
"Ayo berangkat yuk dek!"
"Ayo"
"Lho itu apa?"
"Oh ini makanan dari hotel kitalah bang, terakhir adek bawa makanan seperti ini, yang punya rezeki ternyata orang lain.
itu yang kita kasih sama dua anak dan si kakak, istri dari yang bakar rumah kita bang.
Sudah bagaimana kabar suaminya sekarang bang?"
"Oh kemaren abang di telepon oleh Nando sudah sehat katanya."
"Oh sukurlah!
Tadi fauzan nelpon bang?"
"Hmmm.... Apa katanya dek.?"
"Katanya warga kampung rindu sama kita?"
"Wah dia bilang begitu?"
"Iya apalagi teman teman abang.
Mereka mengira pas peletakan batu pertama rumah sakit yang akan dibangun disana, abang bakal datang jadi warga ramai ramai datang kesana."
"He..he biarkan mereka semakin rindu, abang tidak ingin jadi pusat perhatian."
Haris dan istrinya turun ke lantai bawah, melalui lift khusus dan memasuki mobilnya di tempat parkir.
Mobil Bugatti sebelumnya dia masukkan ke dalam ruang inventorinya agar lebih terawat oleh sistem.
"Lho kok warnanya jadi beda bang?
Kemaren lebih lembut ini jadi lebih jantan sekali."
"Karena memang dua, yang satu lagi abang titip ke temen agar tetap terawat, siapa tahu kita lama disana."
"Oh baguslah."
"Bang...!"
"Ya."
"Itu dek Kirana, calon istrimu.!"
"Adek apa apaan sih?
Jadi aneh lho belakangan ini."
"Hahaha aneh kenapa sih bang?
Abang yang aneh, Istri sudah kasih kesempatan malah protes.
Abang tahu ngak, sebahagian pria itu malah cari dukun, biar istrinya seperti adek ngasih izin wkwkwwk."
"Sudah ah dek..!"
Kirana semakin dekat dan telah persis berada di dekat Haris.
"Abang dan kakak akan berangkat sekarang?"
"Iya. Ada apa Kirana?"
"Hmmm... tempat ini akan sunyi, kalau ngak ada Nurul."
"Kalau ngak ada Nurul atau ayahnya?"
"Uhuukk"
[Haris terbatuk]
Kedua wanita itu cekikikan, Haris bingung dengan keadaan istrinya sekarang,
"Apakah dia masih wanita yang sama, yang selalu minta aku agar setia?
Wanita memang misterius tak dapat di tebak, Jangankan aku, pembaca Novel toon saja pasti bingung dengan pemikiran istriku sekarang.
Hadeuuhhh...dasar Diana..!"
Haris meradang, mendapati perubahan pada istrinya.
"Kakak cepat pulang ya kakak!
Kakak tahukan sunyinya malam kalau ngak ada temen."
"Bilang dong sama abangmu, dia bosnya kakakkan selalu nurut."
"Bang..!"
"Ya."
"Abang jangan lama ya pulangnya?"
"Kenapa sejak diangkat jadi adik, kau semakin bawel sih?"
__ADS_1
"A...Aku..."
"Ha.. ha..hahh.. Gugupkan?"
"Sini abang bilangin, kau itu adik abang yang cantik, carilah pria yang baik, tampan dan menyenangkan, kau masih muda seger dan punya karir bagus serta penuh dengan semua hal yang di kagumi pria.
Begitu kau dapat pria yang kau sukai, kita semua akan mengurusnya, oke!
Ya sudah abang dan kakak pergi dulu."
"Muachhh."
Kirana mencium Hari tiba tiba
"Eh ini anak malah nyosor seperti bebek, tapi ngak apa apa, itu ciuman seorang adik kepada abangnya yakan?"
"Iya! Tapi adik sayang yakan dek Kirana!
Sabar Kirana, kita akan taklukkan pria yang kau sebut apa?
Kulkas 4 pintu ya kemaren wkwkwkwk."
"Hahahaha....Kakak!."
"Oke sudahkan sudah aman?
Kakak berangkat ya!"
"Iya kak."
Haris menginjak pedal gas lalu meninggalkan tempat itu.
Kirana tersenyum puas, ciuman manis tiba tibanya membuat pria yang di sukainya berpaling, walau terus merepet.
Sesuai kode yang ditunjukkan, itu adalah tanda kesukaan, menurut informasi A1 yang dibocorkan oleh wanita, yang paling tahu semua hal tentang sikapnya.
HP Haris berbunyi.
[Panggilan masuk]
"Ya Halo Andri, ada apa?"
"Bang Andri sudah bisa bawa mobil bang.!"
"Oh ya?
Kalau begitu nanti kita pesan mobilmu."
"Asyiiiiiikkkk...Cihuyyy.."
"Bang Aku juga belikan, aku juga sudah pandai bawa mobil?"
