
Hari telah semakin gelap, malam akan datang menjelang, saat Haris dan para pengawalnya tiba di villanya yang berada di desa S.
Haris disambut hangat oleh kedua istrinya dan juga ayah dan ibu mertuanya, serta beberapa orang kerabatnya yang berkebetulan juga hadir di tempat itu.
Haris sudah seperti lampu, yang menjadi pusat perhatian laron dan orang-orang senantiasa berlomba, serta beradu untuk bisa dekat dengannya.
Haris kemudian berjalan menaiki tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada.
"Bagaimana rapatnya Bang.?"
"Ya lancar sih dek, semuanya bagus kok.
Pekerjaan mereka juga baik dan ya harus Abang akui Wilson benar-benar bisa diandalkan untuk mengatur dan menempatkan mereka semua pada unit-unit usaha milik kita.
Oh ya Dek Diana, nanti malam katanya Kak Butet sama Kak Yunita mau datang lho kemari, ya barangkali rindu juga dengan ayah dan ibu terus Nisa dan Imel juga rindu katanya sama adiknya si Nurul."
"Wah enak dong Bang. Berarti nanti malam kita ramai lagi bisa berkumpul disini.
Om sama bibi dan adik Nawir serta Juli, nggak Abang hubungi..?"
"Tadi sudah Abang pesankan kok sama Very untuk menjemput mereka, lagian juga abang tadi sudah memberikan ultimatum kepada Very supaya jangan main-main terhadap Juli.
Kalau memang serius dia harus tunjukkan keseriusannya, jangan plin-plan dan terkesan nggak bertanggung jawab begitu."
"Oh iya bagus itu Bang. Lagian Juli juga sudah semakin dewasa kok, baik umur maupun pemikirannya.
Sudah wajar juga dia berkeluarga Bang, biar Om dan Bibi nanti makin senang, apalagi kalau mereka itu cepat dapat momongan."
"Iya itu jugalah yang Abang pikirkan Dek. Terkadang kalau papa dan mama juga ayah dan ibu kita sedang berinteraksi dengan cucu-cucunya, Abang lihat ayah dan ibu angkat Abang, yang sudah seperti Ayah kandung itu tampak sekali sepertinya sudah ingin juga, memiliki cucu dari darah dagingnya sendiri.
Jadi kalau mereka nanti sudah punya cucu dari Juli, tentunya mereka juga akan bisa merasakan kebahagiaan yang sama."
"Wah ternyata diam-diam Abang juga memperhatikan semuanya ya Bang..?"
"Jelas dong. Abangkan perlu memperhatikan Bagaimana perasaan, kebutuhan dan juga suasana hati dari, ya semua orang-orang yang dekat dengan kita.
Bahkan setiap tempat dan lingkungan yang ada di sini, itu satu incinyapun tidak ada yang terlepas dari perhatian Abang."
"Iya, abang sih memang secara pikiran lebih tajam dan lebih kuat dari kami semua, kalau Diana bersengajapun memikirkannya malah tambah pusing nanti Bang, kalau banyak-banyak mikir he..he."
"Ya sudah jangan terlalu banyak mikir, dijalani saja
Hidup ini, kan sudah ada Abang yang memikirkan segala sesuatunya untuk Adek."
"Aduh terimakasih ya Bang, Adek dan juga Adek Kirana tentunya, merasa kalau kami berdua ini memang betul-betul sudah seperti menjadi ratu dalam kehidupan Abang.
Abang bisa memperhatikan semua apapun yang kami inginkan, apapun yang kami pikirkan dan apapun yang kami perlukan."
" Iya Bang, Kirana juga merasakan apa yang Kakak Diana sebutkan.
Kalau bagi Kirana sendiri, hal yang paling membuat Kirana tersentuh adalah, bagaimana Abang memperlakukan Papa dan Mama juga Ayah dan Ibu tentunya.
Dan tidak ketinggalan bahkan untuk kerabat kita semua."
Kirana ikut menimpali apa yang telah di ucapkan oleh Diana sebelumnya.
"Ya sudah kalau itu jangan dipikirkan Dek, itu memang sudah menjadi kewajiban Abang dan kalian tidak perlu berterima kasih untuk itu.
Oh ya, tadi ada kisah lucu Dek. Tadikan, Abang singgah ke rumah sakit kita, yang ada di kota P itu.
