Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _43 : Menjemput bahagia dengan membahagiakan orang lain


__ADS_3

Setelah mobil Haris masuk ke jalan kecil rumahnya, warga berlarian mengerumuni mobil itu, sehingga mobil begitu susah untuk lewat.


"Ini kenapa pak direktur?"


Nando penasaran


"Oh.. rumah saya yang disini, dibakar oleh sekelompok orang yang dengki Nando.


Dan warga ikut bersedih untuk kita.


"Ah.... ada ada saja kelakuan para berandalan, kalau saya ada pasti saya hajar itu beberapa orang."


"Eh ada telepon pak.. sebentar saya angkat.


Ya.. very ada apa?"


"Bang Nando..! ini ada apa massa banyak begini?


"Oh jangan khawatir ver, mereka cuma menyambut kita karena pak direktur datang, rumah pak direktur yang di desa ini di bakar orang jahat jadi mereka bersimpati karena bapak selama Ini baik pada mereka, ya sudah pelan pelan saja, hati hati jalannya."


"Iya bang."


"Ya sudah ya Ver..!"


"Ok bang Nando."


Haris kemudian tiba di depan rumah yang terbakar itu, setelah mobil berhenti persis di depannya


Dia berdiri membeku disana tak sadar air matanya tumpah, ada rasa sebak di dadanya.


Diana juga tak kuasa mengawal diri, dia menangis kuat ibu dan bibinya memeluk tubuhnya yang bergetar,??? karena menahan pilu yang mendalam.


"Bang rumah kita dibakar orang jahat bang....!"


Haris yang tadinya sudah mulai tenang, jiwanya kembali seperti dipukul oleh palu dengan keras, melihat istrinya bersedih sambil menjerit histeris.


"Bang...!"


Fauzan datang bersama teman teman Haris yang biasa minum bersamanya, bergantian mereka memeluk Haris.


Semua teman teman kerja upahan Haris dari kaum wanita, juga datang memeluk Diana.


Diana menjadi lemas, kakinya seolah menjadi layu dan dia akan terjatuh kalau saja kaum ibu tidak menahan tubuhnya.


Diana di bawa ke rumah warga terdekat dan di beri minum air putih hangat lalu di hibur oleh keluarganya.


"Tadi abang sudah bilang kalau adek ngak kuat, kita ngak usah kesini dulu."


"Bang rumah kita dibakar baaaang, Diana seperti orang yang tidak sadarkan diri namun terus meracau."


Haris sadar dia telah salah bicara, Haris memeluk istrinya memberinya semangat agar kuat.


"Sabar ya dek, kita bangun lagi rumahnya."


Untuk beberapa saat Haris berusaha menenangkan istrinya


Masih dengan wajah pucat dan bibir yang bergetar, Diana berucap


"Iya bang, Diana sudah ngak apa apa."


"Ya sudah, sekarang abang keluar dulu ya mengurus segalanya, adek harus kuat kalau adek terpuruk bersedih begini, abang ngak akan kuat nantinya.


Bisa bisa abang membunuh orang orang itu nanti.


Abang masih bisa sabar kalau soal rumah ini, kita bisa bangun 100 rumah seperti ini, tapi kalau istriku kenapa kenapa.....!"


Mata Haris menyipit, ada kilatan cahaya tajam terlihat disana, tangannya terkepal dan dadanya membusung.


"Diana....!"


Ibu mertua Haris menenangkan putrinya, khawatir terhadap perubahan sikap anak menantunya


"Jangan bang..! Diana sudah ngak apa apa sekarang."


Bibi si Diana yang tidak pernah melihat ekspresi Haris seperti itu, merasa begitu khawatir dia segera datang memeluk tubuh Haris yang sudah mengeras, dengan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu, dia menasehati Haris dengan suara yang sangat pelan.


"Nak, ibu tidak mau kehilangan putra baik ibu karena peristiwa ini, sabarlah nak, hati ibu juga sakit tapi kita harus sabar, itulah buktinya kita hamba Tuhan, kita tidak bisa lepas dari takdir."


"Iya bang sabar bang, maaf Diana terlalu berlebihan terbawa perasaan, sehingga membuat abang khawatir, Diana sudah tidak apa apa sekarang."


"Abang senang mendengarnya.


Ibu...! Haris sudah ngak apa apa, terima kasih ya bu, tolong bantu Diana melewati ini."


"Iya nak, kamu harus janji ke ibu ngak akan gelap mata, lihat saudara saudara kita ini mereka semua menyayangi kita sayang pada Haris dan Diana, kamu putra terbaik ibu, jangan berubah nak."


