
[Sistem]
"Tuan.! seratus meter dari lokasi ini, di arah menuju kota P ada dua mobil yang sudah sejak dari tadi memperhatikan gerak-gerik Tuan.
Tampaknya orang-orang ini, sudah mengikuti Tuan sejak dari kota P, orang-orang ini mungkin merupakan utusan dari si Marlon itu Tuan."
"Baiklah sistem, terima kasih kau sudah memberitahukannya.
Seharusnya kalau benar sesuai keterangan dari Albert satu minggu lalu, si Marlon itu belum atau tidak berencana untuk Mengusik kita.
Apakah si Marlon yang berubah pikiran karena dia terus terdesak oleh tim Riston, ataukah memang Albert yang berbohong...?"
[Sistem]
"Tuan saya rasa perkiraan Tuan yang pertama lebih tepat, Albert sepenuhnya dengan tulus sudah memutuskan untuk ikut dengan kita."
"Begitukah sistem..?
Kalau begitu aku tidak akan masuk ke Villa, melainkan akan pergi berjalan menyusuri jalan ini dan masuk ke lokasi perkebunan salak milik kita yang ada di pinggir jalan di bawah sana.
Segera kau hubungi Nando dan dua pengawal yang lainnya, agar datang kemari, aku berencana melanjutkan perjalanan menuju kota pelabuhan S dan aku bermaksud hendak menyergap orang-orang ini di tempat yang sunyi dan memungkinkan untuk itu."
[Sistem]
"Baik Tuan.!"
Haris lalu berjalan menyusuri jalan raya yang merupakan turunan itu, Haris melewati jembatan dan terus berjalan kemudian masuk ke dalam lokasi kebun salak yang dia beli sebelumnya dari warga, di awal awal dia punya Sistem dahulunya.
Sesuai dugaan dua mobil yang mengawasi segera berjalan perlahan mengikutinya, kemudian sengaja melewatkan lokasi tempat Qing shan berhenti sejauh kira-kira 100 meter dari lokasi itu.
Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Nando langsung menuju ke lokasi keberadaan Haris.
Haris keluar dari areal kebun tersebut dan langsung menaiki mobil.
"Tuan apa yang terjadi..? kenapa Tuan tidak datang ke Villa..?"
"Nando dan kalian berdua, sepertinya kita sedang diikuti oleh dua mobil yang berada di depan itu, sejak dari kota P, biarkan mereka mengikuti kita seolah-olah kita belum tahu keberadaan mereka.
Kau harus terus membawa kita Nando, orang-orang ini akan mengikuti kita ke kota Pelabuhan S jadi kita tidak singgah di desa S sesuai rencana awal.
Kita akan melewati desa S dan langsung menuju kota Pelabuhan."
"Apa tidak sebaiknya kita setelah sampai di pekan masuk jalan ke arah pantai Timur menuju desa M saja tuan
Di jalan menuju lokasi perkebunan kita itu, lebih sunyi dibanding jalan menuju kota Pelabuhan S yang cukup jauh baru didapati tempat yang sunyi, kalau memang kita hendak menyergap mereka."
"Wah ternyata nalarmu berjalan juga Nando.
Baik. Kalau begitu kita putuskan akan masuk menuju desa M saja, kita lihat apa maunya orang-orang itu, apakah mereka akan tetap mengikuti kita atau tidak."
"Baik Tuan."
Nando kemudian menjalankan mobil itu dengan kecepatan yang sedang dan persis setelah berpapasan dengan mobil yang mengikuti mereka, baik Nando maupun Haris sengaja tidak menoleh atau melihat ke mobil itu seolah-olah mereka belum tahu, kalau mereka sudah di buntuti sejak awal.
Benar sekali Tuan. Tampaknya kedua mobil itu sudah mengikuti kita kembali."
"Ya biarkan saja mereka mengikuti kita sampai ke lokasi yang kita rencanakan, Nando."
Saat Haris sedang berbincang-bincang dengan Nando dan kedua pengawalnya, telepon yang merupakan panggilan dari Riston berbunyi.
[Riston memanggil]
"Ada apa Riston...? Apakah ada perkembangan dari sana..?"
"Tuan.! Setelah Tuan mengarahkan kami untuk pergi ke desa Albert, kami sudah melihat keberadaan Marlon Tuan.
