Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _131 : Hikmah sebuah musibah


__ADS_3

Haris menarik seluruh jarum-jarum emas yang telah dia pasang pada beberapa anggota tubuh kedua istrinya sebelumnya, lalu kembali mengalirkan hawa murni energi pemulihan.


Beberapa saat Haris melakukan hal itu sampai kemudian dia segera menghentikan seluruh proses pengobatannya dan menyimpan jarum-jarum emasnya di ruang inventory khusus pengobatan miliknya.


"Bagaimana perasaan kalian sekarang.?"


"Aku merasa seolah-olah tubuhku sudah pulih sepenuhnya, aku sedikitpun tidak merasakan sakit lagi, atau merasakan sesak di dada yang selalu mendorong untuk batuk seperti sebelumnya."


Kirana menjelaskan keadaan yang dirasakannya.


"Iya semua terasa lapang, badan terasa begitu ringan. Kalau begini aku juga yakin sudah bisa berdiri."


Diana juga menjelaskan apa yang dirasakan oleh dirinya.


Kirana langsung bangkit persis setelah Diana menyelesaikan kalimatnya, Kirana bangkit dari tempat tidurnya.


Shasmita yang melihat itu langsung dengan sigap menahan punggung Kirana, karena merasa khawatir Kirana akan terjatuh.


Tetapi ternyata Kirana sudah seperti orang yang sehat saja bisa berdiri dengan baik dan bangkit tanpa terganggu sedikitpun.


"Wah ini luar biasa, ini sangat ajaib. Aku sudah bisa berdiri sendiri dengan baik sekarang dan bahkan aku bisa berjalan tanpa goyang dan tanpa gemetar sedikitpun."


Diana juga takjub melihat Kirana, dia juga penasaran dengan rasa ringan yang ada di dalam dirinya kemudian karena merasa terdorong oleh rasa penasaran, dia juga ikut berdiri.


"Iya benar sekali, aku juga sudah sembuh, aku juga sudah sembuh.


Bang Aku sudah sembuh..!


Adek Shasmita beberapa menit yang lalu aku masih terbaring di ranjang dari rumah sakit ini, tapi aku sudah bisa bangkit berdiri dengan baik dan berjalan tanpa merasakan sedikitpun rasa sakit seperti sebelumnya.


Wah ini luar biasa."


Keduanya kemudian berlari kepada Haris dan memeluk suami mereka itu bersamaan.


"Terima kasih ya Abang. Kami sudah diobati, kami sudah sembuh lho Bang."


"Tidak perlu berterima kasih seperti itu, seperti orang lain saja, dengan sembuhnya kalian begini orang yang paling pertama merasa bahagia adalah Abang sendiri."


"Ibu mana Bang.?


"Iya Papa dan mama juga dimana Bang.?"


"Dek Shasmita sini..!"


Diana memanggil Shasmita yang tampak berdiri bengong seorang diri tidak jauh dari Diana dan Kirana.


Shasmita berada dalam keadaan terheran-heran atas apa yang terjadi pada kedua istri Haris itu.


Setelah sadar dari keheranan yang membuat dia sampai melamun begitu dalam, oleh karena dipanggil oleh Diana, Shasmita segera datang dan seketika baik Diana maupun Kirana memeluk Shasmita.


"Terima kasih ya Dek. Adek juga sudah begitu kesulitan beberapa saat belakangan ini karena Kakak berdua, tapi sekarang Kakak sudah sembuh tidak usah khawatir.


Sekarang kita harus kabarkan ini pada semuanya "


"Hmm.. Kakak berdua tunggu di sini saja, biar Shasmita yang panggil semua orang."


Shasmita lalu berlari untuk memanggil semua orang, tak lama setelahnya baik ayah dan ibu dari kedua wanita yang merupakan istri Haris tersebut datang.


Suasana seketika menjadi lebih gaduh dari biasanya.


"Ada apa sebenarnya ini..?


Diana kemudian menjelaskan semua hal tentang Haris yang bisa melakukan pengobatan pada mereka berdua dan telah terbukti berhasil.


"Lalu kenapa selama ini Nak Haris menutupi kemampuannya, kalau memang bisa melakukan pengobatan.?"


Melihat kebingungan di dalam hati ayah mertuanya yang merupakan ayah Diana itu juga pertanyaan yang tentunya sama di dalam benak semua orang Haris kemudian bermaksud untuk menjelaskannya sebisa mungkin yang bisa ditangkap oleh akal semua orang yang ada di sana.


