Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _124 : Tibanya sosok yang ditunggu


__ADS_3

"Dek Haris mana badj!ngan yang membubuhkan racun pada makanan adek Diana dan Kirana, aku akan memberi pelajaran padanya."


"Kak Butet saat ini orang itu sedang berada dalam penanganan para pengawal kita, biarkanlah pengobatan istriku selesai dahulu baru kita pikirkan untuk berbuat apa pada orang itu.


Apalagi kita juga sudah mendapatkan orang yang sudah memerintahkannya."


"Lalu kenapa tidak dihabisi saja orang itu Haris.?. Apa yang dia lakukan sudah melebihi batas kewajaran."


"Ya aku mengerti kemarahan kakak, sungguh tidak ada keraguan bagiku jika harus melakukan itu sekalipun, tetapi ada sesuatu yang memang sedang aku jaga dan aku tidak bisa memberitahukannya saat ini."


"Tapi apa..? Apakah kau tidak menyayangi istrimu lagi..?"


"Bukan begitu Kak Butet, justru karena aku menyayangi mereka sehingga aku memilih jalan ini, demi kebaikan kita.


Kakak lihat apa yang terjadi pada Marlon.? Aku tidak ragu soal dia, tetapi kali ini memang berbeda.


Orang ini tidaklah sehebat dan sekaya Marlon, tapi ada sesuatu yang bila aku terbawa emosi dengan menghabisinya saat ini, tidak akan baik bagi kita semua kedepannya."


"Ah aku pusing Haris, aku tidak faham jalan pikiranmu."


Butet merasa sangat marah dan ingin sekali menghabisi pria yang telah membubuhkan racun ke dalam makanan Diana maupun Kirana adiknya dan dia sangat heran serta tidak bisa menerima sikap Haris, yang begitu lunak kepada orang yang sudah berusaha untuk membunuh kedua istrinya.


Melihat perdebatan Haris dan kakak iparnya itu, keluarga Haris merasa miris satu sisi mereka Paham bagaimana perasaan Butet, tapi di sisi yang lain mereka juga sangat percaya kepada Haris dan tahu kalau Haris pasti hanya akan berbuat yang terbaik.


"Butet percayalah pada adikmu Haris, kalau dia mengatakan begitu dan sampai mengambil keputusan begitu, itu pasti memang karena itulah yang terbaik bagi kita.


Ibu percaya kepadanya, kau jangan lagi mendesaknya. Pada saatnya dia pasti akan menyelesaikan segalanya."


"Tapi apa Bu, apa alasannya..? apa ada bedanya sekarang dan nanti.?"


"Justru itu masalahnya Butet, ada banyak hal-hal yang tidak kita ketahui tetapi diketahui oleh Nak Haris, mungkin apa yang dia ketahui itupun tidak atau belum bisa diberitahukan saat ini kepada kita semua, jadi ibu minta kamu bersabar.


Benar apa kata Haris, pengobatan Diana dan Kirana itu adalah hal yang paling utama saat ini, bila kita tersulut emosi, kita akan salah dalam melangkah, mengertilah nak."


"Baiklah ibu, walaupun sebenarnya aku tetap saja tidak paham, aku akan mengikuti kalian. Tapi aku akan tetap menagih agar orang itu dihukum seberat-beratnya nantinya."


Butet sebagai Kakak sangat tidak bisa menerima apa yang terjadi pada adiknya, sehingga ada begitu banyak kemarahan dalam hatinya terkait tentang orang yang sudah membubuhkan racun pada makanan Diana dan Kirana.


Tetapi dia sudah bisa mengerti apa yang disampaikan oleh ibunya adalah benar adanya, Haris selama ini adalah orang yang sudah berbuat banyak bagi mereka, bagi kebaikan dan kemajuan keluarga mereka dan tentunya selalu hanya hal-hal yang terbaiklah yang Haris berikan. Karenanya Butet mengabaikan kemarahan di hatinya dan mencoba bersabar untuk beberapa saat ke depannya.


"Iya Kakak tenang saja. Haris akan serahkan penentuan hukuman orang itu pada Kakak nantinya, sehingga Kakak bisa pastikan orang itu mendapatkan hukumannya dan Haris juga akan memberikan alasan nantinya kenapa Haris belum bisa menghukumnya saat ini."


Setelah Haris selesai mengatakan hal itu, Beni suami Butet kemudian ikut berusaha menenangkan istrinya yang sudah sempat tersulut emosi itu.


