
"Bang..! Apa satu malam ini Abang tidak ada tidur..?"
"Tidak. Abang menjaga kalian semua, apakah tidurmu pulas malam ini dokter.?"
"Aku tidak suka kalau Abang yang memanggilku dengan panggilan itu, seperti masih ada jarak rasanya. Aku lebih suka Abang memanggilku dengan namaku, atau dengan sebutan Adek kalau Abang berkenan."
"Hehe.. Bukankah adekku ini memang benar adalah seorang dokter. Tapi baiklah Abang akan memanggilmu dengan sebutan yang kamu suka, bagaimana dengan sebutan Adek sayang.?
"Nah begitu dong, jadi alangkah indahnya hari di pagi ini, begitu terasa dengan mendengar panggilan itu."
"Kalau begitu bersiaplah bahwa setiap hari akan menjadi hari yang indah Adek sayang, kalau tidak salah katanya dokter cantik ini sudah bersedia menjadi istriku, betulkah demikian.?"
"Betul 100%."
"Hmmm... Sayang sekali padahal dia bisa saja dapat pria yang lebih baik dariku."
"Tidak ada pria yang lebih baik bagi dokter ini, kecuali pria yang saat ini berada di dekatnya."
'He..he..heh Wanita memang aneh.
Ya baikah, Tapi Adek belum menjawab pertanyaan Abang. Apakah Adek tidur pulas malam ini.?"
"Sangat pulas damai dan begitu lelap, tanpa pernah terbangun sama sekali walau sebentarpun. Adek begitu nyenyak tidurnya, sampai subuh di pagi hari ini baru terbangun.
Abang tidak sholat.? Biar Shasmita yang menjaga Kakak."
"Ya kita gantian saja untuk menjaga kakakmu, sekarang Abang pergi sholat dulu."
Haris kemudian melaksanakan ibadah yang menghubungkannya dengan Tuhan itu, selesai melaksanakan ibadah yang merupakan transfer suplai kekuatan jiwa dari sang Pencipta kepada makhluk-Nya itu, Haris kemudian datang menggantikan Shasmita.
Sesudah selesai sholat shubuh, Shasmita pergi untuk menyiapkan sarapan pagi bagi Haris dan juga Diana serta Kirana, yang memang sedang berpantang beberapa makanan khusus, harus dijaga baik gizi maupun pantangannya itu.
"Bang Shasmita ke dapur dulu untuk menyiapkan sarapan buat Kakak dan juga Abang."
"Terima kasih ya Dek, semuanya jadi merepotkan Adek."
"Tidak. Shasmita tidak merasa direpotkan kok Bang, jangan katakan begitu kalau Shasmita juga sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga ini."
"Iya tapi tetap saja kita harus menghargai sebuah ketulusan dan kebaikan bukan..?
Bagaimana mungkin tidak dianggap bahkan nama Adek sudah terukir di sini."
Haris menunjuk kepada hatinya.
Shasmita merasa begitu bahagia, dia merasa dunia tiba-tiba saja terasa begitu indah.
Dengan senyum yang menghiasi bibirnya yang merah alami itu, Shasmita berlalu menuju dapur.
Hari semakin terang, cuaca yang sebelumnya cukup sejuk dan dingin berganti menjadi hangat bersamaan dengan datangnya sinar mentari pagi, yang memberi harapan dan kebaikan bagi semua orang.
Kembali kegiatan di desa P dimulai pada pagi hari itu, warga desa kemudian berlalu lalang menuju tempat usaha mereka masing-masing dalam mengais rezeki, untuk kebutuhan nafkah hidupnya.
Pagi itu beberapa teman-teman Haris dan juga warga desa yang sudah menganggap Haris sebagai pahlawan mereka, setelah mendapatkan kabar bahwa Kirana dan Diana Sedang dalam keadaan sakit, banyak dari warga desa itu yang datang sehingga memenuhi pagar gerbang Villa milik Haris. Mereka meminta izin agar diperbolehkan masuk untuk menjenguk kedua istri Haris.
Riston yang mendapati hal itu kemudian mengadukan hal itu kepada Haris dan bertanya apakah warga dibolehkan untuk masuk atau tidak.
"Tuan saat ini ada begitu banyak warga desa di luar, yang ingin menjenguk Nyonya berdua yang sedang sakit. Mereka datang bersama wak Mak Lin dan teman-teman Tuan lainnya. Apakah mereka saya persilahkan saja masuk atau bagaimana Tuan.?"
