
"Oh ya Bang Kules, ada berapa orang sekarang yang biasa menjadi langganan minum di tempat ini...?"
"Iya nggak tentu juga sih dek Haris, karena memang selain kedai kopi di desa kita inikan cukup banyak juga, kemudian ya orang yang jauh tentu malas untuk datang kemari.
Kalau harus dihitung, yang merupakan langganan tetap disini paling sekitar 40 oranglah dek Haris, kalau tidak ada acara pesta atau keramaian.
Ya segitulah, sekitar 40 oranglah setiap harinya, kadang 30 orang, kenapa rupanya dek Haris...?"
"Oh nggak apa-apasih Bang, maksud Haris Abang hitung aja yang 40 orang itu, berapa biaya minumnya berikut tambahannya gorengannyalah tiga gorengan/orang.
Itu kira-kira berapa duit itu Bang...? Biar nanti Aku kasih uangnya sama Bang Kules, jadi teman-teman yang datang itu nanti sebanyak 40 orang gratis minumnya di sini, tidak perlu membayar."
"Wah berita bagus lagi ini, jadi kita bisa terus minum gratis walau Bos Haris sedang tidak berada atau tidak datang ke tempat ini."
Pengunjung kedai kopi yang ada di dekat Harris dan mendengar pembicaraannya bersama Kules, ikut menyambar masuk dalam perbincangan.
"Bos Besar memang betul-betul Dermawanlah, mantap 100%."
"Aduh terima kasihlah Bos Haris, kalau begitu mulai besok aku nggak perlu bayar lagi minum di sini."
"Iya, mulai besok walaupun tidak punya uang misalnya karena hari hujan atau belum mengumpul getah karet, kita masih bisa minum gratis dan makan gorengan ya...?
Memang betullah Bos Haris ini sangat memikirkan orang-orang susah, seperti kita ini."
Para pengunjung yang ada di kedai itu menjadi heboh, mereka merasa terkejut dengan ucapan yang disebutkan oleh Haris.
Adapun Kules juga tidak kalah senangnya, dia merasa bahwa usul dan niat baik Haris itu merupakan jaminan pendapatan yang stabil baginya.
Selain itu tentu pendapatannya akan meningkat, karena orang-orang tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membayar minuman dan gorengan, yang tentunya lebih mudah bagi orang orang itu untuk membeli rokok di kedainya.
Karenanya dengan pikiran dan jiwa dagangnya Dia langsung saja berinisiatif untuk melengkapi jenis rokok yang ada di kedainya dengan merk rokok yang biasa dan sering di konsumsi oleh warga desa yang merupakan langganan tetapnya.
"Bos Haris nggak bisakah ditambah lagi dengan rokok tiga batang sehari begitu misalnya, Bos...?"
Usul salah seorang warga yang cukup berumur yang ada di tempat itu.
"Wah bapak ini sudah dikasih hati minta jantung lagi, malah minta rokok pula lagi wkkwkw."
"Wah penjajah minta tanah ini kalau begini."
Ucap yang lainnya.
Warga yang lain mulai gaduh dan tertawa seperti merendahkan pria tua tersebut, yang bagi mereka seperti tidak tahu malu itu.
Mendengar dan menyikapi hal itu mulut Haris tersenyum lebar memperlihatkan senyuman indah yang meneduhkan jiwa setiap orang yang memandangnya.
Senyum itu juga membuat hati semua orang menjadi damai dan tenang.
"Ya..! Tenang saja Pak
Kalau begitu selain minuman dan gorengan, aku juga akan memberikan jatah rokok sebanyak 3 bungkus untuk satu minggu bagi setiap satu orang dari yang 40 orang itu.
Artinya satu bungkus itu untuk dua hari, tadi Bapaknyakan mintanya 3 batang/hari, maka saya kasih satu bungkus untuk 2 hari. ya hitung-hitung bagi-bagi rezekilah.
Mudah-mudahan semua orang bisa ikut merasakan bahagia."
