Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _67 : Sosok yang nemikat hati semua orang


__ADS_3

"Manalah mungkin mau cewek tadi sama abang Ris.


Sudahlah badan model seperti goni bekas begini, bibir yang seperti digigit lebah wkwkwk."


"Abang sudah bilang nggak mungkin aja, mana tahu yang dicari cewek itu justru yang seperti abang.?"


"Wkwkwkwkwk... ditunggu sampai kucing punya tandukpun, nggak akan mungkin bisa diterima saraf otak, kalau cewek seperti dia akan mencari cowok seperti abang Ris hahahahh.


Tapi kalau sama kau iyalah Ris, nampak sekali itu dari cara dia nengok dan bersikap padamu, kelihatan jelas kalau dia itu suka.


Kau ganteng apalagi sekarang banyak harta, banyak mobil banyak hotel jelas cewek akan antri untukmu."


Ah ada-ada aja abang ini, aku udah punya bini bang udah punya anak, udahlah kita ngak usah cerita itu lagilah bang.


Teringatnya masih ada sekarang yang pigi ke hutan sana untuk ngambil ikan atau mikat burung gitu bang?"


"Ada tapi jarang sekarang Ris, semenjak ada orang yang dimakan harimau itulah Ris jadi jarang orang pigi kesana."


"Eh..! ada yang dimakan harimau bang?


Biasanya nggak mau harimau yamg disana makan orang bang, kalaupun nggak dikasih ikan, nggak pernah mau itu kalau sampai makan orang begitu."


"Itulah kurasa karena menyalah sikap orang itu Ris.


Masa orang orang itu mandi nggak pakai basahan di sarang harimau, apa ngak cari penyakit namanya? Ya disangka harimau itulah pulak kalau yang mandi tanpa basahan itu kerbau Ris.?


Kalau mandi bulat begitu mandi ngak ada basahan yah di telan sama harimau itu , kalau baik baik selama ini nggak ada tuh yang di ganggu harimau, kaulah yang dulu sèring kesana."


"Oh mana mau bang, yang ada harimau itu malah menjaga kita dari makhluk lain bahkan dari harimau lainnya, makanya kalau malampun dia datang dan berada dekat kemah kita.


Pokoknya kalau harimau disana itu begitulah sifatnya entahlah pulak kalau harimau di tempat lain ya.!


Haris ngak tahu juga."


"Namanya orang luaran Ris, nggak tahu peraturan, nggak tahu apa-apa.


Nengok orang kita sering dapat ikan besar dan menggantung ikannya untuk dijual di pinggir jalan besar, jadi begitu orang orang itu nanya dari mana dapat, ketika dikasih tahu langsunglah orang orang itu pergi ke hutan tanpa tahu aturan."


"Jadi bagaimanalah itu ya bang.?


Sedih kalilah keluarganya gitu ya.?"


"Apalagi mau dibilang Ris, kalau soal sedih ya sedih jugalah pasti."


Saat keduanya masih sibuk dan asyik bercerita, tiba-tiba Andre adik Diana datang untuk memanggil Haris.


"Bang dipanggil kakak, kata kakak, kak Kirana sudah datang. "


"Iya tadi abangkan sudah jumpa juga disini dek


Duluanlah Andre, nanti bentar lagi, abang datang nyusul,."


Mendapati jawaban dari Haris, Andre adik


iparnya itupun pergi pulang.


"Pulanglah Ris sepertinya cewek yang tadi itu, rindu sama kau itu Ris."


"Ha..ha.hah nggak ada itu bang."


"Adalah kau itu ngak sadar kalau kau sekarang ganteng kali Ris, abang aja kalau jadii cewek pasti suka sama kau Ris."


"Ada-ada aja abang ini."


"Iya betul Ris, apalagi sekarang kau banyak duit, banyak mobil yang mantap, mana ada pula cewek yang nggak suka sama kau Ris.


"Hanya cewek bodoh yang nggak mau sama kau Ris."


"Iya.. iya lah bang, ku iyakan ajalah biar abang senang.


"Ya sudah Ini bang uangnya."

__ADS_1


"Aimak, uang cepek mana ada baliknya?


Kasih uang kecil ajalah Ris."


"Mana ada pakai balek lagi, buat upaah abang bikin lawakan itu aja sudah pas itu...hehe."


"Iya..! yang betul ini Ris.


jangan main main ."


"Betullah bang, mana pulak ada main main."


"Jadi besok besok masih ada inii Ris?"


"Tenang aja bang hahaha.".


"Makasih la ya Ris.


Memang kaulah Ris, udah kaya sukses ganteng tapi nggak tinggi hati lagi, rendah hati pulak, apa nggak mabuk cewek yang tadi sama kau Ris.


Kutengok dia itu lagi rindu itu, kayaknya sama kau Ris."


"Iya ada pulak gitu, dari mana abang tahu?


"Iya tahulah Ris dari dari bentuk-bentuk rambutnya aja aku udah tahu Ris hahahh."


"Ya udahlah, cabut dulu aku ya bang, balik dulu ke rumah, biar kutengok dulu situasi udah kekmana, karena sepertinya udah kayak mau minta makan siang pula ini perut."


"Oh iya. Iya, okelah Ris, terima kasih ya Ris.!"