"Iya bang, kami belajar sama kawan disini, bang Nando banyak urusannya jadi ngak sempat."
"Ya sudah. Abang lagi di jalan mau kesana ini, nanti kita bahas lagi oke.!"
"Oke bang!".
"Ya Sudah abang tutup ya!"
[Panggilan berakhir]
"Hah anak anak itu begitu senang sekali."
"Bang adek belajar bawa mobil boleh ngak?"
"Boleh! Kak Butet aja sudah belajar."
"Sudah bagaimana kabar orang itu ya, sudah lama ngak ada berita."
"Teleponlah."
"Iya bentar ya bang!"
Diana lalu menelepon kedua kakaknya dan sibuk bicara banyak hal, pada mereka berdua.
Haris tetap fokus pada kemudi dan desa tempat mereka tinggal sudah dilewati, Haris sengaja memperlambat laju kenderaannya disana
Ada aura berbeda bila berada di kampung halaman sendiri.
Itulah yang Haris rasakan saat ini.
Tak lama kerumunan masyarakat sedang terjadi, persis di dekat tempat mereka dahulu memotong kerbau di perkebunan sayur milik warga
"Eh bang ada acara apa ini, kok begitu ramai?"
"Inilah yang bu' dokter tadi bilang dek, peletakan batu pertama."
"Oh disini di bangun rumah sakitnya bang?"
"Iya tapi bukan di lahan pertanian itu lho dek, tapi yang disampingnya, lahan satu lagi yang belakangan di beli, karena pemilik tanah itu butuh duit itu lho!."
"Oh baguslah, kan kasihan juga kalau di lahan pertanian warga.
"Ngaklah."
"Eh Handphone abang bunyi lagi, coba lihat siapa?"
__ADS_1
[Panggilan masuk]
"Ini Darman bang."
"Coba angkat ' biar abang ngomong dek."
"Iya Halo Man?
Ada apa Man?
Kok kau nangis Man?
Istrimu nggak kenapa napakan Man?"
"Si Jhon Ris."
"Kenapa si Jhon?"
"Katanya dia sekarang sudah stress Ris, sudah di pasung di sebuah gubuk di kampungnya."
"Ciittttttttt..."
"Abang kenapa sih bang, kok ngerem tiba tiba sihhh..?"
"Oh maaf dek, ya sudah kita minggir dulu."
"Si Jhon di pasung?"
"Iya Ris."
"Kamu dapat info darimana Man?"
"Istrinyakan ada di kampung sekarang, dia yang cerita sama bapak waktu jemput anak anak kemaren, Istinya katanya minta tolong sama kita Ris, bapak lupa menceritakannya dan baru aja bapak ingat."
"Ya tuhan! kasihannya si Jhon.
Ya sudah kamu telepon si Very Man dan kalian datang ke kampung, biar kita ke desanya."
"Iya Ris."
"Hei Man..Man..!"
"Ya Ris?"
"Atur nafasmu dan tarik dalam dalam, tenangkan pikiran dan jangan panik, si Jhon butuh kita, dia begitu karena terlalu panik dengan kehidupan ini, aku yakin dia masih kenal dengan kita dan dia masih bisa sembuh."
"Oke... baik maaf Ris.
Aku terlalu emosi."
"Sudah ngak apa apa aku tunggu ya.!"
"Sthhtwtth......"
"Halo Man."
"Iya Ris!"
"Aku tunggu."
"Ya kami akan datang Ris."
Mobil Haris kembali masuk ke badan jalan dan melanjutkan perjalanannya.
"Si Jhon kenapa tadi bang, gila ya?"
"Adeeekk!"
"Iya maaf, maksudnya pikirannya terganggu begitu?"
"Iya, mungkin beban yang dia terima lebih berat dari kita dek.
Haaahhh kasihan si Jhon."
"Sabar ya bang!"
"Ya."
Mobil yang membawa Haris dan Diana terus melaju, keduanya sudah diam sama sekali, tidak bicara sepatah katapun sejak terakhir kali bicara, sampai ke kampung halaman Diana.
Keduanya turun dari mobil dan Haris tampak gontai dan lebih banyak diam.
Diana tidak ingin melihat suaminya larut dalam kesedihan, jadi dia sengaja membuat satu kebohongan kecil, guna menarik kesadaran suaminya ke dunia nyata.
"Bang perut adek sakitlah sejak abang mengerem tiba tiba tadi."
"A.. apa, perut adek sakit, ayo kita periksa yuk!"
"Ini sudah mendingan, mungkin dia ngak suka di diemin ayahnya."
"Oh maaf ya dek, abang terlalu kepikiran si Jhon.
Tapi ya sudahlah, semua sudah terjadi mudah mudahan dia masih bisa sembuh."
"Adek merasa dia akan sembuh bang."
"Amiin."
__ADS_1
Hari dan Diana memasuki rumah mertuanya tersebut dan disambut mereka semua yang ada disana.