Beni juga sangat percaya dengan Haris dan sangat yakin kalau memang bukan karena akan menyusahkan mereka, Haris pasti sudah segera membalas orang-orang yang telah berusaha membunuh istrinya, sebab yang Beni tahu bahkan hanya karena memukuli dirinya, Marlon akhirnya berakhir oleh kekuatan Haris.


Waktu terasa begitu lambat berjalan semua orang merasa berada dalam penantian panjang, tak terhitung berapa kali mereka sudah memandang dan melihat ke arah jam dinding.


Begitu pula Haris tidak kalah cemasnya, dia sangat khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu yang akan menghambat perjalanan tabib Maksum untuk sampai ke tempatnya.


Tak lama kemudian Darman dan Jhon sudah tiba di Villa Haris. Keduanya begitu marah bercampur kecewa di dalam hatinya, karena tidak diberitahu secara langsung sejak awal tentang peristiwa yang terjadi.


Kalau bukan karena mencari keberadaan Fauzan, sebab ada sesuatu yang perlu dengannya, sehingga Darman menanyakan kepada teman-teman Fauzan apa yang menyebabkannya pulang lebih awal, Darman tidak akan pernah tahu apa yang telah menimpa istri Haris untuk kemudian memberitahukannya kepada Jhon sehingga mereka berdua bisa pulang segera


"Apakah kau tidak menganggap kami sebagai temanmu lagi Haris..? Kejadian sebesar dan sepenting ini tidak diberitahukan kepada kami..?"


"Bukan begitu Man, saat itu memang aku juga sedang begitu khawatir dan lebih fokus pada memikirkan cara bagaimana untuk menemukan obat istriku."


"Ya kami tahu itu Haris, tapi setidaknya seharusnya kau memberitahu kamilah teman.


Kami tahu kau tidak ingin membuat kami ikut susah karena itu tapi jelas hal itu tidak Fair, kau jangan hanya memberikan hal-hal yang baik dan kabar-kabar bahagia tentang dirimu, tetapi harusnya bahkan segala pahit getir hal yang menimpamu juga harus kau bagi kepada kami teman, itulah maknanya teman kecuali memang kau sudah tidak menganggap kami sebagai temanmu lagi."


"Baiklah aku minta maaf soal itu, ya sudah saat ini tolong bantu aku untuk menjernihkan pikiran. Kita jangan lagi perpanjang pembahasan soal itu, saat ini kita semua sedang menunggu kedatangan seseorang bernama tabib Maksum yang sudah terbiasa mengobati ratusan orang yang terkena penyakit seperti penyakit yang menimpa istriku ini dan aku tahu semua informasi ini dari wak Mak Lin."


"Teman kalau begitu kami juga akan mencari informasi tentang tabib-tabib lainnya, yang juga sudah terbiasa mengobati penyakit yang serupa. Syukur kalau tabib Maksum itu bisa datang tepat waktu, tapi kalau ada sesuatu halangan yang menhambatnya tentu kita tidak boleh menumpukan harapan kita pada satu orang itu saja bukan..?


Harus ada Plan B nya."


"Baiklah teman kalian lakukan saja apa yang kalian rasa perlu, aku akan sangat berterima kasih untuk itu."


"Kalau begitu kami pamit dulu Haris."


"Ya Pergilah, aku akan menunggu di sini."


Darman dan Jhon kemudian pergi meninggalkan Haris dan yang lainnya di sana, untuk mencari tabib-tabib lainnya yang telah terbiasa mengobati orang yang terkena racun seperti apa yang menimpa istri Haris.


Namun tentunya mereka juga harus cukup selektif, karena ada begitu banyak orang di luar sana, yang hanya sekedar mencari makan atau mencari uang lantas mengaku-ngaku bisa mengobati penyakit yang demikian.


Persentase kebenaran tentang kemampuan orang yang demikian adalah 1 banding 1000. Hanya ada satu orang yang benar diantara 1000 orang yang mengaku bisa mengobati orang yang terkena penyakit demikian.


Tidak jarang terjadi kasus, di mana si penderita atau keluarga penderita yang terkena racun waktu dan hartanya justru banyak habis terkuras dipakai untuk tabib palsu, sementara nyawa yang sakit sudah tidak tertolong lagi, karena memang sejak awal yang mengaku-ngaku tabib itu, tidak tahu apa-apa soal penyembuhan penyakit bagi orang yang terkena racun.