Niat Abang sih tadinya mau memantaulah, sudah seperti apa perkembangannya.
Lalu kami semua diajak oleh dokter Shasmita untuk berkeliling, ke beberapa kamar pasien di lantai 2, 3 dan juga 4. hanya di lantai 1 yang tidak kita kunjungi.
Rumah Sakit kita itu cukup bagus, modern, alat-alatnyapun cukup canggih, dibandingkan dengan rata-rata Rumah Sakit lainnya.
Bagian lucunya yang Abang rasa, jadi sewaktu hendak pulang tadi, entah kenapa pula mulut Abang ini tumben-tumbennya latah, mau bertanya sama dokter Shasmita 'dokter kenapa dokter tidak mau menikah..?'
Itu yang Abang tanya."
"Lalu dokter Shasmita bilang apa Bang..?"
"Lalu dr.Shasmita menjawab 'Bukannya tidak mau Tuan, tapi memang tidak ada yang mau dengan saya'.
Abang jawab dong.
Ya nggak mungkinlah dokter, tidak ada yang mau sama dokter yang cantik begini."
"Jadi apa jawab dokter selanjutnya Bang..?"
"Hehe tahu nggak apa yang terjadi selanjutnya..?
Masa Abang ditembak sama dokter Shasmita ha..ha..hah 'Kalau begitu apa Tuan mau jadi suami saya.?' katanya Dek."
"Ha..hah terus Abang bilang apa Bang.? Itu kode keras itu Bang."
"Oalah Dek..Dek.
Kalian berdua ini sama saja ya sama dokter Shasmita, apa ada istri orang lain diluar sana seperti kalian..? Bukannya cemburu juga hadeuuhhh."
"Wah jadi kepo, terus Bu dokternya bilang apa Bang..?"
"Bu dokternya bilang 'Nah tuh kan, kalau Tuan saja tidak mau sama saya, bagaimana bisa Tuan berpikir kalau akan ada lelaki yang mau sama saya' gitu katanya.
Jadi Abang serba salah jadinya, terakhir Abang cabut sajalah dari tempat itu, pamit sama dokter untuk pulang bersama yang lain, asem juga tuh bu dokter.
Abang sampai kikuk dan sedikit gugup tadi di depan Wilson dan yang lainnya. Mereka tertawa melihat Abang jadinya."
"Abang sih pakai nanya-nanya, memangnya Abang suka ya sama dokter, makanya Abang nanya.?"
"Ya nggak gitu juga sih Dek, namanya orang yang sudah lama bekerja dengan kita, mulai dari klinik yang di samping Hotel dan ini Abang tugaskan pula dia menjalankan rumah sakit kita itu.
Ya kan wajar juga sih, Abang memperhatikannya. Apa bedanya sama anggota-anggota kita yang lainnya, kan Abang perhatikan juga.?
Tapi kalau jawabannya begitu, sekali lagi Abang tidak beranilah nanya-nanya ha..ha..ha."
"Bang. Seperti yang Kak Diana pernah katakan, kalau Abang mau sama dokter Shasmita, kita berdua setuju lho Bang kalau sama dokter Shasmita ya, tapi kalau sama yang lain tidak."
"Iya Bang, lamar saja Bang. Atau Diana yang nanya dulu sama dokter..?"
"Ah janganlah Dek, ada-ada saja, hah sudahlah Abang mau mandi dulu."
Haris lalu meninggalkan kedua istrinya yang masih duduk di sofa yang ada di ruangan luas milik mereka, dilantai atas.
Tanggapan kedua istrinya itu, tidak sesuai dengan ekspektasi Haris yang ingin di cemburui.
Istri Haris terus bercerita di tempat mereka duduk, membahas dokter Shasmita. Dari sofa tempat mereka duduk itu kedua istri Haris bisa memandang jauh ke depan, sebab ruangan untuk bersantai milik mereka yang mirip balkon itu, berdinding kaca sehingga transparan.
"Kamu benar Kirana, bakal ngizinin kalau suami kita misalnya akan mengambil dokter Shasmita menjadi istri ketiganya.?"
"Kenapa tidak Kak, kalau Kakak setuju, aku sendiri sejak dulu sudah suka akan sikapnya, dokter Shasmita itu orangnya baik.