"Ya biarkan saja mereka masuk Riston.? Mereka itu juga sudah seperti keluarga kita sendiri. Biarkan mereka masuk, tapi katakan kepada mereka supaya tertib dan atur mereka nanti masuknya agar jangan berebut, lalu sediakan tempat bagi mereka di plataran depan, kemudian untuk kaum ibu yang ingin melihat kakakmu ke ruangan ini, atur agar datang secara bergantian."
"Baik Tuan. Kami akan mengatur segala sesuatunya, saya akan pergi sekarang Tuan."
__ADS_1
"Ya pergilah Riston katakan pada Halim, Amanu, Wilson dan juga yang lainnya untuk ikut membantumu."
"Ya Tuan."
Sesudah Siana dan Kirana selesai sarapan yang diberikan langsung oleh Haris sendiri, beberapa warga kemudian segera dipersilakan masuk, dimana di antara mereka ada sejumlah wanita yang kemudian secara bergantian diizinkan untuk menjenguk Diana dan Kirana.
"Selamat pagi Adik Diana, Kirana dan Adik Haris Kakak dan kawan-kawan bersengaja datang kemari untuk menjenguk Diana dan Kirana. Mudah-mudahan kehadiran kami bisa menambah sehat, menambah semangat menambah doa yang berkat, supaya adik Diana dan Kirana cepat sembuh ya Dek."
Kami nggak bawa apa-apa lho Dek, cuma bawa sayur-sayuran dari lahan pertanian kita. Karena kakak tahu kalau Dek Diana dan Kirana itu terkena racun dan sudah berobat kepada tabib Maksum, karenanya Kakak dan kawan-kawan sengaja membawakan sayur-sayuran yang semua ini tidak melanggar pantangan kalau berobat ke tempat tabib Maksum."
"Kak di Deriana, Kak Mar dan kamu dek Misnah serta semuanya. Maaf nggak bisa mengucapkan namanya satu persatu, Terima kasih ya sudah meluangkan waktu meringankan langkah untuk datang berkunjung melihat kami kemari."
"Ih Adik Diana masa malah berterima kasih.? Adik itu bersama keluarga semuanya adalah pahlawan bagi kami di desa ini, jadi tentunya tidak ada hak kami untuk menerima ucapan terima kasih dari Dek Diana sekeluarga.
Kamilah para warga yang harusnya selalu harus berterima kasih, sebab kami masih banyak berhutang rasa terima kasih."
"Tidak begitu juga dong Kak, semua niat baik semua rasa simpati dan juga perhatian Kakak beserta warga semua itu, sangat berarti bagi kami, sangat berarti bagi keluarga kami. Maka bagaimana mungkin kami tidak berterima kasih.?"
"Kehidupan inikan bukan hanya semata-mata soal pemberian dan lainnya, tetapi hubungan silaturahmi yang baik dan juga jalinan kekerabatan serta pergaulan dan kebersamaan itu, juga harus diikat dengan rasa terima kasih."
"Wah Nyonya kita sepertinya sudah bisa berceramah nih ya Bu Mar dan Dek misnah.! Kalau begini, roman-romannya nggak lama lagi bakalan sembuh deh nih ya kan.?"
"Iya betul Bu Deriana, Dek Diana bersama Dek Kirana Ini sepertinya sudah segar kelihatannya."
"Syukur Alhamdulillah ya Kak Mar, Kak Deri dan juga Dek Misnah juga saudariku yang lainnya kedatangan saudariku semuanya ketempat kami hari ini, sangat menambah semangat bagi kami menjadi obat dan penguat serta penawar rasa sakit nian kiranya, makanya tadi Diana mengucapkan terima kasih sejak awal.
Oh ya semuanya kenalkan ini Adik kami namanya Shasmita, Adik kami yang bernama Shasmita ini sama seperti kami kedepannya akan menjadi istri dari Tuan Haris suami kami, atas permintaan kami berdua.
Adik ini kalau Kakak dan warga semuanya tahu dan pernah mendengar namanya, adalah seorang dokter yang juga merupakan Direktur Utama di Rumah sakit kita yang keberadaannya tidak jauh dari lokasi perkebunan sayur milik warga itu."
"Oh Ternyata begitu. Selama ini memang telah banyak dari kami yang mendengar namanya hanya saja tidak pernah melihat orangnya sama sekali dan baru kali Inilah kami langsung melihatnya.
"Iya selamat ya."
"Selamat ya dokter Shasmita."
Shasmita kemudian dihujani ucapan selamat dari orang-orang yang datang menjenguk Diana dan juga Kirana. Baik Diana, Kirana maupun Haris tersenyum melihat sikap Shasmita yang malu-malu, sehingga wajahnya jelas sekali terlihat merah merona itu.