Tetapi kali ini kami tidak mau lagi terlalu bernafsu, sehingga berbuat gegabah dan kembali gagal seperti yang lewat-lewat Tuan.
Kalau tidak memungkinkan menangkap si Marlon ini secara hidup-hidup, bolehkah tim kami menembaknya saja Tuan."
"Kamu jangan ragu Riston sejak awal sudah kukatakan kalau memang kalian menemukannya, jangan ragu untuk mengirimnya kepada sang pencipta.
Dia hanya akan bisa menjadi manusia yang lebih baik di sana."
"Baik Tuan. Kami hanya khawatir kalau Tuan masih memiliki kepentingan dengannya sehingga harus menangkapnya hidup-hidup."
"Tidak, kita tidak punya sedikitpun kepentingan dengannya, di mana ada kesempatan sekalipun itu sempit kalian langsung eksekusi saja."
"Baik Tuan kalau begitu tidak ada lagi beban bagi kami semua."
"Ya kalian harus cepat bergerak, karena orang-orang suruhan dari si Marlon itu juga sudah mulai sampai kemari, saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju Desa S tadinya, tetapi ada dua mobil yang mengikuti kami sejak dari kota P.
Karenanya kami putuskan akan mengalihkan mereka ke tempat lain. Jadi segeralah selesaikan disana agar tidak lebih banyak lagi orang-orang yang dikerahkannya kemari."
"Baiklah Tuan.
Berarti kita saat ini sedang saling buru Tuan."
"Ya begitulah ceritanya Riston."
Kalau begitu saya tidak akan berlama-lama, panggilannya akan saya akhiri Tuan."
"Baik ingat jangan sampai gagal lagi kali ini, Riston."
"Siap kami tidak akan ragu lagi tuan, kalau memang Tuan tidak lagi punya kepentingan kepadanya, kami akan menembaknya kapan saja ada kesempatan, walau itu kesempatan yang sangat kecil sekalipun Tuan."
[Panggilan berakhir]
"Kalian dengar itu..? kita saat ini sedang saling buru dan kita harus memenangkan perburuan ini."
"Baik Tuan."
Nando kemudian mempercepat laju kendaraannya melewati beberapa desa termasuk Desa S, yang merupakan kampung kelahiran Diana istri Haris dan terus melaju melewati desa-desa lainnya hingga melewati pekan dan memasuki jalan menuju persimpangan ke wilayah pantai Timur.
Setelah memasuki simpang menuju wilayah pantai Timur, Nando terus mempercepat laju mobilnya.
Jalan yang mulus dan lurus itu memungkinkan mobil terus melesat, ternyata pihak penguntitpun setelah melihat keadaan yang sangat memungkinkan bagi mereka untuk bertindak, mereka terus mendesak mobil yang dibawa Nando dan salah satu mobil itu menerobos melewati mobil yang dinaiki Haris.
Mobil yang menerobos itu lalu memarkirkan mobil mereka tepat di depan, persis di tengah jalan, yang otomatis menghalangj jalur lintasan mobil Haris.
Lima orang pria dengan bersenjata tajam dan pistol keluar dari mobil dan berdiri bersiap hendak menghadang dan menembaki mobil pihak Haris.
Kedua pengawal Haris yang juga sangat ahli memakai senjata, dengan perintah Haris langsung dengan cepat menghujani mobil yang ada di depannya dengan peluru, bahkan sebelum Nando menghentikan mobil.
Merasa terlambat mengambil tindakan, kelima pria itu hendak berlindung di balik mobil tapi Nando atas perintah Haris langsung menabrak ekor mobil musuh itu dari sisi kiri Nando, sehingga mereka yang berlindung di balik mobil menjadi panik dan karena terlambat menghindar tiga orang diantaranya terjepit mobil.
__ADS_1
Nando lalu memarkirkan mobil tidak jauh dari mobil yang dia tabrak.
"Mari Tuan.
Tuan berlindung."
"Jangan pikirkan Aku, cepat lumpuhkan mereka."
Haris dan Nando turun dan berdiri di balik mobil, Haris berdiri dengan tenang, sedangkan dua pengawalnya segera baku tembak dengan dua orang anggota pengungtit yang masih selamat dari tabrakan yang disengaja oleh Nando barusan.
