Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _47 : Niat yang tersampaikan


__ADS_3

"Assalamu 'alaikum."


"Wa 'alaikum salam warahmatulloh.


Eh ada tamu.


Masuk masuk, biar kita semua makan bersama."


"Iya bu."


"Lama ngak jumpa Darman, katanya sudah pindah ke kampung nya, ya Man?"


"Iya bu', tapi ibunya anak anak saat ini sedang sakit bu, jadi ya kebetulan datang kemari."


"Oh Siti sakit? Kasihan sekali.


Ya sudah kita sarapan dulu baru nanti nak Darman sama nak Haris bawa si Siti kerumah sakit, jangan dibiarin kalau penyakit sekarang.


Ris bawa Siti periksa ke rumah sakit sama Darman, nak ."


"Iya bu."


"Ya sudah ayo kita sarapan bersama, ini di ambil lauknya, nak Darman.


Jangan malu malu."


"I... iya bu, ini sudah."


Darman cukup terkejut melihat perubahan sikap mertua Haris, yang sebelumnya dia kenal betul bagaimana sikapnya terhadap Haris


Dan hal itu juga kemudian berdampak menjalar menimpa dirinya, serta Jhon selaku teman dekat Haris selama ini.


"Tampaknya arah angin memang sudah berubah." Darman membatin dalam dirinya


"Mari nak Darman tambah nasinya, ini lagi lauknya."


"Iya man, jangan malu malu."


"Iya Ris."


"Na...! Sepertinya untuk pergi ke rumah pak Slamet kali ini abang sama Darman aja ya dek, adek nanti aja kenalannya lapang lapang waktu kita kesana lagi, bagaimana menurut adek.?"


"Oh gitupun bagus bang.


Dan ini juga bang, menurut adek, Siti di obati sama menantu kepala desa aja dulu bang, menantunyakan dokter, nah kalau nanti sudah diperiksa, baru kita tahu apa memang harus ke rumah sakit."


"Ya bagus juga, tentu nantinya apa rekomendasi dokter kita akan tahu segera.


Adeklah yang manggil dokternya nanti melalui telepon."


"Iya sekalian adek juga mau lihat keadaan Siti, eh kami juga teman sekolah dan satu kelas lho bang, jadi bukan hanya suami kami yang berteman...he he"


"Ya baguslah kalau begitu.


abang mau menelepon si Very, biar datang jemput mobil yang di pekan, mana HP abang tadi... oh ini.


[Memanggil Very]


Halo Very, kamu datang ke rumah mertua abang ya jemput kunci lalu pergi ke rumah yang di pekan, ambil mobil kita dan tunggu abang nanti disini, barangkali kita akan pergi ke rumah sakit bawa istri teman yang lagi sakit."


"Baik bang, siap."


"Ya sudah, segera ya...!


Abang tutup HP nya sekarang wassalamu 'alaikum."


"Siap bang, Wa 'alaikum salam."


[Panggilan berakhir]


"Nah Man, supirku sudah aku telpon.


Sambil nunggu hasil pemeriksaan dokter desa ini, aku masih harus mengurus sesuatu, bagaimana kalau kau ikut?"


"Ayolah Ris."


"Ok ayo kita berangkat sekarang yuk, siapa tahu yang mau kita tuju ini masih mencari lagi."


"Bu! Haris berangkat dulu.

__ADS_1


Na.! jangan lupa kasih kunci rumah sama mobil nanti sama Very, kalau sudah datang."


"Iya bang."


"Ayo Man."


Haris mengeluarkan mobilnya dari garasi, yang memang Haris sudah konsep saat pembangunan rumah kemaren.


Darman hampir melompat melihat mobil Haris, yang belum pernah dia lihat model mobil begitu bagus, seperti itu sebelumnya.


"I.. Ini mobilmu Ris?"


"Ha..ha kok kau terkejut begitu Man?


Kamu yang bawa Man?"


"Ha..hah memangnya bisa di pikul Ris? Malah membawa lagi kau bilang..!"


"Ha..hahahah kalau mau di pikul bagusan jalan kaki kita Man, lebih cepat.


Sudahlah masuk yuk."


"Masuknya dari mana Ris?"


"Yaelah Man..Man dari pintulah masa dari ban?"


"Ayolah, siapa tahu kita juga bakal ke rumah sakit juga hari ini."


"Ya Ayo...!"


Haris memacu Mobilnya dan tidak butuh waktu lama bagi mobil yang bisa memacu kecepatan 100 km/jam dalam waktu dibawah 3 detik itu, untuk mengantarkan Haris ke tujuan.


"Nah Man mestinya dari alamat yang kita tanya tadi itu tuh rumahnya, rumah kayu cat hijau itu."


"Iya sepertinya Ris, tapi kok seperti ada ribut ribut itu."


"Eh iya ayo turun."


Sesampainya di halaman rumah yang mirip seperti tanah lapang itu. Haris mendapati di rumah pak Slamet ada keributan seperti keributan yang dia lihat saat menemukan rumah bibi Diana saat itu.


"Eh.... eh ada apa ini kok ribut?"


"Kamu jangan ikut campur ini urusan kami."


"Telepon saja..!"


"Baik."


Haris akan menghubungi polisi, dan pria itu ketakutan.


"Hei kau gila ya? kami hanya akan menarik Sepeda motor yang tidak di bayar setelah jatuh tempo."


"Woi.... bukan begitu caranya, kalau ada kendala diomongkan baik baik."


"Apa masalahnya?"


"Sepeda motor ini gagal bayar."


"Berapa bulan ?"


