
"Ah akhirnya, segala sesuatunya telah selesai memang sih ini bukan sesuatu hal yang bisa membuat Abang merasa lelah, dengan kondisi tubuh seperti sekarang ini.
Tapi tetap saja rasanya jemu juga, duduk begitu diam di satu tempat seharian."
"Ya tidak apa-apa dong Bang, namanya juga kerabat dan kolega serta orang-orang kita jugakan lumayan banyak.
Jadi ya begitulah Bang, konsekuensinya."
"Iya kamu benar Dek Diana, pada akhirnya sih Abang juga berpikir begitu.
Tapi yang namanya jemu, ya tetap saja jemu Dek."
"Sudah Abang tidak perlu merasa risau, benar memang itu adalah bagian terjemunya.
Tapi setelahnya kan ada bahagian manisnya, setelah ini ada wanita yang begitu cantik dan manis serta lembut penuh kasih, yang akan menemani Abang setiap waktu.
Betul tidak dek Kirana."
"Ya betul Kak, sebulan kedepan adalah hari-hari yang bergelora dan penuh bara api cinta yang membara..ha..ha..hah.
Segala keluh kesah satu harian penuh ini, akan terobati dengan rutinitas manis berupa kesibukan yang akan begitu banyak menyita waktu nantinya..ehemmm."
"Ha..ha..hah...!
Bisa saja kamu dek Kirana, tuh dek Shasmita sampai malu-malu lho.
Bagaimanapun kita harus memberi waktu kepada dek Shasmita untuk menikmati indahnya hidup yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."
"Iya kak, tapi kita bakalan puasa dong. Aduh, mana waktu satu bulan itu waktu yang lama lagi."
"Ha..ha..hah, jangan khawatir dek Kirana. Kalau memang sudah terlalu ingin dan tak bisa di kontrol lagi, kita masih bisa mencuri-curi waktu selagi ratu tidur atau saat punya kesibukan lain, nantinya tentu juga masih bisa bukan.?"
"He..he.. Kakak..wkwkwk."
"Sudahlah dek Kirana, kita sudah terlalu sering tertawanya, nanti orang-orang pada heran lagi dikira ada apa..?
Abang bawalah dek Shasmita ke kamar pengantin..!
Oh ya dek Kirana, ranjang pengantin sudah ditaburi bungakan..?"
"Sudah dong kak, ruangan juga sudah di penuhi aroma parfum yang menggairahkan haha.
Ayo dek Shasmita, jangan malu-malu, paling juga nanti bakalan ketagihan..ha..ha"
Diana dan Kirana terus saja menggoda madu mereka yakni dokter Shasmita, yang sudah merasa ingin menyembunyikan wajahnya ke dasar bumi, karena begitu malunya dengan candaan dari kedua istri Haris sebelumnya yang tidak biasanya bicara begitu vulgar itu.
Haris pun tersenyum dan membiarkan ketiga istrinya itu saling berinteraksi dan bersenda gurau sesama mereka untuk beberapa waktu. Setelah segala sesuatu tentang perbualan mereka selesai, Haris lalu mengajak Shasmita untuk pergi ke kamar pengantin mereka untuk beristirahat.
"Wah benar-benar harum memang ruangan ini dek Shasmita, berbeda dari biasanya.
ranjang ini juga penuh taburan bunga.
Hmmm... betapa besar hati kedua istriku itu."
Haris segera melepaskan pakaian pengantin, yang membuatnya cukup merasa terhalang untuk bergerak bebas dan segera memakai pakaian sehari-hari seperti biasanya.
Tampak Shasmita di pinggir tempat tidur begitu pucat dan berkeringat dingin, tidak tahu harus berbuat apa.
"Hei dek Shasmita kenapa diam disitu.?
Apa Adek tidak akan mengganti pakaian.? Susah lho bergerak dengan pakaian pengantin itu, terasa kaku gerak kita dan terbatas."
"Iya Bang, Shasmita akan mengganti baju sebentar." Shasmita beranjak dari tempat dimana tadinya dia duduk, lalu pergi ke area tersembunyi dari ruangan itu untuk berganti baju.
Haris tersenyum dan membiarkan saja istrinya agar merasa nyaman.
"Sudah selesai dek ganti bajunya.? Ayo sini duduk di dekat Abang, kita bercerita berbagai hal."
Shasmita yang mendengar ucapan Haris segera datang, dengan badan yang masih berkeringat dingin.
"Astaga, Adek sakit ya.? Kenapa tubuhnya terasa begitu dingin begini dan sedikit bergetar lagi..!"
"Tidak. Shasmita baik-baik saja kok Bang, hmmm mungkin hanya sedikit gugup, tidak biasanya berduaan dengan laki-laki."
