Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _38 : Hal yang tidak biasa


__ADS_3

"Ok semuanya..! sesi pertama dari pertemuan ini akan kita akhiri sampai disini, silahkan buat para peserta beristirahat dan besok kita akan masuk sesi kedua.


Sekedar informasi hari ini juga ada acara out door sebagai selingan, yang akan adakan di Lapangan golf terbaik di kota M.


Buat anda yang ingin mendapatkan hal yang lebih, dengan hadir di tempat ini barangkali akan membuat anda bisa mendapatkan rekan bisnis potensial dalam pengembangan usaha kedepannya


Oleh karenanya sangat disarankan anda untuk hadir disana, walau barangkali golf bukanlah jenis olah raga yang anda geluti, namun pastinya kesempatan itu bisa juga menjadi sarana penjajakan sebuah kesepatakan besar yang mungkin akan bermanfaat untuk kepentingan jangka panjang bisnis anda."


"Hei teman, apakah engkau akan kesana?"


"Tidak aku tidak berminat."


"Teman sebaiknya kau...."


"Maaf kawan aku harus pergi."


Haris meninggalkan ruangan itu setelah sesi pertama ini selesai.


"Hahhh..... buang buang waktu saja"


Haris bergumam dalam hati


Dia kemudian segera turun ke parkiran dan tidak bermaksud mengikuti acara di Lapangan golf.


Saat Haris akan menuju lift, dia dihadang oleh assistant manager arogan yang sempat punya insiden kecil dengannya di lokasi parkiran.


"Hei apakah kau lupa denganku?"


"Apakah aku punya masalah denganmu..?"


Haris membalas ucapan orang tersebut.


"Setelah membuat aku malu dihadapan tuanku, apakah kau akan pergi begitu saja?"


"Asisten tersebut memegang dada Haris dengan sebelah tangan kirinya dan bermaksud meninju wajah Haris dengan tangan kanannya."


"Tuan..."


Sistem mengingatkan Haris.


Persis setelah asisten itu melesatkan pukulannya Haris menghindar ke samping, kemudian menyapu kaki pria arogan di hadapannya sehingga orang tersebut jatuh ke lantai.


"Kau sendirilah yang mempermalukan dirimu sendiri.


Tingkatkan kemampuanmu, kalau kau ingin menghadang jalanku."


Haris bergegas pergi ke mobilnya.


"Hei kalau kau pemberani aku akan menungumu di Lapangan golf."


"Ha..ha kalau kau hanya bermaksud akan membawa orang, lupakan saja, aku bukan orang dengan emosi gila sepertimu, kalau kau tidak punya kekuatan kau tidak lebih hanyalah manusia lemah yang ingin tampil kuat."


Haris memacu mobilnya meninggalkan sang asisten yang hanya bisa menepuk lantai karena kesal.


"Sampai kapan kau akan membuat masalah.?"


"Bobby yang sadari tadi memang melihat kejadian itu dan memperhatikan dari tempat tersembunyi, kemudian muncul.


"Tuan manager, anda disini?"


"Ya. Aku datang untuk memberitahukanmu kalau kau sudah di pecat, ini gaji terakhir dan tunjanganmu."


Bobby melemparkan uang Rp 20 juta, ke hadapan mantan asistennya.


"Tuan.. maafkan saya tuan, beri saya kesempatan."


"Tuan Wira sudah memutuskan."


Bobby pergi meninggalkan pria itu yang masih terduduk di lantai.


"Brengsek.... ini semua karena orang itu."

__ADS_1


Bukannya melihat kesalahannya sendiri dan menyesalinya, pria bodoh itu malah menimpakan nasib sial yang terjadi padanya kepada orang lain.


Haris telah berada di tengah perjalanan ke hotel tempat dia menginap, namun HP-nya berbunyi dan satu panggilan masuk.


"Halo.....!"


"Ya halo pak Hartono."


"Direktur apa yang tuan tugaskan ke saya, sudah saya laksanakan.


Saat ini di depan saya, sudah ada seorang pemilik hotel bintang lima yang ingin mengalihkan hak kepemilikannya kepada kita, bisakah direktur datang saat ini.?"


