
Pesta pernikahan meriah yang digelar untuk Very, Nando, Riston, Halim serta Erik dan Amanu itu, segera usai dan keenam pasangan itu, menempati kamar hotel yang telah disediakan oleh pihak manajemen hotel Nurul Diana Haris_14, bagi mereka.
Mereka akan bermalam di sana dua malam kedepan, kemudian masih dengan fasilitas dari Haris mereka akan pergi honeymoon ke pulau B atau yang biasa disebut sebagai Pulau Dewata.
Disana pun mereka telah disambut dengan fasilitas penginapan berikut segala akomodasi dan segala hal yang mereka butuhkan, mereka menginap di hotel yang merupakan bahagian dari unit usaha hotel mewah, milik korporasi Kaya dan Jaya Bersama group yang telah melakukan ekspansi usaha ke beberapa wilayah yang tersebar di negeri ini, di mana Haris merupakan pemegang saham terbesarnya.
Keenam pasangan itu benar-benar merasa sempurna sebagai seorang raja dan ratu, dimana mereka bisa menikmati indahnya hidup yang dibarengi berbagai fasilitas mewah, yang merupakan bentuk perhatian Haris kepada kepada mereka.
Sementara itu Haris dan anggota keluarganya yang lain, telah pergi ke desa S dan menginap di sana, sebab Villa mereka yang berada di desa P sedang diatur dan ditata sedemikian rupa, guna persiapan pernikahan Haris bersama dokter Shasmita, yang akan di gelar di tempat itu seminggu yang akan datang.
"Bos Haris..!"
"Ya. Ada apa Bos Darman.?"
"Kemana Bos Haris akan pergi honeymoon.?"
"Kenapa menanyakan hal itu Bos Darman.?"
"He..heh bukan apa-apa sih, hanya saja Baik Very, Nando dan yang lainnya kabarnya honeymoon nya bakal ke pulau Dewata bukan.? Sementara kita disini tidak ikut dan tidak pergi kemana-mana."
"Ha..ha jadi Bos Darman mau pergi honeymoon juga..? Makanya menikah lagi saja"
"Eeeehhhh..! Bukan begitu, tetap saja kalaupun akan pergi, ya hanya bersama dengan keluarga saja, tidak harus kawin lagi dong Bos Haris."
"Darman temanku, kenapa tidak kau bilang saja kalau memang kau ingin berlibur ke Pulau Dewata juga.? Itu semua bisa diatur kalau kau mau, toh di sana kita juga memiliki unit usaha perhotelan. Ada beberapa hotel kita juga di sana, tinggal Bos Darman saja mau pergi ke mana."
"Ya sebenarnya aku inginnya tidak harus ke tempat itu juga sih teman.! Aku hanya ingin ke mana kau pergi saja nantinya, agar aku di ikutkan."
"Oh ya sudah kalau begitu, nanti kita lihat saja bagaimana rencana atau kabar dari keluarga kita, tapi Bos Darman yakin nih mau ikut.? Bagaimana kalau misalnya liburannya akan ke luar negeri.?"
"Iya nggak apa-apa. Ke luar negeri pun kalau bersama Bos yang juga teman baikku ini, luar negeri itupun pastinya akan jadi seperti di negeri sendiri kok. Semua pastinya bakalan terjamin ha..ha..ha."
"He..he.. ya sudah kalau begitu, bersiap-siap saja. soalnya beberapa saat yang lalu sempat ada pembicaraan kalau mungkin kita akan pergi ke Jepang, karena berhubung di sana juga ada sedikit urusan yang terbilang cukup penting terkait Rumah Sakit kita, jadi ya sangat mungkin sekali itu kalau kita akan melakukan perjalanan ke Jepang."
"Bener nih bos Haris.?"
"Benar lah teman, masa aku membohongimu sih. Sampaikan juga kepada teman kita si Jhon, supaya dia juga bersiap-siap.
Oh ya dia ke mana ya, kok tidak kelihatan batang hidungnya..? Biasanyakan selalu bersama Bos Darman."
"Oh hari ini dia pergi, sejak pagi-pagi sekali tadi, ke wilayah Timur, katanya sih masih ada tugas yang sempat tertunda sebelum hari libur akhir pekan kemarin, jadi dia mau memastikan hal itu supaya segera diselesaikan oleh anggotanya hari ini."
