab dia merasa tidak enak karena ternyata sosok yang di hadapannya ini adalah sosok besar, di mana kelima pengawal yang bersama Haris juga terlihat sangat hormat pada Haris dan semuanya memanggil Haris dengan sebutan Tuan.
"Ha..ha..ha..!
Pak Syukur tidak usah ikut-ikutan memanggil saya Tuan. mereka memanggil saya begitu karena mereka itu memang sedang dalam masa tugas sebagai pengawal, kalau tidak dalam masa tugas mereka juga akan memanggil saya dengan Abang."
"Iya sama. Kalau begitu Tuan, saya juga kan sedang bertugas. Sejak hari ini saya juga kan telah ikut bekerja dengan Tuan."
"Ha..ha..ha Baiklah. Terserah Pak Syukur saja, asalkan Pak Syukur bahagia."
Haris beserta yang lainnya kemudian memanen beberapa buah jeruk manis membatu Pak Syukur.
Mereka memanen buah jeruk itu dengan begitu bersemangat, cukup lama mereka memanen sampai memakan waktu 1 jam lebih, setelahnya Haris bersama kelima pengawalnya ditambah Pak Tua yang sebelumnya meminta izin untuk membersihkan dirinya ke sebuah sumber mata air kecil yang berada di lokasi itu, lalu pergi ke kota P bersama Haris dan yang lainnya, mengunjungi rumah putranya yang merupakan seorang pedagang sayur itu.
Setelah sampai di rumah anak dari Pak Syukur, mereka mendapati rumah itu terkunci karena baik anak maupun istrinya Pak Tua, sedang berjualan sayur di pasar.
Akhirnya Haris mengajak Pak syukur yang merupakan pria tua itu, untuk sarapan di sekitaran daerah itu.
__ADS_1
Setelah menikmati sarapannya, Haris memerintahkan kepada Anton dan juga Riston untuk mencari sebuah rumah kosong yang akan dijual dengan keadan yang bagus, untuk diberikan bagi keluarga Pak Syukur, yang letakkanya harus di sekitaran rumah anaknya.
Haris sangat ingin mengisi setiap hari-harinya dengan aktivitas membantu orang lain, yang sudah menjadi tabiat dan watak pembawaannya, terlebih-lebih bila memang ada peluang dan kesempatan untuk itu.