Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _129 : Keahlian pengobatan


__ADS_3

Fajar telah kembali menyingsing dan waktu pun berjalan sebagaimana mestinya, sehingga telah tiba saat matahari mulai meninggi, namun baik Diana maupun Kirana masih lelap dalam tidurnya.


Kedua orang istri Haris itu baru bangun setelah Shasmita datang membawakan sarapan untuk keduanya, setelah mencuci muka dan berkumur-kumur pada wadah yang disediakan oleh Shasmita, keduanya kemudian sarapan pagi dengan menu makanan yang sudah diatur sedemikian rupa, agar asupan gizi dan protein keduanya terpenuhi, tetapi di sisi yang sama pantangan dalam pengobatan mereka tidak sampai di langgar.


"Wah Ratu kami sudah sarapan rupanya. Hari ini tidak minta disuapin.?"


"Kami tahu Abang pasti lelah, apalagi kemarin sampai semalaman mengurusi orang-orang yang datang menjenguk, jadi pagi ini biarkan Dek Shasmita saja yang menyulangi kami makan."


"Oh begitu ya.?"


"Iya Bang. Abang sudah bicara dengan Bapak dan Ibu Dek Shasmita.?"


"Alhamdulillah sudah."


"Lalu bagaimana hasilnya Bang.?"


"Ya hasilnya sih baik, seperti yang kita harapkan."


Berarti tidak ada penolakan kah..? hehehe."


"Kalau untuk itu, tanya Dek Shasmita saja deh..!


Adek Shasmitanyakan ada di sini."


"Iya, bagaimana ceritanya Dek Shasmita..?"


"Tidak ada penolakan sih Kak, hanya saja memang sempat terjadi insiden. Shasmita sampai nangis lho, terus terang Shasmita tidak suka mengingatnya."


"Lho bagaimana ceritanya, bisa begitu.?"


Shasmita lalu menjelaskan semuanya dengan detail, baru pada akhir cerita baik Diana maupun Kirana bisa bernafas dengan lega.


Setelahnya Haris, Diana dan Kirana juga Shasmita sama-sama tertawa setelah penjelasan tentang kejadian kemarin malam itu selesai.


"Sepertinya itu memang sudah jalan hidup Abang. Jangan kalian berpikir karena kalian yang kedua dan ketiga, makanya kalian mengalami hal itu. Kakak yang pertama saja bahkan lebih lama lho kami dan Abang mengalami hal itu ya kan Bang..?


"Iya memangnya kamu belum pernah cerita sama Kirana Dek.?"


"Belum Bang tapi tampaknya setelah penyakit ini berakhir nanti, aku harus menceritakan semuanya kepada mereka berdua bagaimana pahit getirnya."


"Pahit getir apanya Diana.?" Ibu Diana masuk ke kamar dengan tiba-tiba sehingga mengejutkan mereka semua.


"Ah enggak kok Bu, ini lho Bu makan obat ini rasanya pahit, terus di lidah itu rasanya getir, jadinya pahit getir."


"Lho di lidah getir itu maksudnya apa sih.?"


"Maksudnya begitu deh Bu, nggak enak."


"Ya namanya juga obat ya memang begitu."


Kirana dan Shasmita juga Haris tersenyum, memandang ke arah Diana.


'Hampir saja' adalah kata yang sama-sama terekam dalam kepala keempat orang itu saat itu.


"Tuan..! Ini Halim Tuan."


Halim minta izin untuk masuk karena hendak menyampaikan sesuatu.


"Ya ada apa Halim.?"


"Tuan di depan ada seseorang yang meminta izin untuk masuk. Orang itu mengaku sebagai seseorang yang bernama Manager Sudharta.


Katanya orang itu sudah punya janji bersama Tuan dan dia datang bersama adik dan kedua mertuanya."


"Oh, ya itu adalah Manager Sudharta salah seorang Manager hotel bintang 5 kita yang ada di kota M.


Ayo persilakan mereka masuk dan bawa mereka mereka ke pondok yang ada di tengah kolam, Halim."