"Jadi Ibu dan Ayah serta Papa dan Mama juga semuanya, pertama Haris sebenarnya sama sekali tidak bermaksud untuk menutupi keahlian pengobatan ini, hanya saja memang beberapa saat yang lalu Haris tidak atau belum punya alat untuk melakukan pengobatan ini.


Yang kedua Haris juga sedang berada dalam suasana hati yang cukup terganggu, sedangkan pengobatan melalui metode yang Haris ketahui dan baru saja jalankan ini, harus betul-betul berada dalam kondisi pikiran dan jiwa yang harus sangat tenang.


Tetapi bagaimana bisa tenang..? Papa dan mama serta ayah dan ibu, juga semuanya tentu tahu betul, kalau selama ini orang yang membubuhkan racun kepada kedua istriku, ada bersama kita dan berada di dalam pengawalan dan penahanan pihak keamanan kita.


Itulah sebabnya ketika bahkan kak Butet mengatakan aku harus membalaskan perbuatan orang yang membubuhkan racun pada kedua istriku Diana dan Kirana itu aku tidak bisa segera melaksanakannya, karena saat itu aku lebih fokus untuk menenangkan diriku agar bisa melakukan pengobatan ini.


Nah beberapa saat yang lalu aku sudah cukup tenang untuk melakukan tahapan pengobatan itulah sebabnya kemudian aku bisa berhasil dan sukses melakukan pengobatan ini dan bersaman dengan itu pula aku sudah menemukan alat dalam metode pengobatanku berupa jarum akupuntur yang sangat baik, yang merupakan jarum terbaik yang ada untuk keperluan pengobatan Diana dan Kirana."


"Oh begitu ternyata, kamu luar biasa nak Haris. Kamu tidak henti-hentinya memberikan kejutan kepada kami."


"Begitulah ayah, tetapi terkadang sangat sulit untuk menjelaskannya sebelum terjadi begini. Seperti menjelaskan kepada kak Butet misalnya, saat begitu emosi kemarin soal menghukum orang yang membubuhi racun itu."


Butet yang mendengarkan penjelasan Haris, merasakan betapa bodohnya dia sebelumnya.


"Maafkan kakak ya Ris. Iya betul Kakak memang sempat tidak bisa mengawal diri kemarin, sehingga sampai begitu emosi dan konyolnya kakak malah menuduh seolah-olah kamu tidak memperdulikan Diana lagi."


"Tidak apa-apa kak Butet, Haris bisa memakluminya.


Jadi sebenarnya walaupun kita mengalami musibah selama ini, ternyata itu hikmahnya adalah hal yang kita dapatkan sekarang ini, yakni bangkitnya kemampuanku dalam ilmu pengobatan yang yang tentunya sangat berguna bagi keluarga kita semua.


Kalau sudah begini kedepannya secara bertahap aku akan bisa mengobati seluruh anggota keluarga kita. Apakah itu Ayah, Ibu, Papa dan Mama juga Papi mami, termasuk kita semuanya, aku bisa melihat di tubuh masing-masing keluarga kita ini ada penyakit, ada begitu banyak keluhan kesehatan sehingga memunculkan beragam rasa sakit atau minimal keadaan tubuh yang sangat mudah lelah yang dirasakan oleh semuanya, nanti semua itu akan bisa disembuhkan dengan tuntas melalui metode pengobatan yang aku ketahui.


Sekarang yang harus dipikirkan adalah masalah hukuman orang itu. Tapi sesuai janjiku hal itu akan kuserahkan sepenuhnya kepada kakak Butet, persis seperti apa yang aku janjikan kemarin.


Apakah Kak Butet sekarang masih berniat menghabisinya.? Aku berikan hak kepada kakak untuk menjatuhkan hukuman."


Mendengar ucapan Haris, Butet yang sebenarnya orangnya tidak tegaan itu begitu terkejut, sebab ternyata Haris masih mengingat janji yang diucapkannya pada Butet, saat kemarin dia begitu tidak mampu menguasai emosinya.


"Ah bagaimana ya Ris. Pertama Kakak juga nggak biasa menghabisi nyawa orang, selanjutnya kalau memang benar seperti yang kamu katakan, bahwa kejadian ini ada hikmahnya. Sepertinya, walaupun terdengar agak kasar, tapi bukankah peristiwa ini justru memberi manfaat pada kita.?