Haris melihat Diana sudah mulai pulih, wajahnya sudah kembali memerah, dia merasa bersalah karena membuat wanita tua yang sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri ini, begitu khawatir.


"Bu...! Haris sudah tenang maaf sampai membuat ibu khawatir, Haris janji ngak akan gelap mata, Haris masih punya banyak tugas membahagiakan ibu dan semua saudara kita disini."


Wanita tua itu lalu melepas pelukannya, dia percaya Haris akan baik baik saja, nafasnya sudah teratur dan tubuhnya sudah melunak tidak keras seperti saat pertama kali wanita itu memeluknya.


"Haris permisi keluar bu"


"Ya ayo kita keluar nak."


Haris dan semua orang kecuali Diana dan ibunya melangkah keluar, tampak di luar warga sudah duduk di tikar yang sengaja di gelar di badan jalan menuju kebun di desa itu.

__ADS_1


Ayah si Nawir dan ayah si Diana mertua Haris berdiri mengawal Haris, mereka masih sedikit khawatir dengan keadaan Haris sebelumnya .


"Bapak ibu saudara semua, terima kasih atas semua perhatian dan rasa turut berduka yang bapak ibu saudara berikan, kami dari keluarga merasa sangat terharu juga berterima kasih atas semuanya.


Semua warga yang sakit hari ini akan kita bawa ke rumah sakit, untuk dirawat dengan baik.


Semua kerusakan pada rumah ibu bapak pada saat kejadian, akan kami ganti.


Karena kami datangnya buru buru seperti ini, kami hanya bisa membawa oleh oleh seadanya.


Nando....!"


"Siap pak."


Nando dan veri dibantu Fauzan dan teman temannya yang biasa minum di warung, mengangkat dan membagi bagikan makanan yang satu mobil itu kepada warga.


"Bang Nando"


"Apa Ver."


"Aku ngak nyangka bos kita akan sehebat ini."


"Ini belum apa apa Ver, asisten manager di hotel tempat kerja abang sebelumnya diberi uang 100 juta untuk berobat ibunya, bos kita ini dermawan, abang malah pengen keluar dari hotel ngak usah kerja lagi disana."


"Kenapa bang ?"


"Pengen jadi ajudannya saja."


"Iya ya bang."


"Yang penting bagi pak direktur itu ketulusan Ver, ayo tunjukkan ketulusan kita bantu semua warga ini, mudah mudahan niat kita tercapai."


"Iya bang, ayo bang ini yang terakhir."


[Sistem]


Sabar ya tuan.


Tuan ...! menurut sistem, tanah ini seluruhnya dibangun villa saja tuan, dengan banyak kamar dan bertingkat dilengkapi taman yang luas juga kolam renang tuan.


"Baiklah sistem saran yang bagus."


[Sistem]


Tuan apa yang bisa membuat tuan bahagia?


"Sistem saat aku miskin dahulu, hal yang paling aku sukai adalah membahagiakan orang lain dan melihat orang bahagia, begitupun saat ini."


[Sistem]


"Ding.... misi terpicu.


"Baiklah sistem, misi akan dilaksanakan."


[Sistem]


"Semangat ya tuan..!"


"Baik sistem, terima kasih."


"Fauzan....!"


Haris memanggil Fauzan dengan pelan, saat mereka sedang duduk dihadapan warga, yang sudah seperti mengikuti acara besar itu.


"Iya bang, Fauzan disini bang...!"


"Kamu sudah cek rekeningmu? kemaren abang kirim Rp 20 juta disana."


"Belum bang, rencana baru nanti, tapi abang sudah datang."


"Ya sudah, biar disana ngak usah diambil, nanti abang kasih lagi."


"Iya bang, terima kasih bang."


Pada saat mendengar itu, Very yang membawa oleh oleh berdo'a agar dirinya bisa dekat dengan Haris, walau menjadi pembawa selopnya sekalipun.


"Fauzan...!"


"Iya bang, Fauzan mendengarkan abang."


"Kamu data semua warga yang ikut dalam peristiwa malam itu yang membela abang dan kelurga lalu sampaikan pada mereka, kalau semua rumah mereka akan dibongkar dan dibangun rumah yang baru."


"Se..semuanya bang?"


"Fauzan....?"


"Iya bang oke bang."


Fauzan berdiri dan menyampaikan apa yang Haris ucapkan, semua warga histeris dan sujud sukur.


"Ya seperti yang bapak ibu dan saudara saudari dengar, Fauzan sudah menyebutkannya, maka semuanya rumahnya akan kita bangun.


Saya dan keluarga berucap terima kasih banyak atas pembelaan bapak ibu."