"Baik Tuan."


Manager Sudharta bersama seluruh anggota keluarganya yang datang, kemudian dibawa menuju ke pondok yang ada di tengah kolam ikan milik Haris.


"Wah pondok ini cukup besar dan sangat bagus, cuaca di sini juga sangat adem, sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat bersantai atau tempat untuk membicarakan sesuatu hal yang penting, namun dengan suasana yang santai.


Apa Tuan sering datang kemari Mas.. siapa ya namanya.?"


"Halim Pak. Nama saya Halim."


"Ya Mas Halim. Apa Tuan sering dan suka membicarakan sesuatu di pondok ini.?"


"Benar sekali Pak Sudharta, kalau sedang berada di Villa ini, umumnya orang-orang penting yang datang mengunjungi Tuan, akan dibawa oleh Tuan ke pondok ini


Selain memang di Pondok ini cukup sejuk udaranya, nyaman suasananya dan lagi tidak berisik, jadi sangat ideal menurut Tuan untuk membicarakan sesuatu tanpa harus didengar oleh orang lain."


"Oh begitu. Lalu dimana Tuan Haris."


"Oh iya tadi Tuan masih di ruangan depan itu Pak. Baru saja selesai memberi sarapan pada Nyonya Pak.


Pagi begini Tuan biasanya akan menyuapi istri beliau sarapan pagi, karena istri Tuan keduanya sedang sakit, baru-baru ini terkena racun Pak."


"Aduh kasihan sekali, saya kok tidak dapat kabar ya.?"


"Masa sih pak Sudharta.? Seharusnya semuanya tahu dong Pak, karena yang saya tahu informasi ini telah menyebar ke semua tempat dan perusahaan milik Tuan.


Dan kemarin itu sangat banyak pengunjung yang datang menjenguk Nyonya besar, malah perwakilan dari usaha perhotelan milik Tuan juga banyak yang hadir.


Kemarin itu tempat ini malah begitu padat dengan manusia, yang sudah seperti semut saja berdatangan untuk mengunjungi Tuan dan juga Nyonya, tapi hanya wanita yang diizinkan untuk menemui Nyonya, sedangkan para pengunjung pria hanya akan menemui Tuan, kecuali beberapa teman dekat tuan dan juga anggota keluarga.


Kalau saja Pak sudharta datangnya kemarin, barangkali tidak akan ada kesempatan yang lapang buat berbicara seperti ini dengan Tuan."


"Wah sampai seperti itu ya.? saya kok malah tidak diberitahu oleh pihak manajemen hotel tempat kami bekerja ya.?"


"Hal ini mungkin karena sepengetahuan mereka, kita masih berada di luar kota Pa. Karenanya pihak manajemen di hotel kita, tidak memberitahukan informasi ini pada kita.


Pa rasanya malu deh Pa, sudah sampai di sini tidak mengunjungi Nyonya Haris, nanti saya dan ibu permisi untuk mengunjungi Nyonya Haris dong Pa, sekalian tolong nanti papa permisikan ke Tuan Harisnya."


"Iya deh ma. Nanti papa akan sampaikan pada Tuan Haris."


Istri Sudharta ikut menjawab kebingungan yang dialami oleh suaminya.


"Ya mungkin karena itu barangkali mas Halim. Saya memang tidak datang ke hotel beberapa hari ini."


"Sudah nyata kalau begitu, karena itu memang barangkali Pak Manager.


Oh ya pak Manager Sudharta, itu Tuan sudah datang, kalau begitu saya tinggal dulu ya Pak."


"Iya mas iya. Mas Halim terima kasih sudah diantar ya Mas..!"


"Sama-sama pak


Haris yang telah terlihat datang, kemudian langsung menuju ke pondok yang ada di tengah kolam.


Kolam yang bersih dengan ikan hias yang tak terhitung jumlahnya, begitu memanjakan mata dan menyejukkan pikiran.


Bahkan anak-anak Sudharta dan anak dari adiknya, sangat merasa senang dan betah berada di tempat itu."