__ADS_1


Sikap malas untuk berusaha keras dan keinginan untuk hidup enak tanpa lelahlah, yang mendorong banyak orang kemudian mengaku-ngaku sebagai tabib. Mereka tidak sadar akibat apa yang mereka lakukan adalah bentuk pembunuhan secara pelan-pelan pada orang lain.


[Panggilan Manager Sudharta]


"Tuan selamat siang menjelang sore Tuan."


"Ya selamat siang Manager Sudharta. Bagaimana kabarmu di sana.?"


"Saya baik-baik saja Tuan. Oh ya Tuan? saya hendak membicarakan tentang apa yang kita bicarakan kemarin. Kapan Tuan punya waktu sehingga kami bisa menemui Tuan..?"


"Kalau bisa datanglah besok hari Manager Sudharta. Kebetulan aku juga tidak punya kegiatan lain."


"Wah sayang sekali seharusnya cocok sekali Tuan, tapi besok mungkin saya belum bisa datang, sebab adik ipar saya itu sedang ditugaskan oleh pimpinannya ke luar kota.


Jadi bagaimana Tuan.?


"Kalau kalian memang serius butuh bantuan, kalian sebaiknya harus cepat-cepat datang Manager Sudharta, sebab kedepannya aku akan punya cukup banyak jadwal yang padat.


Lalu bagaimana dengan lusa, apakah lusa kalian sudah bisa datang.?"


"Kalau lusa bisa, bisa Tuan. Kalau lusa kami pasti akan bisa datang."


"Baiklah Manager, kalau begitu sudah ditentukan lusa kalian harus sudah datang bersama adikmu itu, atau tidak sama sekali, aku tidak mau mendengar ada alasan lagi."


"Baik Tuan."


"Ya sudah ya Manager. Saya tutup panggilannya."


Iya Tuan. Selamat siang Tuan."


"Selamat siang juga Manager."


[Panggilan berakhir]


"Hah kenapa pula dia mesti berada di luar kota.? Semua menjadi lebih lambat saja jadinya."


Haris merasa sedikit kesal sehingga bergumam di dalam hatinya.


"Bang ini nasinya. Maaf Shasmita sedikit lambat, karena masih harus memasak lagi tadi sejak awal, karena tidak ada makanan apa-apa yang sesuai dengan kakak berdua."


"Oh ya sudah tidak apa-apa, terima kasih ya Dek Shasmita. Jadi ini sudah diatur soal gizinya ya.?"


"Sudah Bang , itu kenapa tadi Shasmita harus memasak khusus lagi untuk Kakak."


"Iya Bang. Tapi sedikit dan pelan-pelan saja Adek takut tersedak."


"Ya benar Bang, ini saja rasanya seperti sudah mau memuntahkan darah segar terus."


"Iya pelan-pelan saja Dek, agar nanti kalau sudah makan, begitu tabibnya datang sudah langsung bisa makan ramuan obatnya Dek."


"Iya Bang."


Haris lalu dengan lembut dan perlahan memberi makan kedua istrinya secara bergantian dari dua piring yang berbeda.


Dia menyuapi kedua istrinya dengan cukup lambat serta lembut dan penuh kesabaran.


"Lihatlah bagaimana putrimu itu Pa. Seandainya kita yang akan memberinya makan, dengan keadaannya sekarang pasti dia belum mau makan, tapi lihat ketika nak Haris suaminya yang menyuapinya, walau susah payah dia akan mengusahakan untuk memakannya."


"Iya Ma. Papa bisa melihat hal itu. Syukurlah kita punya putra menantu yang baik serta penuh perhatian seperti Haris.


Papa sekarang tidak merasa kekurangan sesuatu apapun, dengan keberadaan Putra menantu kita yang begitu menyayangi, baik pada kita Papa dan Mama mertuanya maupun Putri kita dan orang-orang yang terdekat dengannya."


"Iya Pa..Papa benar."


Ibu Diana juga memperhatikan bagaimana Haris memperlakukan kedua istrinya itu dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang. Entah kenapa khusus bagi ibu Diana setiap dia melihat kebaikan Haris yang seperti ini, selalu saja dia merasa seolah-olah seperti ada pisau kecil yang menusuk hatinya.


Dia selalu teringat akan dosa-dosanya kepada anak menantu yang begitu luar biasa dan penuh dengan kejutan itu, tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini sebab waktu tidak akan pernah bisa dia ulang kembali.