Kirana kenal betul siapa bu dokter Kak, apa Kakak nggak memperhatikan bagaimana dokter cantik itu begitu baik dan tulus saat merawat kita selama ini, saat mengandung sampai melahirkan.?"
"Iya benar. Ibu dokter Shasmita memang baik Dek.
Tapi semuanya tergantung suami kita juga sih."
"Iya, yang jelas kalau Kirana terserah kakak saja. tapi pada prinsipnya Kirana dengan dokter itu, sudah merasa bukan seperti orang lain lagi."
"Ya kakak juga begitu, sudah seperti adik saja.
Tapi begitupun faktor utamanya sebenarnya, adalah karena memang stamina suami kita yang sudah sulit untuk kakak jinakkan hehe.
Kakak tidak mau, kalau suami kita merasa tersiksa karena kakak tidak mampu."
"Iya. Sepertinya memang harus ada satu lagi kak ha..hahh."
"Sttt... jangan kencang kencang ngomongnya."
"Lho kalian berdua masih di situ, sejak Abang tinggalkan tadi.?"
"Eh Abang sudah siap mandinya, cepat amat nggak seperti biasanya..?"
Diana dan Kirana begitu terkejut mendengar pertanyaan dari Haris, keduanya tidak menyangka kalau Haris akan keluar secepat itu dari kamar mandi.
Karena merasa malu akan apa yang barusan dia ucapkan, Kirana mengatakan bahwa dia hendak pergi mengambil sesuatu di bawah dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Diana sendiri segera mengambil baju untuk suaminya dan setelah Haris selesai memakai pakaiannya, keduanya turun kebawah untuk bertemu semua orang.
Setelah sampai di bawah, Kirana yang melihat kedatangan Haris dan juga Diana tersenyum-senyum sendiri, mengingat apa yang dia ucapkan terakhir kali bersama Diana.
Kirana cukup khawatir, kalau Haris sempat mendengar apa yang dia ucapkan.
"Nak Haris, kenapa Pak Slamet tidak dijemput kemari..?"
Ayah mertua Haris dari Kirana, yang sudah merasa sangat cocok dengan Pak Slamet, bertanya tentang ketidakhadiran Pak Slamet di sana."
"Oh iya Pa. Tadi Haris lupa. Nando coba kamu pergi sama siapa gitu, untuk menjemput Pak Slamet kemari, kamu sudah tahukan rumahnya.?"
"Sudah Bos."
"Ya sudah, kamu jemput kemari ya Nando.!"
"Siap Bos."
"Ya, pergilah"
Nando memanggil Riston dan juga Erik yang kebetulan berada dekat dengannya, untuk pergi menjemput Pak Slamet bersama keluarganya.
Riston dan Erikpun menyanggupi ajakan dari Nando, lalu mereka segera pergi bersama Nando.
"Oh ya Ris, tadi Abang dihubungi sama Pak Runggik katanya mau membangun tambak baru di samping tambak lama, tepatnya di seberang Parit pengairan sawah itu, apa benar semua lahan itu akan dibangun tambak lagi..?"
"Iya Bang, itu memang target kita sejak awal, agar supaya semua rumah tangga yang ada di desa ini, bisa menikmati hasil yang sama dengan yang lain yang telah lebih dahulu menerima bantuan kita.
Jadi secara bertahap, kita bangunlah usaha untuk semua.
Apalagi kalau sudah tersedia begitu lahannya."
"Ya kalau begitu besok Abang akan memesan semua bahan yang kita perlukan."
"Sepertinya kali ini juga memang Abang Roni sajalah yang bantu menangani itu. Bagaimana kesibukan Bang Roni di pabrik pengemasan dan pengalengan ikan.?
Semua lancarkan.?"
"Iya Ris, sama seperti biasa tidak ada kendala. Hanya saja barangkali memang, kita sudah perlu untuk merekrut tenaga baru, kita butuh karyawan-karyawan baru, karena Alhamdulillah belakangan ini pendapatan kapal juga semakin meningkat seiring bertambahnya kapal penangkap ikan yang kita miliki."
"Oh, kalau soal itu Abang atur sajalah bagaimana baiknya. Pengamanan di sana bagaimana, baguskan?
Apa ada yang coba-coba mengganggu.?"