Haris yang setelah kepergian Halim telah mengatakan kepada istrinya untuk menemui Manager Sudharta langsung bergegas menuju pondok tengah kolam.


"Selamat pagi Manager Sudharta."


"Selamat pagi Tuan. Jadi kita berjumpa lagi nih ceritanya Manager."


"Iya benar Tuan."

__ADS_1


Sudharta yang melihat kedatangan Haris langsung saja berdiri bersama dengan adiknya, yang merupakan calon walikota itu. kedua istri dari keduanya juga ikut berdiri untuk menghormati sosok si Tuan besar yang datang


"Perkenalkan Tuan ini, adalah adik ipar saya yang kita bicarakan kemarin, dan beliau ini adalah ayah mertua ayah dan ibu mertua saya."


"Oh iya. Selamat pagi semuanya.


Selamat pagi Bapak dan Ibu dan juga adik siapa namanya.?"


"Nama saya Ridwan Ansori Tuan Haris."


"Oh Dek Ridwan Ansori ya..? Silakan duduk semuanya, sambil menunggu teh datang mungkin tidak ada salahnya kalau kita bicara yang ringan-ringan saja dulu ya.


Jadi apa Bapak dan Ibu sudah sarapan nih sebelumnya.?"


"Oh sudah, sudah Tuan Haris."


"Ah tidak usah panggil Tuan, Bapak.


Bapak dan Ibu panggil saya Nak Haris saja, Ibu dan Bapak jauh lebih tua dari saya dan sudah seperti orang tua saya sendiri.


Karenanya panggil saya Nak Haris saja.


Manager Sudharta pun sebenarnya sering saya peringatkan, tapi memang nggak mau diperingatkan masih saja memanggil saya dengan sebutan Tuan, ya lama-lama sayanya yang lelah mengingatkannya ha..ha..ha mungkin karena saya merupakan pimpinan mereka di pekerjaan barangkali.


Tapi kalau bapak dan ibu kan tidak.?"


"Iya Nak Haris."


"Jadi Ibu sama Bapak ini tinggalnya dimana.?"


"Oh saya tinggal di desa Nak, di daerah perbatasan kota dan kabupaten. Ya daerah pinggiran kota P lah ceritanya Nak Haris.


Bapak dan Ibu tidak suka suasana kota, Bapak lebih suka di daerah yang masih ada sawah-sawahnya gitu Nak, masih ada kebunnya maklumlah dari kecil dulu sudah jadi petani jadi sudah tua beginipun sudah kebiasaan lebih nyaman hidup di desa.


Kalau di kota pikiran saya suntuk ke mana-mana memandang terhalang dinding, hadap kemana sudah ada dinding, tak ada ruang terbuka.


Harus memang bersengajalah keluar dari rumah baru ada ruang terbuka, kalau duduk di depan rumah sudah dihalangi dinding segala arah hehe."


"Oh begitu ya Pak.? Saya juga memang begitu Pak, makanya saya pilih tinggal di desa begini. Kalau di kota begini luasnya halaman dan plataran sudah berapa duit ini..? Hehe.


Seperti yang Bapak katakan tadi, kalau di sini luas dan tidak terhalang dinding, mau buat kolam pun cukup, mau buat taman pun masih luas."


"Iya betul sekali Nak Haris."


"Ya sudah pembicaraan untuk itu kita cukupkan sampai disitu dulu ya pak, mungkin Haris akan memulai perbincangan dengan hal-hal yang lebih serius tentang putra Bapak dan Ibu yakni Adik Ridwan Ansori walikota P berikutnya."


"Oh iya silakan Nak Haris, Bapak akan menyimak saja."


Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan topik yang ringan dan beramah tamah pada mertua Sudharta, Haris bermaksud bicara pada tujuan dan inti pertemuan.


Para pengawal wanita yang merupakan bawahan Haris telah datang membawakan teh dan juga makanan-makanan ringan sebagai cemilan yang memang tidak pernah habis dari hunian Haris.


"Ayo Pak, silakan Pak dinikmati cemilannya. Kalau makanan-makanan begini masih cocok enggak Pak..?"