"Terima kasih semuanya ibu-ibu, maaf saya kalau saya belum bisa menyebutkan nama ibu satu persatu, mungkin perlu waktu bagi saya untuk bisa mengingat semuanya nantinya.
Iya saya adalah Shasmita. Saya Direktur Utama yang ditugaskan oleh Abang untuk menangani Rumah Sakit kita disana. Jadi kalau ada anggota keluarga ibu atau kakak semuanya yang sakit, apalagi khusus warga di Desa P ini, Abang sudah lama mengatakan kepada kami seluruh pengurus atau staff yang bekerja di rumah sakit untuk menggratiskan biaya pengobatan, sehingga tidak akan ada biaya apapun yang akan dipungut.
Karenanya bila warga desa P dan juga warga desa S tempat di mana Kak Diana istri Bang Haris yang pertama berasal, datang untuk berobat baik Ibu, Kakak atau siapapun anggota keluarga yang sakit, jangan ragu-ragu.
Katakan saja kepada petugas kita yang sedang bekerja disana, bahwa Bapak Ibu atau kakak saudara semuanya adalah warga desa P ini, atau kalau menemukan kesulitan apapun dalam hal pengobatan hubungi saja saya. Saya juga berkantor disana."
"Wah tidak salah memang Dek Haris disebut Tuan Haris sekarang. Makak bertambah salut sama Dek Haris, sudahlah kaya rendah hati, Dermawan pula dan begitu penyayang suka memperhatikan orang lain.
Kini pula telah dianugrahi 3 bidadari yang begitu baik, lembut dan juga perhatian serta sama baiknya seperti Dek Haris.
Kakak do'akan Dek Haris sekeluarga panjang umur murah rezeki dan senantiasa berada dalam balutan hangatnya kasih sayang Allah serta sejuknya ampunannya."
"Terima kasih Kak Deriana, Terima kasih atas semua do'a baiknya. Haris dan keluarga juga berdo'a semoga kita semuanya memperoleh kebaikan yang sama, memperoleh manfaat serta barokah yang sama, seperti do'a yang sudah kakak langitkan."
Warga begitu betah untuk berlama-lama mengunjungi Haris, Kirana maupun Diana. Mereka sampai lupa dengan waktu, secara terus-menerus mereka bergantian masuk ke dalam kamar untuk menjenguk Kirana dan Diana yang ditempatkan di kamar itu.
Kecuali beberapa orang terdekat dari Diana, selama ini seperti Deriana, Mar dan juga Misnah serta istri Fauzan yang belakangan datang bersama istri Mak Lin, warga yang lainnya saling bergantian masuk ke ruangan yang dijadikan sebagai kamar sementara bagi Diana dan Kirana itu.
Kedatangan warga itu betul-betul menjadi penambah semangat bagi Diana maupun Kirana. Hal itu bukan hanya menjadi sekedar omongan basa-basi mereka kepada warga, tetapi memang kedatangan warga itu benar-benar menjadi semangat bagi mereka.
Haris kemudian mengatakan kepada Fauzan dan juga Nando agar memesan nasi dari beberapa kedai nasi yang ada di sekitar Desa P dan lauk khusus dari rumah makan milik Mardan.
__ADS_1
Warga yang datang mengunjungi Diana dan Kirana, semuanya diberi makan dengan baik mereka diperbolehkan makan di pelataran Villa, halaman atau di taman-taman, termasuk di pinggiran-pinggiran kolam renang dan juga kolam ikan milik Haris yang ada di sana. Orang-orang itu seperti liburan saat datang ke Villa Haris dan tirai yang menutupi Dinding kaca tempat Kirana dan Diana menginap dibuka keseluruhannya, agar baik Diana maupun Kirana bisa melihat keseruan warga yang ada di luar.
Haris sengaja melakukan hal itu untuk menyenangkan dan membahagiakan hati kedua istrinya.
Shasmita yang menyaksikan hal itu semakin salut, semakin cinta dan semakin merasa kurang cepat bagi dirinya untuk juga dihalalkan sehingga resmi menjadi ratu Bagi Tuan Haris seperti dua Ratu lainnya yang begitu dimanja oleh Haris.
"Bang..! Apakah kehidupan Abang selalu seseru ini..? Shasmita menjadi iri dalam artian yang positif kepada Kak Diana maupun Kirana, yang sudah begitu lama memperoleh perhatian serta kasih sayang dari Abang.
