Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _96 : Keheranan Diana dan Kirana.


__ADS_3

"Aku mungkin besok juga akan membawa John, ke tempat minum kita yang dulu Man."


"Oh baguslah, mantap itu bos...!"


"Ayo dimakan nak makanannya, anak ayah bos Darman..!


Ayahnya sudah jadi bos sekarang, jadi asisten kepala perkebunan...haha.


Rajin-rajinlah belajar ya nak."


"Iya om."


"Bukan om nak tapi bos Haris."


Darman memperbaiki penyebutan anak anaknya, dalam memanggil Haris.


"Iya bos Haris...!"


"Ah kau Man anak-anakpun kau suruh manggil bas bos he he.


Sudah panggil om aja nak, sudah betul itu tadi."


"Ya om.."


"Ha...ha...ha...hahh"


Semua orang tertawa dengan candaan kedua sahabat itu.


Jadi bagaimana semuanya...?


Apa sudah selesai, agar kita berangkat...?


Masih ada yang mau dikemas barangkali..?


Yang tadi disiapkan mau dibawa ke rumah.


Sudah bungkus saja semua, setelahnya nanti kita akan berangkat pulang."


Mendengar arahan Haris, semua Barisan ibu ibu lalu membungkus lauk makanan mereka, yang masih ada di mejanya masing masing.


Sepertinya mobil kita sudah bisalah digeser kemari dari doorsmeer itu Nando..!"


"Siap tuan."


"Oke saya akan pergi dulu mengurusi urusan pembayaran."


Haris lalu menuju meja kasir, tempat istri Mardan duduk.


"Haris, satu keluarga nampaknya ini Ris...?


"Iya kak, lagi makan bersama ini, ceritanya reuni keluargalah.


Jarang-jarang begini..hehe.


Oh ya kak hitungkanlah kami punya, berapa itu kak...?


"Ya sebentar ya Ris.."


"Iya kak."


Pihak Rumah makan lalu menghitung semuanya.


Setelah selesai menghitung dan membayarkan biaya makan mereka, yang cukup fantastis itu.


Haris menyempatkan sedikit bercanda kepada istri Edi, pemilik Rumah makan.


Sepertinya abang nggak kelihatan ini kak...?


"Oh iya Ris, abang lagi ngantar antar Fadly dek Haris, lagi ada pertandingan karate."


"Fadly ikut karate ya kak...?"


"Ikut-ikutan gitulah dek, lagi musimnya begitu sama kawannya."


"Iya bagus juga itu kak, dimulai sejak dari kecil."


"Okelah kak nanti kalau abang datang titip salamlah, kalau kami tadi datang kemari.


Sekalian bilangin kapan abang perlu mobilnya, datang aja.


Atau hubungi nomor Haris"


Haris lalu memberikan nomornya lewat kartu namanya.


"Kakak ada nomor abang..?"


"Bentar ya Ris.


Nah ini ada juga nih kartu abangmu."


"Terima kasih kak, kami pergi ya kak."


"Iya Ris terima kasih kembali, sering-seringlah datang kemari sama keluarga."


"Oke kak aman itu kak, nanti kami akan sering-sering datang.


Sedap dan lezat soalnya semua makanannya..he he.


Semuanya sangat semangat tadi makannya, orang rumahpun, adeknya kakak sampai ngotot datang kemari.


Nggak mau dia dibawain, maunya makan langsung disini katanya haha."


"Ya Alhamdulillah dek Haris, kalau cocok.


Beginilah usaha kakak."


"Iyalah kak majunya tapi, Ya sudah ya kak, kami pamit pulang nih."


"Iya dek "


Harispun beranjak berangkat dari sana, memasuki mobilnya dan kemudian kembali iring-iringan mobil mereka, melesat membelah jalanan.


Sampai di desa mertua Haris, rombongan ini berpisah.


Nawir dan Andre beserta kedua orang tua mereka termasuk juga Darman bersama istri dan anak-anaknya, berhenti di desa S, sedangkan Haris dan Butet juga Yunita melanjutkan perjalanannya.


Di tengah perjalanan menuju Desa Haris baik Yunita maupun Butet juga berpisah jalan, karena mereka memasuki simpang menuju desanya masing-masing.