Dua pengawal Haris berhasil membunuh kedua sisa pengungtit itu sementara mobil yang satu lagi dengan laju yang kencang datang hendak menabrak mobil kawannya dan juga mobil Haris, yang berada tidak jauh dari mobil itu.
Pihak pengawal Haris lalu menembaki dan menghujani mobil yang datang itu dengan 4 pistol yang berada di tangan kiri dan kanan keduanya, menyebabkan ban depan mobil penguntit itu pecah sehingga lajunya tidak lagi begitu kencang dan stabil.
Kedua pengawal Haris langsung menembaki kaca mobil dan menewaskan beberapa orang di dalamnya.
Setelah mobil itu berhenti karena menabrak mobil temannya, kembali terjadi baku tembak antara dua pengawal Haris dan beberapa orang yang masih hidup dari pihak penguntit.
"Ughhhh.... sial paha kakiku robek, terserempet peluru."
"Hati hati teman, pergilah ke belakang sana untuk membalut lukamu dan berlindunglah, aku akan menembaki mereka, agar kau bebas bergerak."
Seorang pengawal Haris kakinya diserempet peluru musuh, dalam adegan baku tembak yang singkat itu.
"Anton..! Ayo mundur aku akan melindungimu."
"Baik berhati-hatilah David, jangan sampai tertembak juga."
Pria bernama Anton itu kemudian mundur dan David temannya menghujani lawan agar tidak sempat untuk menembaki Anton yang sedang mundur.
Setelah sampai di belakang mobil, Nando tanpa di perintah dengan sigap segera membalut kaki Anton dengan kain, untuk menghentikan pendarahan yang dialaminya
"Terima kasih Nando.
walau terasa panas, tapi begini lebih baik sehingga tidak banyak darah terbuang."
Selesai lukanya dibalut dan telah berada di posisi yang aman, pengawal yang bernama Anton itu kembali ikut menghujani pihak lawan dengan tembakan yang bertubi-tubi, beberapa saat kemudian tidak ada lagi balasan tembakan yang datang dari pihak lawan.
"Anton menurutmu apakah mereka sudah mati atau kehabisan amunisi..?"
"David Aku tidak tahu pasti, yang jelas kita harus bergerak maju dan memastikannya.
Hati-hati siapa tahu musuh masih menyisakan satu peluru untuk menembakkannya kepada kita."
"Iya kau benar. Ayo kita bergerak dengan menyelinap."
"Baik."
Pengawal yang bernama Anton maupun David, terus merangsek masuk mendekati mobil yang menjadi sasaran tembak mereka dan setelah sampai ke dekat mobil itu, mereka menyaksikan kalau semua para pengungtit itu telah tewas bersimbah darah.
Setelah memeriksa dengan teliti untuk memastikan musuhnya telah tewas dan sesudah mengambil beberapa barang milik para penguntit seperti HP dan barang lainnya.
Anton berucap.
"Tuan semua penguntit ini telah mati, kita sudah aman sekarang."
Dengan semangat Anton berseru pada Haris.
Haris kemudian memerintahkan Nando untuk segera membawa mobil meninggalkan lokasi itu dan menuju desa S.
"Tuan..!
Bagaimana dengan para korban itu..?"
"Tenang saja Anton, para petugas pasti akan mengevakuasinya.
Kita tidak perlu bicara apa-apa dan kalaupun nanti penyelidikan mereka sampai kepada kita, Jenderal Gunawan dan kepala Polisi Agus yang akan mengatasinya."
"Baiklah Tuan, tapi mobil ini mengalami kerusakan cukup parah Tuan, karena ditabrakkan ke ekor mobil para Bandit itu."
"Tdak apa-apa Nando, kita hanya perlu memperbaikinya dan sebaiknya mobil ini untuk beberapa saat tidak usah kita pakai lagi."
"Baik Tuan."
Nando memacu mobilnya, kemudian setelah beberapa saat, mereka sampai di desa S lalu mobil itu memasuki Villa milik Haris.
"Nando dan kalian Anton juga David, jangan cerita apa-apa kepada keluarga kita, kalaupun kalian akan berbicara kepada Puspa dan Wulan serta yang lainnya, katakan kalau mereka harus menyimpan rahasianya.