"Hore.. hore.. hore...!"
Langsung saja suara teriakan terdengar melengking dan keras dari kedai Bang Kules, yang membuat warga desa yang kebetulan melintas dan juga berada di sekitar kedai itu, menjadi terkejut dan tercengang, serta bertanya-tanya tentang apa gerangan yang terjadi di sana.
"Apa hora hore...? Tadi waktu aku kasih usul sama nak Haris, kalian nampaknya sangat jijik sekali melihatku dan begitu memandang aku dengan pandangan yang rendah.
Sekarang setelah usulku di setujui, kalian pula paling keras teriak hora hore hora hore."
Pria tua itu menjadi kesal melihat reaksi beberapa pengunjung di sana setelah Haris mengabulkan permintaan yang merupakan idenya.
Semua orang hanya bisa tersenyum tak beraturan mendengar dan menyimak apa yang disebutkan oleh pria tua itu, yang memang benar demikian adanya.
"Sudahlah Pak biarkan saja, bagaimanapun kebahagiaan hari ini, jangan kita rusak dengan perselisihan dan pertentangan.
Bos Haris sudah berkenan dan bermurah hati memberikannya, niatnya supaya kita semua bahagia, karenanya marilah kita semua berbahagia merayakannya dan berterima kasih atas kemurahan hati Bos Haris."
Kules pemilik kedai itu angkat bicara untuk mendamaikan situasi, Dia khawatir Haris menarik kembali niatnya, karena melihat hal itu terjadi, yang tentunya Kules khawatir juga sangat tidak menginginkan kabar bahagia hari itu, akan berakhir dengan naas berupa pembatalan.
"Ya apa yang dikatakan oleh Bang Kules itu adalah benar adanya, Aku memberikan hal ini dengan niat adalah untuk membuat banyak orang bahagia, tentunya aku tidak berharap bantuan ini menjadi sumber pertikaian apalagi sampai menjadi bibit permusuhan, jadi lupakanlah perselisihan pendapat itu dan nikmati saja bantuannya.
Oh ya Bang, mungkin sepertinya Bang Kules harus sudah mulai mendata pelanggan yang berjumlah 40 orang itu.
__ADS_1
Kalau tidak di data Abang akan pusing sendiri nantinya mengingati siapa saja orangnya.
Selain itu yang di data sudah bisa mulai mengambil rokoknya, kalau memang ada sejak dari sekarang, 3 bungkus untuk satu minggu per/orang.
Boleh diambil hari apa saja selama dalam minggu itu dan hanya bisa mengambil 3 bungkus berikutnya sesuai jatah, pada minggu depannya."
Setelah Haris mengucapkan itu, semua pengunjung yang ada di sana langsung mengerumuni Kules dan minta untuk ditulis serta dicatat namanya, sebagai salah satu orang yang berada pada data 40 orang yang disubsidi bantuan oleh Haris itu.
"Harap tenang semuanya, semua yang ada di kedai saat ini tidak sampai berjumlah 40 orang, artinya semua orang bakal mendapat jatah, jadi tidak perlu berdesak-desakan, kembalilah ke tempat duduk kalian semula.
Selain itu untuk rokok, bagi yang belum ada rokoknya saat ini, tolong tuliskan nama rokok kalian dan akan saya belanjakan nanti, sehingga pada waktu sore nanti sudah bisa mulai diambil."
Kules seketika menjadi begitu sibuk pada hari itu, suatu hal yang tidak pernah dialaminya sebelumnya, setelah beberapa belas tahun membuka kedai kopi miliknya.
Dia memandang kepada Haris dengan tersenyum dan Haris juga membalas dengan senyuman.
Setelah semuanya selesai didata dan menjadi tenang, Haris kemudian mendekati Kules dan menyerahkan uang sejumlah 20 juta.
Jumlah uang itu sama seperti yang dia serahkan kepada Edi, si pemilik kedai kopi yang berada di bukit pinggiran kota P.
