Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _106 : Marlon si pria kasar


__ADS_3

Haris masih saja merasa tidak enak untuk membiarkan Puspa dan Wulan yang sudah Dia anggap sebagai adik dan keluarganya itu, harus berjaga di luar rumah pada malam hari.


Karenanya dia terus menekankan agar Puspa dan Wulan, berjaga di dalam kantor saja dan biarkan yang lainnya berjaga di luar.


"Pokoknya Aku perintahkan kalian hanya berjaga di dalam, kalian hanya boleh keluar dari ruangan kantor, apabila ada pertarungan.


Aku juga tidak merasa enakan kalau wanita yang sudah aku anggap sebagai adikku itu, bekerja di luar pada waktu tengah malam nantinya."


"Terima kasih Tuan telah menghormati diri kami, melebihi kami sendiri."


"Tidak perlu terlalu dramatis seperti itu, Aku melakukan ini karena kalian berduakan sudah bahagian dari keluargaku, maka semua wanita yang ada di keluargaku harus terjaga, itu saja."


"Baiklah Tuan.


Tuan...! Bolehkah kami memanggil Tuan dengan Abang saja...?"


"Sejak awal malah itu yang aku inginkan, kalian boleh memanggil aku Abang kapan saja kalian mau."


Mendengar hal itu Puspa langsung berlari menuju Haris, kemudian memeluknya.


Wulan juga melakukan hal yang sama dan kedua wanita itu, meneteskan air matanya.


Meski mereka punya penghasilan yang besar bersama Haris, tapi tetap saja ada ruang kosong dalam diri mereka, yang rindu kepada keluarga.


Dengan adanya sosok Haris yang mengakui dan rela menjadi abang bagi mereka, maka ruang kosong itu seperti terisi.


"Tenang saja, para pengawal yang akan tiba hari ini 10 orang diantaranya adalah wanita, jadi kedepannya kalian akan memiliki saudari wanita dan tidak akan kesepian seperti yang kalian rasakan hari ini.


Selain itu, bukankah istriku juga sudah menganggap kalian sebagai adik-adiknya...?"


"Benar Bang, Kakak juga sangat menyayangi kami layaknya seperti adiknya."


"Nah kalau begitu, apalagi...?


"Baiklah mungkin kalian sudah rindu kepada keluarga, bagaimanapun kalian sudah bertugas 2 bulan lebih bersamaku.


Setelah selesainya masalah ini, kalian boleh berlibur seminggu atau dua minggu dan kembali pada keluarga, agar kesepian yang hari ini kalian rasakan bisa hilang kembali.


Sekarang bisakah kalian berhenti memelukku...?


Rasanya aku semakin sulit bernafas hahaha..."


Baik Puspa maupun Wulan, baru saja tersadar karena ucapan Haris, ternyata memang mereka sedari tadi terus menempel kepada Haris dan memeluknya begitu erat.


Sikap lembut dan penuh perhatian Haris, juga aroma tubuhnya yang harum dan penampilan wajah tampannya, membuat kedua wanita itu, lupa akan situasinya.


#Ris pesan Author mewakili para pembaca yang Budiman, sudahlah jangan terlalu dekat dekat dengan wanita, kamu harus jaga jarak.


Kamu tidak tahu pesonamu itu bisa menjebak mereka untuk takluk dan jatuh cinta padamu.


Tahu tidak...? gara-gara sikap kamu yang seperti itu, sudah banyak pembaca Budiman Author yang meninggalkan novel ini, karena tidak suka perilaku poligami.


Sudahlah Ris, dengarkan nasehat Author dan para pembaca....wkwkwkwk#


"Eh maaf Bang maaf.


Kami terbawa dan terhanyut perasaan, Kami merasa seperti di rumah dan bertemu dengan keluarga jadinya."


"Ya Aku memahami semua itu, Aku pergi dulu ya...!"


"Baik Bang terima kasih, untuk semuanya."


"Hei Apalagi itu...?


Bukankah kita ini keluarga...? Sudahlah jangan terlalu sering berterima kasih seperti itu.


Ya sudah kalau begitu, Abang pergi, selamat bertugas buat kalian semua.


