Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _139 : Keseruan dan juga komitmen Diana dan Kirana


__ADS_3

Melihat gerakan pria yang tidak biasanya dan terkesan terburu-buru itu, para pengawal Haris segera menghalangi pria yang hendak mendekat kepada Haris itu.


Haris lalu melihat dari tempat duduknya, siapa sosok pria yang dihadang oleh para pengawalnya.


"Ridwan Ansori, itu kamu..?"


"Benar Tuan, ini saya."


"Ayo..! Kalian biarkan dia datang kemari, dia adalah orang kita juga adik dari Manager Sudharta."


"Baik Tuan."


Mendengar ucapan dari Haris, dua orang pengawalnya yang sebelumnya sempat memblokir jalan dari Ridwan Ansori, segera menyingkir.


"Maaf tadi kami tidak mengenal Anda, silakan Pak."


"Iya terimakasih."


Ridwan Ansori segera menghampiri Haris setelah lepas dari pemblokiran pengawal Haris.


"Tuan..! Selamat siang Tuan."


"Ya selamat siang juga Ridwan Ansori. Bagaimana kabarmu.?"


"Saya baik-baik saja Tuan. Tidak disangka saya bisa menemui Tuan di sini, ternyata Tuan juga sedang refreshing bersama keluarga disini."


"Ya begitulah Ridwan, apa ada kabar dari Manajer Sudharta.?"


"Sebenarnya tidak ada kabar khusus Tuan, hanya saja memang saya dan Abang ipar masih terus berkomunikasi melalui telepon seluler.


Oh ya Tuan, saya sudah resmi masuk ke dalam bursa calon walikota dan sudah mulai berkampanye turun ke lapangan menjumpai para warga yang akan menjadi pemilih dalam kontestasi pemilihan kepala daerah di Kota P."


"Begitu ya..?


Jadi apa uangnya sudah habis..?"


"Belum Tuan, masih ada cukup banyak."


"Oh begitu.? Kalau nanti memang masih diperlukan lagi hubungi saja Manager Sudharta."


"Baik Tuan. Tapi entah kenapa saya sangat yakin kalau kita akan keluar jadi pemenangnya Tuan."


"Bagus dong. Yang penting kamu nantinya amanah, gunakan kesempatan itu untuk benar-benar menaikkan kesejahteraan rakyat dan memajukan daerah kita."


"Ya tentu saja Tuan. Itu adalah cita-cita saya sejak awal.


Ternyata banyak warga yang tahu kalau Tuan sepenuhnya mendukung saya, entah dari siapa informasi itu mereka dapatkan."


"Oh ya.? Ya sudah biarkan saja, bila perlu kamu tidak perlu ragu untuk menyampaikannya bagi mereka yang belum tahu kalau memang aku mendukungmu."


"Baiklah kalau Tuan memang berkenan demikian."


Cukup lama Ridwan Ansori menemani Haris berbincang-bincang tentang berbagai hal, di salah satu saung yang berada di lokasi Wahana Waterboom itu. Ridwan Ansori baru beranjak pergi setelah anggota keluarga Haris mulai berdatangan.


Sama seperti para pengawal Haris, yang begitu menjaga dan memelihara pandangan mata mereka untuk tidak sampai melihat kepada nyonya besar, yang merupakan wanita penting dalam hidup Haris majikan mereka itu, terlebih dalam keadaan istri Haris yang sedang memakai baju yang basah pula, maka Ridwan Ansori juga bersikap demikian. Dengan menundukkan pandangannya dia segera berlalu setelah berpamitan dengan Haris.


"Itu siapa Bang.?"


Diana tertarik untuk menanyakan sosok Ridwan Ansori yang baru saja pergi.


"Oh itu adik ipar Manager Sudharta yang kemarin datang menemui Abang, untuk mendiskusikan tentang dirinya yang mencalonkan diri sebagai calon walikota di kota P."


"Oh jadi itu orang yang Abang temui di pondok kemarin saat kami sedang sakit.?"


