Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _155 : Hotel di daerah perbukitan


__ADS_3

Sebenarnya apa yang Haris rasa harus segera dia urus dan selesaikan, telah selesai bersamaan dengan selesainya teleponnya bersama Jenderal Gunawan, yang sudah seperti menjadi Abang angkat baginya.


Haris tetap melanjutkan niatnya untuk turun ke bawah, karena sebelumnya ketiga istrinya telah meminta waktu bagi mereka untuk bisa bicara bersama, karenanya Haris tetap meneruskan niatnya pergi ke pos pengawal yang ada di lantai bawah, yang bersebelahan dengan ruangan kecil paling pinggir dari hotel miliknya.


Haris sengaja memperuntukkan satu ruangan khusus itu sebagai garasi mobil mewah pribadi miliknya, yang berhadapan langsung ke bahagian depan halaman hotel.


"Tuan..! Saya telah menyuruh Albert untuk mencari tahu tentang, sosok orang yang mencoba menyerang Nyonya. Bagaimana menurut Tuan.?"


Wilson yang merupakan pimpinan para pengawal dari Haris, segera membuka perbincangan setelah melihat kedatangan Haris Bos mereka, yang telah duduk di salah satu kursi yang ada di pos, yang merupakan markas cabang para pengawalnya itu.


"Sebenarnya aku sudah tahu tentang siapa mereka, lewat informasi yang diberikan oleh Jenderal Gunawan Wilson, namun memang tidak ada salahnya kalau Albert menelusurinya lebih jauh, sebab bisa saja dia mendapatkan informasi yang barangkali tidak diketahui oleh Jendral Gunawan, ataupun tidak ingin dia sampaikan kepada kita."


"Oh jadi Tuan sudah tahu, lalu siapa sebenarnya mereka itu Tuan.?"


"Hmm... Mereka itu adalah keluarga dari salah satu kelompok pengusaha besar, yang ada di Negeri ini juga Wilson. Jadi bisa dibayangkan kenapa wanita itu begitu lancang dan begitu berani mencoba mengganggu istriku, di kota yang terbilang kecil ini.


Kita lihat saja seperti apa gerakan mereka ke depan. Tapi menurut informasi dari Jendral Gunawan, pihak mereka sangat menyesalkan kejadian ini dan secara khusus mereka sudah meminta maaf dan meminta tolong kepada Jenderal Gunawan, untuk memediasi dan mempertemukan pihak mereka dengan kita.


Tampaknya dari sini ke depannya, kita memang akan banyak menjumpai sosok-sosok seperti mereka Wilson, yakni orang-orang besar yang selama ini tidak kita ketahui keberadaannya sama sekali.


Satu persatu sosok semacam itu akan mulai kita kenal, sebab mereka akan muncul ke permukaan seiring dengan mulai melebar dan meluasnya jaringan usaha kita.


Oh ya bagaimana dengan para pengawal yang kemarin kita bahas itu, apakah kau sudah menghubungi mereka Komandan Wilson.?"


"Sudah Tuan. bahkan mereka saat ini sudah mulai mengumpulkan beberapa teman-teman kita, yang memang dahulunya pernah ikut bekerja sama dengan kita di korporasi Kaya dan Jaya Bersama group."


"Bagus, kita memang akan butuh lebih banyak lagi orang ke depannya."


"Itu memang benar Tuan."


Saat Haris dan juga Wilson cukup serius membahas topik perbincangan mereka, seorang wanita cantik yang tampil dengan pakaian yang rapi dan sempurna, dengan paras yang mampu membius dan menarik perhatian pria manapun yang melihatnya, perlahan mendekat ke ruangan dimana Haris dan Wilson sedang berbincang.


"Permisi Tuan Direktur.


Apa saya boleh masuk..?"


"Ya, Tentu saja masuklah, ada apa Rossa..? Sepertinya ada hal yang begitu penting yang ingin kamu bicarakan."


"Iya Pak Direktur, saya tadi dihubungi oleh Pak Marwan, yang memang ditugaskan untuk mengurus segala keperluan keberangkatan Tuan bersama keluarga ke Jepang.


