
"Bagaimana urusan Tuan hari ini..?"
"Tumben kamu menanyakan hal itu Nando. Tidak biasanya."
"Ah, saya kan merasa penasaran juga Tuan. Sebab bagaimanapun hari ini kita berpisah untuk beberapa saat."
"Ya biasalah Nando, urusan di lokasi usaha baru milik kita cukup bagus, tidak ada masalah yang berarti. Aku hanya memberikan sedikit arahan, sekaligus juga menempatkan penjaga dari satuan pengamanan milik kita. Kamu sendiri bagaimana urusanmu Nando..? Apa kau bertemu dengan calon istrimu hari ini..?"
"Haha... Calon istri. Tapi iya sih benar sekali Tuan, saya bertemu dengan wanita itu dan keluarganya, hanya saja saya sendiri sebenarnya belum yakin dia adalah calon istri saya Tuan, masih dalam tahap penjajakan.
Mereka sepertinya sangat baik Tuan, saya disambut dengan ramah tamah dan penuh perhatian, tapi apa karena saya membawa mobil mewah milik Tuan ya..?
Kalau saja mereka tahu mobil itu bukan mobil saya dan tahu kalau itu sebenarnya adalah mobil pinjaman dari Tuan, mungkin mereka tidak akan seramah itu."
"Hmmm... Kau salah Nando, jangan begitu juga. Itu tidak adil bagi mereka, tidak baik kau berburuk sangka begitu."
"Saya tidak berburuk sangka Tuan. Saya hanya berpikir realistis saja."
"Sederhananya begini lho Nando, kalaupun mereka menyukaimu karena mobil mewah itu, ya sudah biar saja itu jadi jalan untuk kemudian kamu bisa masuk dan bersambung dengan keluarga mereka, toh mobil itu bebas kamu pakai kapan saja semaumu, sehingga bahkan mereka tidak akan tahu kalau itu bukan mobilmu atau bila perlu kau boleh memiliki mobil itu."
"Ah Tuan. Saya mana berani Tuan. Harga mobil itu saja sampai puluhan miliar begitu, bahkan hampir mendekati ratusan miliar.
Diberi izin untuk memakainya saja saya sudah sangat bersyukur. Saya tidak akan berani untuk menerima itu."
"Kalau begitu kau jaga hatimu agar jangan langsung berburuk sangka dulu. Wajar dong kalau misalnya calon mertuamu itu bangga padamu.
Tentu beliau pantas untuk berbangga hati atas sesuatu yang beliau anggap sebagai keberhasilanmu. Sangat wajar jikalau seorang ayah bangga pada calon menantunya yang punya mobil mewah bukan.? Siapa sih mertua yang tidak ingin menikahkan anaknya pada seorang lelaki yang sukses dan juga mapan..?
Semestinya itu jangan kau jadikan jalan untuk berburuk sangka, tetapi seharusnya kau jadikan sebagai jalan untuk semakin bersemangat, dalam menunjukkan kalau kau memang bisa dan sangat mampu untuk membahagiakan Putri mereka. lagi pula kau ini adalah ajudan Abang, kau ini adalah orang kepercayaanku yang termasuk orang yang berada paling dekat di antara orang-orang yang berada dalam lingkaranku.
Apa yang kau khawatirkan..? Kita punya cukup banyak usaha dan cukup banyak punya sumber penghasilan berupa uang untuk membahagiakan hidupmu dan istrimu kelak, termasuk juga keluarga mertuamu.
Bukannya kau sering melihat abangmu ini membantu orang lain..? Bukan bermaksud untuk mengungkit-ungkit ya, tapi sering Abang membantu seseorang itu dengan uang dalam jumlah nominal yang cukup banyak, kalaulah uang itu harus dicari dengan tenaga.
Apalagi untuk urusanmu. Apa kau pikir hanya karena si Very nanti menikah dengan si Juli yang mana dia merupakan adikku, aku lantas akan memperhatikannya, sedangkan kau jika menikah dengan wanita lain yang tidak ada hubungan denganku, maka aku akan membiarkan dan melepaskanmu begitu saja...? Hehe jangan konyol Nando.