"Masih bisalah sedikit-sedikit Nak Haris."


"Bisa ya Pak..? Saya juga kalau makan itu ya sedikit-sedikit Pak, enggak bisa langsung banyak..hahaha.!


Bercanda lho Pak."


"Wah ternyata Nak Haris ini juga pintar bergurau ya hehe..?"


"Hahah supaya tidak terlalu begitu tegang Pak. Jadi mungkin kita mulailah pembahasan tentang adik Ridwan Ansori ini ya pak.?


Bapak sendiri bagaimana pendapatnya kalau adik Ridwan Ansori ini, mencalonkan diri sebagai walikota. Apakah Bapak setuju kira-kira.?"


"Ya kalau saya sih namanya Anak punya tujuan dan cita-cita, apalagi tujuannya itu juga baik Bapak rasa ya nggak ada salahnya sih, begitu Nak Haris.


Kalau untuk hal yang lain-lain sudah tidak mampu lagi.


"Ya tapi justru itulah yang paling penting Pak, itu modal yang paling utama yakni do'a dan restu dari orang tua. Insya Allah kalau sudah ada do'a, sudah dapat restu dari orang tua, jalan pasti akan terbuka lebar.


Jadi mungkin selanjutnya saya akan bercerita ke adik Ansorinya langsung boleh ya Pak..?


"Oh ya, silakan. Silakan Nak Haris. karena saya juga nggak tahu banyak soal ini, biar anak saya nanti yang lebih jauh menjelaskan seperti apa segala sesuatunya."


"Kalau begitu saya akan bertanya ke adik Ridwan Ansori dulu ya pak.?"


"Iya Nak silakan.!"


"Begini Adik Ridwan Ansori, sebenarnya sedikit banyaknya Manager Sudharta yang merupakan Abang ipar dari adik Ridwan Ansori ini, sudah bercerita kepada saya. Lalu saya memang sudah bersedia membantu, tapi ya saya membantu itu hanya berkisar soal pendanaanlah, kalau untuk urusan lainnya saya jelas tidak bisa ikut-ikutan."


"Iya Tuan Haris, saya juga paham soal itu dan Bang Sudharta juga sudah menjelaskan hasil pembicaraan Tuan Haris dengan Abang saya."


"Jadi bagaimana menurut adik Ridwan Ansori. Apakah Adik cukup yakin untuk maju dalam kontestasi pemilihan ini.?"


"Saya yakin Tuan. Saya sangat yakin kalau soal pencalonan ini, tapi ya itu tadi, yang kurang adalah soal pendanaan, sebab kita bagaimanapun tentu yang namanya kalau mau bergerak kesana kemari itu butuh dana Tuan.


Jadi itulah yang sempat membuat saya kemudian Ayah dan Ibu serta juga abang maupun kerabat yang lain, cukup terkuras pikirannya soal itu Tuan. Alhamdulillah nya melalui pembicaraan Tuan Haris bersama abang saya, ternyata dapat solusinya.


Jadi kalau ditanya soal kesiapan baik secara fisik maupun mental termasuk secara strategi di lapangan, saya sangat siap Tuan."


"Ya sudah kalau memang begitu, apalagi kita sudah bertemu begini, sudah saling kenal, terlebih Abang pun sudah setuju soal itu, ya lanjutkanlah tujuan Adik Ridwan.


Tapi tolong ingat satu hal jangan pernah kecewakan Abang, maksudnya begini, Abang tidak akan pernah menuntut soal penggantian uang atau Abang tidak akan menghitung-hitung uang yang sudah dikeluarkan nantinya.


Abang juga tidak akan menuntut harus menang atau bagaimana.


Hanya satu yang Abang minta. untuk yang satu ini Abang tidak bisa berkompromi dengan satu kesalahan jenis ini dan tidak bisa memaafkannya, jadi sejak awal lebih baik kita saling berterus terang saja.