"Lima."


"Hmmm.. mana suratnya?"


Masyarakat semakin ramai yang datang, menyaksikan dan mengelilingi lokasi itu membuat dua pria yang menimbulkan kegaduhan di pagi hari jelang siang itu, menjadi sedikit was was.


Haris membaca surat yang ternyata kreditnya tersisa 5 bulan lagi itu.


Haris membaca jumlah yang harus dilunasi dengan menghela nafas cukup kesal


Lima bulan lagi setelah 2 tahun 7 bulan di cicil dengan baik,lalu akan di tarik paksa dengan cara yang kurang bijak dan begitu kasar, oleh dua orang ini.


Haris mengambil sejumlah uang dan membayarkannya.


Kemudian memesan sepeda motor matic satu unit lagi dan memintanya di antar ke tempat pak Slamet hari itu juga.


Dia langsung membayarkan kontan sepeda motor itu, via pembayaran transfer ke tempat dimana anak pak Slamet mengkredit sepeda motornya sebelumnya.


"Saya minta sepeda motornya di antar hari ini ya mbak pada alamat yang saya kirim.

__ADS_1


Pembayaran kontannya sudah saya transfer, silahkan mbaknya cek."


"Baik pak, akan kami urus segera."


"Haris pergi ke mobilnya dan mengambil oleh oleh yang telah disiapkan istrinya sejak kemaren untuk pak Slamet, yang lupa dia bawa karena buru buru melihat adanya keributan di awal kedatangannya.


Di bawah tatapan tidak percaya kedua orang yang tadinya akan merampas paksa sepeda motor itu, Haris lewat tanpa memperhatikan mereka dan bersikap lembut pada pak Slamet.


"Pak..! masih ingat saya?"


"Nak Haris?"


"Alhamdulilah , bapak masih ingat.


Darman sini Man."


Dengan rasa malu kedua orang yang sudah terlanjur berbuat kasar itu, meninggalkan tempat dibawah tatapan tak bersahabat masyarakat desa.


Akhirnya wargapun ikut membubarkan diri.


"Kemaren saya akan kerumah pak Slamet tapi oleh bang Mardan dijelaskan bapak sudah pindah karenanya kami mencari kemari."


"Mari masuk Nak Haris, bicaranya di dalam aja."


Iatri Pak Slamet menawarkan dengan ramah tamah yang tulus


"Ngak usah bu' disini saja, biar lebih dingin, pandangan disini juga langsung menghadap ke sawah."


"Ya sudah tehnya ibu bawa kesini aja. kalau begitu."


"Wah jadi ngerepotin nih bu."


"Ngak ngerepotin lho Ris, malah ibu merasa terbantu dengan kedatangan nak Haris.


Kalau nak Haris ngak datang, kereta adikmu pasti akan di tarik.


Ayo Dris ucapkan terima kasih pada abangmu."


"Terima kasih ya bang Haris, kalau abang ngak ada, ngak ada lagi kenderaan Idris buat dagang bakso bakar."


"Ngak apa apa Dris, abang malah sudah pesen kereta matic, buat bapak disini, biar ada yang mau dipakai kalau mau ke Mesjid."


"Aduh Nak Haris, itu berlebihan nak.


Apalagi kereta adikmu sudah di lunasi juga."


" Ngak lho pak, malah Haris datang kemari mau nawarin bangun rumah buat bapak dan ibu, Haris sudah dengar soal rumah bapak yang di tempat lama dari bang Mardan.


Bapak sudah bantu saya dulu, memberi uang saat saya dan keluarga begitu kesulitan, tidak punya uang sepeserpun buat makan.


Dan sekarang saya sudah dimampukan tuhan, jadi saya ingin membalas kebaikan bapak.


Di dalam plastik ini ada uang sejumlah Rp250 juta, silahkan bapak ibu bangunkan ke rumah, selebihnya buat belanja mudah mudahan bapak ibu bisa tenang kedepannya.


Saya juga akan sering sering nantinya singgah mengunjungi bapak disini, istri saya juga ingin ikut tadinya kemari, tapi istri teman saya ini sedang sakit jadi istri saya pergi kesana.


Selain itu kami masih harus memeriksakannya, apakah harus berangkat ke rumah sakit atau tidak.


Jadi kami minta maaf ngak bisa berlama lama."


Haris menyerahkan uang di plastik yang masih jelas terlihat meski di plastik itu, kepada pak Slamet.


Tangan pak Slamet bergetar dia menangis menerima uang itu, istrinya yang mendengar semuanya dengan jelas, menangis histeris di kaki Haris sebelum Haris kemudian segera menarik tubuh wanita itu untuk berdiri.


Sampai Haris di antar semua keluarga itu ke mobilnya, mereka semua masih menangis haru penuh rasa bahagia.


"Saya pulang pak, jangan lupa nanti terima sepeda motor maticnya, itu sudah saya bayar tadi semuanya, kami pamit pak bu'.


Dris abang pulang ya dan ini siapa nama...si kecil ini... he he.."


"Najifah namanya bang, terima kasih banyak ya bang....!"


"Iya..! Wah Najifah nama yang indah


"Jangan lupa nanti bawa nak Diana ya Ris, ibu tunggu.!"


"Iya bu' Insya Allah.


Ya udah kami pamit semuanya wassalamu 'alaikum.

__ADS_1


"Wa 'alaikum salam warohmatulloh"


Haris lalu memacu mobil hasil kerja sama Bugatti dan Masorinya itu dengan penuh rasa bahagia setelah dia bisa membahagiakan keluarga pak Slamet


__ADS_2