Jadi kalau menurut Kakak kalau soal hukumannya, bagaimana kalau kita serahkan saja dia kepada pihak yang berwajib..? Lagipula baik Kirana dan Diana juga sekarang tidak apa-apa bukan..?"


"Yakin tidak ingin menghabisinya lagi..? hehe.


Ya kalau Kakak maunya seperti itu, tidak apa-apa. Yang jelas Haris sudah menepati janji dan tidak membatasi Kakak lho.


Bahkan Haris sudah menyerahkan sepenuhnya buat Kakak."


"Iya Kakak paham Ris maksudnya dan kakak juga sangat tahu kau sendiripun kalau disuruh memilih, pasti kau lebih memilih untuk mengampuni hidupnya dan biarlah dia menjalani hukuman yang sesuai atas kesalahannya."


"Baik kalau begitu sudah diputuskan, karenanya orang itu tidak akan berlama-lama di sini dan akan kita serahkan ke pihak penegak hukum.


Lalu terkait Chef dan para stafnya yang lain, bagaimana.? Apakah mereka itu harus kita ganti atau tetap diperkerjakan saja.?"


Haris kemudian melemparkan pertanyaan tentang Chef dan para pekerja mereka sebelumnya, kepada semua anggota keluarganya yang ada di sana.


Mendengar hal itu ibu Diana segera mengutarakan pendapatnya.

__ADS_1


"Nak Haris sebaiknya untuk Chef dan stafnya yang lain itu, sebaiknya kita pekerjakan saja kembali.


Karena Chef itu sebenarnya selama ini cukup baik kok Nak Haris.


Selain itu ibu juga sudah merasa cocok dengan dengan masakannya.


Kemarin juga Ibu sempat ditelepon oleh mereka para asisten-asisten rumah tangga kita, minta tolong supaya dikembalikan bekerja. Katanya hidupnya susah kalau nggak bekerja, bagaimana menurutmu nak Haris.?"


"Kalau Ibu bertanya pada Haris, menurut hemat Haris sangat susah untuk mencari orang yang cocok dengan kita, kalau memang Ibu sudah merasa cocok dengan mereka, ya sudah kita pekerjakan saja mereka kembali.


Apakah dimulai besok atau bahkan hari ini terserah ibu saja untuk menghubungi mereka, tapi dengan catatan kedepannya mereka harus lebih hati-hati, apalagi untuk memilih orang yang akan menyajikan makanan. Tidak boleh sembarangan mengangkat atau mengambil asisten baru semuanya harus dilaporkan kepada kita.


Untuk itu Ibu saja yang menyampaikannya kepada chef atau yang lainnya ya Bu.!"


"Baik, nanti Ibu akan ceramahi mereka semua nak Haris tenang saja."


"Kalau begitu, sudah aman soal itu. Oh ya Ayah Ibu, Papa dan Mama karena adek Diana dan Kirana sudah sehat dan Haris juga sepertinya sedikit kelelahan, karena telah menyalurkan energi penyembuhan yang cukup banyak berupa hawa murni kepada mereka berdua, Haris saat ini butuh istirahat."


"Ya. Istirahatlah nak istirahatlah.."


"Baik. Sebelum pergi Haris minta nanti malam kita semua berkumpul di ruangan pertemuan keluarga, untuk membahas soal adik Shasmita. Ayah, Ibu, Papa dan juga Mama, sebelumnya sudah setuju dengan keberadaan Shasmita dan saat ini sudah ada Papi dan juga Mami yang hadir bersama kita di sini, jadi kita akan memusyawaratkan seperti apa langkah yang akan kita lakukan ke depannya."


"Ya nanti malam kita akan membahas semuanya dengan tuntas, sekalian juga kita mungkin bisa meluangkan waktu, untuk sama-sama lebih saling dekat lagi."


Kirana menambahkan apa yang telah diucapkan oleh Haris


"Baiklah semuanya, Haris permisi ke ruangan atas dulu untuk beristirahat."


"Ya pergilah nak pergilah. Beristirahatlah agar tenagamu pulih kembali."


Ayah dari Kirana menepuk pundak Haris putra menantunya itu.


"Diana dan Kirana, jangan pergi dulu. Kalian di sini dulu biar saja nak Haris beristirahat sebentar dengan tenang. Kalian berdua harus menceritakan semuanya kepada Ayah, ibu dan kami semua."