Nando ayo kita pergi...!"


"Baik Tuan."


Haris dan Nando akhirnya pergi kembali menuju hotel, sikap Haris meninggalkan kesan yang begitu mendalam, baik bagi Puspa Wulan Riston Amanu maupun Halim.


Mereka merasa sangat beruntung, bisa mengenal dan bekerja bersama Tuan besar yang baik hati lagi dermawan seperti Haris.


Bagi mereka Haris sudah seperti Abang yang senantiasa perhatian kepada adik-adiknya, Kali ini Haris pula sudah mendatangkan tenaga bantuan, sejumlah 35 orang dan berencana akan merekrut sampai 100 orang, yang tentu dengan itu tugas kelima pengawal itu akan semakin menjadi ringan.


Sedangkan dari sisi penghasilan mereka tidak kalah besar dari sebelumnya, belum lagi fasilitas serta makanan dan juga perhatian yang mereka terima, benar-benar membuat mereka sangat memuja dan mengidolakan Haris.


"Senior berdua, Tuan kita betul-betul orang yang sangat baik ya...?


Saya tidak tahu kapan hal itu mulai, tapi aku merasa Tuan sudah menjadi idolaku."


Riston meluahkan perasaannya kepada empat teman lainnya, utamanya kepada Puspa dan juga Wulan.


"Ya kau benar Riston Aku juga merasakan hal yang sama, bagaimana denganmu Amanu...?"


"Aku juga tidak berbeda dengan denganmu Halim dan Riston aku rasa senior berdua juga begitu bukan...?"

__ADS_1


Amanu bertanya pada Puspa dan Wulan.


"Iya kami berdua tentunya juga merasakan hal yang sama dan berpikiran yang sama pula, oleh karenanya Kita semua harus bertugas dengan baik.


Mari kita balas semua kebaikan hati dan juga perhatian dari Tuan Haris, meski beliau sudah menganggap kita sebagai adik dan keluarganya, sebagai seorang petugas Kita juga harus profesional."


"Yah apa yang senior katakan itu benar adanya, lalu apa yang harus kita lakukan pada orang-orang yang di gudang itu senior...?"


"Kalau mendengar apa yang dibicarakan oleh Tuan tadi, bersama Master tua itu. Tuan mengatakan akan melepaskan mereka, jadi aku menangkap pesan kalau itu adalah perintah bagi kita, karenanya sebaiknya kita lepaskan saja mereka.


Namun sebelumnya kita perlu menasehati mereka, kalau pertempuran ini akan menjadi besar, sebaiknya mereka kembali pada keluarganya masing-masing."


"Baiklah senior, kalau begitu silakan senior berdua masuk ke dalam kantor, seperti arahan tuan besar tadi.


Kami bertiga akan melepaskan mereka dan akan menasehati mereka."


"Ya baik kalau begitu.


Kami akan pergi."


Baik puspa dan Wulan akhirnya masuk ke dalam kantor, para pegawai yang ada di sana merasa nyaman dengan keberadaan dua wanita cantik yang juga merupakan ahli bela diri yang tangguh itu.


Mereka telah mengetahui hal itu, sebab Haris telah memberikan arahan kepada semua petugas.


Mereka diminta agar tetap bekerja seperti biasa dan keamanan mereka akan dijaga.


Sementara Riston Amanu dan Halim, sudah mulai melepaskan orang-orang yang mereka tawan sebelumnya dan menasihati mereka, agar kembali pada keluarganya masing-masing.


...................


"Tuan apakah orang yang mengganggu dan memukuli bang Beni itu orang yang sangat kuat tuan...?"


Nando bertanya kepada Haris, ketika berada di perjalanan.


"Ya menurut Master tua itu sepertinya begitu Nando, tapi kita tidak boleh terlalu terpengaruh olehnya.


Bagaimanapun nasehat orang lain, adalah suatu siasat yang tidak boleh kita terima mentah-mentah.


Aku yakin pria tua itu tulus, tapi tetap saja kita harus meninggalkan sedikit sikap waspada dan tidak menerima semua informasi yang diberikannya, sebab boleh jadi itu adalah umpan untuk menggiring kita pada satu tempat dan sikap, yang nantinya akan merugikan kita."