"Ya itulah orangnya dek. Dia bercita-cita untuk memperbaiki keadaan di kota P jadi ya karena dia punya niat baik, maka Abang membantunya sebisanya."


"Begitu rupanya."


"Iya. Bagaimana seru nggak permainannya.?"


"Seru Bang, cukuplah bikin jantung berdebar ha..ha..ha."


Senyum di bibir Diana yang cantik tampak indah mengembang mendamaikan hati Haris yang sedang memandangnya.


"Iya Bang, adrenalin mengalir deras, kami semua merasa begitu puas dan semua uneg-uneg yang ada di kepala serasa lepas berterbangan, jadi kepala rasanya plong hari ini."


Kirana juga menjelaskan apa yang dia rasakan kepada Haris, begitu pula Shasmita tak mau ketinggalan menjelaskan pengalaman yang baru saja dia rasakan barusan.


Ketiga sosok wanita ini memang selalu akan berlomba untuk menarik perhatian dan juga respon dari Haris, yang sangat mereka kagumi itu.


"Berarti tujuan kedatangan kita kemari itu telah memenuhi target, kalau kalian merasa bahagia. Ayo kalian mau ke ruang ganti dulu, atau mau istirahat saja terlebih dahulu.? Ini ada beberapa makanan yang tadi kami beli dari kantin."


"Ah kami ke ruang ganti saja lebih dulu Bang. Nggak enak juga memakai pakaian basah begini, ada begitu banyak laki-laki di tempat ini."

__ADS_1


"Kalau begitu pergilah."


Kedua istri Haris dan Shasmita calon istrinya, beserta para pengawal wanita yang lain termasuk Siti dan juga Butet dan Yunita yang memang juga ikut, bersama Imel dan juga Nisa putri mereka, segera pergi ke lokasi pemandian khusus wanita untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Cukup butuh waktu yang lumayan lama, baru rombongan para wanita itu muncul dan datang kembali ke saung tempat keberadaan Haris.


"Ayo semuanya duduk di sini, atau kalau tidak muat, masih ada beberapa saung kosong kok di sekitaran tempat ini."


"Iya ayo istriahat, pasti sudah pada lumayan capekkan setelah beberapa jam bermain.?"


Diana ikut mengarahkan yang lainnya.


"Iya aku mau ngemil nih sudah laper Kak Diana."


Kirana istri kedua Haris merespon pertanyaan dan arahan dari Diana.


"Ini ada gorengan juga lho dek, juga ada Mie yang siap seduh nih."


"Iya Bang, Kirana akan makan mie dan gorengannya hehe." Kirana yang mendapati penawaran dari Haris itu segera mengambil gorengan dan meminta agar produk mie kemasan yang siap seduh itu, diambilkan air panasnya ke kantin oleh para pengawal wanita yang berada bersama mereka.


Tak lama sesudahnya, kakek nenek yang sedang momong cucunya masing-masing juga segera berdatangan dan bergabung pada kelompok Haris. Semua orang tampak bahagia semua orang begitu bersemangat dan semua orang terlihat menikmati waktu kebersamaan mereka.


Untuk beberapa saat lamanya mereka bercengkrama dan berbagi cerita di saungnya masing-masing. Saat hari semakin sore, setelah cukup lama beristirahat di gajebo yang tersedia di sana, keluarga Haris kemudian bergegas dan berkemas untuk kembali pulang ke hotel milik mereka yang berada di kota P, yang memang letaknya tidak jauh dari lokasi wahana itu, untuk kemudian semuanya akan menginap di Hotel milik keluarga Haris.


"Kapan-kapan kita datang lagi ya Bang ke tempat ini, soalnya seru juga sih."


"Ya kita akan lebih sering datang kemari kalau memang kalian merasa suka, apalagi tadi Abang sempat diberikan kartu spesial oleh pengelola saat kita hendak keluar, sebagai pengunjung istimewa nih sebutannya.


Tapi bukannya tadinya kamu yang paling takut untuk mulai bermain dek Kirana.?"


"Ya itukan karena Kirana tidak pernah mencobanya saja Bang.?"