Menurut beliau, mengenai semua kelengkapan surat-surat yang diperlukan dalam keberangkatan dan perjalanan Tuan bersama keluarga, maupun anggota kita lainnya yang akan berangkat, sudah selesai seluruhnya pak Direktur."


"Bagus kalau begitu dalam Minggu ini, jika tidak ada masalah, kami akan bisa berangkat ke Jepang untuk menelusuri kerjasama lebih lanjut, dengan pihak rumah sakit maupun penyedia alat-alat kesehatan di klinik maupun di rumah sakit kita."


"Ya begitulah Tuan, semuanya berjalan baik dan sesuai apa yang kita harapkan."


"Bagus itu Rossa, lalu apa ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan, Manager Rossa..?"


"Tidak ada Tuan. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, tapi oh ya tadi saya juga dihubungi oleh Wina, Manager hotel kita yang ada di kota S itu Tuan.


Manager Wina menanyakan, sepertinya sudah cukup lama Tuan tidak datang ke sana.


Manajer hotel kita yang di sana berkirim salam buat Tuan dan juga keluarga, katanya Manager Wina takut mengganggu untuk menghubungi Tuan langsung dan juga Nyonya."


"He..he..he, dasar si Wina. Kenapa pula dia harus takut, padahal kita ini semua sudah seperti keluarga, selain itu kita juga baru bertemu kok pada saat pesta pernikahan kemaren. Kamu jangan seperti Wina ya Rossa, jangan takut-takut begitu, malah saya lebih suka kalau sering ditanyai, apalagi jika jaraknya sudah cukup lama begitu."


"Baiklah Tuan, saya sebenarnya bisa memahami ketakutan dan kekhawatiran manager Wina dan juga memiliki perasaan yang sama, tapi karena Tuan yang mengatakan begitu, maka saya juga tidak akan segan-segan kedepannya, bila memang ada yang perlu ditanyakan."


"Ya itu bagus. Oh ya Rossa..! Bagaimana kamu lihat perkembangan hubungan Anton dan kedua Asisten Manager itu, siapa kemaren namanya..? Apakah ada salah satu dari mereka yang menjadi dekat pada Anton sekarang..?"


"Saya tidak tahu persisnya Tuan. Tapi menurut Asisten manager hotel kita yang ada di sini yakni Namira, Mas Anton itu sekarang cukup intens berhubungan lewat panggilan telepon pada Yulia, Asisten manager dari Manager Wina yang ada di kota S itu Tuan."


"Ha..ha..ha bagus, itu sangat bagus. Akhirnya si Anton itu, masuk juga ke dalam rencana kita.


Ya mudah-mudahan mereka bisa cocok atau berjodohlah. Kamu sendiri bagaimana Rossa..?"


"Tuan sebaiknya tidak usah tanyakan hal itu, saya jadi malu."


"Ha..ha..ha..! Y.. ya..ya baiklah, kalau kamu merasa risih dengan saya yang mempertanyakan soal itu, saya tidak akan bertanya lagi.


Tapi sebaiknya kamu juga harus cepat-cepat memikirkan hal itu, jangan sampai terlambat."


"Baik Tuan.Terima kasih atas perhatian Tuan."


"Baiklah Rossa, kalau memang tidak ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan, kamu sudah bisa melanjutkan kegiatanmu yang lain."


"Baik Tuan, terima kasih. Saya permisi pergi sekarang, Tuan..!"


"Ya silakan Rossa."


Rossa yang merupakan Manager di hotel milik Haris yang ada di kota P itu, segera beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tidak ingin berlama-lama lagi di sana, karena khawatir Haris akan bertanya tentang lebih banyak hal lagi padanya.


Baik Haris maupun Wilson tersenyum, melihat raut wajah Rossa yang menyimpan rasa malu, tetapi terlihat masih tetap mencoba menguasai keadaan itu.


"Wilson, sebaiknya kau desak si Anton untuk segera meningkatkan hubungannya bersama Asisten Manager hotel kita yang ada di kota S itu, ke jenjang yang lebih serius. Katakan saja ini adalah pesan langsung dariku."