"Oke bang, aman itu Bang!"


Haris akhirnya meninggalkan kedai kules, lalu pulang kembali ke rumah mertuanya.


"Abang sudah datang?


Tadi katanya bentar lagi rupanya masih berjam-jam lagi baru datang, itupun kalau nggak jemput nggak tahu pulang... wkwkwkwk."


"Gimana udah siap makanan kita?


Sudah mau makan siang perut ini he he..."


"Iya tinggal nyendok itu bang bentar lagi kita makan ya."


[Panggilan masuk dari Wina]


"Halo...!"


"Ya halo ada apa Win?"


"Maaf pak direktur Wina mengganggu."


"Enggak kok, kita juga lagi santai-santai ini ada apa Win?"


"Ini pak. Wina, mau izin sama bapak mau cuti beberapa hari."


"Oh iya, kamu mau ke mana Win kok minta cuti begitu..?"


"Wina mau nikah ini pak, sekalian mau memberitahukan bapak dan minta izin juga restu dari bapak, terus kalau bapak sempat dan punya waktu Wina berharap bapak datang ke acara pernikahan Wina."


"Alhamdulillah mantap itu Win.


Iyalah pastinya nanti kalau sehat, ada kesempatan pasti abang datang nanti orang mana calonmu atau adek itu Win..?"


"Orang sini juga pak direktur orang sekampung masih saudara juga.


Ya dijodohkan orang tualah pak."


"Wah sudah mantaplah itu, udah cocok itu. Bagaimana orang tua kita sehat.?


Alhamdulillah sehat pak, tadi ayah sama ibu waktu nyuruh Wina nelpon, ayah juga titip pesan ucapan terima kasih banyak katanya, atas semua bantuan yang bapak perbuat bagi keluarga Wina selama ini.

__ADS_1


Bapak juga berdo'a mudah-mudahan keluarga bapak sehat selalu, panjang umur murah rezeki itu tadi pesan bapak pak direktur."


"Amin... Amin, terima kasih do'a baiknya moga Wina sekeluarga juga begitu.


Jadi kapan harinya Win?"


"Hari Minggu ini pak."


"Iya cepat betul..?"


"Iya Pak udah begitu hari bagusnya, begitu kesepakatan dua keluarga jadi Wina hanya ikut aja."


"Ya sudah, kamu boleh cuti serahkan tugas kamu, ke asisten kamu yang ada disana."


"Tapi Wina berharap nanti setelah menikahpun masih tetap kerja di sini loh pak, jangan nanti karena menikah Wina jadi digeser dari posisi Wina sebelumnya."


"Enggaklah! masa gara-gara menikah di geser, emangnya orang mau naik angkot digeser-geser hahah?


Ya udah ya selamatlah Win, mudah mudahan pernikahan kamu sakinah, mawadah warohmahnya, nanti kalau ada waktu abang dan keluarga akan datang ke sana pastinya."


"Iya pak terima kasih pak mudah-mudahan bapak ada kesempatan ada waktunya ya pak amin."


"Aaamiin... "


"Ya udah ya pak, itu aja yang mau Wina sampaikan."


"Iya oke Wina."


"Wassalamu 'alaikum pak"


"Wa 'alaikum salam warahmatullah." wabarakatuh."


"Siapa yang mau nikah bang?"


Diana bertanya pada Haris


"Wina GM kita yang di hotel Diana, hotel kamu itu lho dek, katanya dia mau menikah sama pilihan orang tuanya, masih saudaranya juga, katanya orang sekampungnya itu juga."


"Iya Alhamdulillah.ya bang."


"Alhamdulillah.


Gimana Dek sudah masak nasinya?"


"Sudah kayak adek bayi aja abang nggak sabaran mau makan."


"Abang kebayang tadi ikan itu lho dek enaknya."


"Bentar lagi siaplah itu bang tunggu sebentar lagi aja."


Kirana datang dan duduk di dekat Diana di sofa ruangan tamu rumah itu.


"Adek juga ada bawa nasi dan lauk dari hotel kita itu bang, abang mau makan pakai itu dulu sekarang..?"


"Ngak tahulah abang laper."


"Ya udah kasih itu aja dulu itu, dek Kirana sama suami kita."


"Iya kak bentar adek siapin, Nurul sama mama dulu ya nak, bunda siapin nasi sama papa dulu, yah nak, e!


Anak baek si Nurul kami inilah."


Kirana dengan cekatan mengambil semua keperluan Haris, semua mata melihat padanya dan begitu cemburu atas keberuntungan Haris yang mendapatkan hati dari wanita ini dan juga restu dari istrinya Diana.


Dengan kecantikan yang begitu memikat dan menawan tetapi hati yang begitu jinak dan patuh juga manja pada Haris membuat semua orang terpana, termasuk ayah mertua si Diana merasa salut dengan keberuntungan anak menantunya itu.


Si Diana tersenyum melihat itu dan main mata pada Haris, membuat Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ini bang, abang makan ini aja dulu ya. "


Kirana dengan senyum yang lebih manis dari sebuah gunung gula, menyajikan makanan Haris dengan penuh kasih sayang dan penghormatan layaknya seorang istri pada suaminya.

__ADS_1


"Eh iya dek."


__ADS_2