"Oh baguslah, jadi tak ada yang perlu dirisaukan, kita khawatirnya kalau dia sakit atau sempat kenapa-kenapa saja."
"Enggak kok, tadi kami juga sempat berjumpa sebelum dia berangkat kerja, dia juga sempat menanyakan kenapa aku tidak pergi hari ini.
Ya aku katakan saja, kebetulan pekerjaan kami juga sedang luang di perkebunan sawit kita, di samping itu Fauzan dan Pak Samsul juga sangat bisa diandalkan."
"Hmm....! Begitu rupanya, jadi bagaimana.? apa kegiatan kita hari ini.?"
"Ya terserah Bos Haris sajalah mau apa."
"Oh ya sudah, kalau begitu kita membawa anak-anak rekreasi ke wahana waterboom saja ya. Katakan pada orang rumahmu, supaya bersiap-siap aku juga akan mengatakan pada istriku agar mereka berkemas, kita isi hari ini dengan pergi ke waterboom saja membawa anak-anak, bagaimana.?"
"Sip kalau begitu dah."
Darman pun kemudian tersenyum lebar, dia segera bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Villa hunian milik Haris, yang ada di desa itu.
Tidak lama setelah Darman pergi, Diana dan juga Shasmita yang memang telah selesai dari urusannya di Rumah sakit hari itu, mendatangi Haris yang duduk di sebuah pondok yang berada di taman Villa miliknya.
"Eh Adek Diana dan Shasmita, dek Kirana kemana..?"
"Oh dek Kirana tadi sedang menemani Mama mengobrol di dalam.
Darman barusan pergi ya Bang, cerita apaan tadi.?"
"Bukan apa-apa dek, kami hanya sedang bercerita tentang si Jhon yang hari ini pagi-pagi sekali telah pergi ke wilayah Timur, sedangkan Darman sendiri katanya pekerjaan di perkebunan sedang lapang, jadi tidak begitu ada yang perlu diurus, karenanya dia hanya menitipkan urusan disana kepada Fauzan dan Pak Samsul saja untuk mengurus segalanya.
Selain itu tadi Abang sempat mengatakan kepadanya kalau akan mengajak istri dan anak-anaknya ke Wahana Waterboom, kalian siap-siaplah dek biar kita berangkat bersama. Ya hitung-hitung untuk membahagiakan Darman dan anak-anaknya, sekalian juga kita agar bisa sedikit menyegarkan pikiran."
"Ya sudah, kita begini saja sudah bisa langsung berangkat kok Bang."
"Oh begitu, tapi sampaikan juga dong sama dek Kirana."
"Itu ada pengawal kita, biar aku katakan pada mereka saja untuk menyampaikan pada Kirana Bang, lagi malas naik ke atas hanya untuk menyampaikan itu."
"Boleh juga, yang penting pesannya sampai."
Diana segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekati pengawal wanita yang memang selalu stand by berjaga di sekitar Diana, Kirana maupun Shasmita dari jarak tertentu. Pengawal itu sendiri yang melihat Diana sedang berjalan menuju kepadanya, segera mendatangi Diana dengan gerakan yang lebih cepat, kemudian Diana menyampaikan pesan agar Kirana bersiap-siap, sedangkan Shasmita tinggal bersama dengan Haris duduk di pondok itu.
"Dek..! Mengenai urusan rumah sakit kemarin, yang mau ke Jepang itu sudah bagaimana ceritanya.?"
__ADS_1
"Oh iya. Itu semacam MOU saja sih Bang, buat kesepakatan kerjasama antara Rumah Sakit kita dengan pihak mereka, karena bagaimanapun beberapa alat-alat medis itu memang sengaja kita datangkan dari supplier Jepang dan juga edukasi cara pemakaiannya memang diajarkan oleh teman-teman sejawat dokter yang berasal dari rumah sakit Jepang itu lho Bang."
"Begitu ya.? Lalu Adek nggak ada rencana dalam waktu dekat ini pergi ke Jepang.?"
"Iya sebenarnya sih penting juga sih Bang, hanya saja kan kita bakalan married, jadi bagaimana nanti saja deh, kita tunda atau bagaimana nanti."
"Ya itu tidak masalah, pernikahan jangan jadi hambatan untuk melakukan MOU itu, atau bagaimana kalau kita honeymoon nya ke Jepang saja, ke negeri Sakura..?"