"Baik Tuan, akan saya sampaikan nanti.

__ADS_1


Oh ya Tuan, lalu bagaimana dengan rencana kita untuk membentuk markas di kota H itu Tuan..?"


"Ya tetap jalan seperti rencana, kita akan melalui semuanya dengan santai saja Wilson. Santai tapi serius, aku sudah menugaskan Adik kita si Fauzan untuk segera menelusuri lokasi yang tepat untuk mendirikan usaha perkebunan sawit baru kita disana. Selain itu aku juga sudah memesankan agar dia mencari tempat yang baik nantinya, sebagai lokasi pusat markas kita di kota H.


Mungkin beberapa hari lagi kita akan mendengar kabarnya dari Fauzan, sebaiknya kamu desak saja anggota pengawal kita yang berasal dari kota K itu agar segera datang, kalau memang belum sampai 100 orang, atau jika yang ada baru 50 orang pun, tidak apa-apa.


Katakan saja agar yang 50 orang itu segera berangkat lebih dahulu tidak apa-apa, soalnya jangan sampai begitu kita mau berangkat ke Jepang nantinya, mereka belum sampai."


"Siap Tuan, tapi sebenarnya sebelumnya saya juga sudah mengatakan hal itu pada mereka, bahwa Tuan tidak suka hal yang bertele-tele. Begitupun nanti akan saya tanya langsung sudah seperti apa perkembangannya Tuan."


"Ya baiklah, oh ya jam berapa pulangnya Linda, Wilson..?"


"Tadi saya tanya kepada anggota kita yang berjaga di sana, katanya nanti Non Linda akan pulang pukul 03.00 sore Tuan. karena Nona Linda masih akan mengikuti beberapa kegiatan ekstra kurikuler."


"Oh begitu ternyata. Artinya masih ada waktu beberapa saat bagi kita untuk minum-minum kopi ke warung kopi Bang Edi, yang berada di daerah perbukitan di pinggirqn kota P ini."


"Apa kita akan berangkat sekarang Tuan.?"


"Ya sepertinya berangkat sekarang itu lebih bagus Wilson."


"Baik Tuan, kalau begitu saya akan mengeluarkan mobil, apa Tuan masih akan memakai mobil yang tadi Tuan..?"


"Tidak. Tidak usah Wilson, kita pakai mobil biasa saja, agar lebih banyak orang muat dalam satu mobil. Kita pakai mobil kalian saja."


"Baik kalau begitu Tuan, jika begitu, kita bisa langsung berangkat sekarang Tuan."


"Baik. Ayo kita berangkat..!"


Haris yang merasa tidak punya kegiatan lain lagi untuk dia kerjakan secara mendesak, akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Kedai kopi Edi yang merupakan temannya itu.


Haris berangkat dengan 10 orang pengawal dengan dua mobil yang merupakan mobil khusus para pengawalnya, yang segera meninggalkan area parkiran hotel Nurul Diana Haris dan menuju daerah perbukitan di pinggir kota P, tempat di mana keberadaan Kedai Kopi Edi yang akan Haris dan pengawalnya kunjungi.


"Selamat datang Tuan besar, tidak disangka hari ini sempat mampir kemari."


Edi pemilik warung kopi yang cukup terkejut atas kedatangan Haris, segera menegurnya dengan sapaan yang penuh canda tawa, penuh kedekatan layaknya teman akrab, ketika melihat Haris turun dari mobil bersama para pengawalnya.


"Ha..ha.. Bang Edi. Ya sudah cukup lama sih tidak mampir kemari, jadi rindu juga untuk bisa minum kopi yang biasa kita minum di sini."


"Baiklah Dek Haris, kalau begitu Abang akan segera siapkan kopinya untuk semuanya. Sebentar saja kok, sementara itu kalian bisa memandang-mandang area persawahan yang ada di bawah sana sejenak, lagi pula dari ketinggian bukit ini kalian juga bisa memandang kota sejauh mata memandang, jauh di bawah sana."


