Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _64 : Makin rumit


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama bagi Haris dan Diana untuk sampai ke desa mereka.


Sesampainya di desa, mereka kemudian mendapati bahwa Butet dan Yunita, serta suami dari kedua kakak dari Diana Itu, sudah berada di rumah ayah Diana.


Mereka semua sangat senang mengetahui oleh oleh berupa lauk


ikan gulai dan ikan goreng jurung, yang merupakan lauk atau makanan favorit warga desanya itu.


Lalu Butet menjelaskan bahwa dirinya saat ini telah pandai membawa mobil, begitu juga dengan Roni yang sudah bisa membawa mobil.


Adapun Yunita masih sedang dalam tahap belajar, tapi sepatutnya tidak lama lagi dia juga akan pandai membawa mobil.


Semua orang-orang itu menanyakan kembali janji Haris, yang akan membelikan mobil kepada mereka satu untuk satu orang, apabila mereka sudah bisa dan pandai membawa mobil dengan baik untuk ukuran standar.


"Bang Haris!"


"Iya ada apa Nawir?"


"Aku sudah memilih mobil yang ingin aku miliki bang!"


"Oh ya bagus kalau begitu.


Tuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian tuliskan namamu lalu berikan pada abang.


Begitu juga dengan Andre, biar abang pandai nanti memesan mobil itu pada showroom termasuk kak Butet ya!


Kak Butet juga kalau sudah tahu jenis mobil, yang ingin dimiliki, silahkan kak Butet juga tuliskan, supaya bisa kita pesan sama-sama dengan pesanan mobil lainnya."


"Sudahlah Ris, kalau kakak satu mobil aja dengan mobil yang kau kasih sama abangmu.


Lagian banyak-banyak pun mobil garasinya juga tidak ada..wkwkwk."


"Iya betul tu Haris.


Kakak juga kalaupun sudah pandai bawa mobil, biarlah satu mobil aja dengan mobil yang dimiliki abangmu, kecuali nanti kalau kita sudah punya rumah sendiri.


Tapi entah sampai kapan biar punya rezeki, agar bisa dapat rumah sendiri?"


"Oh ya ampun!


Ayolah! Haris sampai lupa, semua orang sudah dibangun rumahnya, ternyata kakak sendiri belum dibangun hahaha.


Baiklah maafkan atas kesilapanku ini.


Sekarang silahkan sebagai pengganti hadiah mobil yang harusnya menjadi milik kak Butet dan Kak Yunita .


Di mana lahan tempat kak Butet dan Kak Yunita nantinya, ingin membangun rumah?


Jadi hadiah mobil itu digantikan ke rumah saja. Bagaimana setuju nggak?"


"Setujuuuuuuu...........!!!!"


Kedua wanita yang merupakan Kakak dari Diana itu berteriak kencang dan lantang.


Mereka begitu bahagia sebab akhirnya hari yang dinanti-nanti itu telah tiba.

__ADS_1


Butet sangat bersyukur kepada Tuhan dan penuh rasa terima kasih pada adiknya Yunita, yang telah membuka hati Haris tentang pikiran dan juga rencananya, untuk membangun rumah bagi kedua kakak iparnya itu.


Setelah Haris mengatakan itu dengan penuh kesungguhan, baik Butet dan Yunita yang seringkali mengekspresikan kebahagiaannya dengan menangis, kembali menangis dan memeluk adik ipar kesayangan mereka itu.


"Waduh ada apa-apa aja main peluk main cium, udah lebih sering kalian memeluk dan mencium suami aku, daripada aku sendiri.


Udah woi woi woi...!!!


Habis nanti suami orang."


"Ha.. ha...ha..ha..."


Semua orang tertawa dengan begitu lepas, tidak terkecuali ibu dari Diana yang sangat senang sekali, melihat ekspresi putri paling kecilnya ini, apabila cemburu kepada kedua kakaknya itu.


"Kalian itu suka sekali mengerjai adikmu, sudah tahu dia orangnya cemburuan kalau kalian berdua dekat dengan suaminya.


Kenapa juga masih pengen dekat-dekat pada suaminya hahaha.?"


"Oh ya Bu nanti malam kita akan makan gulai ikan jurung istimewa.


Jadi sepertinya kita harus masak atau mempersiapkan nasi, yang lebih banyak dari biasanya bu."


Diana yang terciduk cemburu pada kakaknya sendiri mengalihkan perhatian semua orang pada topik lain.


"Nggak masalah nak!


Toh beras kita juga masih banyak, panen sawah yang kau beli kemarin bahagiannya belum habis dimasak."


"He..he..he..he baiklah.


Apa ibu masih punya uang?"


"Masih! uang ibu sekarang awet.


Tidak terganggu semenjak kalian rezekinya yang dikasih berlebih dari Tuhan.


Ibu sekarang merasa sebagai orangtua yang paling senang di desa ini, tetapi juga di saat yang sama ibu merasa sebagai mertua paling jelek yang pernah ada.


Ibu begitu senang menerima semua pemberian dari kalian, tetapi ibu begitu banyak dosa pada kalian, apalagi khususnya mengenai kebun itu.


Haris dan Diana ibu belum pernah meminta maaf untuk itu, secara khusus dan tulus, sekarang ibu ingin meminta maaf.


Maafkan Ibu ya, nak...!"