Sebenarnya sudah sejak lama Haris berencana untuk memberikan uang itu pada Kules, dengan niat agar tidak membeda-bedakan, namun baru hari itu dapat momen yang tepat baginya menyerahkannya.
"Bang Kules, khusus hari ini nggak usah hitung lagi semua yang diminum hari ini, atau yang sudah dinikmati semua orang.
Biarkanlah itu menjadi sedekah bagi mereka, ini ada uang 20 juta khusus bantuan untuk Bang Kules, agar punya modal untuk belanja di awal-awal ini.
Uang ini tidak termasuk dari bayaran yang 40 orang itu, artinya ini pemberianku cuma-cuma, agar abang punya modal saja membeli keperluan rokok mereka.
Nanti setelah abang selesai mendata berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk yang 40 orang itu, Abang laporkan saja atau telepon saja aku, agar aku serahkan uang nantinya atau besok, tergantung selesainya Abang nanti mendatanya.
Dan lagipula merk rokok setiap orang jugakan berbeda beda, yang tentunya akan berbeda pula harganya.
Aku akan membayarkan pengeluaran yang merupakan jatah bulanan semua orang nantinya.
Semoga berkah ya Bang Kules."
"Te.. terima kasih Dek Haris...!"
Kules tercengang dan tangannya bergetar menerima uang 20 juta dari Haris itu, yang baginya itu sangat banyak.
Dia menjadi kaku dan tidak menyangka bahwa Haris akan menjadi sebaik dan sedermawan itu, padahal Kules tahu betul seperti apa warga desa itu memperlakukan Haris, ketika masih menjadi melarat dan orang susah dahulunya.
Haris lalu berpamitan kepada semua orang dan meninggalkan kedai itu, kemudian menuju rumah mertuanya menemui istrinya Diana yang sedang berada di tempat itu.
"Abang sudah pulang dari kedai...?"
"Iya Adek dari mana saja, dari tadi kok nggak ada di rumah...?"
"Lho apa Dek Kirana tadi nggak mengatakan sama Abang, kalau adek pergi ke pekan sama ibu...?"
"Nggak..! Kebetulan abang tadi didatangi oleh Darman, jadi Abang memang belum sempat bertanya sama adek Kirana, selesai bicara dengan Darman Abang langsung keluar ke kedai untuk ngopi."
"Oh pantes kalau begitu, ya sudahlah, Adik sengaja mampir di sini untuk misahin belanja ibu."
"Tapi sudah selesaikan dek...? Sudah Bang sudah dari tadi, cuma sudah terlanjur di sini, ya Adek istirahat saja.
Lagiankan kamar kita yang ada di sini, tetap Ibu sediakan untuk kita, nggak diisi oleh siapapun, jadi adik tadi sempat rebahan aja di kamar."
"Oh ya nggak apa apa sih.
Jadi nggak ada rencana kita mau jalan-jalan ke mana gitu hari ini...?"
"Nggaklah bang, Adek capek sesudah pulang dari pekan, mau istirahat saja pengen diam di rumah aja ngadem."
"Ya sudah. Abang pikir tadi mana tahu ada rencana biar kita pergi.
Apa Adek nggak pengen ke Spa biar dipijat therapis agar lebih rileks dan lebih ringan lagi badannya...?"
"Nggak usahlah Bang, Adek udah males gerak, kecuali memang tukang pijat therapisnya itu mau di datangkan ke rumah kita."
"Oh ya pasti maulah.
Ya sudah kalau begitu kita kembali saja ke Villa, nanti biar abang suruh dek Kirana menghubungi pihak Manager Spa tempat kalian biasa perawatan itu.
Nantinya Abang akan berikan tambahan, supaya mereka mau mendatangkan therapisnya kemari.
Atau kalau memang harus dijemput, biar abang suruh Nando yang memang saat ini sedang berada di hotel kita, supaya menjemputnya bersama Julia, agar therapis itu tidak segan kalau ada wanita lain bersamanya."
