Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _60 : Penyerangan desa


__ADS_3

Penangkapan pelaku penganiayaan Jhon dan teman temannya, membuat gempar desa dan daerah sekitarnya.


Banyak yang tidak menyangka kalau raksasa penguasa yang merupakan tiran lokal itu, akan bisa bernasib sial beroleh buah pahit dari hasil perbuatan busuknya sendiri.


Namun walaupun begitu pihak pelaku tidak menyerah dan kekuatan keluarga mulai mereka gerakkan.


Mereka gunakan berbagai cara baik secara hukum, maupun kekuatan massa.


Pagi itu di sebuah kedai kopi, warga desa banyak membicarakan peristiwa, yang tidak pernah mereka duga akan terjadi itu.


"Gila si Ronald kabarnya sudah gol.


Kau dengar ngak kabarnya?"


"Sudah. Katanya sudah menginappun dikantor pihak berwajib...wkwkwkwkwk..


Kalau sudah begitu, baru turun kumis itu."


"Elleh paling bentar lagi keluar, berdamai atau apalah, macamlah itu.


Keluarga Ronald nggak akan mungkin diam."


"Ngak juga.


Nggak akan bisa walau mereka akan bergerak, kabarnya saudara si Jhon juga orang kuat.


Kemaren saja banyak yang bilang saudara si Jhon itu datang bawa mobil harga puluhan miliar kemari."


Perdebatan di kedai kopi di pangkal desa si Jhon dan kawan kawannya pagi itu, benar benar menjadi berita paling hangat.


Semua orang sibuk membahas kejadian yang berkembang saat itu.


Para politikus dadakan mulai bermunculan, membahas dan memprediksi ujung dari kejadian itu.


Warga merasa terhibur dengan pembicaraan itu.


Banyak warga yang menginginkan si penganiaya di hukum berat. karena mereka juga pernah mendapat imbas dari perbuatan semena menanya.


Sementara beberapa petugas masih berjaga 24 jam, mengantisipasi meluasnya keributan antar warga.


"Apa yang bisa dilakukan keluarga Ronald, kalau sudah begini coba?"


"Eh jangan sepele, abangnya juga ada yang pejabat lho."


"Pejabatpun ngak akan mempan, kalau sudah banyak bukti yang membenarkan dan membeberkan semua perbuatan jeleknya selama ini."


"Ha..haaha itukan kata kau.


Lihat ajalah ini kabarnya sudah banyak orang yang mau pergi mendemo desa mertua di Jhon, karena kabarnya istri si Jhon, yang membuat laporan pada pihak berwajib.


Siapa yang tetarik mau ikut?


Bayarannya besar lho kali ini."


"Mendemo atau menyerang?


Aku pernah ikut sekali yang beginian waktu itu karena begitu susah sekali, ngak ada uang karena hari hujan, eh rupanya demo yang dimaksud adalah perang, apes sekali untung aku masih hidup sampai hari ini wkwkwkwk."


"Kalau kali ini jangan coba ikut ikutanlah kelen bela si Ronald, percayalah kali ini dia akan tumbang."


Masing masing orang masih sibuk membahas masalah itu dan mengeluarkan pendapatnya.


Sambil menyesap kopinya dan bicara banyak hal, warga desa membahas issu yang sedang hangat itu

__ADS_1


Beberapa orang yang ikut minum di kedai itu, merupakan anggota keluarga Jhon dan teman temannya yang sempat di sekap.


Bagi mereka ini sudah menjadi pertarungan antar keluarga, kelangsungan keluarga mereka akan di tentukan setelah kejadian ini.


Karenanya mereka tidak mau diam dan sudah ikut bergerak dalam pertarungan kali ini, dengan menyebar ke segala arah guna mencari segala informasi, pergerakan massa dari pihak si tuan tanah.


"Bagaimana mereka akan bisa untuk mendemo pak Porkas?


Sedangkan pihak berwajib masih bertahan di desa kita ini untuk berjaga jaga?"


"Eh panjul! bisa aja, khabarnya mereka sudah mulai berkumpul malah di pekan yang ada di desa P, jadi gerakannya tidak kelihatan, datangnya satu satu sampai mereka berkumpul satu mobil truk besar.


Mungkin sudah bergerakpun"


Mendengar informasi yang mendadak itu, keluarga Jhon segera menyampaikan kabar itu pada besannya yakni pihak keluarga istri Jhon di desanya.


Rumah keluarga istri Jhon yang berada di ujung desa, adalah tempat yang akan pertama kali didapati kalau datang dari desa si Ronald.


