
"Saya tidak kenal orang ini apakah pak Wira mengenalnya...?
Katanya namanya adalah Hendrik."
"Hendrik...?
Saya tidak tahu tuan, kalau ada orang kita yang bernama Hendrik
Tapi tolong tunggu sebentar tuan, saya akan panggilkan bobby.
Bobby...! cepat kemari. !"
"Ada apa tuan..?"
"Tuan Haris salah seorang pemegang saham korporasi kita, tuan yang kemaren membeli hotel super mewah kita itu, saat ini berada di kota K, tepatnya di hotel Kirana, yang merupakan Hotel milik mertua beliau.
Ada orang yang mencoba menargetkan Hotel beliau, yakni mengancam membongkarnya, dengan cara cara konyol mengatasnamakan Kaya dan jaya bersama group.
Apakah kamu kenal seseorang yang bernama Hendrik...? Dia mengaku sebagai orang kita dari Kaya dan jaya bersama group."
"Saya pernah dengan seseorang bernama itu tuan, kalau tidak salah itu bawahan Wilson tuan.
Hendrik...? Kalaupun itu adalah Hendrik yang aku kenal, seharusnya dia itu hanya seorang bawahan biasa, Kenapa tuan...?
Apakah mungkin si bodoh itu yang membuat masalah di sana tuan...?"
"Kalau begitu kamu utus orang kita kesana, hubungi Wilson untuk menyeret si brengsek itu dari sana.
Melihat dari panggilan tuan Haris, semestinya orang bodoh itulah si pengancam itu.
Tapi sebelum itu, kamu jawab dulu tuan Haris.."
"Baik tuan.!
Halo tuan Haris...!"
"Ya Halo Bobby....!"
"Bagaimana hari anda tuan, maafkan kalau pasti sedikit terusik ya tuan...?"
"Hari saya tadinya cukup baik sebenarnya Bobby, sebelum kemudian ada orang yang bernama Hendrik ini yang merusaknya."
"Maaf tuan kalau saya lancang..!
Apakah tuan berkenan memberikan saya sedikit waktu untuk bicara melalui panggilan ini pada orang itu tuan....?"
"Oh tentu...!
Boleh saja tidak masalah bagiku, silahkan kalian bicara."
Haris memberikan handphone miliknya kepada orang yang bernama Hendrik.
"Ini Bobby salah seorang petinggi di korporasi Kaya dan jaya bersama group pusat, sekaligus ajudan pak Wira dari kantor pusat Kaya dan jaya bersama group, mau berbicara kepada kamu."
Hendrik langsung terkesiap, dia mendatangi Haris dengan kepala tertunduk seperti ayam yang telah kalah bertarung.
Mertua Haris sudah lega dan merasa di atas angin sekarang, semua masalah telah diurus oleh menantunya si Haris, dia hanya ingin melihat polesan akhir yang akan menjadi penutup dari permasalahan ini.
"I... iya Tuan Haris..."
Hendrik sudah merasa hancur, wajahnya sudah pucat seperti mayat.
Dia tidak garang lagi seperti semula, bahkan kumisnya sudah turun ke bawah.
Mertua Haris tertawa melihat perubahan ini, orang yang begitu bebal mengganggunya selama beberapa waktu belakangan ini, sudah menjadi cacing di depan menantunya.
Mertua Haris juga takjub mendengar perbincangan Haris dan Wira serta Bobby.
Dia terkejut mendapati begitu besarnya kedudukan dan pandangan terhadap menantunya di depan orang orang itu.
"Halo tuan Bobby...!"
"Halo... kamu yang bernama Hendrik..?"
"I... iya tuan..! Saya Hendrik tuan, saya bekerja di daerah tuan, tepatnya di daerah K sebagai cabang bahagian dari Kaya dan jaya bersama group di tingkat daerah tuan..."
"Berarti kamu bawahan Wilson...?"
"I....iya benar tuan.....!'
Kamu bawahan Wilson yang masih merupakan bawahan saya itu..? Bisa-bisanya kamu bangsat badj!ngan.
Kamu tahu tidak, siapa Tuan Haris itu....?