Haris bersama Fauzan dan rombongannya, semuanya lanjut menuju ke desa P.


"Akhirnya sampai juga."


Mobil rombongan Fauzan berhenti di depan kedai MakLin.

__ADS_1


Jadi besok kalau kesana sudah tahukan Fauzan...?


"Iya bang sudah bang...!"


Besok mungkin mobilmu datangnya siang atau sore Fauzan, jadi kalau kalian mau berangkat pagi Telepon abang Roni aja ya atau abang Beni."


"Iya bang, aman itu bang."


"Ya udah abang masuk ya Fauzan."


"Iya bang."


Haris masuk menuju villa mereka.


Setelah memarkirkan mobil dan turun untuk memastikan keadaan kedua istrinya, Haris memasuki Villanya.


"Dek abang pergi ke kedai dulu yah..!"


"Ah abang udah seharian nggak di rumah, ini baru sampai sudah mau pergi lagi ke kedai...?


Sudahlah nanti malam aja bang, kita di sini aja dulu, temani kami disini."


"Kenapa kalian setelah berdua kok malah makin manja ya dek..he..he..?


Dulu sendiri bisa, sekarang udah dua orang makin manja...?"


"Biarinlah bang, lagi pengennya begini yakan dek Kirana...?"


"Iya kak, lagian kita seperti single aja, nggak punya suami dtinggal terus Ha..ha..ha.."


"Huhh... Baru dari pagi sampai sore sudah dibilang single, gawat.


Ya sudah deh, kita mau ngapain nih makan udah, oh iya yang belum sekarang mandi


Jadi lupa karena banyak pikiran, ya sudahlah abang mandi aja sekarang."


"Abang mau mandi kemana bang, kamar mandi apa kolam renang..?"


"Kolam renang aja biar seger berendam."


"Oh ya udah terserah abang saja, yang penting disini jangan pergi dulu ke warung, nanti malam saja pergi ke kedainya minum kopi, Iyakan dek Kirana...?"


"Nggak kak nggak boleh keluar malam ini, pagi aja.


Banyak-banyak minum kopi nggak bagus."


"Kenapa dek kok nggak bagus...?"


"Soalnya kalau banyak banyak minum kopi, nanti kaki abang lasak mau pergi aja, abang masih perlu malam ini mau di pakai..ha..ha..hah."


"Ha..ha..hahh....."


Kedua istri Haris tertawa dengan pembicaraan mereka.


"Terserah kalianlah dek, abang mau pergi berenang nih, Haris pergi ke kolam renang pribadi miliknya di lantai atas yang sudah selesai itu."


Kolam renang besar yang ada di samping villanya, tampak belum selesai keseluruhannya, tapi karena memang Haris sudah buru-buru, Haris tetap mau menempati tempat itu.


"Kak Diana..."


"Iya ada apa dek Kirana...?"


"Abang kok sepertinya nggak ada capeknya ya kak, nggak seperti biasanya...?"


"Iya kakak juga heran, padahal kata Puspa tadi malam abang nggak ada tidur dan menghabiskan malam, bercerita sama penjaga pos di gerbang..."


"Iya setelah adek Kirana tidur, sambung sama kakak."


"Ah masa sih kak...?"


"Iya...Makanya kakak heran juga.


Lagipula kakak mau cerita tentang semuanya nanti, kenapa kok tadi seharian ini perasaan kakak nggak enak gitu sama abang, apa terjadi apa-apa ya disana...?


Pengen juga dengar cerita dari abang.


Mau nanya dari Darman nggak mungkin ya kan...?


Lain pula nanti anggapan istrinya, kalau nelpon suaminya."


"Nggak mungkinlah kak, nggak begitu dekat kalau sama bang Darman.


Lagian nggaklah, Kirana nggak maulah kalau bicara sama laki-laki lain, kecuali sama abang."


"Iya sama sih."


"Kak itu penjaga, sepertinya nambah ya.. ?"


"Oh iya tadi kakak juga sudah nanya, kok sudah dua...?