Jangan sampai semua anggota keluarga kita yang lainnya merasa cemas."
"Baik Tuan, siap Tuan.
Kami akan tutup mulut Tuan. bahkan kalau Puspa dan Wulan tidak menanyakannya kami tidak akan memberitahukannya."
"Itu lebih baik, kalau begitu jangan beritahukan."
Haris turun dari mobilnya, kemudian mobil itu langsung dimasukkan ke dalam gudang.
Haris masuk ke dalam villanya, seolah-olah tidak ada hal apa-apa yang terjadi pada hari itu.
"Anton dan David.
Sebaiknya Sejak hari ini kalian berdua lebih berhati-hati, karena kita tidak pernah tahu apakah orang-orang yang mengikuti kita itu masih memiliki teman-teman yang lain atau tidak."
"Iya kau benar Nando. Tampaknya kita perlu menelepon anggota kita yang ada di kota P, yakni mereka yang menjaga ekspedisi, agar tiga atau beberapa orang lagi datang kemari, untuk berjaga-jaga."
"Iya idemu sangat bagus David aku akan menelpon mereka nanti, sudahlah kalian membersihkan diri saja dulu dan beristirahat.
Selanjutnya kita akan menanti perintah dari Tuan."
"Ya baiklah Nando, tapi ayo tunjukkan tempat kami, karena kami belum pernah datang kemari."
"Oh ya aku sampai lupa, mari ayo aku tunjukkan."
David dan Anton kemudian pergi ke gedung yang dikhususkan untuk para pengawal pria milik Haris yang ada pada setiap Villa.
...--------------...
"Abang kenapa datangnya begitu lama..?
Apa ada masalah..?"
"Tidak. Tidak ada kok dek Kirana, oh ya Papa dan Mama di mana..?"
"Papa dan Mama sekarang sedang beristirahat di kamarnya, memangnya kenapa Abang bertanya..?
__ADS_1
Apa Abang mau bercerita dengan Papa..?"
"Iya Abangkan satu-satunya anak menantu Papa, belakangan ini seperti yang adek lihat Abang banyak urusan sehingga belum sempat bercerita kepada Papa mertua.
Takutnya nantikan Papa mengira seolah-olah Abang menjaga jarak atau apa begitu."
"Ah enggak kok Bang, Kirana sudah cerita kok ke Papa, mengenai sibuknya aktivitas Abang sekarang, ya sudah besok saja Abang cerita secara khusus panjang lebar sama Papa dan Mama."
"Oh ya.? Tapi adek nggak cerita mengenai masalah Marlon kan..?"
"Tidak Adek tidak menceritakannya."
"Ya itu lebih bagus, kalau begitu Abang ingin mandi sebentar, nanti kita lanjut ceritanya ya."
"Iya.. iya bang."
"Oh ya kemana kakakmu Diana..?"
"Oh kak Diana tadi pergi ke kamar ibu, karena Papa dan Mama sedang ada disini jadi Ibu dan Ayah tadi juga di sini tidak tinggal di rumah yang di sana Bang..!"
"Oh jadi begitu..?
Itu lebih baik, jadi nanti malam kita bisa kumpul dan makan bersama.
Ya sudah kalau begitu, abang mandi dulu ya Dek.
Sini dong cium Abang, kamu kok makin menjauh Sekarang...?
Waktu di hotelpun kamu tinggalkan Abang dan pergi ke rumah Papa tanpa memberitahu Abang, minimal telepon gitu."
"Ih Abang, Adekkan udah titip pesan sama Kak Diana."
"Iya sih tapi kadang-kadangkan Abang juga pengen langsung dengar dari adek yakan.?"
"Ya udah nanti lain kali adek akan telepon abang langsung, sudah sana mandi."
"Ya baiklah istriku yang bawel."
Haris lalu bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan badan.
Ketika Haris sedang mandi dan berendam menikmati air hangat yang ada di bathtub kamar mandi miliknya, Kirana masuk membawa Handphone milik Haris.
"Ada apa dek Kirana..?"
"Ini bang, Riston menelepon dan menanyakan Abang."
"Oh ya sudah, coba bawa kemari."