Beliau adalah tuan besar kita, beliau salah seorang pemegang saham di korporasi kita dan kau berani mengganggu serta mengusik usaha keluarga beliau, atas nama Kaya dan jaya bersama group....??
Kamu gila ya..?
Mau masuk penjara kamu..?
Apakah kamu salah minum obat....?"
"Ma... maafkan saya tuan..!
Saya khilaf tuan, saya tidak tahu kalau hotel ini adalah milik mertuanya tuan Haris, tuan."
"Brengsek kamu, hanya merusak nama Kaya dan jaya bersama group.
__ADS_1
Sejak kapan orang orang dari Kaya dan jaya bersama group, melakukan praktek praktek yg kau lakukan saat ini...?
Apa gajimu masih kurang, sehingga mau bermain kotor..?
Aku tidak mau tahu sekarang kau selesaikan masalah ini, minta pengampunan pada tuan Haris kalau kau tidak mendapatkan pengampunan beliau, maka kau akan ditendang dan dilempar dari group bahkan dari dunia ini.
Perlu kau tahu bahkan kalau kau hanya di tendang keluar sekalipun, kau tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dimanapun lagi.."
"Tu...tuan tuan tolong jangan pecat saya, nanti anak anak saya akan makan apa tuan..?"
"Bukan urusanku...!
Bahkan jika kau akan memberi makan anak anakmu, dengan pasir sekalipun.
Bukankah itu yang kau inginkan..?"
"Tu....tuan...!
Maafkan saya tuan...!"
"Tidak ada gunanya kau meminta maaf padaku, bahkan kalau aku mau, aku tidak akan mampu menolongmu.
Kau mengganggu tuan Haris, dasar bodoh kau.
Sekarang kesempatanmu hanya ada satu, minta pengampunan pada tuan Haris, sebelum orang orang itu datang.
Sebentar lagi akan ada orang-orang dari Kaya dan jaya bersama group, yang akan menjemputmu kesana, kehidupanmu selanjutnya tergantung kau dapat pengampunan atau tidak dari tuan Haris."
Hendrik tersungkur ke lantai, kesombongan yang tadi begitu menghiasi wajah dan penampilannya hilang seketika.
Dengan merangkak dia mendatangi Haris dan bergantungan pada celana Haris.
Merintih memohon dan memelas untuk kelanjutan hidupnya.
"Tu... Tuan...! Maafkan saya tuan ......tuan tolong maafkan saya tuan.
Selamatkan hidup saya tuan, saya akan mati kalau tuan tidak mau memaafkan saya tuan.
Tolonglah maafkan saya tuan...demi anak anak saya tuan, demi istri dan keluarga saya tuan.
Saya.. saya tidak perduli lagi dipecat atau tidak tuan.
Tapi kalau tuan tidak mengampuni saya, anak saya akan menjadi yatim tuan, tolonglah tuaaaaaaaann...!"
"Bukankah tadi kamu begitu sombong, dan begitu membanggakan kedudukanmu di Kaya dan jaya bersama group kepadaku...?
Dimanakah kesombonganmu sebelumnya itu..?
Kenapa cepat sekali hilangnya...?
Sekarang kau sudah tahu siapa aku di Kaya dan jaya bersama group bukan...?
Kalau kau mau minta pengampunan, maka yang perlu kamu mintai pengampunan sekarang adalah ayah mertuaku.
Aku akan mengikuti apa yang mertuaku mau.
Usahakan bagaimana caranya agar engkau diampuni kalau tidak, maka hari ini juga kau akan ditendang dari Kaya dan jaya bersama group.
Kami tidak butuh orang-orang seperti kamu, faham kamu.....!!!"
"Tu..tuan....!"
Hendrik merangkak dan bersimpuh di kaki mertua Haris
"Pak..... maksud saya tuan...!
Mohon maafkan saya tuan, saya minta maaf tuan saya minta ampun tuan, saya berjanji tidak akan mengganggu siapapun lagi kedepannya tuan.
Tolong maafkan saya tuan, saya punya istri dan anak anak yang masih membutuhkan saya untuk tetap hidup tuan."
"Wah ternyata hanya begini kekuatanmu Hendrik, aku telah berusaha bertahan selama beberapa bulan karena tekananmu dan tidak menceritakan apa-apa kepada menantuku.