Dia hanya bisa menyesal dan berjanji dalam dirinya, untuk senantiasa berusaha mengganti perlakuan-perlakuan buruk yang telah ia lakukan di masa lalu, dengan berbagai perhatian yang baik di masa depan.


Selain itu, ibu Diana juga memperhatikan bagaimana dokter Shasmita yang sebenarnya adalah wanita yang cukup berpendidikan tinggi, punya jabatan di Rumah sakit dan tidak kalah dari itu, dia juga punya kecantikan yang luar biasa di atas wanita rata-rata. Tetapi wanita ini rela mengabdikan dirinya kepada Haris termasuk kepada putrinya Diana.


Dia melihat ketulusan dalam diri wanita cantik ini dan dia merasa kasihan melihat Shasmita yang setelah susah payah memasak untuk putrinya, sekarang berdiri sendiri seolah-olah tidak ada yang memperhatikannya.


"Nak duduklah dulu, kau pasti sudah lelah memasak sendiri di dapur dari tadi."


Ibu Diana menghampiri Shasmita dan membawanya ke tempat duduk yang ada di ruangan itu. Shasmita tersenyum manis dan mengikuti apa yang ibu Diana katakan.


"Tidak apa-apa Bu. Shasmita tidak lelah sedikitpun. Shasmita senang akhirnya apa yang Shasmita masak mau dimakan oleh Kakak berdua.


Tapi Ibu tahu nggak, kalau bukan karena Abang yang menyulanginya, pasti Kakak berdua belum atau tidak akan mau makan ha.hah."

__ADS_1


"Iya Ibu juga mikirnya begitu hehehe."


Kok kita sama ya Shasmita.?"


"Wah jadi ternyata ibu juga memikirkannya ya.?"


"Iya dong. Ibukan juga melihatnya dan ibu tahu betul seperti apa watak dari Putri kecil ibu itu sejak dulu, makanya Ibu tahu pasti kalau bukan karena Haris yang memberinya makan dengan di sulangi begitu, nggak bakalan mau dia makan walau dikasih uang sekalipun."


"Iya Shasmita juga mikirnya begitu Bu. Tapi ya syukurlah Bu, kalau kakak berdua mau makan. Oh ya Bu sebentar lagi hari sudah sore kalau begitu Shasmita akan pergi ke belakang dulu, untuk memasak bagi kita semua."


Tidak usah repot-repot nak Shasmita, kalau untuk kita nanti kita beli saja. kitakan tidak ada pantangan makan.?"


"Tapi Bu, kakak berdua sudah mempercayakan kepada Shasmita untuk merawat Abang, karenanya biarlah Shasmita masak bagi Abang dan siapa saja yang mau memakan masakan Shasmita nantinya."


"Ya sudah kalau begitu. kamu pergi memasak ditemani oleh kakakmu Butet dan juga Yunita ya..!


Butet...Yunita...!!"


"Iya Mak.!"


Kalian temanilah Adik kalian ini, untuk memasak buat kita. Lagipula rasanya juga sudah lama kita tidak memakan masakan buatan sendiri."


"Baiklah Mak, Kami akan pergi memasak."


Yunita dan Butet juga kemudian dengan senyum ramah, mengulurkan tangan mereka mengajak Shasmita ke dapur.


Shasmita merasa sangat senang, bahwa dirinya diterima oleh setiap orang. Bukan saja oleh Haris dan kedua istrinya, tetapi bahkan oleh ibu mertua Haris dan juga kakak-kakak iparnya, suatu hal yang tidak semua calon menantu di dunia ini bisa memperolehnya.


Ada begitu banyak menantu wanita yang begitu tersiksa tidak saja dari ibu mertuanya, tetapi bahkan dari saudara saudari kandung suami mereka atau iparnya sendiri.


[Sistem]


Tuan. Operator yang membawa tabib Maksum sudah memberi kabar, bahwa barangkali satu jam kedepan mereka akan sampai. Operator itu minta diberikan titik pendaratan di tempat kita, lalu dimana saya harus menentukan titik itu Tuan.?"


Sistem lokasi tanah di tempat kita ini lebih luas daripada Villa kita yang ada di desa S, karena di belakang Villa ini dahulunyakan adalah kebun sawit kita dua hektar yang terbakar itu, kamu tentukan saja dimana titiknya nantinya yang paling aman, yang bisa dan paling dekat untuk menuju ke Villa kita. Tidak ada masalah soal itu."