Kapan Shasmita juga beroleh hal yang sama Bang.?"
"Sabar ya Dek, toh Adek juga akan bakalan seperti itu. Setelah hal yang menyakitkan ini berlalu, kita baru membicarakan hal itu kepada kedua keluarga kakakmu juga yang paling penting tentunya kepada keluarga dokter cantik yang bersedia menjadi istriku ini. Siapa yang tahu coba.? Kita sudah begitu semangat ternyata calon mertua Abang itu, tidak setuju."
"Harus setuju Papi harus setuju Shasmita menikah dengan Abang, kalau tidak setuju Shasmita akan mengancam ha.hah."
"Masa begitu sih..? Orang tua kok diancam.?"
"Iya kan cuma mengancam, kalau Shasmita tidak akan pernah menikah selamanya, kalau bukan sama Bang Haris ha..ha..ha.
Tapi Abang tenang saja, Papi Shasmita baik kok Bang, suka menuruti kemauan putrinya kesayangan ini."
"Kalian bertiga ini sering sekali membuat Abang merasa menjadi Pemuda paling tampan di seluruh dunia ha..ha..hahh."
"Memang kenyataannya demikian lho Bang..!"
"Ah ternyata Bu dokter ini bisa gombal juga nih...hehe."
"Adek Shasmita bukan sedang mengombal lho Bang, tapi memang itu yang ada di dalam sini."
Shasmita kemudian menunjuk hatinya, seperti mana Hari tadinya memberi kode, sambil menunjuk hatinya.
Haris tersenyum dan baik Diana maupun Kirana yang melihat Haris yang mulai menerima Shasmita itu saling pandang-pandangan dan tersenyum kemudian keduanya meraih jari jemari Shasmita dan mengucapkan kata selamat.
"Selmaat ya Dek..! Selamat akan menyusul keberadaan kami me.jadi pendamping Abang."
"Iya terima kasih Kak ucapan selamatnya. Makanya cepat sembuh dong Kak Diana dan Kak Kirana, supaya hari bahagia itu semakin dekat datang kepada Shasmita."
"Hahaha sudah nggak sabaran dia Dek Kirana..!"
"Iya kelihatannya begitu Kak Diana.
Kakak berdua bakalan sembuh kok, Kakak sudah tidak merasa sakit lagi seperti hari pertama terkena racun itu. Tapi sebelum itu kakak berdua akan sangat menyulitkan Adek dokter kami ini. Pasti panas ya rasanya memasak di dapur..? Biasa pegang jarum suntik dan obat sekarang harus masak, kasihan ya nggak Kak Diana.?'
"Iya kasihan sih tapi bagaimana lagi, kan memang maunya dia..? Kalau mau sama Abang ya harus begitu he.he.!"
"Enggak kasihan juga sih Kak, Shasmita jugakan harus belajar menjadi istri yang baik. jadi selain memang harus bisa melayani suami dengan baik, tentu juga harus bisa memasak di dapur begitu. Jadi Shasmita sama sekali nggak merasa kesulitan kok."
"Nah nggak salah nih Kak Diana kita memutuskan Adik Shasmita ini untuk bersama kita."
"Iya sudah klop Dek Kirana, pikirannya perasaannya, juga pembawaannya semua sama dengan kita. Mudah-mudahan kita semua nanti akur ya..!"
"Iya dek Kirana."
Deriana, Mar dan juga misnah serta Istri Fauzan dan istri wak Mak Lin yang tidak sedikitpun beranjak dari kamar Diana, merasa begitu heran dan merasa begitu salut kenapa ketiga wanita itu. Mereka tampak akur dan bisa begitu kompak tanpa berselisih paham, apalagi bertikai. ketiganya saling dukung mendukung untuk sama-sama menjadi pendamping yang baik bagi Haris.
Setelah warga pergi secara bergantian gelombang orang-orang datang untuk menjenguk Diana maupun Kirana, baik dari dua Hotel Harris yang ada di kota P, satu Hotel miliknya yang berada di kota S dan juga berbagai perwakilan warga dari wilayah Timur.
Begitu juga dari kantor ekspedisi termasuk dari keluarga Prawirawan dan Master Lim juga datang berkunjung menjenguk Haris.
Tidak ketinggalan warga Desa kelahiran Jhon dan juga warga desa S juga hadir. Villa yang luas itu terasa begitu sempit dengan begitu banyaknya gelombang manusia yang datang silih berganti.
Para pengawal Haris dari kota P sampai-sampai harus didatangkan, untuk mengatur segala sesuatunya keadaan di Villa Haris.
__ADS_1