"Oalah gugup kenapa..? Hmm.. Adek takut ya.? Kita kan sudah menikah kenapa mesti takut..? Dan lagi kita juga tidak harus melakukannya lho kalqu kamu tidak mau, jadi jangan takut.
Sudah di sini saja berdekatan duduknya biar enak kita ceritanya."
Shasmita segera menurut dan duduk disisi Haris
"Nah begini kan enak, jadi tidak perlu terlalu kuat dan kencang bicaranya.
Oh ya Dek, mungkin besok Abang akan pergi ke kota P, untuk mengobati orang tua dari Jendral Gunawan.
Menurut Adek, Abang pulang kemari saja, atau menginap di hotel kita saja sementara selama pengobatan..?"
__ADS_1
"Terserah Abang saja, yang jelas Adek akan ikut kalau Abang berniat akan menginap di kota P."
"Oh begitu..? Ya sudah, kalau begitu kita menginap disana saja, sebab kemungkinan pengobatan orang tua Jenderal Gunawan itu, tidak bisa dilakukan hanya dengan sekali pengobatan saja.
Seharusnya paling tidak mesti dua atau bahkan tiga kali barangkali, mengingat keadaan usianya yang telah lanjut, ditambah lagi penyakitnya juga cukup akut.
Kerenanya sepertinya sangat tidak praktis juga sih, kalau kemudian Abang harus pulang balik dari Desa P ini ke kota P yang ada di sana. Kalau memang dek Shasmita mau, ya sudah kita agar lebih dekat dan lebih mudah dalam proses pengobatan orang tua Jenderal Gunawan, kita menginap di hotel kita yang ada di kota P saja.
Bagaimana ya Dek, rasanya sedih juga sih melihat Jenderal Gunawan kalau orang tuanya tidak bisa kita bantu sebisanya, sebab selama ini Jendral Gunawan juga cukup baik dan juga sudah banyak berbuat baik kepada kita."
" Iya. Apa yang Abang niatkan itu memang sudah sangat bagus. Kalau memang ternyata Abang bisa melakukan pengobatan yang sekiranya bisa menyembuhkan atau paling tidak meringankan penyakit orang tua Jenderal Gunawan, Kenapa tidak..? Lagi pula Shasmita juga cukup malu berada di sini sebab akan selalu digoda oleh kak Kirana dan juga Kak Diana."
"He..he..he Adek tidak harus mengambil hati soal itu, toh pada dasarnya mereka juga sayang kok sama dek Shasmita."
"Iya sih Bang, Adek tahu itu, tapi ya tetap saja Adek malu di awal-awalnya ini."
"Hmm.. ya sudahlah dek. Oh ya tampaknya hari belum memasuki suasana malam, sepertinya enak juga tuh kalau memandang kegiatan orang-orang dari balkon depan."
"Lho tadi katanya Abang sudah bosan dan jemu dengan keadaan di panggung pelamian itu, kok sekarang malah pengen melihat lagi..?"
"Ya sebenarnya Abang bosannya itu karena bercampur pakaiannya itu lho dek, yang membuat kaku rasanya nggak bebas gitu, kalau begini cuma pakai kaos sama celana potong, terus tidak jadi pusat perhatian seperti di panggung tadi ya nggak apa-apa sih.
Apalagi kita bisa pula sesuka hati mau posisi duduknya bagaimana bebas saja, kalau di balkon itu rasanya kan enak gitu tidak risih seperti di pelaminan, sambil melihat anggota satuan pengaman kita yang masih sedang berhibur diri di sana."
"Ya sudah, kalau memang begitu, Abang duluan saja pergi ke sana. Adek akan siapkan jus buah sebagai minuman kita, agar sambil duduk santai nanti kan lebih enak tuh kalau ada minuman dan juga beberapa cemilan barangkali sebagai pelengkap."
"Oke sepakat kalau begitu hehe. Jadi Abang pergi dulu nih..?"
"Iya Abang pergilah lebih dulu kesana."
Haris segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke balkon di tingkat atas, untuk beberapa saat Haris memantau dan melihat keadaan di sekitar villanya yang masih terlihat cukup sibuk.
Tak lama setelahnya Shasmita sudah datang dengan jus minuman dan cemilan yang dia bawa.
Satuan pengawal Haris masih berkumpul bersama, pada momen yang jarang mereka dapati, kecuali saat pertama kalinya mereka datang dahulu, saat masih berada dalam rombongan yang sama.
"Wah mereka semua tampak begitu bergembira, merayakan pesta itu sambil menyaksikan hiburan yang ditampilkan oleh artis yang sengaja didatangkan dari ibukota itu ya Bang.?"
