
"Tuan ke mana kita akan pergi sekarang Tuan."
"Langsung saja ke rumah orang tua Jenderal Gunawan Komandan Wilson. Kita akan mengobati beliau terlebih dulu."
"Baiklah Tuan" Iring-iringan mobil Haris kemudian melanjutkan perjalanannya. Setelah keluar dari sekolah Linda, Haris berencana menuju rumah orang tua Jenderal Gunawan.
Hanya beberapa belas menit waktu yang mereka butuhkan, untuk sampai disana. Ketika mobil Haris telah memasuki area pekarangan rumah orang tua Jenderal Gunawan, Wisnu salah seorang ajudan Jendral Gunawan mendatangi pihak Haris.
"Halo selamat pagi Tuan."
"Selamat pagi, mas Wisnu ya.? Apa masnya tidak ikut bersama Jenderal Gunawan.?"
"Saya diperintahkan untuk tinggal di sini Tuan, untuk memantau keadaan dan perkembangan kesehatan Tuan besar sekaligus menyambut kedatangan Tuan Haris di sini."
"Oh begitu ternyata. Jadi di mana keberadaan Tuan besar sekarang Mas Wisnu.?"
"Oh beliau sudah menunggu di ruangannya sejak tadi Tuan Haris dan beliau sudah dipindahkan ke kamar depan, karena beliau sudah merasa lebih sehat dan enakan badannya."
"Wah kabar baik itu, jika demikian tolong Mas Wisnu bawa kita ke sana."
"Baik Tuan. Mari tuan..!"
Haris kemudian mengikuti langkah Wisnu dari belakang, diiringi oleh Shasmita istrinya berikut Wilson dan juga Anton yang merupakan pengawal Haris yang lain.
Adapun pengawal yang lainnya, tinggal menunggu di sekitar area parkiran mobil dan juga di taman yang ada di halaman rumah besar Orang tua Jendral Gunawan.
"Halo selamat pagi Ayah..!"
"Selamat pagi nak Haris."
"Bagaimana keadaannya hari ini Ayah.?"
"Hari ini cukup baik. Ayah sekarang merasa lebih sehat, lebih muda dan lebih bugar saja rasanya.
Nak Haris adalah Tabib yang luar biasa."
"Wah bagus itu Ayah "
"Kemarin Ayah langsung pergi dan kita tidak sempat berjumpa lagi jadinya saat Nak Haris akan pulang."
"Ya. Ayah sih tidak kelihatan entah kemana perginya. Haris mau permisi pulang juga sudah tidak ada yang tahu di mana keberadaan Ayah kemarin."
"Iya soal itu Ayah minta maaf Nak Haris ha..ha..ha Gunawan juga protes sama Ayah, karena tidak menunggu Nak Haris pulang.
Ya bagaimana ya. Ayah sangat rindu dengan kebun dan juga kolam ikan milik ayah yang ada di belakang rumah.
Sudah bertahun-tahun tidak bisa pergi ke sana, tapi hati ini selalu saja ingin berlari dengan bebas kesana.
Karenanya ketika Ayah merasa badan Ayah sudah semakin ringan dan sehat, langsung saja kaki ini spontan lari ke arah sana, sampai-sampai lupa kalau Nak Haris akan pulang."
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting Ayah sehat.
Baiklah Ayah, kalau begitu kita akan lakukan pengobatan kedua. Untuk ramuannya sendiri nanti saja Ayah minum setelah selesai pengobatan ketiga."
"Ya baik terserah Nak Haris saja, Ayah hanya menurut saja, bagaimana baiknya."
"Ya begitu dong Ayah. Jadi Ayah ingin duduk atau tiduran saja, tapi kalau bisa posisi tidur lebih bagus sih sebenanrya, sehingga Haris bisa menjangkau seluruh titik yang ingin kita tusuk dengan jarum akupuntur.
Tapi kalau tidak bisa, ya tidak apa duduk saja."
"Seharusnya sudah bisa dong Nak Haris. Malah mudah kalau sekarang. Ayah sudah bisa kalau sekedar tiduran begitu, lari ke kebun saja sudah bisa kok."
"He..he..hehe Bagus, berarti bakal sehat total deh berarti nantinya."
Pria tua yang merupakan Ayah dari Jenderal Gunawan itupun kemudian membuka pakaiannya dan tidur telungkup untuk dipasangi jarum akupuntur oleh Haris.