Yang Abang maksud adalah penghianatan. Jadi Abang mau kalau memang berteman itu ya bertemanlah dengan baik, jangan menggunting dalam lipatan atau menjegal teman sendiri. itu saja yang Abang minta. Apakah kira-kira adik Ridwan Ansori sanggup untuk memenuhi itu.?"


"Saya sanggup Tuan.


Saya siap karena memang saya juga kebetulan tidak ada bibit-bibit penghianat Tuan. Kita dididik oleh orang tua juga untuk menjadi sosok yang amanah.


Itulah sebabnya saya ingin ikut maju dalam kontestasi ini. Sangat sulit rasanya untuk menuntut orang lain supaya amanah, seperti mana kalau kita yang mengatur diri sendiri untuk amanah."


"Bagus. Saya akan ingat itu. Jadi bagaimana caranya.? Apakah dana itu saya serahkan secara utuh atau bertahap.?"


"Saya rasa bertahap saja Tuan, melihat nanti bagaimana keperluannya di lapangan saja. Saya juga tidak berani juga bawa duit banyak kemana-mana.


Tapi apa Tuan tidak akan bertanya berapa jumlahnya.? karena dikhawatirkan nanti mungkin siapa tahu jumlahnya mencapai angka miliaran begitu Tuan."


"Oh tidak, Abang tidak masalah soal angka. Ketika Abang mengatakan Iya, berarti Abang sudah siap kalaupun nanti jumlahnya akan mencapai beberapa miliar, syarat Abang cuma satu saja itu yang tadi sudah Abang sebutkan.


Bapak dan Ibu saksinya ya, termasuk juga Manager Sudharta dan disini nuga ada istri dari adik Ridwan Ansori.


Tentu saksi yang paling utama adalah Tuhan yang tentunya melihat semua pembicaraan kita ini.


Satu hal lagi sejak.hari ini panggil saya Abang, agar jangan terkesan kamu itu seperti bawahan saya, sebab saya yakin kamu akan jadi walikota nantinya, jadi tidak baik nanti orang mendengar kamu menyebut saya Tuan.


Karena pembicaraan ini sudah deal dan clear atau sudah selesai, tentu saya harus memberikan uang pertama. Kira-kira berapa yang adik Ridwan Ansori perlukan untuk tahap pertama ini.?"


"Mungkin pertama ini 2 miliar sudah cukup Tuan.


Biarkan saya tetap memanggil Tuan, sebab saya akan merasa berkhianat bila merubah sebutan itu Tuan.


"Ha.hah asal kamu tidak malu saja nanti setelah menjabat, jadi 3 miliar ya.? Kalau begitu saya berikan 5 miliar saja."


"Haris kemudian segera memerintahkan Wilson, Halim dan Amanu untuk membawakan beberapa tas yang telah dipenuhi oleh Haris dengan uang.


Setelah tas koper itu dibawakan ke pondok, baik Halim dan Amanu kemudian membukakan tas itu dan memperlihatkan isinya kepada Manager Sudharta dan juga mertuanya termasuk kepada Ridwan Ansori dan istrinya.

__ADS_1


Ayah dari Ridwan Ansori si calon walikota P sampai bergidik ngeri, melihat jumlah uang yang begitu banyak tidak pernah sekalipun dalam hidupnya dia melihat uang sebanyak itu dan sangat kagum dengan sosok Haris yang begitu kaya tetapi perilakunya sangat santun dan begitu ramah cukup humble dan tidak sombong.


"Ini adalah biaya pertama, kalau kemudian masih diperlukan lagi saya akan memberikannya lagi. Bagaimana Manager Sudharta, apakah Manager punya masukan.?"


"Saya tidak bisa berkata apa-apa Tuan, karena Ya seperti yang Tuan tahu saya juga mendukung adik saya ini. tapi yang namanya uang tetaplah uang, saya hanya akan mengingatkan kepada adik saya ini, supaya dia benar-benar mengingat apa yang tadi diminta oleh Tuan Haris. Hanya satu hal yakni jangan sampai berhianat.