Bagiku kau dan Very itu sudah seperti adikku sendiri, aku tidak akan membeda-bedakan kalian. Kalaupun kemudian Very akan menikahi adik dari Ayah angkatku."
"Tuan.. !"
Nando tercengang mendengar perkataan Haris, yang begitu menghangatkan hatinya.
Kehangatan hati itu sampai menjalar ke pelupuk matanya, sehingga tak sadar dia meneteskan air mata yang hangat.
"Hei Nando..! Kenapa kau menangis..?"
"Tuan bagaimana saya tidak menangis Tuan..? Saya tidak menyangka kalau saya ini sebegitu berharganya dalam pandangan dan hati Tuan.
Kalau begitu saya tidak akan ragu dan takut lagi untuk melangkah, saya tidak akan gentar lagi untuk membina hubungan yang lebih serius."
"Ya harus begitu, berapapun yang diminta nanti oleh calon mertuamu Abang akan menanggulanginya.
Dan itu tidak hanya berlaku bagimu Nando, tapi bagi seluruh anggota kita. Siapapun yang terkait dengan kita, baik terkait sebagai karyawan/ti kita dalam bidang bisnis maupun unit usaha yang kita miliki, apalagi yang terkait dalam lingkaran terdekat kita seperti para pengawal dan juga petugas keamanan, maupun seperti kamu dan juga Fauzan, yang sudah jadi orang kepercayaan Abang.
Sampaikan hal itu kepada teman-temanmu, agar siapapun dari mereka yang sudah siap untuk berumah tangga, jangan pernah ragu dan jangan pernah takut soal biaya maupun hal-hal yang terkait dengan uang."
Nando sejenak tertegun, mendengar ucapan Haris, dimana Nando tahu betul berapa banyak orang yang bekerja dengan Haris, termasuk orang yang berada dalam ruang lingkup lingkarannya.
Tetapi dia 100% sepenuhnya yakin bila Haris sudah mengucapkannya, artinya dia memang sudah punya kemampuan untuk itu dan sudah siap menanggung jawabi kata-katanya.
"Kalau memang Tuan sudah menganggap aku seperti adik kandung sendiri, maka bagaimana aku bisa untuk takut lagi..?"
"Ya begitu dong, jangan takut. Sejak kapan kau sebegitu tidak percaya dirinya..? Melangkahlah terus, jajaki masa depanmu, kita akan tunjukkan keseriusan berapapun yang mereka minta, akan kita penuhi."
Nando kemudian tersenyum indah, sembari menghapus sisa air mata yang tertinggal dan sempat membasahi pipinya. Dia menjadi begitu bersemangat.
Memang selama ini Haris telah menganggapnya dan yang lain, sebagai bahagian dari keluarganya, tapi dia tidak menyangka kalau perasaan Haris itu, akan sampai begitu dan betul-betul mendalam, bukannya hanya sekedar ucapan yang lebih kepada bentuk penghiburan atas dirinya.
Mobil terus melaju dan akhirnya Haris dan Nando pun, telah sampai di Villa milik Haris yang berada di desa P.
"Tuan kita sudah sampai."
"Ya....ingat kata-kataku Nando, sampaikan juga pada yang lainnya, jangan lagi ragu kedepannya.
Uang kita banyak. Andai kalian menikah satu orang sehari tanpa jeda atau istirahat barang seharipun sampai semua pengawal dan anggota keamanan kita menikah keseluruhannya, uang kita masih tersisa banyak dan tidak akan habis, meski Abang yang menanggung semua biayanya. Jadi jangan ragu lagi. besok bawa calonmu kemari bila perlu kalau memang memungkinkan bawa serta juga calon mertuamu, andai saja mereka berkenan datang, jangan ragu untuk membawa mereka kemari, agar kita jamu dan kita tunjukkan bahwa kita sangat mampu.