Berbeda dengan hari sebelumnya, dimana Haris harus lebih dahulu menyalurkan hawa murninya, kali ini Haris langsung menusuk beberapa titik akupuntur di tubuh Ayah Jenderal Gunawan itu.
Barulah kemudian Haris menyalurkan hawa murni untuk memperbaiki dan meregenerasi serta juga menyeimbangkan hal-hal yang selama ini rusak dalam tubuh orang tua Jenderal Gunawan.
__ADS_1
"Bagaimana perasaannya sekarang Ayah.? Apa lebih baik lagi dari tadi.?"
"Ini..! Saat ini saat yang Ayah rasakan sekarang lebih ringan lagi, jantung Ayah serasa tidak ada lagi masalah. Tidak ada lagi hal yang terasa nyangkut atau sesak di sana. Ayah rasanya sudah seperti menjadi manusia yang baru lagi.
Wah ini sangat luar biasa, ini berkah dari Tuhan. Entah bagaimana kalau kita tidak bertemu atau kita terlambat bertemu Nak Haris. Mungkin Nak Haris hanya akan menemukan kuburan Ayah ataupun batu nisan."
"Syukurlah kalau Ayah sudah merasa lebih baik, itu artinya apa yang kita usahakan direstui oleh Tuhan. Jadi besok Haris akan lakukan satu pengobatan terakhir lagi dan setelahnya, Ayah hanya perlu meminum ramuan khusus yang nanti akan Haris bawakan.
Kalau Ayah sehat, pandai menjaga diri dalam artian Ayah hidup normal jauh dari bahaya bukan karena kecelakaan atau tertusuk benda tajam atau apapun yang bisa menghilangkan unsur kehidupan ini, dengan kondisi badan yang Fit dan sehat seperti sekarang, Ayah masih bisa hidup 100 tahun lagi "
"Yang benar Nak Haris..? Bukankah jika itu terjadi artinya Ayah nantinya akan menjadi orang yang paling tua yang masih hidup di antara teman-teman Ayah yang seangkatan atau seusia..?"
"Ya hal itu bisa saja terjadi, jika Ayah terhindar dari semua yang kita sebutkan itu, atau bukan karena takdir hidup yang memang singkat. Nah sekarang Haris akan menarik semua jarum-jarum ini dan setelahnya Ayah bisa kembali lagi berlari ke kebun belakang."
"Ha..ha..ha buat Ayah malu saja, kali ini Ayah tidak akan lari ke kebun. Tapi tadi ibumu mengatakan kalau nak Haris datang, jangan dibolehkan pulang dulu, karena Ibumu katanya juga mau bertemu Nak Haris, sebab kemaren tudak sempat bertemu.
Ya barangkali Ibumu itu mau berterima kasih atau bagaimana, sekarang mereka sedang pergi sebentar entah ke mana."
"Oh baiklah kalau begitu. Tapi sebaiknya kita bicara di luar saja Ayah, saya sangat suka pohon besar yang ada di halaman depan, sepertinya sangat sejuk duduk dibawahnya."
Pria yang belakangan diketahui oleh Haris itu sebagai Pak Drajat, kemudian membawa Haris untuk melihat-lihat ke taman di depan rumahnya.
Sebenarnya di sisi kanan dari taman ini ke sebelah sana juga ada kebun Nak Haris, hanya saja berbeda dengan kebun yang ada di belakang, kebun yang ada di depan ini adalah kebun Milik ibumu. Dia menanami kebunnya itu dengan sayuran dan juga beberapa jenis buah.
Seperti buah anggur, mangga dan juga durian yang batangnya kecil-kecil dan juga rendah karena merupakan durian hasil kawinan dan cangkokan, tapi sudah berbuah bila musim buah."
"Wah jadi Ayah dan Ibu Ini, masih aktif berkebun ya.?"
"Sebenarnya yang aktif itu tinggal ibumu Nak Haris, selama ini Ayah karena pengaruh penyakit jadi memang tidak lagi berkebun, tapi kebun Ayah terus dirawat oleh asisten rumah tangga kita dan sesekali Ibumu juga memantau ke sana."
"Oh begitu."
[Panggilan Masuk]
"Halo Tuan. Ini Riston. Kami saat ini sedang diserang oleh kelompok lain, tadi Nyonya coba diganggu oleh seseorang.
