Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _144 : Rentetan Ucapan salam


__ADS_3

Para tamu terus silih berganti, datang memberikan ucapan selamat kepada Haris dan juga Istrinya dokter Shasmita yang dia nikahi hari itu dan juga kedua istrinya sebelumnya.


Perayaan pesta pernikahan kali ini didekasikan untuk ketiga istrinya itu. Ada cukup banyak hadiah-hadiah yang diberikan oleh kolega-kolega Haris, maupun teman sejawat dokter Shasmita dari barisan para dokter, tetapi khusus kepada karyawan maupun karyawati yang berada di semua unit usaha Haris dan keluarganya, dilarang untuk memberikan hadiah sebab dikhawatirkan hal itu justru akan memberatkan mereka.


Bagi mereka yang memang bisa dan berkesempatan untuk datang dan hadir, hanya diminta datang melenggang tanpa membawa apa-apa dan cukup sekedar memberikan do'a terbaiknya kepada kedua mempelai.


"Selamat ya bu dokter atas pernikahannya. Semoga bahagia selalu kedepannya."


"Ah terima kasih atas doa-doa baiknya Prof."


"Sesama kita tak perlu berterima kasih Bu Direktur, saya juga mengucapkan do'a yang sama buat Nyonya berdua.


Tapi terus terang saya cukup terkejut, melihat Nyonya berdua sudah sehat seperti sekarang ini.


Agaknya kita nanti harus bicara banyak soal rahasianya, karena ini juga berkaitan dengan kesembuhan orang banyak, terkhusus pasien-pasien yang telah lama kita tangani namun belum juga menunjukkan tanda-tanda kesembuhan."


"Oh kalau soal itu Prof Rizal nanti bisa berbicara langsung dengan suami kami, karena memang pengobatan terahir justru dilakukan oleh suami kami."


"Oh ya.? bukannya kemarin rencananya Tuan Haris akan mencari tabib.? Saya kok tidak tahu malah informasinya."


"Nah itu dia Prof, kami juga tadinya sangat terkejut mendapati fakta kalau kami ternyata belum mengenal begitu baik suami kami, sebab ternyata masih ada hal-hal yang tidak kami ketahui, ya contohnya seperti kenyataan kalau suami kami ini memang bisa melakukan pengobatan, dengan metode pengobatan alternatif."


"Wah benarkah demikian Tuan Haris.? Sepertinya kita harus bicara panjang lebar nantinya soal itu."


"Ya saya akan menjelaskannya secara detail dan menyeluruh kepada Profesor saat nanti saya punya waktu senggang."


"Ha..ha Terima kasih Tuan Haris, saya akan sangat menantikan hari itu, biar sudah tua begini saya juga masih saja sangat tertarik, atau bahkan dalam narasi yang lebih ekstrem boleh dibilang saya cukup tergila-gila, dengan hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan, apalagi yang hasilnya sangat cepat dan maksimal."


"Saya sangat paham itu Prof, karenanya saya berjanji akan membicarakan hal itu nantinya secara menyeluruh pada Anda.


Saya juga sama seperti istri saya, mengucapkan rasa terima kasih yang sangat besar kepada profesor, sudah meluangkan waktu untuk hadir mengunjungi apalagi memberikan do'a selamat kepada kami semua di sini."


"Itu sudah semestinya Tuan Haris dan itu bukanlah sesuatu yang besar. Baiklah saya akan turun karena sudah semakin banyak lagi orang-orang yang antri di belakang."


"Iya sekali lagi terima kasih Prof."


"Baiklah Tuan, kalau begitu sama-sama terimakasih. Saya tinggal dulu Tuan Haris dan Nyonya bertiga.


Mari Bapak dan Ibu semua."


"Silakan dokter..!"


Seluruh keluarga Haris yang duduk dan hadir di tempat itu, sama-sama merespon dengan hormat pada dokter tua, yang merupakan salah seorang dokter ahli yang juga merupakan seorang Profesor, yang bekerja di rumah sakit milik Haris di desa P itu.


