
"Kau benar benar luar biasa sekarang Ris, uang sudah seperti kertas biasa bagimu.
"Yah! suatu rezeki yang datang dengan cara luar biasa, harus dibelanjakan dengan cara yang luar biasa pula dan pada sosok sosok luar biasa dalam hidup kita Darman temanku.
Kau adalah salah satu dari sekian banyak sosok luar biasa itu teman, maka jangan sungkan lagi ke depannya.
Rezeki luar biasa ini bukan milikku saja, kau Jhon dan sekian banyak orang luar biasa lainnya, adalah pemiliknya."
Haris mengeluarkan uang Rp 100 juta lainnya, yang sengaja Haris siapkan dalam tas kecil kepada Darman.
"Ini adalah uang peganganmu Man, uang ini bukan biaya untuk pembangunan rumah atau perobatan istrimu, itu nanti aku yang mengurusnya.
Sekali lagi ini hanya peganganmu."
"Haris, ini bukan mimpi kan sobat,?
Ini terlalu indah teman, aku tidak ingin bangun dari mimpi ini."
"Ini bukan mimpi teman, Ayo turun! rumah mertuamu sudah sampai, kita lihat seperti apa pernyataan dokter."
Haris dan Darman masuk ke dalam rumah, sedangkan Diana dan ibunya sudah ada disana.
"Jadi bagaimana hasilnya dek ?"
"Katanya ini sudah tidak bisa ditangani disini bang, harus sudah dibawa ke Rumah sakit."
"Ya sudah kalau begitu apa lagi?
Ayo kita berangkat."
"Tapi masih mau ngurus surat surat kata ibu bang?
"Surat surat apa bu?"
Haris bertanya kepada mertua Darman.
"Surat agar pembiayaannya nanti tidak mahal nak Haris."
"Waduh kelamaan bu', ayo kita berangkat sekarang.
Haris yang akan menangani semua masalah biaya bu, Haris sudah sebutkan tadi pada Darman, ya kan Man?"
"Iya bu' agar Siti cepat dapat perawatan, dia sudah terlalu lama menderita."
"Sudah jelas ya!
Kalau begitu silahkan semuanya berkemas, agar kita berangkat langsung.
Dek tadi Very sudah datang?"
"Sudah bang, sudah adek bilang nanti datangnya kemari."
"Oh bagus kalau begitu."
"Bang...!"
[Very datang dan memanggil]
"Oh sudah datang kau ver?
Baik. Pak ibu kita berangkat sekarang. Man kau di mobil itulah sekalian megang biar jangan jatuh dari kursi mobil orang rumahmu."
__ADS_1
"Ya Ris,"
"Ya ayo kita angkat, buka pintu mobilnya Ver!"
"Siap bang."
"Ibu ikut?"
"Ibu disini aja Ris, nati bapakmu sama si Andri kecarian, lagiankan sudah ada Haris sama Diana."
"Oh ya udah, kami berangkat bu', sekalian ibu ingatkan kak Butet dan bang Beni yang mau ngajari Andri bawa mobil itu bu"
"Ya nanti ibu ingatin."
Haris dan Diana berangkat ke Rumah sakit di kota P, mendahului mobil yang di bawa Very di depan.
Dokter dari Klinik Hotel Nurul Haris mengatur segalanya tentang urusan rumah sakit untuk Haris pimpinan mereka di klinik itu.
Very yang melihat mobil di depannya berdecak kagum pada mobil bosnya, apalagi setelah tahu harganya dari beberapa situs berita internet.
Mulutnya terasa gatal untuk tidak mengatakan harga mobil itu, dia lalu mulai berbincang pada Mertua Darman, yang duduk bersama dengannya di depan.
"Bapak tahu ngak berapa harga mobil direktur yang dipakai itu?"
"Ngak Veri , kira kira berapa ?"
Kalau harga satu mobil direktur itu dibelikan ke mobil yang kita naiki ini pak, dapat sekitar 53 unit mobil."
"Wah! banyak sekali Very, memangnya berapa harga mobil itu?"
"Harganya 38,7 miliar pak atau 38 ribu tuju ratus juta pak, sedangkan yang kita pakai berkisar 700 juta lebih."
Semua orang yang ada di mobil itu terkejut kecuali Very, dan itulah yang Very inginkan, seperti keterkejutannya sebelumnya saat pertama kali tahu harga mobil tersebut.
"Sekaya apa nak Haris itu sekarang kalau uang segitu banyak aja, dia merasa ngak sayang membelikannya pada mobil sekecil itu?"
"Sukar membayangkannya pak, di desa pak direktur saja, satu kampung itu dia bangun ulang rumahnya.
Kalau satu rumah di asumsikan biaya pembangunannya Rp 200 juta, maka untuk warga desa yang berjumlah 500 kepala keluarga itu, harus keluar biaya sekitar 100 miliar pak.
Nambah sedikit lagi sudah bisa beli hotel bintang lima.