"Apa....? Apa kalian masih berada di salon..?"
"Iya bener Tuan, kami saat ini masih berada di depan halaman salon."
"Baik. Kalau begitu Aku akan segera ke sana. Ayah sebenarnya saya masih ingin berlama-lama di sini, untuk menunggu ibu. Tapi barusan ada telepon dari pengawal yang mengatakan kalau menantu Ayah sedang diganggu oleh seseorang dan para pengawal kita bisa dikalahkan oleh para pengawal dari pihak pengganggu itu.
Karenanya kami permisi sekarang, kami harus pergi ayah."
"Oh ya di mana posisinya Nak Haris..?"
"Posisinya ada di Jalan Jendral Sudirman Ayah, di Salon and spa Bidadari langit biru."
"Pergilah ke sana segera Nak..!"
"Baik Ayah kami pamit pergi."
Haris kemudian bergegas menuju mobilnya, sambil menghubungi Wilson yang ternyata Wilson juga sudah datang berlari ke arahnya hendak memberitahukan kabar itu.
Dengan segera mobil rombongan Haris berangkat menuju tempat keberadaan Diana dan Kirana istrinya melakukan perawatan.
Adapun Pak Drajat segera menghubungi Jenderal Gunawan anaknya dan Jendral Gunawan mendapati kabar yang tidak enak itu, langsung menelepon menghubungi Budi yang merupakan bawahannya selaku kepala Polisi di Kota P, yang langsung saja para polisi itu menuju ke TKP.
"Apa masih jauh Bang..?"
"Tidak. Setelah lampu merah yang ada di depan, tidak berapa jauh lagi saat berbelok ke kanan kita akan menemukan lokasi spa itu Dek Shasmita."
"Siapa ya Bang orang-orang itu.? Kenapa mereka mengganggu Kakak..?"
"Itu nanti akan kita ketahui Dek Shasmita." Haris yang memang mengendarai mobil super mewah dengan kecanggihan fitur yang ada di mobilnya, secepat kilat langsung tiba di lokasi meninggalkan Wilson dan Anton dan para pengawal wanita lainnya di belakang.
Haris kemudian keluar dari mobilnya dan menyuruh Shasmita menunggu di mobil.
Tidak berapa lama berselang, polisi juga sudah tiba di tempat itu.
__ADS_1
"Tuan itu orangnya Tuan yang merupakan Master beladiri yang mengalahkan kami semua."
"Sudahlah Riston kalian tenang saja, sebaiknya kalian serap Hawa murni yang aku keluarkan dan masuk ke tubuh kalian."
Seketika 10 orang yang merupakan pengawal Haris itu menyerap Hawa murni yang dikeluarkan oleh Haris dan masuk ke tubuh mereka.
Hawa murni itu kemudian mengembalikan segala energi mereka yang keluar setelah bertempur habis-habisan semampu yang mereka bisa lakukan, untuk melindungi Nyonya besarnya.
Haris menghampiri kedua istrinya Diana dan Kirana. Dia sama sekali tidak harus berkonsentrasi dalam mengeluarkan Hawa murni untuk para pengawalnya.
"Bagaimana keadaan kalian Dek..?"
"Kami baik-baik saja Bang, tapi para pengawal kita semua dihajar oleh orang itu."
"Sebenarnya apa yang terjadi disini Dek Kirana..?
Awalnya keributan berlangsung ketika kami telah bersiap-siap akan melakukan perawatan, tapi ada seorang wanita dari kelompok mereka yang tidak sopan datang menyerobot.
Wanita itu mencoba menarik Kak Diana dari tempatnya. Merasa tidak senang kemudian para pengawal kita marah dan gantian menarik wanita itu, yang ternyata di belakangnya ada para pengawal yang kalau menurut Riston, diantara mereka itu ada sosok Master beladiri Bang."
"Oh begitu, mereka berani mengganggu istriku..? Apa mereka ingin mencari mati..? Abang akan selesaikan semua keributan yang ada di sini, kalian pergilah ke mobil kita, tak lama lagi Wilson dan yang lainnya juga akan datang."
Haris kemudian bagaikan kapas begitu ringan melompat ke hadapan Master beladiri yang menghajar para pengawalnya.
'Sekarang aku yang akan menjadi lawanmu..!"
"Ha..ha..ha jangan terlalu bermimpi anak muda, mereka yang 10 orang itu saja tidak bisa walau sekedar untuk mengimbangi kekuatanku, apalagi dirimu yang cuma seorang diri..!"