Pihak keluarga istri si Jhon yang mendengar kabar mendadak itu, segera meresponnya dengan bersiap sedia, menghadang para pelaku yang akan menyerang mereka.


Adik istri si Jhon mengumpulkan banyak pemuda, yang merupakan teman temannya dan menjelaskan kabar itu.


"Ha! beneran Wan, mereka mau datang? Oh senang kalilah aku.


Terakhir kita punya masalah dengan warga desa itu ketika warga mereka menabrak lari warga kita pada saat ada acara pesta kemaren.


Anehnya, entah bagaimana caranya mereka bisa lolos dan masalah selesai dengan mudah dan berdamai begitu saja."


"Kali ini nggak akan, ayo kita bersiap! begitu mereka turun langsung hujani dengan batu dan sikat habis."


"Ayo ayo bersiap, ambil posisi masing masing."


Beberapa pemuda sudah bersiap sedia, warga desa yang heran melihat pergerakan pemuda di desanya, tertarik untuk bertanya.


...-----...


[Kembali ke kedai kopi semula]


"Ha..hahah hebat.. hebat!


Kali ini keluarga si Ronald akan kena batunya.


kalian ingat tidak?


Selama ini kalaupun mereka yang bersalah dan membuat masalah terlebih dahulu pada desa manapun, pasti akan berujung damai dan tidak ada yang berlanjut.


Malah selalunya pihak lain yang akan di tekan, untuk memohon perdamaian pada mereka dan dipaksa menerima beberapa syarat, yang memberatkan pihak lain dan menguntungkan pihak keluarga Ronald.


Tapi kalau kali ini hahaha!


Sudah satu hari satu malam jagoan mereka itu belum bisa lepas.


Aku salut dan penasaran pada pihak lawan keluarga Ronald kali ini... hahah."


...------...


'Bagaimana, sudah siap?"


"Siap bang!"


"Yang semangat ya nanti, semua akan dapat uang yang banyak, kalau misi ini berhasil hasil panen kalian tahun ini tidak usah disetorkan, bagaimana senang ngak.?"


"Senang tuan!

__ADS_1


Ha..hahahah sangat senang."


"Baik, ayo kita laksanakan.!


Tunjukkan kita masih jadi pengusaha di sekitar daerah ini.


Kita pernah punya masalah dengan desa ini dulu saat warga kita menabrak warga mereka,


Jadi tenang saja, tidak ada yang berbobot di desa ini.


Semua akibat nanti akan ditanggung oleh pamanku, si tuan yang pejabat itu.


Biarkan mereka bertarung diatas secara hukum, kita bertarung di bawah dengan kekuatan massa yang kita miliki.


Warga desa ini, tidak akan berani ikut ikutan percayalah!


Setelah tikungan akhir di desa H nantinya, akan sampai di rumah mertua si Jhon.


Semua segera turun langsung serang, ratakan rumah itu dengan tanah, sudah faham semua?"


"Fahaaaaaamm tuan."


Warga yang di koordinir anak dari salah seorang, abang si Ronald yang di tangkap itu, membawa massa bringas yang merupakan para petani yang selam ini menggarap lahan mereka.


Massa ini sudah sering dibawa dalam urusan semacam ini dan mereka cukup percaya diri dan berpengalaman melakukan pekerjaan itu.


"Ayo siapkan senjata kalian, tinggal dua desa lagi."


"Siap bos! semua sudah siap tempur."


"Bagus jangan kasih ampun, kita akan bergerak cepat.


Ingat ini sudah biasa kita lakukan."


"Tapi bos, bukankah tuan bahkan sudah di tangkap karena aduan orang kampung ini dan tidak bisa dilepaskan, sampai sekarang.?"


"Plak....!"


Sebuah tamparan mendarat di wajah orang yang merasa ragu itu.


"Kalau kau takut, kenapa kau ikut?


Berhenti!"


Mobil truk Fuso segera berhenti karena perintah bos mereka dan orang yang tadi menyampaikan keraguan di tendang dan di buang dari atas truk ke parit jalan dan ditinggal begitu saja.


"Cuihhh dasar pengecut mampus kau!


Awas kalau masih kelihatan di desa setelah ini kuhajar kau sampai mati.


Maju....!"


"Aduhh!


Dasar setan, anak setan, orang cuma berpendapat, sudah di hajar, semoga kalian semua mati.


Aduh tulangku patah, dasar brengsek..!"


Mobil yang merupakan massa yang akan menyerang rumah mertua si Jhon terus meluncur.


Dengan cepat mobil itu sudah sampai di ujung desa S, yakni desa mertua si Jhon, setelah melewati tikungan mobil itu berhenti di pinggir jalan.


"Seraaaaaang.....!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2