Kirana mendekat dan Haris kemudian meraih handphone miliknya dari tangan Kirana, yang segera meninggalkan Haris di sana.
"Iya ada apa Riston..?"
"Tuan..! Marlon telah tewas Tuan, salah seorang anggota kita menembak Marlon tepat di dadanya, ketika dia sedang menuju rumah orang tua Albert Tuan.
Tapi ada tiga orang yang ikut bersamanya tadinya dan dari ketiga orang itu ada satu orang yang lolos dan melarikan diri ke arah hutan Tuan.
Sedangkan kami tidak tahu pasti tentang ciri-ciri maupun wajah orang itu, apakah kami harus memburunya Tuan..?"
"Tidak.! Itu tidak perlu Riston, Kalian tidak perlu memburu seseorang yang kalian tidak tahu pasti siapa dan seperti apa dia.
Yang penting untuk satu hari ini kalian berjaga-jaga saja disana, kalian lindungi keluarga Albert.
Aku sudah berjanji padanya dan dia sekarang sudah menjadi bagian dari kita."
Kalau begitu kami akan berjaga-jaga Tuan, lalu setelah besok apa yang harus kami lakukan, kalau besok tidak juga ada orang yang datang kemari tuan..?"
"Kalian kembali saja pulang kesini dan bawa juga kedua orang tua Albert, kemari."
"Baiklah kalau begitu kami akan pulang besok Tuan, kami juga sudah rindu suasana disana."
"Iya baiklah.
Seluruh orang yang menguntit kami juga sudah tewas tadi, hanya saja si Anton kakinya juga terkena peluru, tapi sepertinya tidak apa-apa tidak terlalu parah, kakinya hanya terserempet saja dan tidak begitu dalam."
"Syukurlah kalau begitu."
"Iya kalian cepatlah datang kemari, karena kita tidak tahu ada berapa jumlah orang-orang yang sudah dibayar oleh Marlon untuk mengejar kita."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kami tidak usah menunggu lagi Tuan, Toh kami juga akan membawa orang tua Albert ke sana.
Bagaimana kalau kami berangkat malam ini juga..?"
"Begitupun boleh, terserah kalian saja.
Apa yang kalian rasa lebih baik saja."
"Ya kalau begitu, kami akan pulang nanti malam saja kalau begitu Tuan."
"Ya sudah Riston, saya tutup ya, saya sedang mandi ini."
"Oh iya maaf Tuan kami tidak tahu Tuan sedang mandi, Selamat sore Tuan."
"Selamat sore Riston."
Selesai menutup panggilan dari Riston Haris sejenak berpikir kalau hari-hari tenang dalam hidupnya, mungkin akan segera berlalu.
Kali ini pada level kehidupan yang lebih tinggi, angin yang lebih kencang akan segera menerpa diri maupun keluarganya, namun begitupun Haris tidak takut dan gentar.
Yang ada dia semakin bertekad dan bersemangat untuk menaklukkan seluruh lawan-lawannya.
Dengan pemikirannya yang sudah semakin baik hal itu tidak lantas membuatnya panik, namun cukup tenang untuk memikirkan setiap langkah demi langkah.
"Ah akhirnya tubuhku terasa lebih segar setelah mandi.
Aku akan menghadapi semua apa yang sudah digariskan ini, tidak akan ada yang akan bisa dirubah apa apa yang sudah di gariskan, tidak ada pilihan kecuali hanya dilalui dengan semangat keuletan dan juga kesabaran.
Gagal dalam penguasaan diri,adalah puncak dari seluruh kegagalan.
Seperti apapun berkecamuknya angin di luar sana, namun di dalam diriku, Aku harus tetap tenang dan tenang."
Haris bergumam dalam dirinya sendiri, untuk menentukan seperti apa Arah sikapnya ke depan.
Sore yang penuh dengan keceriaan, karena semua orang berkumpul di tempat dan juga waktu yang sama, membuat semua orang di Villa itu merasa begitu bahagia jauh dari kecemasan, kecuali Haris dan 3 orang bawahanya, yang tahu betul keadaan mereka.
Sama sekali tidak ada anggota keluarga Haris yang menyadari bahaya yang sudah mengintai keluarga mereka dan mereka masih larut dalam kebahagiaan, menikmati waktu-waktu yang mereka miliki.
__ADS_1