"Kau simpan saja omong kosongmu dan kita lihat bagaimana hasil akhirnya." Haris langsung melompat tinggi dari tempatnya sambil melakukan gerakan memutar tendangan sapuan yang menghantam dada orang itu dengan keras dan telak.
"Baj!ngan brengsek, ternyata boleh juga kemampuanmu..!" Haris tersenyum, tetapi matanya menyipit tampak sangat tajam seperti silet.
Orang itu kemudian bangkit dan berlari menerjang Haris, namun pukulan demi pukulannya di tangkis oleh Haris, demikian juga Haris sesekali memberikan sapuan, tendangan dan juga pukulan dari tangannya.
Lawan Haris yang merupakan Master Kungfu memakai jurus naga terbang, sedangkan Haris yang merupakan Master silat, benar-benar membuat lawannya kewalahan dengan serangannya yang tak terbaca dan terjangannya yang bisa datang dari sudut mana saja.
"Aku lihat kalian ada berdua di sini yang merupakan Master bela diri. Kenapa tidak sekalian saja kalian berdua maju sekaligus untuk melawanku."
"Brengsek, kurang ajar kau. Kau pikir siapa dirimu, sehingga kami harus berdua meladenimu."
Haris kemudian mendesak Master bela diri yang barusan bicara penuh omong kosong itu dengan pukulan demi pukulan, tak lupa Haris mengeluarkan satu jarum akupuntur perak miliknya dan melesatkannya hingga menusuk ke salah satu titik di tubuh Master beladiri pihak lawan yang sok jagoan itu, seketika orang itu tersungkur dan badannya rubuh, tubuhnya berguncang hebat, kemudian dari mulutnya keluar buih putih."
"Nah kalau sudah begini, apakah kau tidak akan bangkit melawan..?" Ucap Haris pada seorang Master lainnya. Kemudian orang itu datang menerjang Haris, dengan ciri khas pola serangannya yang memakai jurus tinju lewat kepalan tinju kerasnya.
Selain itu badan orang itu keras seperti logam, sehingga ketika dipukul oleh Haris pun, dia sama sekali tidak merasakan sakit.
"Hmmm jadi kau punya tubuh logam. Sayang itu belum cukup untuk menghentikanku."
Haris tersenyum melihat jurus dan taktik yang dipakai oleh lawannya. Bukannya takut Haris semakin bersemangat.
"Baik terima pukulanku, apa kau pikir tubuh logammu itu mampu menghadapinya..?
Haris kemudian mengalirkan Hawa murni yang kemudian dikumpulkan secara padat di kepalan tangannya, lalu Haris menerjang orang itu yang begitu sangat percaya diri dengan pertahanannya dan sama sekali tidak mencoba menghindar dari serangan Haris.
"Terimalah botak...!!"
"Bummmm."
Pukulan Haris menghantam dada pria yang memakai jurus tubuh logam itu dan seketika terdengar suara retakan dari tubuhnya dan si botak yang merupakan Master bela diri itu, terkapar menggelepar di tanah seperti ikan yang kekurangan air.
Melihat hal itu orang-orang yang berada di kelompok pengganggu menjadi semakin waspada dan bergerak mundur, kali ini Haris dalam pandangan mereka sudah seperti malaikat kematian, yang begitu menakutkan sehingga membuat jiwa mereka cukup berguncang.
Melihat kedua Master beladiri itu telah berhasil dilumpuhkan oleh Haris, para pengawal Haris berencana dapat menyerang para pengawal wanita perusuh yang merupakan praktisi beladiri itu
"Ayo teman-teman, Tuan kita sudah menghabisi Master bela diri mereka, sekarang giliran kita menghajar para pengawal mereka
Riston dan pengawal lainnya yang telah pulih kekuatannya, setelah mendapat asupan Hawa murni dari Haris, segera melompat dan menerjang para pengawal dari pihak lawan, sehingga baku hantam pun tidak bisa dielakkan.
Wanita yang merupakan pimpinan atau majikan dari kelompok perusuh mendatangi polisi hendak meminta bantuan, tetapi para polisi hanya melihat Haris dan belum berbuat apa-apa dan tidak pula meninggalkan tempat itu, seolah-olah mereka sedang tidak melihat apa-apa.
__ADS_1