[Sistem]


"Baiklah Tuan. Kalau Tuan sudah mengatakan begitu, maka sistem akan menentukan titik koordinatnya sehingga operator helikopter yang membawa tabib Maksum itu bisa segera mendapatkan lokasi pendaratan yang ideal."


'Iya terima kasih sistem. kau telah mengatur segalanya untukku."


[Sistem]


Tuan. Tuan adalah saya, dan saya adalah Tuan. Jika saya berbuat baik kepada Tuan, artinya saya sedang berbuat baik kepada saya sendiri.


Tuan tidak perlu berterima kasih."


"Ya tetap saja aku merasa begitu bahagia, sehingga izinkan aku untuk berterima kasih sistem."


[Sistem]


Baiklah Tuan, kalau memang hal itu bisa membuat perasaan Tuan menjadi lebih baik, sistem hanya akan mendengarnya saja."


Satu jam kemudian operator yang membawa tabib Maksum sudah mendarat di Tanah kosong, yang merupakan titik yang diberikan oleh sistem kepada operator tersebut.


Tabib Maksum telah di bawa untuk menemui Haris, di mana tabib itu langsung kemudian segera dibawa oleh Haris untuk memeriksa keadaan Diana dan Kirana.


'Wah kedua istri Bapak ini sangat kuat, sehingga masih bisa menahan efek racun ini. Seharusnya racun ini tadinya sifatnya cukup tersembunyi.


Sifat racun jenis yang satu ini adalah untuk membunuh orang yang mengkonsumsinya, secara pelan dan perlahan.


Dimana tubuh penderitanya akan semakin kurus kering dan begitu ringkih lalu kemudian berakhir dengan kematian. Tapi tampaknya orang yang membubuhkan racun ini cukup begitu terbawa emosi, sehingga dia bahkan memberikan dosis yang begitu banyak dan begitu besar dari yang sematinya, kepada kedua istri Bapak.


Sepertinya orang yang membubuhkan racun ini, adalah orang yang ikut memiliki dendam kepada istri bapak. Tapi baiklah itu tidak usah kita pikirkan sekarang. Saat ini mari kita hadapi saja apa yang ada di hadapan kita ini pak Haris."


"Iya Pak Maksum saya mendengarkan Anda."


"Racun ini memang sangat unik pak, dia tidak memiliki warna dan juga tidak memiliki rasa sama sekali, sehingga seringkali orang yang memakan racun ini tidak sadar akan efeknya, sebab tidak ada sedikitpun perubahan rasa dan juga tidak ada perubahan warna.


Bila racun ini dibubuhkan ke makanan maka racun ini akan menyatu dengan makanan itu dan tidak terlihat oleh mata kasar kita apapun, hanya orang-orang yang cukup paham tentang racunlah yang bisa mendeteksi keberadaan jenis racun ini.


Saya sering menghadapi pasien yang mendapatkan jenis racun semacam ini, tapi terus terang belum pernah ada yang separah istri Bapak ini saya tangani, oleh karenanya selain berusaha kita juga sama-sama meminta kepada yang Maha Kuasa, mudah-mudahan bisa dari racun ini bisa ditawarkan, untuk kemudian dilakukan pemulihan untuk waktu yang mungkin terbilang cukup lama."


"Baiklah Pak, saya serahkan kepada bapak saja segalanya, bagaimana baiknya. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak Tabib jauh-jauh datang hadir kemari."


"Itu tidak masalah Tuan Haris, saya ini memang jenis orang yang tidak bisa menolak pasien, sebab ada perjanjian dahulu ketika saya mengambil ilmu ini dari guru saya, dimana saya tidak boleh menolak pasien walau pasien itu sesusah apa sekalipun, Kalaupun dia tidak bisa memberikan apa-apa tidak boleh ditolak."


"Wah sungguh mulia hati Pak Maksum in. Baiklah Pak kalau begitu saya persilahkan Bapak untuk mempersiapkan obat-obatnya."


"Ya tentu pak Haris, Anda ini seorang Tuan besar tapi saya bisa merasakan hati Anda sangat baik. Percayalah Tuhan akan membantu kita. Jadi karena saya memang sudah melihat dan bisa mendeteksi jenis racun ini, maka saya minta waktu sebentar untuk meramukan obat yang nanti akan dimasak dan diminum oleh istri Anda ini beberapa minggu ke depan."

__ADS_1


"Baik Tabib Maksum, silakan."


Tabib Maksum kemudian mempersiapkan obat-obat yang dibutuhkan oleh kedua istri Haris.


__ADS_2