Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _141 : Perubahan dalam diri Shasmita


__ADS_3

Hari yang baru telah muncul, sedangkan Haris masih terlelap, sebab pada dasarnya dia belum begitu lama tertidur.


Sebenarnya tubuh Haris tidak terlalu lelah, tetapi karena hari itu dia merasa tidak ada urusan yang begitu mendesak untuk diselesaikan, maka Haris memilih untuk melanjutkan tidurnya.


Hanya dokter Shasmita yang terbangun dari tidur saat Haris, Diana dan juga Kirana masih terlelap pulas. Sesaat Shasmita memandang setiap sudut yang ada di ruangan yang baginya penuh sejarah itu.


"Di sinilah pertama kalinya aku pernah datang langsung untuk memeriksa kandungan Kak Diana.


Di sini pula kak Kirana telah lebih dahulu dekat pada Bang Haris, saat dia diangkat sebagai adik angkatnya.


Aku juga mengingat di tempat ini pula, aku sempat menanamkan harapan dan melangitkan do'a dari dalam hatiku, agar bisa lebih dekat kepada Bang Haris.


Sungguh tak disangka hari saat untuk terkabulnya doa dan harapan itu semakin dekat."


Shasmita masih ingat betul bagaimana momen saat dia dan Kirana dipanggil ke ruangan Haris, yang hendak membahas tentang pendirian Rumah sakit dan Shasmita yang diminta oleh Haris untuk menjadi kepala rumah sakit, yang belakangan ini dia tangani.


Shasmita mendekat pada Haris dan memandang wajah tampannya, namun karena terbius oleh pesonanya, Shasmita kemudian mencium pria yang menjadi tumpuan kasih sayang ketiga wanita itu.


"Hmmm... Apa kau tidak tahan dengan pesonaku bu' dokter..?"


"A..Abang sudah bangun sejak tadi.?"


"Tidak. Baru saja ketika ada pipi mulus seorang wanita cantik yang mendarat di wajahku.


Aku walaupun tidur nyenyak akan segera terbangun bila di cium oleh wanita cantik...hehe"


Shasmita begitu terkejut dan malu menyadari akan sikapnya barusan.


Satu hal yang dia tidak paham dengan keadaan fisik dan kualitas pikiran Haris yang sekarang? sama seperti mobil super mewah yang mudah berakselerasi sejak mulai dijalankan, begitu pula keadaan Haris yang sangat super cepat dan mudah untuk terus bisa beradaptasi pada keadaan di sekitarnya, meski baru terbangun dari tidur yang paling lelap sekalipun.


"Kenapa..? Apa Adek heran dek Shasmita.? Aku memang sangat mudah dalam merespon keadaan di sekitarku, meskipun bahkan sejak aku baru bangun dari tidur yang paling lelap sekalipun."


"Jadi Abang memang tertidur lelap tadinya..? Artinya Abang, tidak mendengar apa yang aku sebutkan.?"


'Ya, tentu saja Abang baru bangun setelah ada pipi mulus mendarat di wajahku barusan."


"Oh syukurlah."


Shasmita menjadi sedikit lebih lega, mendapati kenyataan kalau Haris tidak seperti dugaannya, ternyata tidak mengetahui sama sekali apa yang dia ucapkan sebelumnya.


Shasmita menjadi lebih tenang dan sadar dari kegugupannya.


"Abang juga tahu dek Shasmita sebenanrya belum tertidur, saat kakakmu Diana mendekat pada Abang tadi malam bukan.?"


'Ah tidak, Shasmita sudah tidur kok Bang dan Shasmita tidak melihat apapun."


"He..he, memangnya siapa yang membahas tentang melihat..?


Abang kan cuma mengatakan dek Shasmita mengetahuinya."


Shasmita merasa terciduk dan tidak bisa mengelak lagi.


"Tenang saja nanti juga ada saat bagi kita untuk bisa dekat seperti itu, setelah sah sebagai suami istri.

__ADS_1


Bukankah dek Diana dan juga Kirana sudah berkomitmen, agar membiarkanmu nanti setelah menikah, satu bulan penuh lebih dekat pada Abang tanpa berbagi dengan mereka.?"


"Iya aku juga sudah mendengarnya Bang, tapi sebenarnya tidak harus begitu juga sih Bang."


"Iya Abang juga berpendapat demikian, tapi entahlah itu sudah semacam tradisi bagi mereka dan selain itu kakakmu Diana juga sudah menerapkan hal itu untuk pertama kalinya kepada dek Kirana."


"Ya kakak berdua memang beda bawaannya hihi."


"Apa dek Shasmita punya kegiatan yang akan dilakukan hari ini.?"


"Tidak. Tidak ada hal yang begitu penting dan mendesak untuk dilakukan hari ini Bang. Memangnya kenapa Bang.?"