Iya bu ini permintaan bapak kemarin malam, jadi kami sekarang yang kerja itu udah ada 4 orang, pakai shift gitu bu, 2 tugas 2 lagi istirahat.


Untuk hari ini kami sama-sama dulu,supaya yang lain melihat lokasinya, besok baru 2 orang yang masuk' begitu katanya dek."


"Oh begitu rupanya..? padahalkan ada pengawal ya kak..?"


"Iya tapi pengawal abangkan, sewaktu waktu bisa pergi dek sama abang."


"Ya sudahlah.


Kak besok belanja yuk...!"


"Ya sudah Kirana sekalian ajak kakaklah ke tempat salonmu,


Adek di mana salonnya itu...?


Kok cantik kali adek jadinya, nanti abangmu nggak suka pula sama kakak, sukanya sama Kirana aja...!"


"Hahah.. ada-ada saja kakak ini, macam nggak kenal abang aja.


Kakak tetap nomor satu lho kak dihati abang."


"Iya tapikan kakak mau seperti kamu juga dek Kirana."


"Ya sudah nanti kirana ajak ke salon tempat Kirana biasa."


"Oke pokoknya besok kita pergilah ya dek Kirana....!"


"Iya kak."


Sudah sana susul ke kolam renang, nanti abang lama pula di sana.


Kalau nggak disusul, mau sampai malam nanti berendam, kayak buaya disana terus.

__ADS_1


"Kakak nih makin aneh sekarang Kirana tengok, semenjak ada dedek bayi, hehe."


"Iya Kakak juga heran dengan kakak sendiri.


Seperti tadilah entah kenapa orang abang bagus bagus nanya ayah, kakak entah kenapa malah marah-marah sampai mengancam gitu."


"Kakak jangan gitulah kak agak-agak diredamlah sikit, nanti abang merajuk nggak tahan, ditinggal pula kita disini."


"Iya juga ya dek, entah kenapa ini mulut kakak menjadi latah aja belakangan ini.


Ya sudah, kamu temani abang sana biar dia nyaman."


"Boleh adek goda abang nanti kak, nanti abang ajak pula adek olah raga kak, hahaha...!"


"Lho Memangnya kenapa, adekkan istrinya abang dek...?


Masa nanya izin ke kakak..?"


"Merasa mendapat izin dari seniornya, Kirana yang memang masih sangat ingin dimanja suaminya segera melompat ke kolam.


Dengan tubuh indahnya, tidak butuh waktu lama bagi Kirana untuk menarik perhatian Haris, lalu tercapailah apa yang Kirana inginkan di kolam renang tertutup milik mereka itu.


Dia sangat puas dan bahagia dengan hidupnya.


"Bang...! Abang sayang nggak sama adek..?"


"Pertanyaan macam apa itu, ya sayanglah namanya juga istri abang, gimana sih dek...?"


"Berarti abang nggak keberatankan bang, kalau Kirana manja begini, adek sudah capek lho bang, hidup serius terus sejak dulu waktu gadis, fokus kerja terus, sekarang adek maunya di manja, nggak usah terlalu dibebani pekerjaan lagi, boleh nggak bang...?"


"Ya bolehlah memangnya siapa yang mau membebani adek dengan pekerjaan...?"


"Tapi tadikan abang bilang waktu di restoran, Kita bertiga nanti mau ngurusin hotel yang ada, bahkan malah mau nambah lagi."


"Oh itu beda konteksnya dong dek, abang sampaikan itu tujuannyakan supaya bang Beni dan bang Roni itu, nggak merasa di dalam hatinya 'oh si Haris enak-enak aja tenang-tenang saja hidupnya, kami yang capek'.


Padahal pada prinsipnya abangpun kan, nggak terbebani kerja nih sebenarnya...?


Kita punya anggota, punya bawahan yang akan mengurusi segalanya.


Jadi apa yang abang bilang itu beda tujuannya lho dek, bukan berarti adek jadi harus kerja berat jadi terbebani seperti waktu masih gadis dan belum jadi nyonya Haris.


Bukan begitu tujuan abang menyampaikan hal itu tadi dek, bedalah pokoknya dek sayang, cantik milik abang."


