
Berselang beberapa saat polisi yang memang mendapat pengaduan dari pihak lawyer Haris segera bertindak cepat.
Karena ancaman pembakaran lahan dan penyerangan dengan senjata tajam yang dilakukan oleh Erfan, mendorong pihak berwajib untuk segera bertindak, sehingga langsung meluncur ke TKP.
Rombongan Fauzan yang heran dengan adanya beberapa orang yang di tangkap warga itu, mendapat informasi tentang segala sesuatunya dari Very.
Setelah menanyakan keberadaan Haris pada Very yang menjaga mobil bersama Nando, Fauzan segera menemui Haris.
"Bang...!"
"Ya. Sudah datang kamu Fauzan...?
kamu pake terlambat lagi."
"Iya bang...!
Nando dan Very nggak ada cerita bang, kalau ban mobil orang Fauzan bocor...?"
"Ada sih. tapi aneh aja bocor ban kok sampai dua kali."
"Ha..ha..hah bannya sudah botak bang, jadi agak sensitif."
"Agak atau sangat Fauzan...?"
"Sebenarnya sih sangat bang he..he..he
Jadi bagaimana bang...?"
"Apanya yang bagaimana...?"
"Kebun inilah bang, ihh jadi takut Fauzan mau ngomong."
"Ya beginilah Fauzan.
Inilah kebun kita tadinya ada 600 hektar tapi dicaplok 100 hektar, tapi tenang saja semua sudah dalam pengurusan.
Ya sudah, kamu gabung sama Darman dan yang lainnya.
Coba kamu pelajarilah seperti apa situasi di kebun ini, kedepannya Darman akan jadi asisten di kebun ini, kamu sendiri akan menjadi stafnya di sini.
Kamu yang harus tahu segala hal permasalahan di sini nantinya, soal mandor dan krani biar abang yang mengatur dan menentukannya, mana orang-orang yang abang percaya.
Kamu jangan lupa Fauzan, jalin hubungan yang baik dengan mereka ya Fauzan."
"Iya Bang...!"
"Bagaimana enakkan dulu kebun yang kita urus itu cuman 2 hektar lalu dibakar sama orang, sekarang ada ±500 hektar bahkan ±600 nantinya, kalau sudah selesai diurus.
Jadi harusnya ini lebih Mantap lagi nih, gajimupun nanti akan semakin besar disini, cuma ya itu agak jauh sedikit di sini, jadi nanti kamu sediakan saja mess khusus untukmu, kalau lagi malas pulang ya udah nginep aja di sini."
"Iya Bang...!"
"Siap bang.
Mantap ini bang."
"Iya mantaplah nanti kalau makin lebar, bila perlu kita dirikan pabrik kelapa sawit (PKS) biar nggak pusing-pusing jual sawit jauh-jauh."
"Oh ya mantap kalilah itu bang, makin cocoklah itu."
"Iya makanya kamu yang bagus kerjanya Fauzan.
__ADS_1
Tadi abang sudah pesankan juga sama si Very atau Nando supaya mereka nanti belikan mobil untuk kamu sebagai kendaraanmu kemari.
Dari desa kita kemarikan lumayan jauh, kalau kamu pakai mobil yang kurang sehat, ya bakalan seperti tadi itu.
Selalu rusak di tengah jalan, bagaimana cocok nggak menurutmu Fauzan...?
Bila perlu nanti mobil kamu ban serapnya itu kita buat dua atau tiga...ha..ha
Jadi kalau terjadi kasus serupa dengan yang kau alami tadi, enggak begitu masalah lagi."
"Iya bang pokoknya apa yang abang bilang, Fauzan siaplah bang, ikut saja."
"Widiih... mantap bener..!
Okelah Fauzan kamu berbaurlah sama pekerja-pekerja kita itu.
Para permanen para pemuat, ya kamu banyak-banyak ceritalah sama mereka, banyak belajar juga.
Jangan segan untuk belajar, kamukan belum tahu apa-apa soal lokasi di sini dan kondisinya seperti apa...?"
"Iya bang! Siap bang.
Fauzan pamit pergi ya bang...!"
Oke Fauzan.
Tak lama kemudian polisi datang untuk menangkap Erfan dan beberapa temannya, yang memang sudah ditawan oleh beberapa warga desa, bahkan orang yang tadinya datang bersamanya untuk menyerang Haris, sebahagiannya juga ikut menangkap dan mengikat Erfan di tempat.
Masalah itu pun terselesaikan dengan tuntas dan Haris kemudian bisa menjadi lebih tenang.
Pada saat Haris hendak pergi mengunjungi beberapa desa yang ada di sekitar lokasi perkebunan sawitnya, telepon yang ada dalam genggamannya berbunyi.
[Panggilan dari pak Wira]
"Iya selamat siang pak Wira, ada kabar apa pak Wira...?"
Ini tuan ada undangan rapat umum pemegang saham (RUPS) bersama minggu depan, yang diedarkan oleh para petinggi Kaya dan jaya bersama group.
Rapat ini akan dipimpin oleh presiden komisaris, dan beberapa anggota dewan direksi dan juga para pemegang saham tuan.
Semua diharapkan supaya hadir, guna membahas komposisi persentase saham dan permasalahan tentang strategi, juga langkah kebijakan yang akan corporate kita ambil kedepannya tuan.
Apa tuan Haris bisa hadir kali ini tuan...?"
"Waduh saya mungkin tidak bisa hadir pak Wira, namun begitupun saya akan melimpahkan kuasa kepada perwakilan saya nantinya, yang akan hadir di sana.
