
Setelah bercengkrama dan bergurau manja sesama mereka. Diana lebih dulu keluar dari kamar meninggalkan Haris dan juga Kirana, untuk pergi sebentar ke dapur mengambil air minum.
Waktu yang singkat itu dimanfaatkan oleh Kirana, yang saat ini sangat berbunga-bunga, tangannya tidak pernah lepas dari genggaman Haris, dia mencium Haris dan mengucapkan rasa terima kasihnya, karena Haris sudah mau menerima dirinya.
"Bang Kirana berjanji untuk menjadi istri yang baik, yang akan melayani dan mematuhi setiap aturan dan arahan suami Kirana nantinya. "
Adek juga berjanji akan menjadi adik yang baik bagi kak Diana, sekaligus ibu kedua bagi Nurul yang memang sangat Kirana sayangi."
Haris tidak tahu harus mengatakan apa, semua yang terjadi seolah mimpi baginya.
Dia memang sangat mengagumi kecantikan Kirana selama ini, tetapi itu hanya sekedar mengagumi dan tidak ada niat lebih, karena dia begitu setia kepada istrinya dan berjanji menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Namun hal yang tidak pernah disangka terjadi , belakangan ini Diana yang mengambil pilihan untuk memasukkan Kirana dalam lingkaran kehidupan mereka.
"Kirana kamu itu memang wanita yang aneh sekali, wanita yang sangat unik.
Kamu cantik lho dek.
Kamu nggak tahu seperti apa tergila-gilanya, banyak pria diluar sana hanya karena melihatmu walau sekali saja.
Tapi kamu justru menerima pria yang telah beristri seperti abang, terus terang aku sangat tersanjung dan merasa sangat diberkahi, semoga keputusan kita bersama ini memang benar-benar membawa berkah bagi perjalanan kehidupan kita kedepannya.
Kejadian terakhir kali bersama denganmu, membuat abang hampir saja kehilangan kontrol dan tidak bisa menguasai diri.
Kau wanita yang luar biasa cantik, begitu indah begitu lembut dan begitu ayu.
Entahlah harus seperti apa menggambarkan kecantikan dirimu, aku tidak menyangka kalau kau pada akhirnya akan menjadi milik abang seperti ini.
Entah kebaikan apa yang telah aku lakukan, sehingga mendapatkan berkah sepertimu, setelah mendapatkan berkah yang luar biasa dari kakak pendahulumu si Diana."
"Bang kalau memang sudah takdir ya memang harus kita jalani.
Sejak awal Kirana berasal dari tulang rusuk abang, maka Kirana tidak akan pergi kemana-mana kecuali kepada pemilik tulang rusuk itu sendiri, dan Kirana senang dengan itu.
Setelah kejadian hari ini Kirana minta abang tulus mencintai Kirana dan bukan semata-mata karena kasihan, ataupun karena disarankan oleh kak Diana.
Kirana juga ingin mendapatkan tempat di hati abang, sebagai orang terkasih sebagai orang tercinta dan bukan karena rasa belas kasihan dan lain sebagainya.
"Tidak tidak akan begitu, seperti yang abang katakan, kau adalah berkah dalam hidup abang lalu bagaimana aku merasa kasihan kepada berkah itu?
Tentu yang ada aku akan mensyukurinya, menjaganya dan memeliharanya merawatnya juga memupuk kebersamaan dengannya dalam balutan kasih sayang dan ketulusan cinta."
"Terima kasih ya bang, Kirana sangat sayang sama abang."
Kirana mencium Haris dengan lembut, seperti layaknya prilaku seorang putri sebuah kerajaan, yang bersikap begitu lembut
Tak lama, Diana kemudian datang kembali, dia membawakan air minum bagi kedua orang yang berada di dalam kamar itu.
Setelah beberapa saat lagi duduk disana, Diana berucap.
"Ya udah kita keluar yuk, enggak enak juga berada di dalam kamar terus, sementara orang diluar sibuk."
"Memang, ayo bang kita keluar yuk" Balas Kirana
Kalian berdua keluarlah lebih dulu aku akan datang belakangan, aku masih malu menunjukkan wajah pada ayah dan ibu mertua.
Aku akan keluar diam-diam nanti."
"Hahaha kenapa harus malu bang?
Ayah dan ibu sendiri merasa itu biasa aja kok.
__ADS_1
Abang nggak usah malu."
"Iya tetap saja abang malu dek, kalian keluarlah lebih dulu, 5 menit kemudian nanti abang akan keluar.
Lagian sebentar lagi mungkin Darman akan datang, jadi ada alasan nanti bagi abang keluar."
"Baiklah kalau begitu, kami akan pergi dulu kalau begitu bang, Diana bangkit lebih dulu dan membawa Nurul putri kecil mereka dengan Haris."
Kirana masih enggan, tapi setelah Diana keluar diapun akan beranjak pergi, tetapi hatinya mendorongnya datang lagi pada Haris, dia memeluk Haris dan.menciumnya dengan lembut, hanya saja ciumannya kali ini membuatnya merasa menginginkan sesuatu yang lebih, sehingga merasa sangat tersiksa ketika menahannya.
Suatu perasaan tersiksa yang sama, saat dia pertama kalinya merasakannya sejak pria itu memeluk dirinya yang tidak pernah disentuh oleh pria manapun sebelumnya itu.
Haris faham gilanya badai dalam hati, wanita yang sedang dilanda cinta pertamanya ini.
Dia menyambut ciuman Kirana dan berbisik padanya.