"Wah indah sekali tapi kan kita banyak Bang, bagaimana dong..? Apa bisa kalau kita akan berangkat semuanya.?"
"Apa salahnya.? Kita pesan saja langsung satu pesawat untuk pergi ke sana."
"Waduh itu sudah berapa duit Bang.?"
"Ha..ha..ha Tenang saja kita ini keluarga Sultan lho dek, jarang-jarang lho kita menghabiskan uang untuk diri kita sendiri seperti itu.
Ya sudah kalau begitu sudah diputuskan kita nanti akan pergi ke Jepang saja."
"Siapa yang mau ke Jepang Bang.?"
Diana yang telah datang segera menanggapi pembicaraan antara Haris dan Shasmita yang sempat didengarnya itu.
"Oh itu rencana Abang setelah selesai pesta pernikahan kita ini, kita liburan ke Jepang saja dek, kebetulan Rumah Sakit kita jugakan perlu mengurus sesuatu, semacam hubungan kerjasama antara Rumah Sakit milik kita dengan Rumah Sakit serta dokter-dokter dari Jepang.
Pihak dokter Rumah sakit kita serta Pihak dokter Rumah sakit berikut supplier penyedia alat-alat medis yang selama ini sengaja kita datangkan dari sana, juga sudah sepakat untuk membuat kerjasama yang lebih erat lagi dalam berbagai bidang yang berkenaan dengan kesehatan dan juga pengobatan medis.
Bagaimana, setuju enggak dek Diana kita liburan kesana.?"
"Setuju saja Bang, kalau memang kita semua bisa ikut, jangan kita saja dong yang berangkat.
Ayah, Ibu, Papa, Mama dan juga Papi serta Mami, termasuk beberapa anggota keluarga kita lainnya harus ikut juga dong."
"Iya. Abang juga maksudnya begitu.
Itu tadi yang Abang katakan, kita semua sama-sama pergi ke Jepang saja. Jadi kita pesan saja nanti satu pesawat khusus untuk kita sekeluarga bagaimana.?"
"Wah kalau begitu Diana setuju saja tuh."
"Ya sudah, nah tuh dek Kirana sudah datang kalian sampaikanlah kepadanya. Kalian bahas dan bicarakan saja semuanya, apa-apa yang sudah kita bahas tadi."
"Memangnya lagi bahas apaan Bang..?" Kirana yang baru datang segera menyahuti ucapan Haris barusan, yang sempat dia dengar.
"Oh ini lho dek Kirana. Abang berencana setelah kita selesai melangsungkan pesta pernikahan yang akan digelar minggu depan ini, kita semua akan pergi liburan ke Jepang saja, negerinya si Naruto itu lho dek."
"Iya sebenarnya sih masih ada urusan Rumah Sakit kita juga disana, itu salah satu alasannya dan alasan kedua yang paling penting yaitu kita liburan saja, masa kita nggak pernah liburan ke luar negeri begitu.?"
"He..he Abang pengen datang ke negeri Jepang mau jumpa si Naruto ya Bang..?"
"Kalau mau dibilang begitu bisa juga sih hehe.. masa kita cuma bisa menonton dari televisi saja tuh negerinya si Naruto itu."
"Tapi bagaimana dengan barisan orang tua kita..? Masa mau di tinggalkan di sini Bang..?"
"Enggak juga sih dek, justru rencana Abang kita semua ikut pergi begitu lho. Abang pesan satu pesawat khusus untuk kita semua saja, nanti."
"Wah satu pesawat komersil kursinya banyak lho Bang."
"Iya kita sekeluarga juga kan banyak orangnya, belum lagi mungkin Jhon dan Darman serta beberapa anggota keluarganya juga bakalan ikut bersama kita, selain itu pengawal kita juga kan banyak dek.
Nah itu saja sudah mencapai ratusan tuh."
"Kalau begitu, kalau memang Abang sudah menetapkan demikian, Kirana tentunya hanya akan mengikuti Abang saja."
"Artinya kita semua telah sepakat, jangan lupa nanti dek Kirana sampaikan sama Papa dan Mama, begitu juga dek Shasmita sampaikan juga kepada Papi dan Mami.
Adek Diana juga beritahukan kepada Ayah dan Ibu bahkan kak Butet dan kak Yunita diajak juga dong, karena bagaimanapun juga, kita semua belum pernah ke Jepang kan dek.?"