"Oh lalu setelah mencobanya ketagihan begitu.?"


"Ih Abang kenapa sih, kalau memang tidak boleh ya sudah Kirana tidak akan usah ikut ke waterboom lagi."


"He..he jangan merajuk Abang hanya sedang menggodamu saja, atau kita buat saja waterboom sendiri bagaimana..?"


"Ah kalau kita punya sendiri nanti kurang seru Bang, kalau memang Kirana masih dibolehkan ke waterboom, ya ke wahana waterboom milik orang lain saja."


Haris lalu membalik ke belakang dan menarik lembut kepala Kirana dan menciumnya, untuk mendamaikan perasaannya yang terlihat sempat merasa seolah di bully tadinya, saat di goda oleh Haris.


Ciuman itu menghangatkan hati Kirana dia tahu Haris hanya sedang menggodanya dan dia tadinya juga merespon ucapan Haris dengan nada yang seolah merajuk, hanya karena hendak bermanja saja.


Diana berdehem dan bertanya dengan nada menohok.


Haris tersenyum lalu mencium dua wanitanya yang lainnya, sehingga ketiga wanita itu tertawa begitu bahagia.


Sama seperti biasa Anton sama sekali seolah tidak tahu apa-apa dan tidak melihat sedikitpun pada Haris dan juga ketiga sosok wanita yang dekat padanya itu.


Mobil terus meluncur sehingga sudah mendekati lokasi hotel milik Haris.


"Tuan kita sudah hampir sampai, apa kita langsung masuk ke plataran hotel atau Tuan masih akan pergi ke suatu tempat barangkali.?"


"Kita langsung masuk saja Anton."


"Baik Tuan."


Rossa yang mengetahui Haris dan keluarganya akan datang dari panggilan yang dilakukan oleh pengawal wanita istri Haris, segera turun ke lobby menyambut sang Tuan besar yang telah turun dari mobilnya dan memasuki lobby hotel.


"Selamat petang Tuan."


"Eh kamu disini Rossa.?"


"Iya Tuan. Saya tadi diberitahukan oleh satuan pengaman kita yang ada disini yang dihubungi oleh pengawal Nyonya."


"Begitu rupanya.? Bagaimana apa semuanya baik-baik saja..?"


"Semuanya baik-baik saja Tuan, tidak ada masalah."


"Baguslah."


Haris beramah tamah dengan Rossa, manager hotel yang merupakan bawahan dan anak didik Kirana istrinya, yang merupakan mantan manager di hotel itu.


"Nyonya..!"


Rossa menyapa Diana dan juga Kirana.


"Hei..! Panggil aku kakakmu saja Rossa."


"Itu..? Bagaimana mungkin Nyonya.?"


"Apa aku terlalu tua untuk kau panggil kakak Rossa.?"

__ADS_1


"Mana mungkin begitu. Bukan seperti itu Kak.. Nyonya..! Ma.. Maksud saya mana mungkin saya berani."


"Ha..ha..ha sudahlah Rossa jangan gugup begitu. Kau ini bukan orang lain bagiku, kau merupakan mantan asisten yang aku didik langsung, sehingga bisa duduk di posisimu saat ini.


Panggil aku sebagai kakakmu saja."


"Baiklah Kak."


"Nah begitu lebih baik."


"Tuan.. Nyonya...!"


"Tuan..Nyonya...!"


Dua orang wanita cantik, dengan senyum ramah yang hangat menyapa Diana, Kirana dan juga Shasmita.


"Ya. Ini bukannya Yulia asisten dari Wina dari hotel kita yang ada di kota S..?


Dan ini Namira asisten si Rossa, di hotel ini bukan..?"


"Iya benar Tuan. Rupanya Tuan masih bisa mengingat saya meski sudah lama tidak bertemu."


Yulia asisten Wina dari Hotel Diana beach resort yang berada di kota S merasa begitu senang, ternyata Haris bisa mengingat namanya.


"Saya sangat senang mendapati fakta, kalau ternyata Tuan masih bisa mengingat nama saya, itu kebahagiaan tersendiri bagi saya."