__ADS_1
"Oh kalau begitu, Adek maulah Bang memang enak kali kalau sudah dipijat nantinya."
"Ya sudah, kalau begitu abang akan bilang dek Kirana agar menghubunginya nanti."
"Terima kasih ya bang Abang masih sempat memikirkan dan perhatian sama Adek."
"Lho kok berterima kasih sih...? Namanya istri Abang, ya harus Abang perhatikan dong.
Justru kalian itu adalah fokus perhatian Abang.
Sudah ayo kita pulang yuk...! Apa harus Abang gendong aja adek ke Villa...?"
"Malu dong Bang ah, sudah biar Adek jalan aja pelan-pelan."
"Ya sudah yuk kita berangkat yuk."
"Ayo. Mak....! Diana pulang dulu ya Mak."
"Lho memangnya kamu nggak lelah lagi, Diana...?"
"Sudah nggak apa-apa bu, sudah agak mendingan kok, lagian nanti juga udah mau dipijat therapi."
"Oh ya sudahlah kalau begitu, hati-hati di jalan, banyak mobil lewat."
"Iya mak, nggak apa-apa kan sama abang ini."
"Iya. Nurul biar di sini saja biar mamak yang jaga."
"Oh, kalau Nurulnya mau di sini aja juga, nggak apa apa Mak."
"Iya Dia pasti maulah sama nenek, lagian dekat kok kalau misalnya dia nanti nangiskan bisa diantarkan adikmu Si Andri."
"Ya sudah mak, kalau gitu Dianya pergi dulu sama Abang ya Mak."
"Iya Pergilah, hati-hati di jalan."
"Iya Mak."
Diana dan Haris lalu pergi menuju villa, yang merupakan tempat tinggal mereka ketika berada di desa itu.
Sesampainya di Villa miliknya, Haris kemudian mengatakan kepada Kirana, agar menghubungi pihak salon dan spa tempat biasa Kirana merawat dan memanjakan dirinya.
"Sudah kamu hubungi therapisnya Dek Kirana...?"
"Sudah Bang sudah Adek hubungi dan katanya mereka minta dijemput, jadi seperti yang Abang arahkan tadi, Adek bilang sajalah mengiyakannya dan menghubungi Nando supaya pergi menjemputnya bersama Julia dan mengantarkan mereka kemari nanti.
Tapi adek minta dua ya Bang terapisnya karena adek juga mau dipijat lho Bang."
"Oh ya sudah.
Bagus itu, adekkan capek juga."
"Hehehe iya memang, kok Abang tahu aja ya...?"
"Ya tahu dong namanya juga istri Abang.
Ya sudah kalau begitu kita hanya tinggal menunggu mereka saja."
"Iya bang. Oh ya Bang, tadi Papa juga nelpon katanya Papa dan Mama sedang dalam perjalanan dari kota K menuju kemari, tadi langsung Kirana suruh datang saja kemari, nggak usah ke hotel kita yang di kota p."
"Oh ya bagus itu, lagian sudah sebulan lebih jugakan, sejak kita berada di sana."
"Iya itulah Bang, Papa dan Mama juga sudah rindu katanya kemari."
Pasti dong kamukan Putri satu-satunya yang Papa dan Mama mertua abang miliki."
"Bang Adek juga punya kabar gembira lho bang."
"Kabar gembira apa itu dek..?"
"Ah nanti saja deh Adek beritahukan, ketika papa dan mama sudah ada di sini."
"Oh ya sudahlah, tapi kok Adek sampaikan sekarang abangkan jadi penasaran."
"Ya memang itu tujuannyakan biar Abang penasaran."
"Ih adek ini jahat deh, malah bikin Abang penasaran, tapi ya sudahlah kalau kamu belum siap mengatakannya sekarang.
__ADS_1
Abang siap kok untuk mendengarnya nanti saja."