Waktu terus berlalu tak terasa seluruh tamu-tamu yang cukup penting, telah datang dan juga memberi ucapan selamat pada Haris, selanjutnya giliran satuan pengaman Haris yang sejak awal mengatur antrian para pengunjung, satu persatu mulai ikut naik dan tak ingin ketinggalan mengucapkan selamat kepada Tuan mereka, yang sudah lebih tepat dikatakan sebagai anggota keluarga mereka itu."


"Selamat ya Tuan, atas pernikahan Tuan dengan Nyonya. Selamat juga kepada Nyonya bertiga, di hari yang baik ini saya hanya bisa memanjatkan do'a, mudah-mudahan kedepannya keluarga Tuan lebih sukses, berjaya dan lebih bahagia lebih aman serta nyaman tenang dan tentram di jauhkan oleh Tuhan dari segala mara bahaya."


"Terima kasih saudaraku Wilson. Terima kasih atas do'a baiknya, do'a baik yang yang sama, semoga saja terlimpah dan melimpah kepada kita semua, terkhusus pada Komandan Wilson dan juga keluarga.


Oh ya di mana nih istri komandannya dan juga anak-anak, kok tidak kelihatan.?"


"Oh mereka ada di bawah Tuan, ya tadi sudah saya ajak, tapi mereka merasa tidak pantas katanya untuk naik kemari Tuan.


Alasannya mereka melihat yang naik itu hanya orang-orang besar katanya."


"Wah mana bisa begitu. Tidak ada kata tidak pantas, kita ini keluarga kamu ini bagaimana sih Pak Wilson, apa hal ini tidak disampikan pada keluarga.?"


Haris segera meminta agar semua anggota keluarga Wilson, diajak naik ke atas panggung pelaminan mereka.


Segera saja petugas yang lain, yang merupakan pengawal wanita membawa istri dari Komandan satuan pengaman mereka, yakni Wilson dan membawa ketiga orang anaknya.


"Nah ini dia, nyonya kepala pengamanan kita, Nyonya Wilson yang bernama Ibu Wirda. Kenapa tidak ikut naik tadi bersama suaminya Bu Wirda.?"


"Saya merasa sungkan Tuan."


"Ah sungkan apanya.? Tidak boleh ada sungkan-sungkan, kita semua ini keluarga. Saya malah merasa seperti tidak dianggap sebagai keluarga kalau Bu Wirdanya yang merupakan Nyonya Wilson ini, justru tidak ikut hadir dan tampil kemari.


Lain kali kalau ada acara-acara keluarga begini, yang paling utama itu justru adalah kita baru yang lainnya. Jadi jangan pernah sungkan ya Bu Wirda..!"


"Iya Tuan dan Nyonya. Saya mengucapkan selamat, semoga pernikahan Tuan dan Nyonya sakinah mawadah warohmah, sehat selalu bahagia dan sejahtera buat Tuan dan nyonya kedepannya."


"Iya terima kasih doanya Mbak Wirda. Mbaknya juga kedepannya harus bahagia, senang, nyaman dan juga sejahtera.


Jangan sungkan-sungkan lagi seperti tadi hehe, terus apapun yang perlu dan juga yang mau di bicarakan sampaikan saja, anggap saja kami bertiga ini juga saudari perempuan kandung dari Mbak Wirda, bagaimana cocok..?"


Diana membalas ucapan dari Wirda yang merupakan istri dari Wilson, kepala satuan pengaman mereka, dengan penuh keakraban dan suasana kekeluargaan yang hangat.


"Terima kasih Nyonya sudah mau menganggap saya sebagai saudari kandung."


"Eh tidak ada kata nyonya lagi ke depannya. Mbak Wirda cukup panggil kita senagai adik atau saudari saja, terserah suami kita mereka mau panggil apa sesama mereka tapi yang jelas kita berempat sekarang adalah saudari.


Ayo kemari berpelukan..!"


Diana memeluk Wirda kemudian Kirana dan Shasmita juga secara bergantian melakukan hal yang sama.