"Ya, siap.. siap Bang Edi. Lagipula tidak usah terburu-buru, kami akan berada di sini sampai jam 03.00 sore nanti, atau sampai panggilan dari Nyonya besar datang ha..ha..ha."


"Ha..ha Baiklah Dek Haris. Terima kasih sudah datang mampir kemari."


"Ah Bang Edi ini seperti orang lain saja, pakai acara terima kasih segala."


"Tuan. Indah sekali lokasi tempat ini Tuan. Kenapa Tuan tidak membeli beberapa luas tanah di sini Tuan, untuk dibangun hotel di area perbukitan, yang sepertinya akan punya daya tarik tersendiri, daripada Hotel kita yang ada di kota Tuan."


Salah seorang pengawal Haris yang merupakan bawahan Wilson, memberikan saran kepada Haris ketika mereka semua duduk di meja yang sama.


"Apa yang kamu katakan itu bagus juga Nasir, kenapa selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu ya..?"


"Iya itu benar itu Tuan, kalau kita punya satu hotel lagi di sini, kita bisa berganti-ganti suasana. Jika Tuan sedang ingin suasana laut dan pantai, kita bisa ke hotel yang ada di kota S, jika Tuan ingin suasana perkebunan, kita bisa pergi ke Villa di wilayah Timur. Sedangkan untuk wilayah perkotaan, juga sudah ada dua hotel bintang 5, begitu juga untuk suasana wilayah pedesaan ada Villa yang di desa P dan juga Desa S. Sepertinya sangat cocok kalau kemudian ada hotel di daerah perbukitan ini Tuan."


Salman juga menimpali usul dan pernyataan dari Nasir, salah seorang pengawal utama keluarga Haris, yang sebelumnya berbicara.


"Ya sepertinya memang, aku akan menghubungi pak Marwan segera, untuk mengurus hal itu. Kalau memang lokasinya memadai, sepertinya Hotel lebih bagus, tapi kalau pun tidak dapat lahan yang cukup untuk Hotel, minimal kita punya Villa tersendiri di sini.


Sebab setahuku area perbukitan ini sendiri terbagi ke dalam dua wilayah, yakni wilayah perkotaan yang juga berbatasan dengan wilayah kabupaten.


Adapun tempat yang kita duduki saat ini, masih masuk ke dalam wilayah perkotaan, tapi kabarnya beberapa meter ke depan sana itu, ada tapal batas antara perkotaan dan kabupaten.


Biarlah Pak Marwan nanti yang mencari tahu detailnya, seperti apa lokasi ini. Apakah memang bisa dibeli atau bagaimana."


"Kalau sampai kita punya hotel disini, itu sangat bagus sekali Tuan."


"Itu benar sekali Tuan."


Para pengawal Haris begitu antusias atas topik pembahasan pendirian hotel baru itu.


Selanjutnya mereka kemudian berbincang-bincang sesama mereka, sambil mengagumi keindahan panorama yang memanjakan mata setiap orang, saat memandang penuh takjub dari posisi mereka yang berada di bahagian dataran, dari perbukitan yang sebenarnya belum sampai kepada puncaknya itu.


Haris sendiri tidak ingin menunda-nunda waktu lagi, sehingga dia segera mengirimkan pesan singkat kepada Pak Marwan orang kepercayaannya, yang selalu mengurusi segala hal tentang kepentingan birokrasi, perizinan maupun hal-hal yang berkaitan mengenai urusan aset usahanya dan urusan lain di kota P itu, untuk mencari lahan dan merealisasikan keinginan Haris tersebut.


"Nah semuanya. ! Ini kopinya sudah datang."


"Wah kopi ini harum sekali Bang Edi. Pemandangannya indah, suasananya sejuk, angin pula berhembus sepoi-sepoi, ditambah lagi aroma kopi yang harum semerbak menabrak indra penciuman begini, membuat komplit sekali rasanya kebahagiaan yang ada di tempat ini Bang."


"Ha..ha..ha Makanya sering-seringlah datang kemari Dek Haris, biar sering-sering menikmati suasana di sini."