Apakah pemegang saham yang lain juga akan datang pak Wira...?"
"Oh jadi begini tuan Haris,
semua para pemegang saham ataupun yang mewakilinya juga sudah menyatakan kesediaannya untuk datang.
Pembahasan kali ini juga akan menyikapi hasil keputusan rapat, pemegang saham yang dilaksanakan sebelumnya tuan."
"Baik kalau begitu nanti manajer saya yang bernama manager Hartono yang akan mewakili saya pak Wira."
"Baik tuan, akan saya sampaikan nanti kepada anggota dewan direksi yang hadir maupun teman teman dari dewan komisaris."
"Tapi terkait persentase komposisi saham yang bapak sampaikan, apa isi yang akan jadi pembahasan rapat kali ini, bapak dengar...?"
"Oh ini juga terkait permasalahan baru yang kita hadapi tuan."
__ADS_1
"Masalah apa itu pak Wira...?"
"Soal masalah strategi bisnis kita tuan.
Ada sekelompok pesaing baru kita berupa konsorsium baru, tepatnya konsorsium yang bernama konsorsium Dubai tuan.
Mereka sudah melakukan ekspansi bisnisnya dan mencoba menyaingi kita, tepat di basis bisnis milik kita tuan.
Konsorsium bisnis ini, telah mendirikan beberapa hotel, dengan standart yang lebih tinggi dari apa yang sudah kita terapkan tuan.
Pada rapat umum pemegang saham sebelumnya, para pemegang saham telah sepakat untuk menaikkan nilai investasi, sehingga nanti target aset kita akan meningkat dua kali lipat tuan, dari yang tadinya 10 triliun akan menjadi 20 triliun.
Tentu perubahan nilai aset itu otomatis akan memicu terjadi perubahan persentase saham dari tiap-tiap pemegang saham yang ada sekarang tuan.
Contohnya misal nilai aset kita nantinya, akan benar-benar menjadi 20 triliun, maka kalau tuan tidak ikut menambahkan nominal dana investasi tuan, maka nantinya persentase saham tuan tidak lagi menjadi 17% seperti dahulunya, karena naiknya nilai aset yang dimiliki tuan."
"Oh begitu ya pak Wira...?
Berarti kalau saya tidak menambah nominal dana investasi dan ternyata aset itu menjadi 20 triliun, maka 17% saham saya itu akan dibagi dua sehingga hanya tinggal 8,5% ya Pak Wira...?"
"Benar sekali tuan, dengan kata lain kalau tuan masih tetap ingin mempertahankan nilai saham tuan sebanyak 17%, maka tuan perlu menambahkan nominal dana investasi sebesar apa yang pernah tuan keluarkan sebelumnya, untuk bisa mendapatkan 17% saham itu tuan."
"Apakah saya boleh mundur saja pak Wira...?"
"Aduh tuan bagaimana ya tuan...? Padahal saya dan teman-teman dewan komisaris lainnya, sudah sangat berharap kalau justru tuan Harislah yang salah satunya menjadi pihak yang bisa memberikan suntikan dana, guna peningkatan nilai aset kita itu tuan.
Dan saya bahkan sudah berkoar-koar serta mengelu-elukan tuan Haris, kepada teman-teman dari dewan komisaris yang lainnya.
Saya ingat betul ucapan tuan Haris saat kita dulu bertemu, bahwa uang bukan apa-apa bagi tuan, itulah kenapa saya begitu berani mengucapkan itu kepada teman-teman dari dewan komisaris lainnya tuan.
Bagaimana ya tuan...?"
"Ha..ha..hah pak Wira ini mudah sekali panik, sebenarnya saya ini hanya bercanda.
Baiklah kalau begitu tolong bantu nanti perwakilan saya, untuk menaikkan nilai saham saya kalau bisa saya ingin mengambil 25% dari saham itu."
"Tuan benar-benar sudah membuat saya panik tuan Haris.
Kalau memang begitu siap tuan, saya akan usahakan nanti.
Namun memang tampaknya kalau untuk mengambil saham senilai yang tuan sebutkan itu, sepertinya bukan hal yang sulit tuan, sebab pada prinsipnya sebagian besar para pemegang saham kita saat ini, justru lebih siap untuk mengurangi nilai persentase sahamnya daripada harus menambah dana nominal investasi mereka tuan."
"Baiklah aman kalau begitu pak Wira.
Terima kasih ya pak Wira atas informasinya..!"
"Baik tuan Haris saya yang mengucapkan terima kasih kepada tuan, karena tuan sudah bersedia menjaga muka saya di depan teman-teman dewan komisaris lainnya.
Tuan memang adalah idola saya tuan...!"
"Pak Wira ada ada saja...Ha..ha..ha..!
Baiklah pak Wira, karena saya masih ada urusan lain, pembicaraan ini kita sudahi sampai di sini ya pak, saya tutup ya pak Wira..!"
"Baik tuan siap tuan. Selamat siang tuan...!"
"Oke selamat siang kembali pak Wira."
[Panggilan berakhir]
Selesai melakukan panggilan, Haris kemudian memanggil Darman dan beberapa rombongan yang datang bersamanya, untuk makan siang bersama.
__ADS_1
Begitu juga Fauzan dan Samsul yang memang membawa bekal makan siang, mereka ikut makan bersama dengan Haris, sementara Erfan telah diringkus dan dibawa oleh pihak yang berwajib, didampingi oleh tim lawyer dari Haris.
Haris tidak lupa juga memesankan pada tim lawyernya, untuk memperjuangkan kebun mereka yang telah dicaplok oleh Erfan dan dua temannya yang lain.