"Oh begitu ya Tuan...?"


"Ya begitulah, Kitakan punya insting dan punya pikiran, maka mari kita pakai dan manfaatkan pemberian Tuhan itu.


Kita tidak boleh terlalu percaya kepada opini dan juga masukan yang boleh jadi itu merupakan siasat orang lain.


Baiklah akhirnya kita sampai juga, oh ya Nando apa kau tidak pernah memanaskan dua mobil Bugatti Veyron yang ada di bagasi Hotel kita...?"


Sebab Tuankan menitipkan kuncinya pada General Manager."


"Bagus kalau begitu Kamu memang bisa diandalkan.


Sepertinya kamu sudah cocok dapat bonus nih he he."


"Wah terima kasih Tuan terima kasih."


"Oh ya Nando, bagaimana dengan pria yang dulu pernah kita bantu itu...?"


"Pria yang mana Tuan...?"


"Warga desa yang merupakan petani cabai itu lho Nando."


"Oh ya, iya saya juga lupa namanya Tuan. tapi Abang itu memang sekarang sudah bekerja di hotel kita ini Tuan, beliau kalau tidak salah dapat pekerjaan di bagian engineering.


Saya pernah bercerita sekali padanya, saat bertemu ketika dia mau pulang ke rumahnya.


Abang itu bersyukur bisa diterima kerja disini, selain itu Kakak yang merupakan istrinya itu, juga sudah sembuh total Tuan."


"Oh baguslah. Alhamdulillah senang mendengar itu, kalau begitu kehidupan mereka sudah semakin baik sekarang...?"


"Benar Tuan. Itulah yang Abang itu katakan. karenanya Dia merasa bersyukur."


"Saya sering datang kemari, tapi tidak pernah bertemu sekalipun dengannya, rupanya Dia dibagian engineering ya, di belakang dong berarti...?"


"Iya selalu di bawah tuan."


"Hmmm.. ya sudah, nanti kalau ada waktu Aku akan menemuinya.


Baiklah, Aku mau naik dulu ke atas.


Kamu bisa beristirahat sekarang Nando.


Tapi tetap stand by siap-siap, siapa tahu Wulan atau Puspa menelpon untuk minta dijemput, karena keadaan sedang tidak baik sekarang.


Verry sedang membawa Bos Darman, mereka mungkin 3 hari ini akan berada di kota S liburan di pantai dan bermalam di hotel kita yang ada disana."


"Oh begitu ya Tuan, baik saya akan bersiap 24 jam tuan.


Silakan Tuan naik ke atas."

__ADS_1


"Satu lagi kamu jangan lupa menyambut 35 orang pengawal keamanan kita yang akan datang dari kota K, mungkin mereka akan tiba tengah malam nanti."


"Baiklah saya akan menemui mereka nanti Tuan."


"Ya. Ingat Nando kamu itu adalah ajudan Abang, bukan sopir.


Jadi jangan heran kalau Abang menugaskanmu untuk menyambut mereka dan perkenalkan dirimu sebagai ajudan Abang.


Banyak-banyaklah bergaul dengan mereka, kali ini ada 10 orang tambahan pengawal wanita lagi, siapa tahu salah satunya merupakan jodohmu hahaha...!!


Baik Aku akan pergi sekarang."


"Iya Bang."


Haris menepuk bahu Nando, sambil berlalu pergi meninggalkannya.


Haris menaiki lift khusus para petinggi hotel dan dalam waktu sekejap dia telah sampai dan masuk ke dalam ruangan kamarnya yang merupakan kamar paling mewah di hotel itu.


"Halo semuanya, Aku sudah pulang."


"Wah ternyata Abang sudah pulang, tidak sampai malam ya...?"


"Iya dong, kan Abang sudah janji hanya sebentar saja, oh ya kenapa kalian tidak menemani Kak Butet, sedih dong Kak Butetnya dibiarkan jaga Bang Beni sendirian...?"