"Sudah tenang saja Bang, urusan sampai menyampaikan nanti Diana ahlinya he..he..he. Jadi bagaimana sekarang, kita jadi nggak nih ke waterboom-nya.?"
"Jadi dong, apalagi Darman dan istrinya mungkin sudah selesai berkemas mau berangkat, nggak lucu juga kan, kita suruh mereka bersiap-siap habis itu nggak jadi.?"
"Hmmm..! Kalau begitu Kirana mau dandan sedikit lah Bang biar nggak berselemak kali, seperti mamak-mamak rempong He..he..he."
"Sudah. Begini saja sudah cantik kok dek istri Abang."
"Ah masa sih Bang.?"
"Iya beneran lho."
"Iya walaupun begitu Kirana tetap mau dandan sedikit ah, karena Kirana Ini kan bagaimanapun akan membawa nama besar Abang si Tuan Haris yang terhormat, sebagai suami Kirana.
Jadi istri Abang itu harus super cantik, harus sempurna dan menawan."
__ADS_1
"Ah kalau begitu, Kakak juga mau dandan yang cantik ah."
Diana yang tadinya mau tampil biasa saja, akhirnya mengurungkan niatnya dan ikut berdandan.
"Eh..! Shasmita juga kalau begitu, mau berdandan saja ah, walaupun cuma masih calon istrinya Abang."
"Ha..ha..ha..!"
[Suara tawa]
Mereka semua yang ada di pondok itu tertawa begitu bahagia, tak lama sesudahnya ketiga wanita yang merupakan wanita terkasih yang mengisi kehidupan Haris itu, segera berhamburan dari sana, untuk merias penampilan mereka masing-masing.
"Haahh...! Sedikitpun aku tidak pernah bermimpi akan memiliki kehidupan seperti ini, apalagi sampai memiliki impian gila untuk memiliki tiga orang istri pada saat yang bersamaan.
Dunia ini memang penuh misteri, segala sesuatunya tidak bisa ditebak dari apa yang dialami saat ini.
Kalau diingat-ingat siapalah aku dahulunya. Bukankah aku tak lebih hanyalah seorang pria yang sama sekali sangat jauh dari kata mapan dan tidak punya apa-apa serta tidak memiliki sedikitpun hal yang bisa membuat aku untuk dihormati oleh orang lain..?
Seorang pria yang bukan siapa-siapa itu hari ini sudah menjadi Tuan Haris yang terhormat, Trilyuner yang memiliki Sistem mewah dan harta berlimpah. Semoga semua hal ini tidak membutakan mataku, kemudian membuat aku menjadi orang yang lupa diri."
[Sistem]
Tuan. Saya yakin Tuan bukan orang yang bisa terperdaya, sehingga menjadi manusia yang terjebak pada prilaku manusia yang lupa diri.
Tuan adalah Tuan Haris yang terhormat, baik sikap perilaku maupun juga keadaannya. Tuan...! sebaiknya Tuan mulai memikirkan untuk menaikkan level sistem pada sistem mewah yang paling tinggi, yakni super mewah. Setelah berada pada sistem itu, Tuan akan bisa memandang dunia ini lebih luas lagi dan akan lebih banyak lagi kesempatan bagi Tuan untuk melakukan hobi Tuan, yakni melapangkan dan membantu serta membahagiakan orang lain."
"Begitukah sistem..? Lalu apakah sistem super mewah itu adalah level paling tinggi dari semuanya sistem.?"
[Sistem]
"Ya itu benar Tuan. Sistem super mewah adalah sistem paling tinggi di kelasnya, Adapun kelas di atasnya sistem tidak bisa memberitahu Tuan masih ada atau tidak, sebab itu akan bergantung pada nasib dan akumulasi penilaian pengawas sistem secara menyeluruh, tentang apakah Tuan sudah bergerak pada tujuan keberadaan sistem yang sesungguhnya atau tidak.
Itu sebabnya kenapa sistem mengatakan bahwa nanti setelah berada pada level super mewah Itu Tuan akan tahu sendiri dan akan bisa memandang dunia ini lebih luas lagi."
"Oh begitu ternyata. Baiklah sistem, tapi untuk menaikkan level sistem butuh 100 ribu poin sistem (PS) sedangkan poinku saat ini pastinya sudah tidak ada dan kalaupun ada itu sama sekali tidak seberapa."