Hal itu hendaknya betul-betul adikku Ridwan Ansori mengingatnya, karena konsekuensinya ini bukan hanya menyangkut soal adik Ridwan Ansori dan juga istri, tapi ini juga menyangkut nama baik Abang.


Bagaimanapun Abang yang membawa dan memperkenalkan kalian dengan Tuan. Tuan Haris ini adalah Bos dan juga pimpinan Abang di hotel.


Jangan karena uang ini kemudian nantinya rusak segalanya, apalagi sampai berimbas kepada Abang. jadi saya hanya minta adik saya mengingat baik-baik pesan Tuan.


Itu saja mungkin yang saya tekankan Tuan."


"Ya nasehat yang baik. Itu sudah cukup, lalu Bapak dan Ibu barangkali ada yang mau disampaikan.?"


"Kalau saya sebagai orang tua, tidak ada yang bisa saya sampaikan kecuali jutaan rasa terima kasih kepada Nak Haris yang artinya sudah bersedia membantu kami, memberikan jalan.


Mudah-mudahan sampailah cita-cita anak saya Ridwan Ansori ini menjadi walikota P.


Bisa nian kiranya mengemban amanah dengan baik nantinya jika terpilih jadi orang nomor satu di kota P, itu saja barangkali nak Haris."


"Ibu bagaimana..?"


"Saya ikut apa yang dikatakan suami saja Nak."


"Oh ya sudah kalau begitu, artinya hal ini sudah selesai, kalau bapak dan Ibu mau pulang atau mungkin ada kegiatan lain, Bapak Ibu sudah boleh pulang karena mohon maaf saya juga sedang tidak bisa berlama-lama, istri saya keduanya saat ini sedang sakit dan sedang dalam masa pemulihan."


"Ya kalau begitu kami juga tidak akan berlama-lama lagi menyita waktu Nak Haris, tapi sebelum pergi kalau boleh, istri dan anak perempuan serta putri menantu saya ini mohon di izinkan untuk menjenguk Istri Nak Haris yang sakit itu, apakah boleh nak Haris..?


"Oh tentu untuk pengunjung wanita tentu saja boleh menjenguk istri saya, tapi kalau untuk yang laki-laki saya mohon maaf Pak, istri saya juga tidak berkenan pengunjung laki-laki menjenguk mereka saat ini."


"Iya Kami paham itu nak Haris, makanya saya minta untuk istri, anak perempuan dan juga Putri menantu saya saja."


"Baiklah kalau begitu silakan, mungkin bapak dan lainnya sambil menunggu, kita bisa berjalan ke depan dan menyimpan uang-uang ini di mobil bapak.


Sedangkan Ibu dan menantu wanita, serta Putri Ibu boleh pergi menjenguk."


"Iya terima kasih nak Haris."


"Akhirnya ibu mertua Sudharta beserta istrinya dan juga istri dari adiknya Ridwan Ansori pergi mengunjungi istri Haris untuk menunjukkan rasa ikut bersimpati atas apa yang menimpa istri Haris.


Tak lama sesudahnya mereka kembali dari menjenguk istri Haris dan bersiap-siap untuk pulang.


"Kami pamit pergi Tuan."


"Ya baiklah Manager."


"Ya, kami pamit pulang Nak Haris."


"Silakan Pak, hati-hati di jalan."


"Ya terimakasih nak Haris."


"Ya. tidak apa-apa Pak."


"Saya juga permisi pulang Tuan Haris."


"Ya. Pandai-pandailah di lapangan Dek Ridwan Ansori, pandai-pandailah mengambil hati masyarakat supaya apa yang di cita-citakan ini bisa tercapai."


"Iya, iya Tuan Haris."


Pertemuan itu segera selesai Manager sudarta bersama istrinya dan Ridwan Ansori beserta istri, juga Ayah dan Ibunya beserta kedua anaknya yang masih kecil kemudian pergi beranjak meninggalkan Villa milik Haris.


Setelah mereka pergi Haris masih duduk di pondok yang ada di tengah kolam ikan miliknya itu, lalu dia segera mendengar notifikasi dari sistem miliknya.


[Sistem]


"Ding...!