Mendengar itu Very yang berdiri di dekat mobil menatap Nando dan berbisik.


"Bang..! pokoknya bagaimanapun caranya, abang usahakanlah kita masuk ke dalam lingkarannya pak direktur."

__ADS_1


"Kita sudah masuk Ver, kamu cukup tunjukkan ketulusanmu, kita sudah masuk, percaya yang abang bilang dan tunggu keajaibannya."


"Iya bang, semoga kita di lirik ya bang."


Baru saja keduanya berbicara, Haris sudah memanggilnya.


"Nando..Very....!!"


"Iya pak direktur."


"Ngak usah panggil direktur, kalau di luaran."


"Iya pak siap pak."


"Haahhh... kalian sudah terlalu lama saya bawa ke luar, jadi begini Nando, kalau kamu mau, kamu ngak usah di hotel lagi, ikut abang aja apa yang perlu kamu urus ya kamu urus, bagaimana?"


"Siap pak..eh bang....! Nando siap jadi ajudan abang."


Nando melirik Very yang tampak gelisah.


"Very bagaimana bang?


"Ya sama, kecuali Verynya ngak mau."


Begitu mendengar kalimat itu, senyum terindah yang bisa masuk nominasi senyum terindah di duniapun, Very tunjukkan di bibirnya.


"Mau bang ..mau..! Bahkan Very sudah berdo'a untuk ini."


"Bagus, ya sudah nanti bulanan kalian saya berikan Rp 10 juta, kerja yang bagus..!"


"Siap bang...! Siap bang..!"


Keduanya begitu semangat, harapan sudah terpenuhi.


"Nando kamu hubungi Karina, agar menghubungi pihak yang biasa dipakai membenahi segala urusan bangunan di hotel, supaya datang kemari membangun Villa di tempat ini, dengan kolam renang besar dan halaman yang luas, juga kamar yang banyak dengan bangunan bertingkat."


"Siap pak."


"Very kamu bersama Fauzan pergi ke pasar, buat belanja kebutuhan mereka, dia ini juga ajudan lama abang di bidang kebun."


"Siap pak."


Ya Sudah, Fauzan bilang sama dek Evi istrimu, agar bersiap siap.


"Iya bang Fauzan pamit sebentar bang."


"Pergilah."


Haris terus bicara dengan banyak orang, tidak seperti biasanya, menunjukan dia sedang mencoba melawan sesuatu dalam dirinya.


Merasa belum cukup puas dia menelepon GM Hartono.


"Ya halo pak direktur..! Hartono disini pak.!"


"Pak Hartono...!"


"Ya pak saya menyimak pak."


"Bapak coba hubungi Anthony, Pieter, Herlambang Budi dan Juanda juga Rixon atau pak Wira juga boleh, katakan saya butuh 10 hotel berbintang lima lagi, di daerah manapun adanya di provinsi kita ini, kabari saya segera."


"Siap pak, perintah bapak akan saya laksanakan."


"Bagus, pak Hartono sehatkan bersama keluarga disana?"


"Sehat pak, alhamdulillah."


"Alhamdulilah titip salam buat keluarga, bagaimana rasanya jadi GM hotel bintang lima super mewah?"


"Wah luar biasa pak, saya banyak berterima kasih pada bapak."


"Ya, kalau begitu saya tunggu kabar dari yang saya minta tadi, saya tutup sekarang ya."


"Siap pak."


[Telepon berakhir]


Diana sudah dibawa keluar, Haris menyambut dan memapah istrinya, membawanya duduk disampingnya.


"Nawir.....!"


"Iya bang...!"


"Bawa kemari tas yang abang siapkan di mobil."


"Iya bang...!"


Setelah tas itu tiba.


Haris membuka tas yang penuh dengan uang baru, lalu berbisik pada istrinya.


Diana yang sangat faham apa maksud suaminya, yang sangat suka melihat orang bahagia dan akan bahagia karenanya, mengangguk menandakan setuju.


"Bapak ibu saudara semuanya, karena hari ini adalah hari pekan dan karena kita sudah melewati hari hari yang kurang baik belakangan ini, maka istri saya sudah menyiapkan paket belanja buat kita semua, tidak banyak hanya sekedar berbagi.


Saya minta semua orang tertib, semua akan mendapat jadi jangan berkerumun, istri saya juga baru mulai pulih, bapak ibu semuanya tahukan?


Nah satu satu sesuai barisan dimulai dari kanan depan, maju terima paket belanja dari istri saya satu juta satu orang."

__ADS_1


Semua orang bersorak bahagia.


Nando dan Very yang masih di tempat goyang goyang kepala.


__ADS_2