Kirana dan Diana tadinya hendak pergi mengikuti Haris ke kamar mereka yang ada di lantai atas, tapi pernyataan Ayah Diana kemudian menghambat dan menghalangi keinginan mereka berdua. Akhirnya mereka duduk dan mengikuti kemauan keluarganya untuk menceritakan segala hal pengobatan yang mereka lalui dan juga apa yang mereka rasakan.


Sebenarnya Haris tidak terlalu lelah, hal yang ringan begitu belum cukup untuk membuat tubuh Master Haris kemudian merasa lelah karenanya.


Tetapi Haris mengatakan hal itu adalah karena dia memiliki satu alasan, sebelumnya sesaat setelah selesainya pengobatan Diana dan Kirana, sistemnya melaporkan, bahwa pihak Kaya dan jaya bersama group telah menghubungi Haris untuk melakukan proses lebih lanjut pembelian saham-saham dari pemegang saham sebelumnya.


Haris kemudian memerintahkan sistemnya untuk melakukan pembayaran dan proses itu berlangsung dan berjalan dengan sangat cepat.


[Sistem]


"Tuan. Proses pembelian dan pembayaran beberapa saham milik pemegang saham lain yang bernilai 10 triliun itu, sudah sistem lakukan pembayarannya melalui beberapa rekening.


Saat ini Tuan adalah pemegang 75 % saham Kaya dan jaya bersama group. Sebaiknya tuan mengatur waktu untuk meninjau dan melihat hadiah sistem yang baru saja Tuan dapatkan yakni beberapa unit stasiun pengisian bahan bakar umum dan juga galangan kapal milik Tuan yang ada di kota M itu."


"Untuk galangan kapal itu terlalu jauh kalau saat ini kita ke kota M sistem. Apalagi dengan keadaan saat ini yang baru saja lepas dari musibah begini, kecuali nanti kita punya pesawat pribadi sehingga bisa melakukan perjalanan singkat.


Lalu untuk beberapa unit stasiun pengisian bahan bakar umum itu, selain yang ada di kota M, empat kota lainnya seperti yang kau katakan sebelumnya itu di mana keberadaannya sistem.?"


[Sistem]


"Kalau lokasi stasiun pengisian bahan bakar umum di 4 kota lainnya selain kota M itu, dua diantaranya masih berada di kota yang dekat dengan kota M ibukota provinsi itu Tuan, yakni kota T dan juga kota L.


Sedangkan yang dua lagi satu keberadaannya di kota P dan satu lagi ada di kota R.


"Wah ternyata ada juga di kota P, kalau begitu bagaimana kalau kita meninjau yang ada di kota P saja sistem.?"


[Sistem]


Tetapi bagaimana perilaku pekerjanya, itu seharusnya menjadi bagian Tuan. Apakah seseorang itu layak menjadi pimpinan atau tidak, itu adalah otoritas Tuan yang akan memilih dan memilahnya."


"Ya kau benar sistem, tapi aku sudah terlanjur mengatakan akan beristirahat tadi."


[Sistem]


Katakan saja ada urusan mendadak Tuan, Bukankah Tuan juga butuh angin segar.? lagi pula Tuan belum keluar dua hari ini, karena menemani istri Tuan."


"Wah sepertinya kau juga bisa memberikan masukan-masukan yang begini ya sistem hehe, kalau begitu aku akan pergi ke kota P saja terlebih dahulu, sebelum nantinya akan menyempatkan diri ke unit usaha lainnya.


Selanjutnya nanti aku akan mengunjungi yang lainnya, termasuk usaha galangan kapal yang aku miliki yang berada di pelabuhan yang berada di ibukota provinsi itu."


[Sistem]


"Ya begitu lebih baik Tuan."


"Terima kasih atas nasehat dan masukkanmu sistem."


Haris kemudian pergi meninggalkan kamarnya tanpa mengatakan pada anggota keluarganya yang lainnya.


Haris memanggil Nando yang ada di pos keamanan, yang segera datang untuk membawa Haris ke kota P.


"Kita akan pergi ke Mana Tuan.?"


"Kita akan pergi ke kota P bawa mobil yang buruk saja Nando."


"Kenapa Tuan.?"


"Sudah ikuti saja, ayo..!"


Nando merasa bingung dengan perkataan Haris, tapi dia hanya bisa mengikutinya saja.


Sesampainya di kota P Haris mengatakan kalau Nando cukup menunggunya di hotel saja dan dia akan pergi sendiri.