Haris sebenarnya sudah malas dengan urusan ini, karena beberapa kejadian terakhir tetapi apa yang dia mulai harus tuntas dia selesaikan.


"Hmmmm.... kirimkan alamatnya aku akan datang pak Hartono."


"Baik terima kasih tuan."


Haris segera melesat dan menuju lokasi yang disebutkan Hartono, ingatannya tentang kota ini masih cukup bagus sebab sebelum menjadi guru honor di sebuah yayasan, di kota inilah Haris hidup menumpang bersama beberapa saudara kerabat ayahnya.


Ditempat ini pula dahulunya dia menyelesaikan sekolahnya.


Haris memasuki area yang merupakan lapangan golf terkemuka di kota M itu dan memarkirkan kenderaannya.


Dari kejauhan beberapa orang tampak duduk, di sebuah taman di bawah pepohonan rindang yang sejuk dan asri, dengan susunan bangku yang mengelilingi sebuah meja bulat yang tesedia.


Beberapa orang memandang kedatangan Haris.


Tampak beberapa orang tertegun melihat penampilan Haris yang sedikitpun tidak mencerminkan penampilan dan pembawaan seseorang dari kalangan kelas atas.


"Pak Hartono, itu pemilik dua hotel bintang tiga yang salah satunya anda menjadi general managernya itu.?"


"Iya pak Budi, penampilan bos saya memang seperti itu."


Hartono merasa orang orang ini heran dengan penampilan pimpinannya yang menurutnya sangat luar biasa itu, dia sengaja menekankan penyebutan tentang penampilan, karena khawatir mereka kehilangan kepercayaan dan mood terhadap kesepakatan yang hampir tuntas itu.


Haris segera tiba di tempat itu.


"Selamat siang tuan tuan, maaf kalau anda semua cukup lama menunggu, orang kampung seperti saya ini cukup kesusahan untuk sampai kesini."


Budi dan yang lainnya mempersilahkan, termasuk Wira yang ada di sana tersenyum ramah walau masih dalam suasana ketertegunannya.


"Saya perhatikan dari tadi anda sangat tertegun dengan saya pak..?"


"Wira nama saya wira pak Haris."


"Ya pak Wira.


Saya sangat kagum dengan anda pak Wira, kharisma yang saya lihat terpancar dari diri anda, sejak pertama kali bertemu di ruangan acara hotel, sungguh luar biasa.


Anda pasti akan begitu heran melihat sosok seperti saya dengan penampilan seperti ini."


Hartono semakin berdebar melihat arah pembicaraan ini, dia sangat khawatir kalau sampai pimpinannya merasa tersinggung dengan sikap yang di tampilkan oleh orang orang kelas atas ini, sehingga kesepakatan akan kandas di tengah jalan.


Dia saat ini merasa sedang berlomba dengan waktu, khawatir kalau rivalnya general manager Sudharta akan mendapat rekan potensial terlebih dahulu.


"Ah maafkan kalau sikap saya mengganggu suasana hati pak Haris, abaikan soal gaya dan penampilan, saya bukan orang senaif itu yang menilai seseorang dari cara berpakaian dan penampilan.


Yang buat saya tertegun adalah usia anda bila dibandingkan dengan pencapaian anda, 2 hotel bintang 3 di tempat strategis dan sekarang bintang 5 di sebuah kota provinsi....ha..ha itu adalah sesuatu yang prestisius pak Haris."


"Ah tuan Wira terlalu menyanjung. Sikap dan nama besar anda sangat membuat saya terkesan dan bersukur bisa hadir di tempat ini."


[Sistem]


"Ding.....! Misi baru tuan"


"Aduhhh sistem jangan sekarang ya..!"


[Sistem]


"Ini berkaitan dengan pertemuan ini tuan, misi anda untuk bisa meyakinkan pria tua bernama Wira untuk membeli hotelnya yang akan mereka jual dan sedikit bingung mencari pembeli karena harganya yang tinggi mencapai 200 M."

__ADS_1


"Kenapa begitu mahal?"