Katakan saja kalau kau sudah punya rumah dan mobil, serta kenderaan lainnya, sampaikan juga bahwa gajimu juga cukup besar.
Minta Adik itu yakni calon istrimu, untuk memilih rumah mana yang dia mau agar kita beli."
__ADS_1
"Terima kasih Bang..!"
"Ya. Jemput dan bawalah mereka besok."
"Baik Bang."
"Ya sudah ayo kita Turun."
Haris dan dan Nando, akhirnya turun dari mobil.
Orang-orang yang sudah mengetahui kedatangan mereka, cukup heran kenapa setelah mobil itu sampai, baik Haris maupun Nando tidak segera turun. Mereka tidak tahu apa yang sedang diperbincangkan oleh Haris dan Nando di dalam mobil itu.
Akan tetapi tentu saja sesegera mungkin Nando akan memberitahu semua teman-temannya, sesuai pesan Haris.
"Lho Abang dari mana saja, kenapa tidak memberitahukan kepada kami kalau Abang akan pergi..?"
"Oh maaf ya Dek, Abang tadi buru-buru, jadi tidak sempat memberitahukanmu dan yang lainnya.
Apalagi dek Diana dan dan juga Dek Kirana kan lagi sibuk berbicara pada keluarga kita yang lainnya, soal metode penyembuhan yang kita lakukan.
Tiba-tiba tadi, ada kabar tentang teman Abang yang sudah bangkrut usahanya, jadi dia minta tolong agar usahanya itu kita bayari gitu lho dek. Jadi ya sudah, Abang pergi melakukan pembayaran dan meninjau usaha itu.
Adek kan tahu bagaimana Abang kalau ada orang yang susah dan membutuhkan."
"Oh begitu ya Bang..?
Ya memang pengalaman pahit yang cukup lama kita alami, begitu membekas dalam hati kita bang, sehingga kita paling tidak tahan kalau melihat ada orang yang susah, Adek juga memang sudah begitu Bang.
Memangnya usaha apa Bang..?
"Sebenarnya ada dua jenis usaha baru sih Dek. Pertama itu stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU, lalu yang kedua itu usaha galangan kapal. Hanya saja untuk usaha galangan kapal itu, Abang belum bisa meninjaunya karena lokasinya berada di kota M, ibukota provinsi kita, tepatnya di wilayah pelabuhan yang ada di sana.
Nanti kalau ada waktu kita bersama yang lainnya, kita akan pergi liburan sekaligus meninjaunya."
"Hmm.. Iyalah Bang, tapi terus terang kami sempat khawatir tadinya, kalau Abang sampai lupa jadwal pembicaraan kita nanti malam. Apalagi dek Shasmita dia tadi sangat risau dan gelisah."
"Oh ya tidak dong. Masa Abang lupa sih..? Adek Diana kan tahu, ingatan Abang cukup tajam kalau soal perkara mengingat-ngingat sesuatu."
"Ya sudahlah Bang, ayo masuk yuk, biar jumpa dengan yang lainnya."
"Ya ayo Dek...!"
Setelah itu Haris permisi untuk mandi dan membersihkan dirinya, dan mengatakan kepada semua orang kalau akan berbicara nanti malam dengan mereka saat membahas pembicaraan terkait pernikahannya dengan dokter Shasmita.
Setelah sampai di lantai atas villanya, Haris segera membuka pakaiannya dan melompat ke kolam renang pribadi miliknya yang memang tidak jauh dari ruangan pribadi Haris dan istrinya itu.
Shasmita sendiri sedang sibuk di bawah bersama ibu mertua Haris dari Diana, dmana Shasmita ikut meninjau dan mengatur hidangan yang akan mereka santap nanti, pada saat makan malam. Sedangkan Kirana sibuk mengurusi anak kembarnya dan juga Nurul yang kebetulan sedang ingin lengket dengannya, seperti saat dahulu di awal mula pernikahannya dengan Haris, dimana Nurul seringkali lebih dekat pada Kirana.