"Itulah yang baru saja kami bahas Bang Edi. Sepertinya akan lebih bagus kalau kita bangun satu hotel baru lagi, ataupun kalau tidak memiliki lahan yang cukup, paling tidak kita membuat satu Villa hunian keluarga di sini.


Apakah Bang Edi pernah mendengar, kalau ada orang yang ingin menjual lahan milik mereka di sini..?"


"Wah kalau untuk lahan, seperti yang pernah kita bahas, lahan lokasi kedai ini sendiri, termasuk kedai-kedai lainnya, setahu kami itu memang merupakan tanah milik Pemerintah Kota dek Haris.


Tapi kabarnya ada kok dek Haris lahan yang mau di jual dan masih berada di areal perbukitan ini, tapi masuk ke dalam bahagian dari daerah kabupaten di sana itu.

__ADS_1


Itu bukan aset pemerintah daerah, melainkan memang tanah rakyat, pemiliknya sudah lama ingin menjual tanahnya, tapi belum mendapatkan pembelinya yang cocok."


"Wah benar nih Bang Edi..? Jauh tidak dari lokasi ini..?"


"Ya tidaklah dek Haris, itu masih kelihatan dari sini, yang ada pohon pinang yang berbaris rapi itulah kebun yang mau di jual itu dek Haris.


Memang ada banyak perkebunan buah milik rakyat, yang relatif tidak luas di sana. Nah aku pernah mendengar kabar kalau ada salah seorang pemilik lahan di sana, yang namanya kalau tidak salah Haji Karim, ingin menjual lahannya karena beliau itu tidak lagi bertugas di kota P ini. Beliau itu sudah pensiun dari tugas dan sudah kembali ke daerah kota asalnya. Abang pernah dengar kalau lahan itu memang sudah lama mau dijual."


"Oh ya..? Apa Bang Edi tahu persis kondisi lokasi dan keberadaan pemilik lokasi itu..?"


"Ya tahulah Dek Haris, sangat tahu malah. lokasi perkebunan itu, saat ini ditanami beberapa jenis tanaman seperti Pinang yang rapi berbaris-baris yang kelihatan di sana itu, kemudian ada juga sebahagian lahan lainnya yang juga satu pemilik dengan kebun pinang itu, di buat jadi kebun buah jeruk manis Dek Haris."


'Wah cocok sekali itu, jauh tidak lokasi itu dari batas wilayah pemerintahan Kota ini Bang Edi..?"


"Oh tidak, itu lho Dek Haris pohon pinang yang kelihatan dari sini itu, itulah lokasinya.


Justru bahkan tanahnya itu berbatasan dengan tapal batas wilayah antara Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah kita ini dek Haris, dan kalau tidak salah sebahagian besar lahannya itu masih berada di pinggir jalan besar ini, karena model tanahnya itu leter L."


"Oh begitu ya. Lalu ada berapa luas tanahnya yang mau di jual itu Bang..?"


"Seingat Abang kalau tidak salah, antara 6 atau 7 hektar begitulah Dek Haris."


"Wah kalau memang ada segitu, sudah cukup luas itu Bang kalaupun harus dibuat hotel berbintang. Kalau begitu coba Abang hubungi siapa tadi namanya, Haji Karim ya..? Siapa tahu memang ada rezeki kita di sana."


"Baik, siap Dek Haris, nanti akan Abang cari tahulah soal itu, amanlah itu. Sepertinya memang belum ada kok yang membeli lahan itu.


Sudah cukup lama juga sih lahan itu sebenarnya ingin dijual, tapi ya dengan keadaan ekonomi yang merosot seperti sekarang, belum ada peminatnya Dek Haris.


Abang yakin nanti begitu kita hubungi pemilik lahan itu dia akan sangat senang sekali mendengarnya."


"Bagus itu Bang Edi. Mungkin rezeki kitalah itu, kalau begitu."


'Ya bisa jadi, karena dek Haris inikan rezekinya sangat luar biasa ini he..he.."