"Hotelnya super mewah tuan dan ada lapangan golfnya"


"Baiklah semoga aku bisa."


"Hmmm... Tuan tuan kita belum saling berkenalan, sepertinya kita perlu berkenalan ulang sebab tuan Haris ada bersama kita."


"Saya Anthony tuan Haris."


"Pieter itu nama saya pak Haris."


"Saya Herlambang"


"Perkenalkan saya Budi pak Haris."


"Juanda."


"Rixon..! Nama yang singkat bukan pak Haris?".


Semua orang saling menyebutkan nama kemudian mereka saling bertukar kartu nama begitu juga Haris.


"Tuan, ini adalah pak Budi yang berminat mengalihkan hak kepemilikan hotelnya kepada kita."


"Kenapa dialihkan pak Budi?"


"Pak Haris kami memiliki 5 hotel di beberapa tempat dan yah seperti yang anda tahu, krisis baru baru ini membawa dampak bagi kesehatan keuangan perusahaan kami, jadi walau berat hati kami harus melepas salah satunya, sebab bertahan adalah jurus terbaik saat ini pak."


"Ya apa yang bapak sampaikan benar adanya, jadi berapa nilai yang anda pilih melepasnya pak Budi?"


"Sebenarnya pihak perusahaan menetapkan nilai100 M tuan Haris, namun begitupun segala sesuatunya bisa di bicarakan ulang."


Budi sebagai Direktur utama dari perusahaan yang dipegang oleh beberapa pemilik saham itu, mengucapkan kata 100 M dengan sangat halus agar tidak terdengar menyeramkan.


"Baiklah kirimkan saya nomor rekeningnya saya akan bayar sesuai nilai yang perusahaan anda tetapkan."


"I..Itu apakah artinya anda sepakat dan tidak menawar sama sekali pak Haris?"


"Apakah memang harus di tawar pak Budi..?"


"Ti... tidak tidak..! Baiklah saya akan mengirimkan nomornya ke nomor telepon yang di kartu nama ini ya, pak Haris?"


"Benar pak Budi."


Semua mata mendelik mendengar pembicaraan ini, sebab ini sesuatu yang unik, sebanyak apapun uang seorang pengusaha dia akan menegosiasikan harga bila berkaitan dengan uang tapi Haris menyetujui hal itu tanpa berkedip menyetujui membayar mereka begitu saja tanpa harus mengatur nafas.


[Sistem]


"Ding...! proses transfer sedang berlangsung 10.....25...50....75...100 %.


"Ding...." Proses transfer 100 M selesai tuan."


"Baik, saya sudah mendapat konfirmasi bahwa pihak kami sudah mengirim uangnya tuan Budi."


" bif....bif.."


"Sebuah notifikasi masuk ke HP milik Budi."


"Wah.... Sudah masuk pak Haris.


Pak Haris ini sungguh tidak biasa, seharusnya bapak masih harus meninjau, bernegosiasi dan sejumlah langkah lainnya jadi saya sama sekali belum membawa surat suratnya, tapi saya sudah hubungi pihak kami yang akan membawa segalanya, harap bapak berkenan menunggu sedikit lama."


Budi merasa tidak enak hati, dia tidak menyangka akan seringan ini dan lagi dia mulai memandang Haris dengan cara berbeda, dia tahu bahwa waktu sangat berarti bagi sosok sosok seperti Haris


Yang dia tidak tahu Haris sebenarnya begitu santai dalam hal waktu dan tentu dia akan muntah darah kalau mengetahui hal yang sebenarnya itu.


"Jangan khawatir pak Budi, pak Budi sudah menunggu saya beberapa saat sudah wajar kalau saya juga menunggu pihak bapak.


Di samping itu saya juga masih berharap bisa mendapatkan sebuah kesepakatan yang besar bernilai 200 M barangkali."


"Uhuukkkk."

__ADS_1


Seseorang yang hadir di meja itu tersedak mendengar ucapan Haris.


"Ahhhhh.... maaf semuanya tampaknya ada sesuatu yang terjatuh ke minuman saya."


__ADS_2