"Tentu saja dek, momen-momen begini memang sangat jarang bisa mereka temui, apalagi pada hari-hari biasa mereka semua akan cukup sibuk berada di dalam pos kerjanya masing-masing, yang telah diatur tertib oleh Wilson.
Tentu mereka akan sangat menikmati pertemuan bersama saat seperti sekarang ini."
"Iya Adek juga melihatnya begitu bang. ini Bang jus buahnya sekalian sama beberapa cemilan berupa makanan ringan."
Hati Shasmita sangat berbunga, karena untuk pertama kalinya disaat mereka berdua, Haris memanggilnya dengan sebutan istri yang disertai kata sayang setelahnya.
Shasmita menjadi lebih santai, tidak merasa kaku dan juga gugup, seperti tadinya. Sikap Haris yang lembut dan juga cukup santai membuat dirinya merasa nyaman serta tidak lagi merasa tertekan dan terbebani oleh sesuatu hal, sehingga bisa lebih rileks menjalani keadaan.
"Bang..!"
"Ya."
"Abang tidak marah kan, karena Adek gugup tadinya.?"
"Ah tidak, kenapa istri Abang yang cantik ini merasa begitu.?"
"Terus terang saja Bang, sejak peristiwa kemarin saat ada pemuda mabuk yang hendak berniat jahat pada Adek, masih menyisakan goresan trauma pada hati Adek, ketika tiba-tiba berada dalam satu ruangan bersama laki-laki.
Tapi Adek sempat takut menjadi istri yang paling tidak berbakti dan tidak mendapat pandangan serta penilaian yang baik di hati Abang nantinya, padahal kegugupan tadi semata-mata karena trauma akan kejadian itu, yang kemudian menjadi seperti penyakit dalam diri Adek."
"Maafkan kalau Abang sempat membuat Adek menjadi takut dan teringat akan peristiwa tragis itu.
Seperti yang Abang sebutkan tadi kita tidak harus melakukannya kok."
Haris kemudian memeluk dengan lembut dan penuh kasih sayang wanita yang telah resmi menjadi istri ketiganya itu.
"Adek sudah merasa tenang dan nyaman serta tidak takut lagi kok Bang."
"Syukurlah, ayo dek diminum jus buahnya."
"Iya Bang."
Kedua orang pengantin baru itu, menghabiskan waktu mereka di balkon lantai atas Villanya, sambil melihat kepada keramaian orang yang masih beraktivitas di bawah, sambil sesekali bercerita tentang berbagai hal seputar dunia medis dan pengobatan.
Saat waktu maghrib tiba, keduanya kemudian masuk ke dalam ruangan dan melaksanakan sholat maghrib berjama'ah dan setelah selesai, untuk mengisi waktu antara Maghrib dan Isya, keduanya menonton televisi sambil bercerita tentang berbagai hal.
Pasangan pengantin baru itupun kemudian kembali melaksanakan sholat Isya setelah adzan selesai dikumandangkan.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai kewajiban sebagai hamba Allah dan juga makhluk ciptaan-Nya.
Apa Adek mau langsung tidur saja, beristirahat.? Sebab besok kita mungkin akan cukup cepat pergi ke kota P, untuk urusan pengobatan orang tua Jendral Gunawan itu."
Shasmita duduk dan memandangi wajah Haris suaminya begitu lekat dan tampak penuh tanda tanya.
"Lho kok Adek sepertinya kebingungan..? Ada apa dek.?"
__ADS_1
"Hmmm... Apakah Abang merasa Shasmita tidak cukup menarik sebagai seorang wanita.?"
"Eh.. Kok bertanya begitu dek..?"
"Apa Shasmita tidak cukup cantik di mata Abang, sehingga akan membiarkan Shasmita pergi tidur begitu saja dimalam pertama kita.?"
"Aduh..! Abang salah ngomong ya tadi..? Maaf ya sayang bukan begitu lho maksudnya, Abang tadinya kan hanya merasa kalau Adek masih merasa sedikit trauma, jadi kita tidak perlu memaksakan hal itu, apalagi tadi sore Adek sempat merasa gugup. Begitu lho dek."
"Adek tadikan sudah mengatakan kalau adek sudah merasa tenang dan juga nyaman serta tidak takut lagi sama Abang."
"Jadi begitu rupanya."
Haris kemudian menggendong istrinya dari sajadah dan membawanya ke Springbed mereka dan dengan lembut mencumbui istri sahnya itu dengan manja dan penuh kasih sayang.
Saat Haris makin serius dan intensif, Shasmita masih menyempatkan diri bercanda dengan bertanya seolah tidak tahu apa-apa.