"Tidak pernah ada lagi, hanya dulu saja di awal awal, ada beberapa orang datang mengatas namakan pemilik tanah ulayat dan segala macamlah.
Intinya ujung-ujungnya mereka minta uang juga, tapi setelah berhadapan dengan petugas pengamanan kita, sepertinya mereka sudah semakin enggan sekarang untuk datang."
"Syukurlah. Kalau ada masalah Bang Roni nggak perlu memikirkannya sendiri."
"Iya aman itu Ris."
"Lho kamu kenapa Dek Kirana kenapa..? Dari tadi Abang perhatikan kok senyum-senyum terus, ada apa sih.?"
Haris merasa heran dengan istrinya Kirana, yang sering tersenyum meski telah terus berusaha menutupinya dari orang lain.
"Eggak ada apa-apa kok Bang."
"Eggak ada apa-apa, tapi perasaan Abang lihat, senyum terus dari tadi.
Lagipula rasanya nggak ada yang lucu deh dari yang dibicarakan."
"Kirana cuma lagi ingat sesuatu yang lucu aja lho Bang, makanya senyum gitu."
"Oh kirain ada apa-apa."
Diana kemudian mencubit pelan kaki Kirana dan keduanya segera saling pandang dan sama-sama tersenyum.
Haris yang melihat kedua istrinya yang sepertinya memiliki cerita lucu yang hanya mereka berdua saja yang tahu itu, tidak lagi mempermasalahkan soal itu.
Keluarga Haris kemudian membicarakan tentang banyak hal, mulai dari urusan kerja sampai kepada hal yang sifatnya remeh-temeh.
Pak Slamet yang sudah tiba bersama Nando, segera bergabung bersama yang lainnya, kemudian membawakan beberapa cerita yang begitu menarik perhatian semua orang.
Tidak lama setelahnya, terdengar bunyi HP milik Haris, pertanda ada seseorang yang sedang memanggilnya.
"Ya halo selamat malam dokter, apa ada sesuatu yang ingin dokter sampaikan.?"
"Ya Abang, disini kami tadi menerima seorang pasien yang datang dalam keadaan kritis karena kecelakaan saat berkendara, kata orang yang mendampingi pasien dia keluarga pak Agus.
Katanya dia sangat kenal dengan Abang, dia sekarang sedang ada di ruangan Adek, berulangkali meminta tolong sebesar-besarnya, padahal kita sudah sampaikan akan berbuat yang terbaik.
Apa Abang bisa bantu, menenangkannya.? saat ini dia mendengar pembicaraan kita.
Selain itu apa Abang bisa menjemputku malam ini, aku ingin bermalam di rumah saja, kepalaku cukup pusing dan sulit untuk membawa kenderaan sendiri."
"Oh iya, Abang akan segera kesana."
Haris merasa heran dengan panggilan dokter Shasmita yang tiba-tiba berubah terhadapnya, tidak seperti biasanya dan dalam pembicaraan itu dokter Shasmita juga mengatakan kalau dia hendak bermalam di rumah Haris.
Haris menangkap ada sesuatu yang tidak beres, mungkin saja pria yang mengaku sebagai saudara dari Agus kepala polisi kota itu, sudah mengganggu atau mengusik perasaan dokter Shasmita, sehingga dia berbicara seperti itu.
Merasa ada hal yang tidak beres, Haris langsung memanggil Nando dan beberapa orang lainnya untuk ikut bersamanya, pergi ke Desa P.
Dengan mengendarai dua mobil Haris beserta yang lainnya, segera pergi ke desa P yang memang terbilang cukup dekat dari desa tempat Haris saat ini tinggal bersama anggota keluarganya yang lain.
Hanya dalam beberapa menit saja Haris telah tiba di lokasi Rumah Sakit miliknya dan segera pergi menuju lantai 2, Ke ruangan dokter Shasmita dan mendapati dokter Shasmita sudah di kelilingi oleh 5 pria yang tampak jaraknya cukup dekat dengan dirinya serta punya niat yang tidak baik.
"Selamat malam dokter."
Dokter Shasmita yang melihat kedatangan Haris, segera berlari mendatangi Haris dengan sedikit berlari dan memeluknya lalu menangis tersedu-sedu.
Haris tidak segera bertanya namun membiarkan dokter Shasmita, memeluknya.
Setelah merasa puas dan tenang, dokter Shasmita kemudian menceritakan peristiwa yang menimpanya.
