Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _62 : Sejenak melupakan masalah


__ADS_3

Haris dan Diana akhirnya pergi bertiga saja, bersama dengan Nurul putri mereka.


Dengan mengendarai mobil barunya, mereka segera sampai di depan rumah makan, pada lokasi wisata alam milik Mardan .


Haris disambut oleh Mardan dan juga anaknya yang bernama Fadly, yang begitu tergila-gila dengan mobil mewah.


Seperti biasa Fadly kemudian meminta izin kepada Haris, untuk bisa berselfi di dalam dan di luar mobilnya, sekaligus meminta izin untuk bisa menguploadnya, di media sosial miliknya.


"Om! Fadly boleh nggak om, selfie lagi di mobil om yang ini?


Ini mobil yang lain lagi ya Om?


Seharusnya harganya lebih mahal dari yang kemarin, Fadly baru saja melihatnya di Google, setidaknya ada perbedaan harga 3 miliar ya Om?"


"Iya! Fadly paling tahu deh.


Fadly sangat hobi ya dengan mobil mewah? Mudah-mudahan Nanti kalau sudah besar, Fadly bisa memiliki mobil mewah ya, tidak hanya sekedar dikasih makai seperti om sekarang, hehehe..!"


"Iya om! pasti nanti Fadly punya mobil mewah om!"


"Oke deh kalau begitu.


Karena Fadly sudah selesai fhoto fhotonya di dalam, om kunci ya!"


"Iya om, terima kasih ya om!"


"Iya. Sama sama."


Melihat hal itu, Mardan meminta kemakluman dari Haris, atas sikap anaknya itu.


"Abang minta maaflah tentang anak ini Ris, dia ini begitu tergila-gila dengan mobil mewah, seperti ini.


Abang untuk saat ini belum mampu memberikannya, jadi semoga Haris dan adek Diana tidak keberatan, juga semoga tidak merasa terganggu dengan sikap kekanak kanakanya."


"Bang Mardani ini ada-ada aja, namanya anak-anak ya biasalah itu, saya juga sudah menganggap si Fadly ini seperti anak saya sendiri, jadi tidak masalah kalau kita membiarkannya berfoto sesuka hatinya.


Bahkan kalau abang nanti mau pakai ke kondangan, atau acara keluarga, abang hubungi saja Haris, agar Haris bisa minta saudara Haris meminjamkannya."


Mendengar itu mata Fadly berbinar dan senyuman manis, tersungging di bibirnya.


"Yang bener om?


Oke kalau begitu nanti Fadly pinjam ya om, buat acara ke sekolah Fadly.


Ayah yang bawa.


Boleh ya yah, kita pakai mobil om!."


"Boleh dong, masa nggak boleh."


Haris langsung merespon permintaan Fadly kepada ayahnya.


"Ah nggak usah Ris, abang nggak berani bawanya, nanti keserempet mobil lain, mahal lagi biaya perbaikannya.


Abang nggak akan mampu nanti bayarnya."

__ADS_1


"Abang nggak usah pikirkan itu, yang penting si Fadly bisa menaiki mobil mewah seperti keinginannya."


"Terima kasihlah Ris, kau memang orang yang baik sejak dulunya."


"Okelah bang, kami turun dulu ke bawah ya bang.!


Kami akan pergi ke pondok bawah, untuk menikmati suasana alam wisata ini, melihat orang-orang yang berenang dan bermain di sungai, juga melihat air sungai yang mengalir sambil bernostalgialah ceritanya, pada masa-masa yang lalu haha."


"Oh silakan, silakan Ris!


Memang betul, sungai ini sudah menjadi ikon di tempat kita.


Jadi wajar saja, kalau kemudian hari ada rasa rindu ke tempat ini.


Apalagi selama beberapa tahun inikan, Haris dan Diana juga sudah tinggal di sini, untuk sekian lamanya, ketika dahulu mengajar.


Nanti makanannya akan diantar oleh karyawan-karyawan kita, ngomong - ngomong lauknya mau pesan apa Ris?"


"Ya pastinya ikan Sungai lah Bang!


Sudah lama ini nggak makan pakai lauk ikan sungai hahaha....!"


"Baiklah sip sudah mantap itu, akan abang sampaikan supaya disiapkan oleh anggota kita."


"Kalau begitu kami pergi dulu ya Bang!"


"Oke Ris, silahkan."


Haris dan istrinya lalu menuruni jalan menuju sungai, di mana di bawahnya ada cukup luas dataran yang di isi oleh wahana tempat bermain anak.


Beberapa orang sedang mandi dan sebahagiannya bermain kejar-kejaran di sungai dengan berenang.


Tampak wajah orang-orang begitu ceria, begitu segar dan begitu menikmati suasana wisata alam, yang memang sangat diminati bukan saja oleh orang luar, tetapi juga termasuk masyarakat yang ada di sekitar lokasi sungai tersebut.


Sejenak Haris melupakan berbagai hal, yang belakangan ini cukup menyibukkan dan membuat pikirannya harus bekerja keras.


"Hahhh... beberapa hari ini pikiran terus terkuras, emosi rasanya seperti terus dipermainkan ya dek!


Mulai dari urusan kebun dan rumah yang terbakar, mengurusi pelaku pembakaran rumah kita yang jatuh sakit karena di hakimi massa, lalu setelahnya pula ada urusan tentang Darman dan penyakit istrinya.


Belakangan ini, giliran si Jhon pula yang dipasung, oleh penjahat.


Ah...! komplitlah.