Ibu Diana lalu meletakkan wajahnya ke kaki Haris. Hal itu membuat Haris menjadi begitu terkejut. segera saja dia angkat wajah Ibu mertuanya yang sudah tua itu dengan lembut dan penuh kasih, kemudian dia memeluknya dengan rasa haru dan berderaian air mata.


Walaupun dia telah memiliki banyak harta, namun jauh di lubuk hatinya, Haris sangat menginginkan sepatah kata maaf seperti yang baru saja disebutkan oleh ibu mertuanya, selama ini.


Setelah ibunya mengatakan itu, hati Haris terasa begitu hangat dan dia kemudian bersujud bersimpuh di kaki ibunya dan menangis seperti anak kecil.


"Ibu maafkan anakmu yang tidak berbakti ini, seharusnya Haris tidak mempermasalahkan kebun yang tidak seberapa itu, tapi karena saat itu Haris memang tidak punya apa-apa.


Sempat juga terbesit rasa sakit di hati Haris dan sekarang Haris merasa malu atas semua itu, karenanya tidak hanya ibu, Haris juga minta dimaafkan, agar jangan sampai terhitung menjadi anak yang durhaka ya bu.


Walaupun Haris ini hanya anak menantu ibu, tapi Haris sudah merasa bahwa ibu sama saja seperti orangtua Haris atau Ibu yang telah melahirkan Haris.

__ADS_1


Dimana ibu mertua itu juga. adalah orang tua yang harusnya Haris hormati dan harus Haris turuti segala nasehat dan petuahnya."


"Ibu bangga dengan Haris, sekaligus juga ibu malu dengan Haris, ditambah ibu juga menyesal dengan penyesalan yang tidak terkatakan.


Sekarang ibu hanya berharap, semoga dengan permintaan maaf ini, Tuhan akan mengampuni dosa-dosa ibu yang telah banyak berbuat kerusakan selama ini.


Selanjutnya Haris Ibu sudah mendengar cerita dari Putri Ibu sendiri Diana, bahwa ada seorang wanita yang sangat tulus ingin dan siap menjadi istri Haris sebagai istri kedua.


Wanita itu sangat baik kepada Diana dan juga pada Nurul.


Diana sendiri juga merasa sangat sayang kepadanya dan siap berbagi segala hal.


Jadi ibu sebagai orangtua mertuamu, hanya bisa mengatakan kalau memang hal itu bisa menjadikan Haris menjadi tenang dan menjadi senang.


Selama Haris bisa berbuat adil, bisa tetap seperti Haris yang Ibu kenal baik, maka Ibu juga serunu dan merelakannya.


Ayah juga demikian kami sudah membahasnya, toh sebelumnya dulunya sahabat setianya Diana, juga pernah berniat hal yang sama dengan Diana untuk menjadi istri Haris.


Ibu tidak menyuruh juga tidak melarang.


Harta bukan masalah lagi bagi Haris, sehingga akan begitu sulit untuk menafkahi dan membahagiakan kedua istrimu nantinya."


Ibu ingin sekali mengenalinya lebih dekat, ibu memang sudah melihatnya di hotel Nurul haris kemarin, tetapi Ibu tidak tahu pribadinya secara mendalam, karenanya Ibu ingin nanti Haris menelpon Kirana agar datang ke mari bersama kita.


Walaupun Haris sebelumnya belum bisa memutuskan untuk bersama dengannya, seperti yang Diana ceritakan, tetapi Ibu berharap kita sudah mulai bisa saling berdekatan sebagai sebuah keluarga."


"Ibu sebenarnya Haris sama sekali tidak menginginkan semua itu, tetapi Haris tidak tahu atas dasar apa putri Ibu bisa sampai berpikiran seperti sekarang.


Adek Diana adalah sosok yang menginginkan semua itu bu.


Haris bingung juga sebenarnya.


Ibu lihat bagaimana keceburuannya saat kakak butet dan kak Nit dekat dengan Haris sebagai adik mereka."


"Nak Haris!


Diana sudah menjelaskan semuanya, tentang kebingunganmu, tapi dia punya alasan yang tidak bisa diceritakan kepada semua orang, intinya dia juga berharap bahwa dengan masuknya Kirana dalam lingkaran rumah tangga kalian, bisa membuat bebannya menjadi ringan dan bisa berbagi suka duka bersama kalian.


Tapi Ibu Ingatkan! jangan sampai Haris membuat kecewa atau mengecewakan salah satu apa lagi ke dua wanitamu nantinya.


Bagaimana apakah nak Haris bersedia?"


"Ibu ini hal yang berat bagi Haris.


Haris tidak bisa menjawab semua itu bu."


"Baiklah kalau begitu, itu tidak harus dijawab sekarang, seperti yang Ibu katakan, kita mendekat saja dulu seperti sebuah keluarga."


Ibu mertua Haris lalu menghapus rambut Harris menghapus kepalanya dan mencium ubun-ubun nya.


Semua orang membeku kaku, kecuali ibu mertua Haris, Diana dan juga ayahnya.


Selebihnya mereka semua bertanya-tanya.


Apa tujuan dari pembicaraan ini?

__ADS_1


Mereka berusaha mencernanya dengan pelan dan perlahan, tapi tetap saja mereka tidak paham.


__ADS_2