Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _81 : Tidak seperti bos lain


__ADS_3

[Fauzan memanggil]


"Halo Assalamu 'alaikum


Ini aku bang, Fauzan."


"Ya Fauzan.


Wa 'alaikum salam


Apa kabar Zan sehat..?"


"Alhamdulillah sehat bang.


Sudah lama abang nggak datang ke kampung, dimana abang sekarang?"


"Oh ini lagi di kota K di tempat kakakmu ini Zan.


Mungkin dua hari ini baru pulang, ada apa Fauzan.?"


"Oh itu bang hari inikan sawit yang 100 hektar untuk guru-guru itu mau panen, jadi bagaimana nih bang...?"


"Ya udah kamu kelola aja, nanti semua biaya operasional baik pengangkutan atau upah dodos dari temanmu, berapa orang yang kamu bawa, keluarkan upahnya


dari uang sawit itu.


Setelah itu.


Seluruh uang itu kirimkan ke rekening pak Tamam, nanti biar mereka yang membaginya, jadi kita nggak pusing lagi."


"Oh begitu ya bang...?


Jadi semua biaya operasional, dari sinilah diambil ya bang...?"


"Iyalah Fauzan jadi dari mana lagi kalau enggak dari uang sawit itu...?


Ngak mungkinkan dari sungai kita ambil...?


"He..he.. iya juga ya bang...?


Aku udah rindu kali sama abang, lama kali abang biar pulang."


"Iya nanti abang pulang, sekalian kita mau meninjau kebun.


Ada sawit Kita yang baru, luasnya sekitar 500 hektar, bagaimana itu Fauzan..?


Bisa kamu menangani itukan..?"


"Waduh banyak kali tuh Bang 500 hektar..?


Mampuslah aku nanti bang..?"


'Iya! Kok mampus...?


ajaklah temanmu yang udah biasa manen sawit.


Kalau ini bukan untuk guru-guru lagi Zan, tapi yang ini nanti hasilnya untuk kita.


Jadi kamu carilah temanmu, cari yang jago soal sawit.


Cari anggota tetap, biar nanti kita tempatkan orang itu disana, biar kita sediakan nanti rumah-rumahnya.


Jadi saat Fauzan nanti datang, tinggal memantau-mantau aja sesekali."


"Oh gitu ya bang...?


Jadi bosnyalah aku ceritanya, bang....?"


"Iya lah apa lagi...?


Jadi bos orang itulah kau, jadi ajudan abang.


Biar kita tetapkan nanti semua petugas disana..?


Mana yang akan menjadi mandor, jadi krani buah dll?


Bagaimana keahlian bawa mobilnya Zan..?"


"Sudah bisa aku sekarang bang mobil, sudah bisa..!"


Sudah lancar kalipun."


"Ya udah nanti begitu abang pulang dari sini, kita cek ya sawitnya.


Kau carilah siapa yang akan jadi kawanmu, nanti mengurusnya."


"Kalau pak Samsul boleh bang..?"


"Kalau pak Samsul mau, kenapa nggak Fauzan.


Mau nggak pak Samsulnya?"


"Bakalan mau itu bang, apalagi kalau itu sawit abang."


'Ya sudah coba tanya aja Zan.."


"Iya bang, soalnya kalau pak Samsul sudah ahli juga, masalah sawit ini bang, sudah lebih lama pak Samsul megang sawit daripada Fauzan."


" Ya sudah terserah Fauzan aja, kalau kira-kira Fauzan merasa berat, nggak sanggup, bilang aja sama abang nggak apa apa.


Sebenarnya banyak yang mau mengurus itu, cuma abangkan niatnya biar ada kerja Fauzan sama warga desa kita, tapi kalau memang nggak bisa, ya udah biar abang nanti cari yang lain untuk mengurusnya.


Jangan sampai terpaksa Fauzan, kalau memang berat dilepas aja.


Jangan dibuat susah Fauzan."


"Iya bang. Fauzan coba dululah ya bang, di jalani dulu."


"!Kalau kamu rasa bisa ya enggak apa-apa, ajak saja pak Samsul.