"Mereka ini datang ke ruangan saya dalam keadaan mabuk, lalu pria yang mengaku sebagai saudara Pak Agus, memegangi tangan saya begitu keras dan hendak melecehkan saya Bang."
"Apa..?
Wajah Haris segera merah padam, tanpa meminta penjelasan dari 5 pria mabuk yang ada di ruangan itu.
Haris segera menghajar pria yang mengaku sebagai kerabat Agus kepala polisi kota.
"Kurang ajar kau jangankan kau, bila seandainya si Agus sendiripun yang berbuat begitu akan kuhancurkan."
Haris yang tidak ingin suasana dokter hati dokter Shasmita menjadi lebih buruk, kemudian membawa dr. Shasmita keluar dari ruangannya ke tempat lain.
Tanpa diperintah baik Riston dan yang lainnya segera menghajar 5 orang pria mabuk yang mencoba mengganggu dokter Shasmita di ruangannya itu.
Masing-masing dari pria itu mendapat bogem mentah dari anggota pengawal Haris.
"Apakah dokter ingin makan atau minum sesuatu.?"
"Tidak aku sedang tidak ingin makan dan minum sesuatu apapun saat ini, aku hanya ingin berada di rumah. Bisakah kita pergi sekarang..?"
"Oh baiklah. Kalau begitu ayo kita pergi, apakah kita akan menaiki mobil dokter atau mobil saya saja..?"
"Terserah Abang saja."
"Ya sudah kalau begitu kita pakai mobil dokter saja."
Haris segera mengambil handphonenya kemudian menghubungi Riston dan mengatakan akan pergi lebih dahulu ke Villa, Haris meminta Riston untuk segera melemparkan kelima orang itu dari sana dan menghubungi Agus kepala Polisi kota, supaya mengurus pria mabuk yang salah satunya merupakan kerabatnya itu.
"Ayo kita berangkat."
Haris segera meraih kunci dari dokter Shasmita, yang terus menempel padanya dengan tubuh yang gemetaran, kemudian menyalakan mobil dan pergi dari tempat itu saat itu juga.
Tidak lama kemudian bawahan Agus kepala Polisi kota segera datang dan meringkus 5 orang pria yang salah satunya adalah kerabatnya itu, kemudian menjebloskan kelima-limanya ke dalam penjara milik kepolisian
Agus sangat terkejut dan begitu marah mendapatkan kabar buruk lewat panggilan dari Riston, sehingga tanpa ragu dia langsung bergerak meringkus dan memenjarakan kelima orang pengacau itu, termasuk kerabatnya sendiri. Agus juga menyuruh bawahannya agar segera memproses hukum, kejahatan yang dilakukan oleh kelimanya.
Agus tidak main-main meski terhadap saudaranya sekalipun, dia tidak ingin hubungan baik yang terjalin antara dia dengan Haris rusak oleh peristiwa itu.
"Dasar brengsek, bisa-bisanya kau membawa-bawa namaku lalu berbuat kotor dan rendah serta menjijikkan seperti itu di luaran sana.
Apalagi sasaran perilaku burukmu itu adalah orang-orang yang berada dalam lingkaran Tuan Haris. Dasar brengsek.
__ADS_1
Apa kau ingin merusak namaku..? Sudah bosan hidup kau..?"
"Maaf om, Arlin tidak sengaja Om. Arlin terbawa pengaruh minuman Om."
"Om..om...om. Dasar brengsek, kamu jangan panggil aku Om sejak hari ini. Aku tidak punya kerabat nista seperti kau."
Agus segera keluar dari kurungan yang ada di markas kepolisian tempatnya bertugas, dalam keadaan penuh emosi.
Agus menunjukkan profesionalitas dan kesetiaan kawanan serta kesungguhannya kepada Haris.
Adapun Riston dan yang lainnya, sejak bawahan Agus datang dan meringkus kelima berandalan itu, mereka segera kembali menuju villa di desa S, menyusul Haris yang sudah pergi lebih dahulu.
Sesampainya di Villa Haris segera menuju kepada Diana dan Kirana, lalu menceritakan keadaan yang menimpa dokter Shasmita dengan berbisik pelan.
Diana dan Kirana begitu tersentak kemudian kedua istri Haris itu segera memeluk dokter Shasmita bergantian dan membawanya ke lantai atas untuk menenangkannya.