Tapi kau baru begini, kamu sudah minta minta ampun.
Baiklah karena aku adalah orang yang baik dan aku juga tidak ingin menelantarkan anak-anakmu, seperti mana aku juga memiliki seorang putri yang aku sangat tidak berharap kehidupannya menjadi terlantar, aku memaafkanmu.
Akan tetapi ini bukan berlaku untuk hotel ini saja, jika aku mendengar kau menekan hotel-hotel lain yang pemiliknya juga merupakan teman-temanku, maka aku akan menyuruh anak menantuku untuk menendangmu keluar dari group."
"Terima kasih..tuan...!"
Pada saat itu tiga orang berbadan kekar yang merupakan ahli beladiri memasuki ruangan, setelah menunduk memberi hormat dan menyapa Haris dengan kata " Tuan...!"
Dua orang diantaranya bergegas menuju Hendrik lalu memegang tangan Hendrik di kiri dan kanannya, kemudian satu orang lagi meninju Hedrik tepat di punggungnya, yang membuat kepala Hendrik terkulai jatuh ke bawah dan hampir saja pingsan karena pukulan tersebut.
"Cukup.....!
Jangan siksa dia lagi, aku masih punya tugas untuknya untuk memantau pembangunan hotel ini."
"Siaaap tuan."
Ketiga orang itu melepasan Hendrik yang akhirnya jatuh ke lantai.
"Tuan... tuan Wilson meminta maaf, karena tidak bisa hadir disini sebab beliau ada urusan di luar kota tuan.
Kedepannya secara bergantian, akan ada dua orang yang akan di tugaskan untuk membantu pengawalan hotel keluarga tuan ini, yang akan bergabung dengan satuan pengamanan hotel jka tuan berkenan tuan...!"
Mendengar itu Haris menatap ayah mertuanya dan ayah mertuanya mengangguk menandakan persetujuannya.
__ADS_1
"Baiklah, tempatkan saja dan bantu awasi pembangunan hotel ini dari para preman setempat, aku akan memberi hadiah berupa tambahan gaji yang lebih besar selain dari yang kalian terima dari korporasi dan membelikan kalian mobil untuk kepentingan tugas kalian."
"Terima kasih tuan.....!!"
"Ya, baiklah kalian boleh pergi tapi sebelumnya tinggalkan nomor rekening kalian."
"Siap tuan...!
Tuan kalau boleh kami bertiga saja yang bertugas tetap, bagaimana tuan...?
Tuan Wilson sudah mengarahkan kami untuk mengikuti apa saja yang tuan perintahkan tuan..!"
Dengan sigap ketiga orang itu menyebutkan proposal mereka sekaligus menyerahkan nomor dan nama rekeningnya masing.
Haris tersenyum, faham apa yang di maksud oleh orang orang ini dan tidak keberatan dengan itu.
"Baiklah, apakah kalian ada mengenal dua orang wanita yang punya keahlian beladiri yang sangat hebat, baik di kelompok kita atau juga di tempat lain...?
"Ada tuan, kami kenal dua orang ahli beladiri wanita yang bahkan kemampuan beladirinya berada di atas kami tuan, mereka telah menyatakan siap untuk direkrut, tetapi bayarannya sangat tinggi, mencapai ratusan juta tuan ...?"
"Baik bawa mereka menemuiku, katakan kalau tugasnya kelak adalah untuk mengawal kedua istriku dan soal bayaran, uang sama sekali bukan masalah bagiku."
"Siap tuan..!"
"Kalau bisa untuk tugas menjaga hotel ini, kalian cari orang lain saja, jangan kalian...!"
Mendengar itu ketiga orang tersebut sangat bersedih seketika, setelah tadinya sempat sangat begitu bahagia.
"Tapi tuan....!
Kami sangat mampu tuan, apa tuan menjadi ragu pada kami, karena menyebut kemampuan dua wanita itu berada di atas kami tuan.....?
Ha..hah... jangan salah sangka, aku malah suka dengan kalian, aku suka dengan orang berkemampuan tinggi tapi punya karakter yang baik.