"Kau tunggulah di sini Nando, Abang akan pergi sendiri dan ingat jangan pergi terlalu jauh, sebab nanti sore kita akan pulang.


Nanti malam ada jadwal musyawarah keluarga. Jadi kalaupun kau akan pergi, barangkali mungkin kau ingin mengunjungi keluargamu silahkan saja, tapi pulanglah sore nanti jangan sampai kita terlambat."


"Baik Tuan.


Tuan bolehkah saya memakai mobil mewah yang di bagasi Tuan.?"


"Pergilah pakai saja. Apakah kau hendak mengunjungi seorang gadis Nando.?"


"Hahaha Tuan tahu saja."


"Iya pergilah Nando. Very sepertinya sudah serius dengan Juli, lalu kau akan bersama siapa.?"


"Sebaiknya kau sudah mulai memikirkan hal itu."


"Ya itulah yang aku pikirkan Bos. Karenanya aku perlu untuk meminjam mobil milik Tuan."


"Iya Pergilah. Waktuku tidak banyak, aku juga akan berangkat sekarang."


Sepeninggal Haris Nando goyang kepala dengan sikap Haris.

__ADS_1


"Hah dasar orang kaya. Sikapnya sangat aneh, ada mobil cantik mau pakai mobil buruk.


Tapi lebih aneh aku juga ya, aku cuma bawahan tapi malah mau pakai mobil mewah.


Tapi ya sudahlah, yang penting nyaman."


Nando segera beranjak ke garasi mobil pribadi milik Haris dan mengeluarkan mobil Bugatti Veyron milik Haris, kemudian pergi dari hotel itu menuju suatu tempat.


Haris sendiri yang telah lebih dahulu pergi, sudah mulai sampai di tempat tujuannya yakni stasiun pengisian bahan bakar umum yang berada di Jalan Jendral Sudirman yakni jalan yang merupakan salah satu dari jalan utama di kota P.


"Apakah ini lokasinya sistem.?"


[Sistem]


"Benar sekali Tuan."


"Sebaiknya aku mengisi minyak terlebih dahulu sistem, kemudian aku akan masuk ke dalam kantor mereka."


[Sistem]


"Silakan Tuan berbuat apa saja, toh ini adalah usaha milik Tuan."


"Apakah mereka mengenalku sistem.?"


[Sistem]


"Seharusnya tidak Tuan. Kalaupun ada yang mengenal, itu barangkali hanya Marwan yang merupakan orang yang aku tunjuk sebagai pimpinan di sini, dengan mengatasnamakan Tuan.


Pemilik sebelumnya telah bangkrut karena terlilit utangTuan.


Sistem membeli stasiun pengisian bahan bakar umum ini dari pemilik sebelumnya, dimana pemilik sebelumnya ini juga meminta tolong agar bisa kita pekerjakan di stasiun yang ada di Kota M, dia juga meminta tolong agar para karyawannya tidak ikut diberhentikan.


Sistem setuju saja, lagi pula toh kita memerlukan orang-orang yang sudah terampil dan terbiasa melakukan pekerjaan ini agar terus menghasilkan uang."


"Wah sempurna kalau begitu, aku ingin melihat bagaimana sikap orang-orang ini."


[Sistem]


Anda harus bersiap-siap mendapatkan kejutan Tuan. mungkin saja akan ada orang yang terlempar dan bisa saja juga akan ada orang yang terangkat.


Sistem jadi penasaran seperti apa hasilnya."


"Ya Kita lihat nanti saja sistem."


Kemudian Haris menghampiri salah satu pekerja wanita yang bertugas di sana.


"Isi full ya mbak.!" Haris beramah tamah tapi wanita petugas itu tampak begitu dingin, sedikitpun tidak terlintas senyuman di bibirnya, malah terkesan kecut seperti buah salak yang belum matang.


"Maaf Mbak, apa bos Marwan ada di sini.? saya datang selain mengisi bahan bakar juga mau menemui Bos Marwan."


"Tanya saja ke bagian kantornya Pak. Saya tidak tahu, saya dari tadi tidak memperhatikan apakah Pak Marwan datang atau tidak "


"Oh begitu ya, terima kasih kalau begitu mbak."


Wanita itu lagi-lagi tidak menjawab, kecuali hanya tatapan matanya yang memandang wajah Haris.


Jelas sekali di wajahnya ada jejak-jejak perasaan bosan yang dia tunjukkan pada Haris.