"Abang mau apa.?"
"Mau mendekati istriku dong.
Siapa suruh tadi dia menggodaku dan menggiring aku sehingga menjadi nakal begini."
Haris tersenyum dan menunjukkan raut wajah nakal, lalu menerkam Shasmita yang tertawa geli karena tubuhnya di gelitik oleh Haris.
Selanjutnya untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Shasmita kini merasakan indahnya surga dunia.
Dia merasa benar sekali apa yang Kirana sebutkan sebelumnya, Shasmita mulai candu dengan kegiatan itu.
Setelah melakukannya untuk waktu yang lama, Shasmita merasa ingin sudahan dari kegiatannya.
"Bang, sudah dulu ya. Shasmita sudah capek lho Bang."
"Ya baiklah dek, istirahatlah sayang."
"Masih mau dicium keningnya."
Shasmita masih saja ingin diperlakukan dengan manja.
"Baiklah ratuku."
Haris mendaratkan kecupan di kening istrinya yang tampak sudah cukup kelelahan itu, meski demikian Haris masih beranjak dan mengangkat istrinya ke kamar mandi untuk membasuh diri terlebih dahulu lalu kembali ke tempat tidur dan menyelimuti tubuh lelah istrinya itu.
Haris juga kemudian menutup matanya hendak beristirahat.
Pagi pertama dalam kehidupan Shasmita sebagai istri Haris, telah tiba.
"Waduh aku bangun kesiangan, kemana Abang apa sudah pergi.?
Bang...! Bang..!"
"Ya, Abang disini dek, sudah bangun ya.?"
"Abang di Balkon ya..? Adek kira, Shasmita sudah di tinggal sendiri disini."
"He..he ada-ada saja, mana mungkin ditinggal. Abang tadinya hanya duduk-duduk saja di balkon ini, sambil memandang ke jalan desa menyaksikan warga desa yang sudah mulai pergi ke kebun maupun ke sawah serta tempat usahanya masing-masing.
Karena dek Shasmita belum bangun, meski tadinya kita sudah dipanggil untuk sarapan bersama, Abang jadinya tidak ikut sarapan pagi, tapi ya sudahlah itu sarapannya sudah disiapkan kok di meja untuk kita. Sebaiknya dek Shasmita mandi agar kita sarapan, untuk kemudian bersiap-siap pergi ke rumah Jenderal Gunawan, melakukan pengobatan terhadap orang tuanya.
Tadi Abang juga sudah menyampaikan pada anggota keluarga kita yang lainnya, tentang rencana kita yang akan pergi ke sana.
Papi dan Mami juga sudah tahu."
"Begitu ya Bang. Tunggu sebentar kalau begitu, Shasmita akan mandi agar kita sarapan bersama."
"Ya, mandilah dek."
Shasmita merasa sangat malu pada Haris, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia begitu terlelap dalam tidurnya, sampai tidak tahu apa-apa soal hari yang telah meninggi.
"Uhhh... Shasmita, apa yang kau lakukan.? Kenapa suamimu lebih dulu bagun dari dirimu, sehingga dia bahakn belum sarapan karenamu.
Shasmita begitu kesal dan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri, kenapa bangun kesiangan pada hari pertamanya, sehingga bahkan suaminya Haris belum sarapan karenanya. Dengan cepat-cepat dia bergegas mandi, lalu kemudian segera keluar dan mengganti pakaiannya dan setelahnya memanggil Haris, untuk sarapan pagi.
"Bang ayo kita sarapan..!"
"Maafkan Abang ya dek, mungkin Abang terlalu berlebihan sehingga Adek tidurnya sampai seperti orang pingsan begitu."
"Um.. Sebenanrnya tidak apa-apa sih Bang, justru Adek yang salah sampai-sampai Abang terlambat sarapan, Adek minta maaf ya Bang, entah kenapa rasanya tadi malam itu adalah tidur ternyenyak yang pernah Shasmita alami sepanjang yang Shasmita ingat dalam hidup ini."
"Syukurlah kalau begitu, itu sebabnya Abang tadi tidak membangunkan Adek ketika anggota keluarga kita sudah bersiap-siap untuk sarapan. Ya sudah mari kita sarapan dek, agar keluarga Jenderal Gunawan tidak terlalu lama menunggu kita.
Tadi Abang juga sudah mengabari Jenderal Gunawan soalnya, kalau hari ini kita akan datang."
"Iya Bang."
keduanya lalu menyantap hidangan lezat penuh gizi yang tersedia di atas meja lengkap dengan aneka buahnya. Setelahnya keduanya bergegas serta berpamitan untuk pergi pada semua anggota keluarga mereka di Villa itu.
__ADS_1