"Ada apa Ris..? Kenapa bu dokter kelihatan sangat terguncang begitu.?"
Ayah mertua Haris bertanya.
"Ada sesuatu hal yang buruk menimpa Dokter Ayah, makanya tadi Haris buru-buru cepat menyusul ke sana. Ada beberapa pria mabuk yang mengganggunya dan dia tidak sempat bisa minta tolong ke satpam yang ada di sana.
Setidaknya ada lima orang pria mabuk, yang semuanya posisinya itu sudah berkeliling mendekati dokter dan bermaksud berbuat buruk padanya."
"Aduh kasihan ya. Kurang ajar sekali orang-orang sekarang, makin tidak tahu aturan tidak tahu sopan santun, orang sebaik itupun mau diperlakukan begitu.
Di mana otaknya.?"
"Ya sudah ya Ayah, mungkin Haris tinggal dulu semuanya, Haris akan menyusul ke atas dulu."
"Pergilah susul ke atas, bantu tenangkan dokter."
Haris segera menaiki tangga dan menuju ke lantai atas. Setibanya di sana Haris melihat kalau keadaan dokter Shasmita sudah lebih tenang, dr. Shasmita berada di tengah-tengah kedua istri Haris yang sedang berusaha menenangkannya itu.
"Bagaimana keadaan Bu dokter..?"
"Adek dokter sudah lebih tenang sekarang Bang. sebaiknya dia tidak usah masuk kerja dulu beberapa hari ini Bang, biar urusannya di Rumah Sakit di urus oleh wakilnya saja."
"Ya Abang juga tadinya berpikir begitu."
Haris datang mendekat pada ketiganya.
"Tadi sewaktu berada di tangga, saya sudah di telepon oleh Pak Agus, beliau sudah meringkus kelimanya dan saat ini sudah meringkuk di ruang tahanan kepolisian menanti proses hukum.
Beliau juga titip salam meminta maaf sebesar-besarnya, mungkin besok akan datang menemui kita disini."
"Aku belum mau bertemu siapa-siapa yang berkaitan dengan pria itu Bang."
Setelah Haris mengatakan hal itu padanya, dokter yang tadinya sudah sempat tenang itu kembali tampak gelisah dan tertekan.
Dia memainkan jari jemarinya seperti orang yang kebingungan.
Melihat hal itu Haris yang merasa bersalah kemudian menggenggam jari dokter cantìk yang sangat manis itu.
Tanpa ragu dokter Shasmita kemudian memeluk tubuh Haris dengan badan yang kembali bergetar dan terisak menahan tangis.
"Maaf. Kalau dokter tidak berkenan dokter tidak perlu menemui Pak Agus."
"Iya dek Shasmita, jangan takut lagi ada kami semua disini."
Mendengar ucapan Diana, Shasmita melepas Haris dan berganti memeluk Diana.
Kirana kemudian memeluk Shasmita dari belakang, sehingga ketiganya berpelukan layaknya adik kakak yang saling menguatkan.
"Ya sudah, kalian bertiga bicara saja disini ya, Abang turun dulu kebawah."
Mendengar ucapan Haris, dokter Shasmita yang berada di pelukan kedua istrinya meraih tangan Haris dan menggenggamnya cukup erat.
"Abang jangan pergi dulu, disini saja bersama kita."
Diana mencegah Haris untuk pergi
"Ya. Kirana akan hubungi Papa untuk menjelaskannya."
"Tidak perlu mereka telah tahu kok, tadi sudah Abang sampaikan sewaktu akan kemari."
"Nah kalau begitu, kenapa Abang tergesa-gesa untuk turun ke bawah..? Di sini saja."
"Maksud Abang tadinyakan biar kalian bertiga bisa tenang bercerita."
Haris merasa cukup khawatir dengan dokter Shasmita yang terus menggenggam tangannya.
Diana meraih tangan Haris yang satunya lagi lalu meletakkannya di atas tangan dokter Shasmita yang sudah lebih dahulu dia genggam.
"Adik Shasmita, kalau kau berkenan, kami berdua dengan Kirana sudah sepakat untuk merestui kamu menjadi istri ketiga Abang."
Mendengar ucapan itu Haris terperanjat, sedangkan Kirana memegang pundak Shasmita yang melihat padanya dan mengangguk.