"Bukan apa-apa, Abang juga tidak punya kegiatan dan ingin bermalas-malasan saja tadinya.


Tapi daripada waktu terbuang sia-sia, kalau memang dek Shasmita tidak punya jadwal kegiatan hari ini, bagaimana kalau Abang melakukan terapi pengobatan akupuntur kuno pada dek Shasmita, agar kualitas kesehatan dan kebugaran tubuh Adek juga menyamai kedua kakakmu, agar tidak menjadi lebih mudah merasa lelah dan juga tubuh Adek nantinya akan terasa menjadi lebih ringan.


Hal itu sepertinya Abang rasa cukup bagus, mengingat sekarang kita punya waktu apalagi sebentar lagi kita kan akan melakukan perjalanan yang lumayan jauh ke luar negeri."


"Baiklah kalau Abang merasa itu begitu perlu Bang."


Segera Shasmita kemudian mengatur pakaiannya, agar bahu dan tangannya bisa diberikan pengobatan akupuntur kuno yang sangat manjur, di tempat itu.


"Bagaimana.? Apa dek Shasmita pernah belajar tentang metode pengobatan seperti yang Abang lakukan ini sebelumnya..?


Atau apakah metode pengobatan ini ada di Rumah sakit kita..?"


"Shasmita belum pernah belajar tentang ini Bang, tapi memang di Rumah sakit kita juga ada pengobatan Terapi akupuntur, tapi yang Shasmita tahu pengobatan itu sifatnya lama, itu sebabnya namanya disebut terapi.


Jadi tidak langsung segera memberikan hasil dan manfaat yang begitu cepat seperti yang Abang lakukan pada kak Diana dan juga kak Kirana."


Itulah alasan kenapa mereka sangat lambat dalam mengobati seseorang dan hasilnya juga kurang maksimal, karena pada prinsipnya pemahaman mereka tentang itu sangat minim dan juga tidak menguasai secara detail titik-titik akupuntur serta sistem anatomi tubuh manusia yang berkaitan dengan keseimbangan Yin dan Yang, maupun hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengobatan akupuntur itu sendiri.


Nah dek Shasmita, jarum yang terakhir ini mungkin terasa akan sedikit menyengat ya Dek Shasmita, karena ini adalah titik vital yang merupakan pusat yang menghubungkan seluruh titik yang telah Abang tusuk dengan jarum halus akupunturnya."


"Aduh kenapa yang satu ini, terasa cukup sakit Bang, tidak seperti yang lainnya."


"Memang tidak seperti yang lain dek, tadi kan sudah Abang katakan begitu, tapi coba lihat nanti hasilnya akan sangat baik.


Nah sekarang biarkan jarum-jarum ini sejenak berada di titik-titik akupuntur itu. Sekarang Abang akan mengalirkan sesuatu yang disebut dengan hawa murni ke dalam tubuh Adek, hawa murni ini sendiri adalah adalah salah satu alasan kenapa kemudian pengobatan yang Abang terapkan lebih cepat membawa hasil yang maksimal.


Para dokter kita tentu tidak memiliki hawa murni seperti yang Abang akan salurkan ini."


Haris kemudian mengalirkan hawa murni ke tubuh Shasmita yang menyebabkan dia mendadak merasakan hangat dan sejuk pada saat yang bersamaan di sekujur tubuhnya.


Cukup lama Haris menyalurkan hawa murni itu dan kemudian membantu mengedarkan hawa murni itu dalam tubuh Shasmita calon istrinya itu.


"Bagaimana rasanya..?"


"Rasanya enak Bang, tubuh Adek terasa lebih segar dan ringan, indra penglihatan dan yang lainnya Adek rasa semakin meningkat fungsinya, entah kenapa."


"Ya. Itulah sebabnya Abang sedikit memaksa untuk melakukan pengobatan ini pada calon istriku ini, agar kalian bertiga bisa menikmati kualitas hidup yang lebih baik kedepannya."


"Berarti Abang juga sayang dong sama Shasmita.?"

__ADS_1


"Hei pertanyaan jenis apa itu.? Bagaimana mungkin aku tidak sayang pada wanita yang akan menjadi istriku.?"


"Ya. Siapa tahu Abang cuma kasihan dengan wanita ini, bisa saja bukan.?"


"Ha..ha omong kosong, banyak yang Abang kasihani tapi tidak menarik mereka menjadi istri tuh, artinya kalau sudah jadi istri atau calon istri, itu tandanya karena sudah sangat disayangi dan dicintai.


Ah sudahlah, ceritanya jadi nggak asyik deh dek."


"Terimakasih ya Bang, kalau begitu Adek merasa tersanjung menjadi salah seorang wanita yang Abang sayang dan juga cintai."