Tapi jangan pula nanti jadi pak Samsul, yang ngatur semuanya, harus tetap Fauzan yang jadi pimpinan timnya nanti."


"Oh iya lah bang, nantilah bang aku bahas dulu nanti sama pak Samsul."


"Okelah Fauzan, jadi baru dua hari ke depan ini abang agar bisa datang."


"Iya bang, jangan lupa bawa oleh-oleh ya bang..."


"Iya, dibawa istri sama kau satu lagi Fauzan....?"


"Janganlah bang..!


Kalau itu nanti marah adek abang, diusirnya pulak aku dari rumah.


Enggak dibolehin masuk rumah, dikasihnya nanti sama aku bantal, lalu disuruh tidur di luar wkwkwkwkw..

__ADS_1


" kalau abang bisalah."


"Oh ya sudahlah ya Fauzan, titip salam sama orang adek itu, jangan kau biarkan aja orang itu di rumah, sekali-sekali bawalah mereka jalan-jalan.


Kalau sudah pulang nanti, biar kita beli mobil sama kau. Kalau kau memang sudah bisa bawa mobil."


"Betul ini bang...?"


"Iya betullah, nanti apa kendaraan kau ke kebun sawit kita, bisa kau jalan kaki..?


Okelah kalau gitu, udah dulu ya Fauzan.


Assalamu.'alaikum"


"Wa 'alaikum salam bang."


"Tok... tok...tok..."


"Ting...nong...ting...nong."


[Bel dan ketukan pintu berbunyi secara bersamaan di pintu kamar Haris]


Haris melihat dari lubang pengintip pintu dan melihat mertuanya berada di depan pintu.


Haris segera membuka pintu kamarnya.


"Papa....!


Ada apa pa....?


Silakan masuk pa.


Dek Kirana...! ini ada papa."


"Papa ajak masuklah bang..!"


"Nggak... nggak usah, papa cuma sebentar aja Haris."


"Ada apa pa...?"


"Itu, pengawal yang kamu bilang tadi itu sudah datang, kamu lupa ninggalin nomor teleponmu, jadi orang itu nyari-nyari papa."


"Oh maaf pa Haris lupa, jadi mengganggu dong sama papa...?"


"Sudah tidak apa apa.


Ya udah kamu jumpai aja dulu mereka, setelah itu kita jumpa lagi nanti, kita pergi makan bersama makan di luar.


Papa ingin cari suasana yang lain."


"Oh iya pa.


Hmm.. Para pengawal itu dimana pa...?"


"Di ruangan tadi yang kita jadikan tempat pertemuan."


"Oh lantai bawah berarti ya..?


Iya deh pa, Haris akan kesana jumpai mereka.


Jadi papa nggak masuk dulu nih...?"


"Nggak usah mamamu lagi nunggu di sana, biar papa suruh berkemas, siap-siap berangkat.


Nanti aja kita ceritanya, di lokasi yang mau kita datangi.


"Oh iya deh pa.


Sekalian Haris bilang dulu sama dek Diana dan dek Kirana juga, biar berkemas."


"Papa naik dulu ya."


"Iya pa."


Haris dan mertuanya pun berpisah, pergi menuju tujuannya masing masing.


Haris pergi ke lantai bawah, untuk menemui para pengawal, sedangkan ayah mertuanya pergi ke lantai atas menuju kamar mereka.


Setelah menempelkan card lock pada kotak sensor yang ada di lift Haris kemudian masuk dan menekan tombol lantai yang hendak ditujunya.


Tidak butuh waktu lama, bagi Haris untuk sampai.


Haris kemudian masuk ke ruangan, tempat pertemuan mereka pertama dengan Hendrik dan juga orang nomor satu di daerah itu.


Di sana para pengawal pria yang jumlahnya 3 orang, telah menunggu bersama dua pengawal wanita yang mereka bawa.


"Halo pagi semuanya..!"


"Pagi tuan...!"


"Ya silakan duduk, silakan duduk..!"


"Ya tuan, terima kasih tuan."


"Jadi ini pengawal yang kalian maksud tadi..?"


"Benar tuan senior berdua ini, adalah pengawal yang kami maksudkan."