Begitulah kehidupan ini, selalu dibayang-bayangi dan di bunga-bungai oleh masalah, semoga segala sesuatunya bisa berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan ya dek!"


"Iya Bang! semoga saja begitu, tapi memang kok bertubi-tubi ya bang?


Begitu banyak masalah, dulu yang kita tahu masalah itu hanyalah tentang kesempitan ekonomi, ternyata setelah urusan ekonomi selesai dan menjadi lapang, masih saja ada begitu banyak masalah ya bang?."


"Memang begitu dek, dunia ini adalah tempat dan gudangnya masalah.


Dunia ini adalah alat yang Tuhan pakai untuk menguji setiap manusia, dengan berbagai macam masalah yang datang menerpa mereka.


Lalu Tuhan akan melihat kemana kecondongan hati manusia, dalam menyikapi atau mengambil sikap juga tindakan, terhadap cobaan-cobaan yang datang itu.

__ADS_1


Apakah manusia akan sabar atau berontak, apakah mereka akan berserah diri ataukah membantah dan mengambil jalan lain, dari yang tidak tuhan kehendaki.


Selamanya dunia itu akan begitu dek, Jadi kalau ada orang berpikir kalau sudah punya duit, punya banyak harta tidak lagi ada masalah.


Maka itu sebenarnya salah total.


Pemikiran semacam itu terjadi, hanyalah karena orang itu, belum pernah berada pada situasi dimana dia memiliki cukup banyak harta.


Apabila dia sudah sampai di titik itu, maka dia akan bisa melihat, bahwa ternyata justru masalah itu jauh lebih banyak dan komplit, daripada keadaannya ketika masih punya sedikit harta dahulunya."


"Tapi abang tidak jemu, yakan dengan semuanya?"


"Buat apa dek?


Rasa jemu sebisanya harus kita hindari, sebab baik kita terima atau tidak, apa yang menjadi keputusan Tuhan, pasti tetap akan berlaku.


Kalau kita tidak terima dan berontak, maka itu akan menjadi penyakit dalam jiwa kita, tetapi kalau kita terima, walaupun kecut dan pahit di awalnya, seiring waktu Tuhan akan memberikan kekuatan dan juga jalan keluar, agar kita bisa melewati segala sesuatunya dengan ketabahan dan kesabaran.


Jadi bukankah lebih baik memilih jalan sabar?"


"Benar bang, apa yang abang ucapkan semuanya adalah benar, abang selain menjadi suami bagi adik, juga menjadi guru dalam kehidupan ini.


Tapi bang ngomong-ngomong soal Kirana, adek serius loh bang, adek nggak main-main.


Adek bukan sekedar menguji-nguji abang, tapi adek memang merasa dengan bersama dek Kirana dalam mendampingi abang, melayani dan mengurusi segala kebutuhan abang, itu menjadi lebih ringan buat adek.


Jadi kalau memang abang ada sedikit saja rasa, cobalah untuk mempertimbangkannya.


Jangan sampai abang berpikir, kalau adek ini hanya sekedar menguji-nguji saja, tidak ikhlas atau sebagainya, tapi benar semua itu memang berasal dari ketulusan adek sendiri."


"Huhhhh.... kalau urusan itu, sebaiknya tidak usah kita berulang kali membahasnya dek!


Tidak usah berulang kali kita berbincang tentangnya.


Ya kita jalani sajalah, biarkan saja mengalir alami, sampai di mana nanti perjalanannya, toh segala sesuatunya sudah di suratkan dalam kehidupan ini.


Kita hanya tinggal menjalaninya saja.


Kalau memang takdir sama seperti yang adek inginkan, suratan yang sudah tertulis bagaimanapun kita tidak bisa tidak, pasti akan sampai ke titik itu.


Tapi kalau ditanya tentang hati dan pilihan abang, abang lebih memilih untuk mempertahankan adek seorang diri saja, sebagai istri abang.


Jadi abang juga bingung sebenarnya, kenapa tiba tiba ada pemikiran begitu di hati adek, maafkan abang kalau belakangan ini terlalu banyak membebani adek dengan urusan yang satu itu, kedepannya abang janji akan lebih menahan diri, sehingga adek tidak merasa begitu terbebani lagi.


Kalau toh kemudian Tuhan tetap mentakdirkannya begitu, tentu saja seperti yang kita bahas, apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan, hanya Tuhan sendirilah yang bisa merubahnya, kita hanya bisa berusaha tetapi tetap saja tidak bisa merubah apa yang akan menjadi keputusan-Nya.


Oleh karenanya, abang lebih memilih untuk tidak lagi membahasnya dan tidak memperbincangkannya, biarkan sajalah begitu.


Sekarang abang tidak mau ada pembahasan soal itu, mari kita nikmati kebersamaan ini, pemandangan ini nuansa alam yang begitu sejuk dan indah ini, serta wajah-wajah cerah dari orang-orang yang ada di sekitar kita ini.


Lihatlah anak-anak yang bermain itu, burung-burung yang berterbangan dan air yang terus mengalir dengan setia dari hulu sampai ke hilir."


Haris menghentikan perbincangan yang akan dimulai oleh Diana, seputar pembahasan tentang Kirana.


Karenanya Diana tidak lagi meneruskan ucapannya dan seperti yang disebutkan oleh Haris, dia mulai menikmati nuansa suasana alami di tempat wisata alam, yang sangat sejuk dan Teduh dengan naungan pepohonan yang amat rindang, dengan dahan-dahan yang kuat dan ranting-rantingnya yang menopang dedaunan yang lebat

__ADS_1


__ADS_2