Kalian akan ikut denganku sebagai pengawal pribadiku, jadi cari teman kalian yang lain dari kelompok kita, untuk berjaga di hotel ini 24 jam secara bergantian.
"Terima kasih tuan...!"
Ketiga orang itu berlutut dengan wajah berseri penuh bahagia dihadapan Haris.
Hari hari cemerlang dan tujuan setiap pengawal untuk bisa menjadi pengawal pribadi orang super kaya, sudah mereka dapatkan.
" Baiklah sekarang kalian urus barang barang kalian dan belikan mobil seharga 700 juta, sebagai kenderaan kalian, juga jangan lupa hubungi kedua pengawal wanita itu segera."
"Siap tuan, kami berangkat sekarang tuan...!"
Ketiga orang itu pergi dari sana dengan raut wajah penuh bahagia dan Hendrik sudah kembali sadar sepenuhnya dan bisa menguasai dirinya, tidak seperti keadaannya tadi yang seolah berada di antara hidup dan mati.
"Hendrik kau juga pergi urus apa yang perlu kau urus seperti yang aku sebutkan tadi.
Tinggalkan nomor rekeningmu, kedepannya jangan kerjakan lagi pekerjaan kotor seperti yang baru saja kau kerjakan sebelumnya."
Hendrik berlutut menangis sejadi jadinya.
"Tuan...! Terima kasih masih memberi kesempatan bagi si bodoh ini untuk hidup tuan."
"Ya..! Kedepannya hiduplah dengan cerdas dan jangan bodoh lagi, atau aku akan menyesal pernah memberimu kesempatan lain.
Dan katakan pada temanmu itu untuk berhenti melakukan modus-modus seperti ini.
Pergi sebelum pimpinan di daerah ini datang dan melihat serta mengetahuinya, melakukan pekerjaan bodoh seperti yang baru saja kalian kerjakan."
"Baik.....!
Baik tuan, akan saya katakan tuan....!"
"Ya pergilah..."
"Terima kasih banyak tuan..!"
Johan ikut berlutut di lantai. Dia telah menyaksikan semua adegan yang terjadi secara langsung di hadapan matanya ini dan dia sudah tahu seperti apa tingginya kedudukan Haris dibanding semua orang di ruangan itu sekarang.
Keduanya pergi sebagai pihak yang kalah.
Mertua Haris tersenyum manis dan memeluk anak menantunya lalu berkata.
"Ternyata begini rasanya kebahagiaan, punya anak yang bisa menyelesaikan masalah orang tuanya.
Aku memang tak punya anak laki laki, tapi kau beri aku menantu laki laki yang begitu hebat wahai Tuhanku, aku tak akan pernah mengeluh lagi.
Haris...!
Papa senaaaang sekali hari ini nak, papa dapat dua kebahagiaan, pertama selesainya masalah ini dan kedua hotel ini yang akan Haris besarkan, tapi papa berharap papa dapat kebahagiaan ketiga kedepannya, yakni dengan berita bahwa papa punya cucu laki laki dari kamu dan Kirana."
"Papa...! Kami baru saja menikah minggu ini, tapi kedepannya semoga Tuhan mengabulkan keinginan papa."
Ayah mertua Haris melepaskan pelukannya dan tampak matanya basah dengan genangan air mata kebahagiaan.
Tak lama sesudahnya pimpinan daerah kota K datang, dengan bawahannya dari bidang pariwisata.
Haris dan mertuanya menyambut kedatangan keduanya dan menjamu mereka.
Pihak hotel dari departemen food and beverage melalui para waiter/s menyajikan beragam hidangan yang memanjakan lidah para tamu yang datang, mereka berada disana untuk beberapa lama, membahas hal hal terkait dengan hotel dan juga merapatkan hubungan serta silaturahmi di antara mereka.
"Baiklah tuan Haris dan juga tuan Wicaksono terima kasih akan jamuan ini, kami akan pamit permisi pulang sekarang."
"Baik pak Walikota terima kasih sudah mau datang memenuhi undangan kami, maaf kalau ada hal yang kurang berkenan.
__ADS_1
Kedepannya mohon bantuan juga buat hal terkait dengan hotel kami ini."
"Siap tuan."