"Ya begitu dong Abang kan jadi tambah semangat kalau begini."


"Hi..hi Maaf ya Bang, Shasmita tadinya cuma ingin tahu perasaan pria yang akan aku pilih dan jadikan sebagai pendamping dalam kehidupanku lho Bang."


"Iya Abang juga paham kok.


Nah sudah selesai, sekarang Abang akan mencabut kembali semua jarum emas akupuntur ini."


Dengan cekatan dan gerakan yang begitu cepat, Haris kemudian mencabut keseluruhan jarum akupuntur yang sebelumnya telah dia sematkan ke dalam beberapa titik bagian tubuh Shasmita itu.


Semua jarum itu seolah dicabut secara bersamaan dalam satu sapuan badai oleh Haris dan lalu menyimpan kembali jarum akupuntur miliknya, ke dalam ruang Inventory khusus pengobatan.


"Bang.Tiba-tiba saja Shasmita merasakan seolah ada segulungan badai energi yang bergerak dalam tubuh Adek, saat jarum-jarum akupuntur itu ditarik dan dicabut oleh Abang.


Adek merasa setiap titik akupuntur itu seperti bendungan yang jebol oleh luapan dan terjangan air bah yang begitu deras."


Ya biarkan saja luapan energi itu bekerja sejenak, nanti perasaan itu akan berangsur-angsur hilang dan dek Shasmita akan merasakan betapa ringan dan segar serta bugarnya tubuhnya dek Shasmita.


Shasmita lalu berputar menoleh ke arah Haris, setelah sebelumnya saat proses dicabutnya jarum-jarum itu dari tubuhnya bagian belakang, dia membelakangi Haris.


Shasmita melompat kepada Haris sedangkan Haris yang melihat calon istrinya itu melompat ke arahnya segera menangkap dan memeluknya.


"Terima kasih ya bang, Shasmita merasa seperti menjadi manusia yang baru lagi, Adek merasa menjadi lebih sehat dan lebih segar. Ternyata perasaan seperti ini yang dimiliki oleh kak Diana dan kak Kirana, wajah mereka juga begitu kelihatan sehat sekarang dan terlihat semakin muda. Apa itu juga adalah hasil dari pengobatan ini Bang.?"


"Ya itu semua juga adalah manfaat baik dari pengobatan yang Abang lakukan ini, nanti manfaat yang sama juga akan dirasakan oleh kekasih hatiku yang merupakan dokter cantik ini."


Shasmita masih merasa malas dan enggan untuk turun, dia masih ingin bermanja meluapkan rasa cintanya pada Haris dengan caranya sendiri, walau tidak sampai melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Diana dan Kirana bersama Haris.


Namun Shasmita juga ingin berada sangat dekat pada Haris. Karena Haris memahami hal itu dia tidak segera menurunkan Shasmita melainkan menggendong calon istrinya itu dan membawanya ke Rooftop, yang merupakan Ruang terbuka yang cukup luas dan telah di sulap menjadi taman dan kolam ikan itu.


"Apa dokter yang sedang ingin di manja ini pernah naik ke Rooftop yang merupakan bahagian tertinggi dari hotel kita ini.?"


"Tidak, Tapi ternyata menatap dari tempat ini ke seluruh sudut kota, yang bisa dilihat dari tempat kita di ketinggian ini asyik juga ya Bang..?"


"Ya sebelumnya tempat ini, hanya hamparan cor beton sampai kemudian pihak manajemen Hotel kita menyulapnya menjadi taman dan juga kolam ikan, sehingga menjadi asri dan sejuk begini.


Kakakmu Diana dan Kirana sendiri belum pernah kemari, baru dek Shasmita sendiri yang pernah datang kemari diantara kalian bertiga."


"Waduh, biarkan ini jadi rahasia kecil kita kalau begitu ya Bang."


"Oke deh setuju."


Diana dan Kirana yang masih tertidur pulas di kamarnya masing-masing, sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan oleh Haris dan Kirana, yang naik ke Rooftop dan memandang jelas segala arah perkotaan P dari ketinggian untuk beberapa saat.

__ADS_1


Shasmita terus menempel tidak ingin lepas, entah kenapa setelah menjalani pengobatan yang dilakukan Haris, dia merasa hasratnya semakin meningkat, tetapi ini belum waktunya baginya untuk boleh melakukan hal itu. sehingga untuk mengobatinya dia hanya ingin terus dekat pada Haris.


Hari-hari terus berganti dan tibalah saat di mana Haris dan seluruh rombongan keluarganya akan kembali ke desa P, untuk melangsungkan pernikahan antara Tuan Haris dan dr. Shasmita serta melangsungkan pesta pernikahan antara Haris dan ketiga istrinya yang digelar bersamaan.


__ADS_2