Diana sendiri cukup lapang, karena dia hanya mengurus satu orang anaknya yang laki-laki, yang lahir tidak berjarak begitu lama dari anak kembar Kirana.
...*************...
"Ah yang bener Nando. Tuan mengatakan begitu..? Andaikan kita menikah satu satu orang dalam sehari dan Tuan yang membiayai pernikahannya, uang Tuan masih tersisa banyak bahkan sampai saat ketika kita semuanya menikah..?"
"Ya begitulah yang Tuan katakan Riston, aku tidak menambah dan juga tidak menguranginya Riston."
"Wah luar biasa memang Tuan kita ini, bukan hanya soal kayanya saja, tapi lebih kepada soal bagaimana Tuan memperlakukan kita semua. Hah entahlah aku tidak tahu harus seperti apalagi menggambarkan Tuan kita ini.
Aku sama sekali tidak punya satu contoh lainnya pun, yang semisal dengan beliau."
"Iya luar biasa memang."
Beberapa pengawal lain membenarkan ucapan Riston.
"Benar kalau begitu jangan lagi sia-siakan Nando.
Seperti apa yang Tuan katakan, besok kau jemput dan bawalah calon istrimu kemari, sekalian memang kalau bisa beserta keluarganya lebih bagus, agar supaya mereka lebih yakin begitu lho."
"Benar Lim, aku yakin kalau mereka sudah sampai kemari melihat megahnya Villa ini dan juga melihat sikap Tuan dan semua keluarga kita di sini, Wah aku yakin deh pasti rencana pernikahan akan mulus dan izin akan gampang didapat."
Amanu menimpali perkataan Halim sebelumnya.
"Iya Nando.! Kaulah yang memulai lebih dulu, kalau kau sudah menikah, kami nantinya bakalan menyusul."
"Memangnya kau sudah punya calon Amanu..?"
Anton, yang merupakan pengawal lainnya bertanya pada Amanu.
"Hahaha.... Kalau calon sih belum ada Anton, tapi aku akan memulai mencarinya kalau ternyata biaya dan segala keperluan di tanggung oleh Tuan kita.
__ADS_1
Kalau aku sih niatnya, akan mencari pendamping dari salah seorang pengawal istri Tuan saja ha..ha..ha."
Amanu mengungkapkan niat dan juga isi hatinya lalu baik Riston, Halim Wilson juga Erik dan Anton serta yang lainnya tertawa gembira, dengan angin segar yang bagi mereka merupakan Kabar Dari Surga itu.
Kabar yang dibawa oleh Nando benar-benar membawa kebahagiaan tersendiri bagi hati setiap orang, termasuk Wilson bahkan yang sudah menikah.
"Aku merasa senang untuk kalian semua. Akhirnya teman-temanku yang sudah aku anggap sebagai saudara-saudara kandungku sendiri sekarang sudah mendapat jalan yang sangat baik untuk menata kehidupan rumah tangganya ke depan."
"Jangan hanya senang untuk kami pak Wilson, Anda juga masih bisa kok untuk menikah satu atau dua istri lagi seperti Tuan ha..ha..ha."
"Ah ada-ada saja kamu Riston, kalau Tuan tidak bisa kita ikuti Riston.
Pertama Tuan itu istimewa, lihatlah bagaimana Nyonya-Nyonya kita begitu patuh kepada Tuan. Kita tidak akan pernah mampu dan sampai ke level itu.
Hanya Tuan yang mampu berbuat begitu, baik kemampuan secara fisik, maupun pikiran, apalagi soal finansial. Kita tentu tidak akan mampu mengikuti Tuan."
"Ya Anda benar Pak Wilson, hehe maaf aku hanya bercanda untuk menghidupkan suasana Pak Wilson."
'Tidak apa-apa Riston, aku suka kok dengan candaanmu, terasa garing begitu ha..ha..ha."
"Ha..ha..ha..ha..hahahah."
Secara serentak para pengawal Haris tertawa dengan begitu riang gembira di gedung pos dan markas mereka, yang berada dekat dengan gerbang.