Lihatkan pak betapa dermawannya pak direktur, maka beruntunglah orang orang yang dekat dengannya.
Mendengar semua cerita seram itu mertua Darman berkata " Apalagi Darman orang lain saja sudah dibangun rumahnya, kamu kawan dekatnya minta dong biar dibangun juga!".
Darman menggerutu dalam hatinya
"Dulu kalian sangat memandang rendah dan menghinanya, sehingga melarang kami berteman? sekarang baru kalian berharap harap padanya."
"Darman kok kamu ngak jawab bapak?"
"Eh Darman tadi melamun memikirkan penyakit Siti pak, bapak bilang apa tadi?"
"Bapak bilang, semua orang sudah dibangun rumahnya, kamukan kawan dekatnya minta juga dong biar rumah kamu dibangun!"
"Sudah pak, sebelum Darman minta, Haris sudah menawarkannya, selesai pengobatan Siti rumah itu akan dibangun dimanapun Darman mau membangun."
"Bagus, ya Sudah di kampung kita ini saja dibangun, kalian ngak usah balik lagi ke kampungmu sekalian minta pekerjaanmu."
"Sudah di tawarin juga pak.
__ADS_1
Bahkan Jhoni juga akan di jemput dari kampungnya dan akan dibangun juga rumahnya dan diberi pekerjaan bagus nantinya, setelah selesai urusan pengobatan Siti."
Siti yang sedari tadi mendengar pembicaraan itu tidak begitu merasakan lagi, sakit yang di deritanya.
Semua ucapan suaminya seolah menjadi bius, yang mematikan rasa sakit di tubuhnya.
"Benar Haris mengatakan itu bang?"
"Benar dek! Makanya kau semangatlah berjuang untuk sembuh, biar kita bangun rumah impianmu selama ini."
"Air yang hangat meleleh di pipi Siti istri Darman, dia yang dalam posisi tidur di kursi mobil itu menggenggam tangan Darman lebih kuat dari sebelumya."
Darman menatap istrinya dengan hangat, yang telah berurai air mata itu.
Darman lalu menghapus air mata itu dengan lembut.
Bermaksud memberi istrinya semangat, Darman membuka sedikit retsleting tas kecilnya dan memperlihatkan uang baru pecahan 100 ribu, dengan jumlah 100 juta pemberian Haris.
Darman langsung menutupnya, begitu istrinya menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
Darman berbisik dengan suara yang sangat pelan pada istrinya, menyebutkan uang 100 juta.
Mata Siti berbinar dan berucap "Bang Siti akan semangat, Siti ingin sehat lagi bang."
"Alhamdulilah, semoga segera tercapai keinginan kita ya dek..Aamiin."
"Aamiin." Siti menyambung do'a suaminya.
Perjalanan itu sudah tidak lagi begitu menyakitkan bagi Siti, rasa sakit kehidupannya yang sudah terlalu pahit selama ini, membuatnya ingin segera mengakhirinya.
Dia yakin pada Haris, Siti tahu seperti apa dekatnya hubungan tiga serangkai, yang digelar warga desa sebagai 'pendatang melarat' pada suaminya dan kedua temannya itu.
Dahulu terkadang Siti sangat heran, kenapa mesti dua orang melarat itu yang jadi teman suaminya.
Kenapa suaminya tidak mencari teman yang keadaan ekonominya di atas mereka, agar bisa mendapat peluang yang lebih, daripada sekedar berteman dengan sesama orang susah.
Siti tidak faham bahwa gunung hanya akan memandang gunung lainnya dan hanya sesama lembah yang akan saling menyatu.
"Hmmm... Bang Darman dekat ya sama boss?"
Veey tertarik soal cerita kedekatan Darman kepada Haris.
"Bukan dekat lagi dek Very, sangat dekat malah. Sama seperti saudara yang di ikat dengan talian darah."
"Hmm.. kalau begitu Very minta bantuan bang Darman dong, buat memberikan nilai baik di hati bos terhadap Very."
Darman yang mendengar itu faham maksud Very.
"Ya sebenarnya dalam penilaian bos kita Haris, Very sudah baik kok saat ini tapi yah akan saya tambah lagi nantinya nilai itu."
'Ah yang benar bang Darman jangan buat Very jadi harap harapanlah."
"Benar kok, saat Bos kita menelephon Very abang ada di sampingnya kok waktu itu.
Persis saat mau mengantar bantuan kepada seseorang yang di kenalannya sejak dulu.
Dan dia juga banyak cerita kok, soal Very yang membantu membawa dan membagikan oleh oleh di desanya."
Mendengar itu baru Very yakin pada ucapan Darman sebelumnya, bahwa dia tidak berbohong saat mengatakan Haris menilai baik dirinya.
Very semakin hormat pada Darman dan keluarganya dan memperlakukan mereka dengan tulus.
__ADS_1
Mobil terus melaju tanpa hambatan dan rombongan Very telah sampai dan Siti langsung dirawat dengan baik dengan perawatan terbaik yang ada di Rumah sakit itu.