"Tidak Bang, kami tadinya bersama Kak Butet, tapi entah mungkin karena telah mengetahui keadaan Kirana, Kakak menyarankan Kami berdua untuk tinggal saja di kamar ini dan lagi Kak Yunita sudah ada kok di sana bersama ibu.


Akhirnya Ibu juga diberitahu pelan-pelan Bang, makanya ibu juga datang sama Ayah."


"Oh ya sudahlah kalau begitu, sudah baik itu dan Ibu tidak terkejutkah...?"


"Tidak terlalu, karena memang disampaikannya pelan-pelan, ibu sekarang sudah tenang kok Bang."


"Syukurlah kalau begitu dek, Abang mandi sebentar ya."


Selesai mandi Haris menemani kedua istrinya dengan tenang dan penuh kedamaian.


Malam datang menjelang, tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Haris tidur sangat lelap dan pulas.


Sementara itu baik Puspa dan Wulan serta ketiga pengawal lainnya, juga tidak mendapat gangguan sama sekali, malam juga berlalu dengan tenang dan damai di tempat itu.


Adapun ke-35 pengawal yang telah diberangkatkan oleh Wilson, telah sampai di hotel dan mendapati kamarnya masing-masing, yang telah diatur oleh General Manager sesuai dengan arahan Nando yang merupakan perintah langsung dari Haris.


Setelah pagi menjelang, semua orang kembali kepada aktivitasnya, para petugas hotel shift pagi juga sudah memulai tugas mereka masing-masing.


[Memanggil Puspa]


"Halo Puspa, bagaimana keadaan disana...?


Apakah ada gangguan malam ini...?"


"Tidak Bang, tidak ada gangguan apapun malam ini, tapi kami tidak tahu barangkali mereka akan datang siang atau bahkan pagi maupun sore nanti seperti biasanya."


"Oh baiklah setelah selesai sarapan Abang juga akan langsung kesana membawa 25 orang pengawal baru kita, sebab mereka telah sampai tadi malam dan pagi tadi, Abang sudah diberitahu oleh Nando."


"Baiklah Bang kami akan menunggu sambil memantau keadaan di sini."


"Ya, apa kalian sudah sarapan...?"


"Sudah Bang, tadi Amanu sudah membelikan kita semua sarapan dan saat ini kita sudah stand by berjaga-jaga, pegawai kantor ekspedisi kita juga, sudah mulai berdatangan."


"Baik kalau begitu sampai nanti Puspa, Abang tutup sekarang ya...?"


"Iya Bang!"


...---------------...


"Brengsek....!


Jadi semua orang-orang kita, habis dipukuli disana...?


Ternyata orang itu ingin memperpanjang masalah ini, baiklah kalau begitu siapkan beberapa puluh orang, nanti siang kita akan mendatangi kantor mereka dan kita akan menyerang serta meratakan kantor itu dengan tanah."


"Siap bos, kami akan menyiapkan orang-orang kita Bos."


"Ya pergilah.


Dia belum tahu rupanya Aku ini siapa, ingin bermain-main dengan tuan muda ini...? Baiklah Aku akan melihat sampai di mana kekuatanmu.


Jangan sebut namaku Marlon kalau kantor ekspedisi itu tidak tutup dan pemiliknya menjadi bangkrut."


Pria yang bernama Marlon yang merupakan orang yang memerintahkan agar Beni dipukuli, saat ini sedang meradang dan sangat mengamuk ketika mengetahui keadaan anak buahnya, yang kesemuanya itu babak belur dan telah dilepaskan oleh pihak Haris.


Dia merasa sangat malu seperti ditampar dan dipermalukan di depan khalayak ramai, karena selama ini Dia menganggap dirinya, adalah orang yang kuat dan bebas berbuat apa saja semaunya.


"Tuan Silakan anda sarapan Tuan."


"Bagaimana Aku bisa sarapan, kalau keadaan menjadi begini rumit...?"


Pria yang disebut Marlon itu kemudian melemparkan sarapan yang disiapkan oleh pelayan keluarganya.

__ADS_1


Sikapnya yang kasar benar-benar tidak memandang pada tempat dan siapapun, termasuk kepada orang-orang yang berada di lingkarannya.


__ADS_2