Shasmita langsung tersenyum dan memeluk Haris penuh cinta dan tidak lagi takut untuk dekat padanya.
Cukup lama Shasmita memeluk Haris dan merasa kalau Haris juga sudah ikut menjadi mlliknya dan merupakan bahagian terpenting dalam hidupnya.
Setelahnya, baik Diana maupun Kirana memeluk keduanya, lalu ketiga wanita itu tertawa bahagia sedangkan Haris bingung seorang diri dalam hatinya.
"Sudah ah pelukannya, duduk yuk."
Diana melepaskan pelukannya dan kembali duduk di sofa, di ikuti oleh Kirana dan juga Shasmita.
"Abang, pokoknya sudah diputuskan, Adek Shasmita ikut kita, Abang harus lamar dia."
"Iya Bang, Kak Diana benar, sudah di putuskan. Kamu maukan Shasmita..?"
Shasmita tertunduk malu dan mengangguk pelan, sedangkan Haris merasa bingung, mau protes dia khawatir Shasmita kembali terguncang akhirnya dia hanya bisa diam.
Diana segera menghubungi asisten rumah tangganya agar mengantarkan makanan untuk dokter Shasmita.
Sedangkan Kirana pergi untuk melihat putra putri kembarnya, bermaksud memberi kesempatan bagi Shasmita untuk bicara berdua dengan Haris.
"Bang. Aku belum kotorkan..? Mereka belum sempat berbuat apa-apa padaku selain menggenggam tanganku, apakah aku sudah tidak pantas lagi untukmu..?"
Dengan wajah sedih yang tampak putus asa Shasmita bicara pada Haris sambil menatap nanar wajah Haris membaca pikirannya, mencoba melihat apakah ada jejak penolakan dan rasa jijik padanya.
Haris yang paham pikiran dokter Shasmita kemudian memeluknya.
"Tidak. Siapa bilang aku jijik pada gadis cantik sepertimu, aku hanya berpikir ini tidak adil bagimu beroleh suami yang sudah punya dua istri.
Tidak usah terburu-buru, pikirkan saja terlebih dahulu pelan-pelan ya."
"Tidak ada istilah terburu-buru Bang, aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, aku malah sudah merasa terlambat jauh dari Kak Kirana dahulunya, yang lebih berani mengungkapkan perasaannya.
Sejak saat itupun aku sudah suka kepada Abang, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk memikirkannya sekarang.
Apa Abang sedikitpun tidak punya perasaan padaku..? Aku tidak ingin Abang melakukan semua ini hanya semata-mata karena kasihan."
Haris merasa terhimpit oleh dilema, satu sisi dia khawatir kalau dia sampai menunjukkan jejak penolakan, dokter Shasmita akan hancur perasaannya, sedangkan di sisi lain dia memang sangat mengagumi kecantikan wanita yang sudah jatuh dalam pelukannya itu.
"Hanya lelaki bodoh yang tidak suka padamu Dek, seperti yang Abang sebutkan apa ini adil bagimu..?"
"Adil. Sangat adil, bila Abang memang punya perasaan padaku."
Haris tidak bisa menjawab apa-apa lagi, mata wanita yang merupakan dokter yang merupakan kepala pimpinan di Rumah Sakit miliknya itu, terus memandang dan membaca pikirannya.
Haris meraih tubuh langsing gadis cantik yang penuh pesona, dengan pakaian putih yang masih menempel dibadannya itu kedalam pelukannya.
"Kenapa kamu masih memandangku dan mencoba untuk membaca pikiranku..? Apakah kamu tidak paham arti dari pelukan ini..?"
Mendengar pertanyaan Haris, Shasmita tersenyum manis dan membalas pelukan Haris dengan dekapan hangat penuh cinta.
"Duh masih pelukan terus dari tadi, ayo makan dulu, hidup selain butuh cinta juga butuh tenaga lho agar bisa kuat untuk bercinta."
Diana yang datang dengan membawa berbagai makanan, langsung membuat Shasmita melepaskan pelukannya.
"Ya makanlah dulu, aku akan ke bawah sebentar,
untuk mengurus sesuatu"
Shasmita akhirnya makan di temani oleh Diana dan juga Kirana yang sudah kembali bersama anak kembarnya.
__ADS_1