"Sabar ya sayang, kamu abang halalkan lebih dulu, baru kita bisa lebih dekat."
Kirana merasa malu bahwa hasratnya di ketahui oleh Haris dan dia mundur serta tersenyum manis, saat keluar dari kamar itu, hatinya berbunga bunga seperti aktris pemeran wanita dalam film India yang berlari menuju taman bunga yang luas sambil bernyanyi ria.
"Humko humise chura lo
Dil mein kahin tum chupa lo
Humko humise chura lo
Dil mein kahin tum chupa lo
Hum akele kho na jaayen
Door tumse ho na jaayen
Paas aao gale se laga lo"
"Duhh.. yang lagi berbunga bunga, manis amat senyumnya neng..!"
"Ah kakak." balas Kirana dengan malu karena semua mendengar ucapan Diana.
"Hahahahahahahhahahahhahhhh."
Tawa si Butet kakak si Diana pecah, dan kemudian di ikuti tawa semua orang.
Mereka semua telah tahu persis kejadian di kamar dimana Haris telah menerima Kirana dan mereka turut berbahagia.
"Assalamu 'alaikum"
Wa 'alaikum salam warahmatullah.
Ayah Nawir serta ibu dan adiknya si Juli telah datang bersama Very dan juga Darman.
Segera mereka memasuki ruang tamu rumah itu, dan baru saja mereka berbincang-bincang sejenak tak lama waktu berlalu, sebuah mobil parkir dan kemudian kedua orang yang merupakan orang tua Kirana turun dari mobil.
Kirana yang melihat itu, kemudian datang menyambut ayah dan ibunya.
"Papa mama sudah datang?"
"Iya Papa dan Mama mau melihat putri kecil papa dan mama yang sudah bertindak nekad."
Pa Jangan gitu dong pa.!
Kirana malu nanti sama keluarganya Kak Diana."
__ADS_1
Hahaha... wanita kecil ini, ternyata masih punya malu ma..!"
"Dia tidak kecil lagi pa malah dia sudah lebih tinggi badannya dari kita."
"Hahaha.... bagiku dia tetap saja putri kecilku, ayo tunjukkan jalannya..!
Papa mau melihat bagaimana reaksi semua orang-orang itu."
Papa jangan aneh aneh dong pa, papa jangan banyak tanya nanti di sana."
Tenang saja kamu nggak usah khawatir papa nggak akan nanya nanya, papa cuma memastikan sikap mereka aja."
Kirana membawa kedua orang tuanya, dan akan memasuki rumah maka semua orang menyambut Kirana dan kedua orang tuanya dengan keluar rumah lalu membawa tamu terhormat itu masuk ke dalam rumah.
Orang tua Kirana tidak menyangka bahwa sambutannya begitu hangat.
Dan terlihat dari wajah-wajah mereka yang begitu tulus dan begitu bahagia, saat mengetahui kalau mereka akan menjadi sebuah keluarga.
Setelah duduk ayah Kirana bertanya
"Mana mempelai prianya?"
Semua orang bingung dengan ucapan orang tua Kirana.
tetapi Diana yang faham, langsung bangkit dan memanggil Haris yang ada di dalam kamar.
Haris keluar dari kamar dan bersimpuh pada kedua orang tua Kirana dan menyapa mereka dengan santun.
"Ayah...! Ibu......!"
Setelah memperhatikan cukup lama, kedua orang Kirana begitu terkejut dengan pria yang begitu santun, begitu lembut dan begitu rendah hati, termasuk juga parasnya yang begitu tampan ini.
Mereka kini mulai faham, kenapa putrinya begitu tergila gila pada pria itu, meskipun status pria itu telah beristri sebelumnya.
"Jadi kamu menantu papa itu, iya...?
"Iya Ayah...!"
"Jangan panggil ayah, aku mau dipanggil sebagai papa mertua karena Kirana juga memanggilku papa, yah walaupun sekali sekali dia juga menyebutku ayah.
Papa merasa lebih dekat dengan sebutan itu, karena itulah sebutan papa juga, kepada kakek dan nenekmu."
"Baik Pa."
Haris patuh pada ucapan ayah dan ibu mertuanya itu.
Haris perlu kau ketahui bahwa Kirana adalah satu-satunya putri kami tercinta, karena itu pula kami selalu menuruti keinginannya, termasuk pilihan hatinya untuk menjadi istri kamu, papa minta kamu ke depannya benar-benar mencintai Kirana, memelihara dia dan menyayanginya jangan pernah kamu sakiti Kirana, sebab bila itu terjadi sama saja kamu menyakiti papa dan mama mertuamu.
Kamu dengar itu Haris..?
Haris dengar pa, Haris nggak akan melakukan itu."
"Baik kalau begitu, sore ini juga kalian harus sudah menikah.
Sebentar lagi penghulu yang papa bawa akan datang, karena mereka tadi singgah sebentar di belakang.
Selain ayah Nawir serta ibu dan adiknya si Juli termasuk Ferry dan juga Darman, yang sama sekali tidak tahu menahu soal hubungan Haris dan Kirana, serta tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Semua orang berteriak Horeeee......!!
Semua orang begitu bahagia, ayah dan ibu Kirana saling memandang dan mereka sangat puas dengan antusias keluarga ini.
__ADS_1
Maka sore hari itu juga Haris dan Kirana sah menjadi pasangan suami istri dalam pernikahan sederhana dan berjanji untuk saling setia selamanya.