Haris segera menggeser mobilnya dan memajukannya ke depan, sebab masih banyak mobil lain yang Antri di belakang, kemudian Haris pergi menuju kantor yang ada di lokasi SPBU itu.


"Ah sampai di sini malah kebelet ingin buang air kecil huhh."


[Sistem]


"Bagaimana tadi Tuan pelayanan wanita penjaga mesin pengisian bahan bakar itu.?"


"Wah sadis sistem. sepertinya masih perlu pembinaan. Sudahlah, nanti saja kita bahas. Aku ingin buang air kecil."


Haris lalu sedikit berlari menuju WC umum yang ada di SPBU itu.


Kemudian dia segera masuk ke dalam untuk menyampaikan hajatnya. Setelahnya Haris segera keluar, tapi alangkah terkejutnya Haris tiba-tiba dia dicegat dan ditagih oleh seseorang untuk membayar sejumlah uang, karena telah memakai WC umum di kamar mandi SPBU itu.


"Jadi kalau disini bayar juga ya Bang.?


"Iya Mas, WC inikan juga perlu dibersihkan Mas. Kalau tidak dipungut biaya kebersihannya, siapa yang mau membersihkannya.?"


"Ternyata begitu ya, jadi berapa biaya kebersihannya Bang.?"


"Untuk bayarannya 3000 Mas, tapi kalau dikasih lebih juga kita tidak menolak hehe."


"Ya. Ini ada uang Rp 5.000 Bang, tidak usah dikembalikan."


"Terima kasih ya Mas."


"Iya Bang, oh ya ngomong-ngomong abangnya petugas di SPBU ini ya.?"


"Oh tidak Mas, saya orang yang disuruh untuk mengurus kebersihan WC dan kamar mandi di sini. Memangnya kenapa Mas.?"


"Tidak apa-apa sih Bang, saya tadinya hanya mau menanyakan keberadaan Pak Marwan dan kalau abangnya bekerja di sini tentu Abang tahu."


"Oh bos Marwan, tentu saya tahu Mas, beliau itu pimpinan di sini, bahkan yang menyuruh saya bertugas disini ya pak Marwan itu. "


"Begitu ya.


kebetulan sekali, jadi saya bermaksud mau melamar kerja di sini Bang, kira-kira masih ada lowongan tidak ya.?"


"Hmm... Mau melamar kerja ya Mas.? Waduh sepertinya sulit juga itu mas, saya saja sejak melamar sampai hari ini tidak pernah diterima. Jadinya kerjanya ya cuma ini mengurusi WC.


Tapi kalau masnya mau dan tidak pilih-pilih kerja, Mas masih bisa ikut kerja seperti saya di sini, kita kerja berdua saya tugas empat hari, Masnya 3 hari menjaga dalam seminggu, bagaimana.?"


"Iya itu saya tanya dulu sama Pak marwannya Bang, ada nggak kerja lainnya, kalau memang nggak ada dan harus kerja di sini ya mau bagaimana lagi.?


Tapi tentu banyak dong pendapatannya ya Bang, karena inikan 3000/orang itu lumayan banyak lho. Ada berapa orang yang memakai WC setiap harinya."


"Sebenarnya sih kalau tidak berbagi lagi, lebih dari cukuplah mas dan lumayan tentunya, tapi inikan setor lagi Mas ke pak Marwan itu.


Saya itu ya berapa dikasih saja sama bosnya, nggak tentu gitu tergantung banyaknya dapat dan tergantung suasana hati bos Marwan juga, lagi baik atau tidak hehe.


lagi menang atau tidak main judinya."


"Wah begitu pula ya.?


Iya sudahlah Bang, saya masuk dulu."


"Iya Mas iya."


Dari pembicaraan singkat itu, sebenarnya Haris tahu kalau orang itu sebenarnya cukup baik, hanya saja caranya dalam mengutip uang bagi orang yang menggunakan jasa kamar mandi tersebut terkesan seperti preman, dimana ketika orang masuk dia tidak kelihatan di sana, begitu keluar langsung dihadang dan dimintai uang.

__ADS_1


Tapi Haris bisa paham masalahnya bukan ada pada orang itu, tapi pada sosok yang menyuruhnya untuk bekerja. Haris kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan kantor SPBU itu.


Tapi baru saja Haris masuk dia segera di usir oleh petugas keamanan yang ada di sana.


__ADS_2