"Ya. Kamu bekerja sangat baik tentu aku ingat, lalu sedang apa disini.?"


"Saya ada urusan ke kota G Tuan dan karena hari akan malam, saya memutuskan untuk menginap disini dan menghubungi Manager Rossa dan Namira teman saya sesama asisten."


"Wah bagus itu. Sebaiknya kau ajak dia keliling selama masih berada di kota P ini Namira. Ada banyak tempat yang bagus disini.


Oh ya Anton..!"


"Saya Tuan."


"Nanti malam kau bawa Yulia dan Namira berkeliling kota P ini dan bawa seorang lagi temanmu, dari satuan pengaman inti kita, siapa tahu nanti ada kecocokan diantara kalian hehe."


"Tapi Tuan...?"


"Tidak ada tapi-tapian ini perintah."


"Siap Tuan."


"Ya sudah, kami akan ke lantai atas, kalian bicaralah disini terlebih dahulu."


Haris dan rombongannya segera pergi menuju lift khusus para petinggi hotel, Rossa kemudian tersenyum kepada Namira dan juga Yulia yang merupakan dua asisten Hotel milik Haris dan tersenyum melihat Anton yang begitu gugup dihadapan dua wanita cantik, tapi tidak bisa menolak perintah dari Tuan besar.


"Namira dengarkan perintah Tuan, kalian pergilah berkeliling kota, malam ini kau bebas tugas pergilah bersama Mas Anton dan Asisten Yulia. Malam hari begini ada begitu banyak jajanan kuliner yang ditawarkan di daerah pusat kota, sebaiknya kalian berkeliling di sana."


"Baik Bu Manager."


Rossa kemudian tersenyum kepada ketiga orang itu dan berlalu dari sana, menuju ke ruangan pribadi miliknya dan menghubungi bawahannya agar segera menyiapkan hidangan makan malam bagi keluarga Tuan besar.


Saat telah selesai makan malam, Haris bermaksud hendak keluar untuk keluyuran menikmati suasana kota P di malam hari bersama Darman.


"Dek Diana dan Kirana juga Shasmita, malam ini Abah akan pergi bersma Darman untuk minum kopi di luar ya..!"


Mendengar ucapan Haris Kirana segera datang mendekat dan bermanja mengusap dada Haris yang bidang dan kekar itu.


"Bang..!"


"Ya. Ada apa dek Kirana.?"


"Beberapa hari ke depan Abang akan menikah dan aku bersama kak Diana berkomitmen nanti untuk memberikan akses penuh bagi dek Shasmita satu bulan penuh kedepannya.


Artinya kami akan menjauh dan membiarkan dek Shasmita menjalani hari-hari indahnya bersama Abang, satu bulan penuh. Jadi beberapa hari ini adalah waktu yang tersisa untuk kami sampai bulan depannya, karenanya kami akan menyibukkan Abang beberapa hari ini untuk itu."


Haris kemudian menjadi lebih paham, kenapa istrinya Kirana tiba-tiba bertingkah seolah seperti kucing itu.


"Kenapa harus buat peraturan begitu.? Kalian tahu Abang cukup kuat kok untuk memanjakan kalian bertiga."


"Ya itu adalah bentuk keadilan buat dek Shasmita nantinya.


Intinya Abang jangan lama-lama pulangnya malam ini jangan sampai lewat jam 10, siapa juga yang menyuruh Kirana dicium tadinya, jadi pengen dimanja dong akunya."


"Iya deh. setengah sepuluh Abang sudah pulang."


"Baik. Janji harus di tepati."


Kirana lalu melepas Haris dan tersenyum penuh kemenangan dan memegang erat tangan Diana. Keduanya lalu tertawa bahagia di hadapan Shasmita yang salah tingkah, karena merasa pembicaraan itu masih sangat tabu baginya.


Haris dengan bergeleng kepala lalu meninggalkan ketiga wanitanya dan segera menghubungi Darman untuk keluar bersamanya mencari warung kopi sambil menikmati suasana kota P di malam hari.

__ADS_1


__ADS_2