"Baiklah. Halo semuanya! kenalkan saya Haris.


Silakan kalian berdua memperkenalkan siapa diri kalian!"


"Nama saya Puspa tuan, latar belakang keahlian kungfu sabuk tertinggi, sabuk hitam.


Sebelumnya saya bekerja sebagai pengawal seorang putri pengusaha ternama di ibukota tuan."


"Baik. Puspa lapang lapang waktu saya ingin mencoba kebolehan kamu..!"


"Siap tuan..!"


"Lalu kamu siapa namamu..?"


"Nama saya Wulan tuan...!


Sama seperti kak Puspa, saya juga punya latar belakang keahlian bela diri yang sama.


Kami sama-sama menekuni bela diri kungfu dan berada di sabuk yang sama sabuk hitam dan dari perguruan serta Grand Master yang sama tuan...!"


"Oh begitu.


Baik kalau begitu mulai hari ini kalian boleh bertugas, tapi karena memang saat ini belum begitu banyak potensi ancaman atau masalah yang terjadi, tugas kalian masih terbilang cukup ringan.


Saat mengawal istri saya, kalian tampil dengan pakaian biasa saja, selain itu saya juga punya beberapa usaha.


Mungkin yang kalian tahu selama ini, saya hanya pemegang saham dikaya dan Jaya bersama group, tapi saya sebenarnya juga punya kurang lebih 600 hektar kebun sawit Lalu ada juga usaha kapal dengan 10 kapal penangkap ikan, usaha jasa angkutan ekspedisi selain itu ada hotel berbintang, dan juga sebuah rumah sakit.

__ADS_1


Jadi saya merasa ke depannya, akan terjadi apa yang namanya pergesekan pergesekan kepentingan, antar sesama pengusaha.


Oleh karena itu saya akan menggunakan jasa kalian, untuk bisa konsisten mengawal istri dan keluarga saya.


Namun begitupun kalian masih bisa untuk memilih menolak, siapa tahu barangkali kalian kurang cocok dengan suasana dan kondisi pekerjaannya.


Saya saat ini masih, katakanlah akan lebih banyak tinggal di desa, walau memang saya melihat kedepannya perkembangan dan pengembangan usaha yang saya miliki akan lebih luas.


Tentu kalian juga perlu mementingkan dan mempertimbangkan karir kalian bukan...?


Nah sekarang pilihan itu ada di tangan kalian, masalah honorarium jasa pengawalan yang kalian berikan, sebutkan saja jangan ragu saya akan mempertimbangkannya."


Baik tuan kami tidak masalah dengan kondisi yang tuan katakan di desa itu, karena terkadang kita juga ingin suasana yang berbeda.


Rasanya juga sudah lelah sekali di ibukota, kalau ada kesempatan untuk beberapa saat di tempat dengan keadaan yang fresh seperti di desa, saya rasa itu bukan masalah tuan, tapi apapun itu artinya kami siap kok tuan, walaupun harus kembali ke kota seperti yang tuan katakan akan berkembang.


Yang jelas kami akan siap bekerja secara profesional, melakukan pengawalan bagi nyonya tuan."


Baik. Tapi tetap santai saja dalam penampilan kalian.


Saya akan menganggap orang-orang yang dekat dengan saya itu, sama seperti keluarga, jadi tidak ada bedanya dengan kalian.


Anggap saja saya abang kalian dan kedua istri saya yang kalian kawal itu sebagai kakak kalian.


Intinya kita semua satu keluarga oke...!"


"Siap tuan, kami akan melaksanakan apa yang tuan arahkan."


"Ya sudah.


Kalau begitu kalian untuk sementara, satu mobil dulu."


"Nanti selesai urusan ini atau besok barangkali, kalau hari ini tidak bisa? mobil kalian juga sudah akan datang."


"Terima kasih tuan..!"


"Ya..!


Sekarang bersiap-siaplah, kalian pakai pakaian santai saja, kita hari ini punya jadwal makan bersama keluarga.


"Siap tuan, kami akan bersiap segera."


"Baik saya akan ada di lobby hotel sambil menunggu anggota keluarga yang lain."