Selamat Tuan. Misi Anda sukses Tuan. Anda memperoleh 50 ribu poin sistem. Apakah anda akan mengambil kemampuan keahlian pengobatan saat ini juga Tuan..?"


"Ya ambilkan untukku sistem. Aku bahkan sudah merasa kalau malam ini kurang cepat berlalu, untuk bisa segera beroleh keahlian itu.


[Sistem]


"Baiklah Tuan kalau begitu sistem akan mengambil 100 ribu Point sistem yang sudah anda miliki. Poin sistem (PS).Anda sebelumnya adalah 70 ribu dan kurang 30 ribu PS, namun dengan diperolehnya 50 ribu poin sistem kali ini, maka poin sistem anda tersisa 20 ribu poin sistem lagu setelah mengambil keahlian pengobatan tingkat grand master Tuan."


" Ya. Baiklah sistem. Aku tetap akan mengambil hal Itu."


[Sistem]


"Jika demikian sistem akan memprosesnya untuk anda.


Transfer keahlian pengobatan sedang di proses 10%..20%..30%..40%..50%..60%..70%..80%..90%..100% Proses transfer keahlian pengobatan selesai."


Begitu keahlian pengobatan selesai diproses oleh sistem, seketika Haris merasakan tubuhnya seolah-olah terangkat ke atas, seperti terbang, urat-urat pembuluh darah di tubuhnya seolah menjadi lebih besar dan lebih lebar untuk beberapa saat berbagai macam gambaran terlintas dalam pikiran Haris seputar tentang jenis-jenis tumbuhan obat dan juga metode-metode pengobatannya yang bergerak cepat layaknya sebuah film yang dipercepat.


Kemudian setelah selesai


Haris merasa kembali normal seperti sedia kala, hanya saja pikirannya terasa sangat segar dan badannya terasa sangat bugar dan ringan.


"Apakah telah selesai sistem.?"


[Sistem]


"Benar Tuan proses transfer keahlian pengobatan sudah selesai Anda terima. Kedepannya Tuan tidak akan begitu khawatir lagi mengobati berbagai macam penyakit yang menimpa keluarga Tuan.


Tuan akan bisa menyembuhkan mereka selama waktu masih memungkinkan dan tidak terlambat."


"Aku berterima kasih untukmu sistem aku juga akan bersemangat untuk mendapatkan poin-poin berikutnya guna menaikkan kualitas sistem.


[Sistem]


"Masih ada hadiah sistem yang lain Tuan, apakah Anda juga ingin membukanya.?"


"Iya bukakan untukku sistem."


[Sistem]


"Tuan beroleh 20 unit stasiun pengisian bahan bakar umum yang berada di Kota M ibukota provinsi dan di 4 kota lainnya yang masih berada di provinsi ini Tuan.


Selain itu Tuan juga beroleh satu unit mobil Rolls-Royce Sweptail Rp200 miliar".


Baik tolong kamu atur segala sesuatunya sistem, termasuk penghasilan dari semua unit-unit Usaha milik kita.


Saat ini aku butuh uang sekira 12 triliun rupiah, untuk membeli beberapa saham di Kaya dan jaya bersama group.


[Sistem]


"Baik Tuan tenang saja sistem akan mengatur semuanya untuk anda."


Haris segera pergi dari Pondok itu dan menemui kedua istrinya.


Setelah menemui kedua istrinya Haris mengalami sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, dimana dia bisa melihat seluruh jejak kerusakan yang ditimbulkan oleh racun yang ada di tubuh istrinya.


Haris bisa melihat jalur penyebaran racun itu dan juga bisa melihat seperti apa efek yang ditimbulkannya.


Yang paling membuat Haris heran, ternyata bahkan para pengawalnya rata-rata memiliki penyakit di tubuhnya, yang mana para pengawal itu sama sekali tidak menyadarinya.


"Ini luar biasa sekali. Sepertinya inilah hikmah dari musibah yang menimpa istri dan keluargaku."


Haris membatin melihat semua kenyataan yang ditunjukkan dihadapan matanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2