Para pengawal Haris begitu bersemangat mereka terus membicarakan tentang hal itu sampai beberapa saat kemudian.
Hari mulai menjelang malam, setelah selesai mandi Haris duduk bersantai di sofa miliknya, sambil menatap pada kejauhan dimana tampak para petani yang sebagiannya bersengaja pulang lebih lambat dari kebun dan sawahnya masing-masing.
Shasmita pun masuk ke ruangan itu setelah mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
Setelah masuk dan berbicara basa-basi sedikit dengan Diana dan Kirana, Shasmita kemudian menuju tempat dimana Haris duduk.
"Eh ibu dokter kami yang cantik sudah datang, bagaimana urusannya di bawah sudah selesaikah..?"
"Sudah Bang, tadi ibukan sudah mengatakan agar Chef dan para stafnya agar datang untuk kembali bekerja, jadi tidak terlalu banyak hal yang harus kami lakukan.
Shasmita hanya menemani Ibu yang bicara dan memberi nasehat bagi semuanya, agar lebih hati-hati kedepannnya."
"Bagus dong kalau begitu."
"Oh ya Bang, tadi ayah dan ibu serta Papa dan Mama juga Papi dan Mami sudah bersepakat, kalau kita memulai pembicaraannya nanti selesai sholat Maghrib saja, agar lebih cepat selesainya."
"Ya bagus itu, jadi para orang tua kita tidak terlalu terlambat nantinya untuk beristirahat."
Haris menunjukkan rasa setuju pada sikap yang diambil oleh Mertua dan juga calon mertuanya, yakni orang tua dari Shasmita.
"Eh calon pengantin, kok duduknya berjauhan begitu sih..? Dekatan dikit dong biar mesra."
Shasmita gelagapan ketika Diana yang datang bersama Kirana menggoda dirinya.
"Wah kak Diana, buat terkejut saja."
"He..he.. Masa sih bu dokter terkejut..?"
Kirana juga ikut-ikutan menggoda Shasmita.
"Benar lho Kak Kirana."
"He..he lucu juga rasanya dipanggil kakak; oleh ibu dokter, padahal kitakan seumuran."
"Itu sudah tepat dan memang bagus lho dek Kirana, itu memang sudah aturannya begitu dek.
Karena kita lebih dulu dari dek Shasmita, jadi dia dalam hal ini paling bungsu dari kita berdua.
Bukannya begitu yakan Bang..?"
"Ya itu tidak masalah semestinya, kan memang begitulah biasanya, tapi kalau kalian menginginkan hal lainnya tidak apa-apa juga sih, tapi Abang rasa begini juga bagus kok, sehingga orang nanti jadi lebih mudah juga untuk bertutur pada ketiga istri Abang.
"Ya kalau begitu, tetap seperti biasa, sesuai dengan apa yang ada saja. Aku menjadi kakak tertua kemudian dek Kirana lalu Adik Shasmita, akan menjadi adik bungsu dari kami berdua."
"Ya sebenarnya bagiku itu juga cocok sih, karena aku ini cuma anak satu-satunya dari papa dan mamaku. Jadi kalau bu dokter jadi adikku lengkap deh aku punya Kakak dan juga punya Adik pada saat yang bersamaan ha..ha..ha.
Oh ya apa cerita dari bawah tadi, Dek Shasmita.?"
"Tidak ada sih Kak Kirana, hanya saja tadi barisan para orang tua kita sepakat, kalau pembicaraan itu kita mulai nanti ba'da maghrib saja. Jadi nanti begitu semuanya selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib, kita akan mulai musyawarahnya agar para orang tua kita bisa beristirahat lebih cepat."
"Ya Kakak juga setuju begitu. Itu sudah bagus lagipula shalat Isya kan lebih panjang waktunya."
"Iya kalau begitu kita harus bersiap-siap deh, tidak lama lagi adzan maghrib akan berkumandang."
__ADS_1