Harispun keluar dari ruangan itu lebih dahulu.


Kelima pengawal itu merasa puas dengan sikap Haris tuan baru mereka, yang mereka nilai berbeda daripada pimpinan-pimpinan mereka sebelumnya, yang kurang bisa memberi rasa hormat dan rasa terima kasih pada mereka.


Haris lebih terbuka, lebih menerima mereka, terlebih lagi mau menganggap mereka sebagai keluarganya, bukan seperti tuan lainnya.


"Bagaimana menurut senior berdua, mengenai tuan kita ini...?"


"Tuan ini tampaknya sangat bagus adik Riston, Halim dan Amanu, terima kasih sudah memperkenalkan kami dengan tuan Haris."


"Senior sejak saat ini seperti yang tuan katakan, kita ini adalah keluarga, jadi sesama keluarga tidak perlu sungkan."


"Baiklah kalau begitu kami akan pergi ke kamar ganti dulu seperti yang tuan minta, tuan minta kita memakai pakaian santai saja."


"Baik senior kami juga demikian, nanti kita berjumpa di lobby hotel."


Haris telah berada di lobby dan sibuk dengan HP-nya.


Tidak lama berlalu para pengawal telah datang, bersamaan dengan itu semua orang juga datang satu persatu.


Mereka lalu menuju parkiran mobil dan segera bersama-sama berangkat, ke sebuah restoran yang berada di pinggiran sebuah danau besar, di kota K yang merupakan restaurant favorit yang ada di pinggiran kota tersebut.


"Wah danaunya bagus ya pak, besar lagi...!"


"Iya nak Butet, ini Icon di kota ini."


"He he kelihatannya, kita harus sering sering nih datang kemari kak butet."


"Iya bagus itu Yunita."


Ayah Kirana menyahut ucapan Yunita.


"Tapi tergantung bos Haris juga pak." Yunita menimpali ucapan pak Wicaksono."


"Eh kalian ini, Puspa dan siapa tadi..?


"Wulan nyonya.."


"Iya Puspa dan Wulan duduk aja.


Bang memang harus berdiri ya bang...?"


"Nggak juga, mereka aja yang terlalu serius udah Puspa dan Wulan duduk saja di kursi.


Disini nggak ada ancaman kok, nggak ada bahaya.


Santai aja kalian tidak apa-apa, sambil memperhatikan, duduk aja seperti biasa normal saja.


"Iya tuan terima kasih tuan."


"Ya sudah duduk sana kamu juga Halim Amanu Ayo duduk.


Pertama kita tidak berada di zona berbahaya dan kedua, sampai saat ini saya belum punya musuh."


"Tapi tuan..."


"Sudah, saya paling tahu kalau ada bahaya, sekarang tidak ada, anggap saja ini jamuan atas pekerjaan baru kalian."


"Baik tuan..!"


"Ayo semua, pesan saja apa yang dirasa menarik selera.....!"


Semua orang lalu bersantap ria di restaurant favorit itu.


Suasana yang sejuk dengan terpaan angin yang seolah menggoda pikiran semua orang, agar berhenti memikirkan hal-hal yang berat dan bersantai sejenak menambah hangatnya suasana acara makan bersama keluarga Haris.


"Para pengawal juga merasa sangat bahagia, mereka diperlakukan seperti keluarga sebagaimana yang Haris katakan.


Untuk beberapa saat semua orang dimanjakan dengan suasana pemandangan yang begitu indah.


Danau yang begitu besar dan luas itu dengan rimbunan pepohonan yang lebat, menghadirkan hawa sejuk yang alami bagi wilayah sekitar danau itu.


Tempat itu betul-betul seperti sepenggal surga di bawa turun dan diletakkan ke dunia ini.


"Ayo semuanya....!


Tambah lagi makannya."


"Awas Kak butet sama kak Yunita jadi gendut pulang dari kota K ini."


"Iya dek Kirana, bakalan nambah 10kg nih wkwkwkw.."

__ADS_1


"Kak Diana, kok udahan makannya...?"


"Iya Kirana, kakak sudah makan untuk jatah makan satu minggu haha.."


__ADS_2