"Oh jadi adek sama kak Diana masih tetap bisa bebas beginikan bang...?


Adek nggak apa apakan tetap manja begini sama abang...?"


"Nggak apa-apa dek, sudah kalian jangan terlalu pusing-pusing mikirkan banyak hal.


Kalian nikmati saja hidup ini, lagian abang nggak banyak nuntut kok dari kalian, silahkan kalian nikmati kebahagian dengan apa yang sudah ada.


Jangan pikirkan kerja, kesibukan dan lain-lain fokus untuk urusan kalian masing-masing saja, apalagi nanti kalau adek Kirana sudah punya anak, mana sempat mikirin ini itu, iyakan dek....?"


"Terima kasih ya bang sudah ngertiin adek dan kak Diana, tapi anak kita dong bilang bang , bukan anak Kirana saja kan dikerjainnya berdua sama abang...?"


"Ha..ha..hahah bisa aja adek.


Ya sudah yuk kelamaan berendam di sini, lama-lama dingin juga abang rasa, lagian kasihan tuh kak Diananya sendiri di sana, cuma sama Nurul."


"Iya iya bang, lagian Kirana sudah izin kok tadi, sama kakak."


"Oh sudah...?


Kalau begitu nanti abang sama kakak Diana, nggak apa apa dong ya dek...?"


"Iya, nggak apa apa lho bang, lagian cuma di batasi tirai saja kok,


Masih di kamar besar yang sama."


Akhirnya baik Haris maupun Kirana berjalan keluar dari kolam renang dan menemui Diana.


Kirana membasuh tubuhnya dengan air hangat lalu pergi ke tempat tidurnya, matanya begitu ngantuk setelah berolah raga dengan Haris, masih di awal malam, Kirana sudah tertidur pulas.


"Wah cepat sekali adek Kirana tertidurnya ya bang..!


Adek gulung aja tirainya ini ya bang, adek kasihan melihat dek Kirana sendiri.


Sebentar ya bang, adek selimuti dek Kirana dulu."


Diana lalu mengambil selimut tebal dan menyelimuti tubuh Kirana, Diana juga mengelus kepala dan rambut Kirana dengan penuh kasih sayang, lalu kembali ke tempat tidurnya.


"Lho abang kok menangis bang..?"


"Abang terharu dan bahagia dek, melihat kalian berdua yang saling menyayangi dengan tulus dek."


"Oh, iya memang hati adek sangat sayang sama adek Kirana bang, adek lihat dek Kirana juga begitu kok, sangat tulus sama adek."


Haris lalu ditanyai oleh Diana tentang apa yang terjadi di perkebunan, sehingga hatinya menjadi begitu risau seharian.


Haris kemudian menceritakan segalanya, tentang Erfan dan keadaan penyerangan serta pengepungan yang dialaminya.


Diana cukup geram, tanpa sadar tubuhnya menegang mendengar cerita Haris.


Menyadari hal itu, Haris lalu menumpahkan kasih sayangnya pada Diana seperti mana apa yang Kirana peroleh, setelahnya sama seperti Kirana Diana tertidur pulas.


"Akhirnya pagi hari telah tiba.


Eh kenapa aku tidur sama kakak dan abang...?"


"Sudah bangun dek...?"


"Hmm... abang nggak tidur lagi malam ini...?"


"Tidur sih tapi sebentar."


Haris lalu bangkit, menggendong Kirana ke kamar mandi, karenanya segera saja Kirana mandi.


"Tumben abang gendong adek..?"


"Abang tahu, tubuh adek Kirana lelah bukan...?"


Tanpa menunggu jawaban Kirana, Haris mengendong Diana ke kamar mandi, sama seperti Kirana dan akhirnya ditanyai hal yang sama.


"Eh kenapa kalian berdua bengong...?"


"Abang sekarang kok kuat sekali bang...?"


Menggendong kami seperti anak kecil dan membuat kami pingsan semalaman setelah berolah raga.


Abang minum obat apa sih bang...?"


"Hahh...minum obat...?

__ADS_1


Abang nggak ada minum obat lho dek, kalian kenapa sih..?


Haris pura pura tidak tahu.


__ADS_2