[Sistem]
"Iya itu benar Tuan. Tapi Tuan bisa melaksanakan misi lagi untuk mengumpulkan poin yang dibutuhkan."
"Apa ada misi baru untukku sistem..?"
[Sistem]
"Tentu sama seperti biasa, misi berikutnya adalah hal yang berhubungan dengan apa yang tercetus dalam pikiran Tuan.
Maka misi kali ini adalah membawa seluruh keluarga Tuan berlibur ke luar negeri, sesuai dengan apa yang terlintas dalam pikiran Tuan dan semua kursi pesawat yang Tuan tumpangi harus terpenuhi.
Bila berhasil Tuan akan mendapat hadiah sistem yang lumayan banyak, itu misi yang pertama misi yang kedua Tuan harus bisa mendapatkan seseorang yang bisa Tuan obati dengan kemampuan pengobatan yang Tuan miliki, yakni seseorang yang telah terkena penyakit yang cukup akut dan tidak punya harapan hidup lagi menurut dunia medis, dan orang itu harus yang berada di negeri yang akan Tuan tuju.
Bila Tuan bisa menyelesaikan dua misi ini, maka sistem menjamin Tuan akan segera bisa menaikkan level sistem, ke sistem super mewah dan nanti Tuan akan mendapatkan hadiah sistem yang merupakan poin utamanya yakni sebuah pesawat jet pribadi, yang akan sangat bermanfaat bagi Tuan, untuk bisa melakukan perjalanan antar lintas negara nantinya."
"Wah...wow... haha luar biasa. Rasanya masih saja seperti mimpi, ketika mendengar engkau mengucapkan hal-hal semacam itu sistem, utamanya saat semua itu belum terlaksana tapi melihat semua keberhasilan dan pencapaian yang hari ini aku peroleh darimu, aku yakin poin itu juga akan bisa didapatkan sehingga level sistem nanti akan naik dan semua hadiah poin sistemnya bisa aku peroleh ha..ha..ha."
[Sistem]
"Tenang saja Tuan, bukankah sistem telah mengatakan bahwa sistem ini adalah alat pendukung untuk menjamin bahwa baik Tuan maupun keluarga Tuan akan berada dalam kebahagiaan saja."
"Lagi-lagi kau yang terbaik dari semuanya sistem. Selalunya kau yang terbaik. Semua ini adalah karunia Tuhan yang datang melalui kau sistem, huhh..! tiba-tiba saja aku merasa hari ini semakin cerah sistem ha..ha..ha."
[Sistem]
"Tuan...Tuan dari tadi pagi, hari memang sudah cerah Tuan. itu mungkin hanya karena Tuan mendengarkan sesuatu berita yang membuat Tuan bahagia, oleh karenanya ciptakanlah selalu suasana yang positif di sekitar Tuan, sehingga Tuan bisa menjadi manusia yang paling bahagia kedepannya."
"Ya kau benar sistem, bagaimanapun kebahagiaan itu bukanlah didapat dari unsur di luar diri manusia, tetapi apa yang ada dan mereka tumbuhkan sendiri di dalam hati mereka.
Bagaimanapun juga muara kebahagiaan sejatinya ada dalam hati."
[Sistem]
"Nah itu Tuan tahu."
"Baiklah sistem, kita sudahi sampai di sini dulu bincang-bincangnya, aku akan menyampaikan sesuatu kepada para pengawalku untuk menyiapkan mobil."
[Sistem]
"Baiklah silakan Tuan..!"
Haris segera mengarahkan kepada para pengawal kepercayaannya, untuk mempersiapkan mobil dan beberapa anggota yang akan ikut mengawal perjalanan mereka untuk refreshing ke Wahana Waterboom yang ada di kota P.
Maka seketika pergerakan di Villa Haris semakin intens para orang tua juga bersiap-siap untuk ikut pergi, guna mendampingi dan melihat keceriaan para cucu-cucu mereka yang akan bermain di Waterboom tempat yang akan dituju oleh Haris.
__ADS_1
Hari yang semakin meninggi begitu cerah, namun angin sepoi-sepoi tetap setia menemani, sehingga udara tidak terlalu panas di desa S yang memang masih terbilang asri oleh karena banyaknya pepohonan, serta gunung-gunung yang berada di sekitarannya.
Semuanya indah semuanya cerah, seindah dan secerah kehidupan Tuan Haris.