'Wah Bang edi ha..ha.. Alhamdulillah. Tenang saja Bang Edi, kalau nanti lokasi itu kita dapatkan, Bang Edi pun pasti akan mendapat bahagian komisi juga."


"Sebenarnya kalau Abang sih, tidak terlalu bengharaplah soal itu Dek Haris, seperti kita ini orang jauh saja.


Apa yang dek Haris berikan selama ini, itu saja sudah lebih dari cukup bagi keluarga Abang. Apalagi sekarang Putri kita yang bernama si Julia kan juga bekerja di Hotel kita."


"Nah makanya itu Bang, kalau nanti hotel ini sukses, kita akan persiapkan Putri kita Julia itu, agar bisa berkarir lebih tinggi lagi, kalau bisa agar dia nanti sampai menjadi manager di salah satu Hotel milik kita.


Hotel kita bakalan semakin banyak nanti kita bangun, bila perlu kita bangun di mana saja kita ada tempat, di daerah baru mana saja kita dapat lokasi, kita bangun hotel kita disana nanti."


"Waduh, terima kasihlah dek Haris, itulah yang memang Abang dan keluarga harapkan, agar Putri kita Julia bisa sukses beroleh cita-citanya."


Istri Edi yakni Nelly dan putranya Gunawan yang memang sedang ada di tempat itu, begitu senang mendengar pembicaraan Haris dan suaminya.


Nelly merasa putrinya sudah sangat berpeluang benar-benar jadi Manager hotel, jika sudah Haris yang mengatakannya demikian.


Waktu terus berjalan, mereka semua menikmati kebersamaan di tempat itu dalam suasana yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Setelah sampai pada pukul 03.00 sore, HP milik Haris berdering dan menunjukkan kalau dokter Shasmita yang merupakan istrinya, telah menghubunginya untuk pergi berbelanja membeli segala keperluan Linda dan membeli apapun yang diinginkannya.


Mendapati panggilan itu Haris segera berpamitan kepada Edi sebab berniat beranjak pulang dari sana.


"Bang sebenarnya Haris masih ingin berlama-lama di sini, tapi seperti yang Haris katakan sebelumnya, Haris akan berada di sini sampai pukul 03.00 sore, atau sampai Nyonya sudah menghubungi. Sekarang Nyonya besar sudah menghubungi barusan untuk pergi berbelanja ha..ha..ha.


Bagaimana apakah Bang Edi dan Kakak ingin ikut pergi berbelanja..? Ayo kita pergi bersama.!"


"Oh tidak. Tidak usah Dek Haris, lain kali saja. Lagi pula masih ada banyak waktu kok nantinya.


Nanti saja pada saat Abang libur jualan dan tidak buka kedai, baru kita akan pergi."


"Baiklah terserah Abang saja kalau begitu. Kakak, Abang dan juga kamu Gunawan, Om pulang ya..!


Haris pamit pulang sekarang Bang, Kak..!"


"Iya. Iya dek Haris."


"Ayo Wilson dan semuanya, kalian berpamitanlah sama Bang Edi dan Kakak."


"Iya Tuan.


Pak Edi kami semua pamit pulang ya Pak Edi."


"Iya oke, terima kasih semuanya sudah mampir.


Sering-seringlah mampir kemari.


Oh ya, lagi pula nanti jugakan bakal tinggal di sini ya ha..ha..ha, jadi kita bakal sering berjumpa kok nantinya."


"Mudah-mudahan sajalah Bang Edi. Baiklah kalau begitu kami akan berangkat sekarang Bang juga Kakak dan kamu Gunawan."


"Iya Dek Haris."


"Iya Om."


Edi dan Nelly beserta Putra mereka Hendra Gunawan, secara serentak mengiyakan ucapan Haris, yang pamit permisi akan pergi.

__ADS_1


Haris kemudian pergi meninggalkan kedai milik Edi dan mereka akan berjumpa bersama rombongan Shasmita dan para pengawalnya pada titik lokasi yang ditentukan, untuk kemudian pergi bersama ke satu-satunya Mall atau pusat perbelanjaan yang ada di kota kecil itu.


__ADS_2