"Ini lagi dua putri cantik putrinya Mama Wirda, mulai hari ini kalau ada apa-apa termasuk kebutuhan yang di inginkan maupun diperlukan, kalau mamanya belum mau memberinya, lapor ke Tante ya biar Tante nanti yang akan mengurus semuanya, paham.?"


"Paham Nyonya."


"Eitss.. Bukan Nyonya tapi Tante, ingat ya Tante.


Jadi siapa namanya nih, dua anak gadis Tante ini.?"


"Nama saya Armisha Tante. Saya Putri pertama dari Papa dan Mama."


"Hmm.. Nama yang cantik sekali Armisha, lalu yang kedua siapa namanya.?"


"Saya Arnisya Tante."

__ADS_1


"Wah cakep-cakep namanya, yang lajang siapa namanya Nak..?"


"Saya Kevin Revalino Tante."


"Hmm.. Anak lajang namanya juga keren. Baiklah, kalian bertiga dengarkan baik-baik, sejak hari ini, kami bertiga adalah Tante kalian, karena ibu kalian adalah saudari kami, oke..!


Jika ada masalah atau sesuatu yang ingin diceritakan atau bahkan dibutuhkan, atau apapun, putri-putri dan juga anak lajang Tante yang bertiga ini harus cerita ya, nggak boleh sungkan."


"Baik Tante."


"Iya Tente."


"Oke Tante."


" Bagus hehe, ayo salam Tante bertiga."


Putra dan putri Wilson begitu sangat senang, ketika mengetahui kalau mereka bertiga bahkan ibunya dan juga ayahnya ternyata sudah dianggap sebagai keluarga oleh Haris dan juga ketiga istrinya.


Selama ini mereka hanya tahu kalau Haris adalah majikan dari ayahnya, sebab Wilson sendiri sengaja tidak memberitahukan hal itu, dengan tujuan agar baik putra maupun putrinya tidak menjadi anak-anak yang manja.


Tetapi tetap saja hari ini fakta kalau Haris selalu menganggap orang-orang yang berada di lingkarannya sebagai keluarganya, sudah diketahui oleh para anggota keluarga dari seluruh satuan pengaman keluarga Haris.


"Wah Tuan kita keren ya teman-teman, senang rasanya bisa menjadi bahagian dari keluarga ini.


Lihatlah ada begitu banyak mata yang berkaca-kaca dan sangat bahagia dengan pengakuan Tuan Besar Haris dan keluarganya itu."


"Iya, siapa yang tidak tersentuh dengan hal ini, kita tahu seperti apa besarnya sosok Tuan, tapi beliau tidak merasa malu atau keberatan menganggap kita sebagai keluarganya, itu luar biasa lho teman-teman."


"Iya benar, saudara/i ku sekalian, lihatlah apa yang teman kita Nando, Very, Riston, Halim dan Amanu serta Erik terima.


Bukan cuma omong kosong belaka, tapi fakta."


"Ya itu benar dan Tuan juga sudah berjanji kita semua akan beroleh hal yang sama, asal sudah punya pasangannya.


Makanya siapa nih yang mau jadi pasanganku.? Agar kita bisa married dan honeymoon ke pulau Dewata...haha."


"Ah kamu ini bercandanya garing benar ya. Cari pasangan itu tidak begitu juga dong, harus ada penjajakan tentang bagaimana kecocokan pemikiran, serta sifat-sifatnya masing-masing."


Salah seorang pengawal wanita, menanggapi ocehan dari salah seorang pengawal pria yang barusan berbicara, yang mana mereka semua adalah merupakan pengawal terdekat Haris, yang berkebetulan bertugas pada area ring 1 di hari itu.


Setelah bicara cukup panjang lebar, bersenda gurau dalam suasana penuh canda tawa, Wilson dan istri serta kedua Putri dan seorang putranya, kemudian turun untuk bergantian dengan anggota satuan pengawal lainnya.


Begitulah kemudian satu persatu satuan pengawal keluarga Haris secara tertib dan teratur bergantian datang dan memberi ucapan selamat kepada majikan mereka itu, sampai semuanya mendapat gilirannya masing-masing.


Setelah semuanya selesai, Haris dan juga ketiga istrinya kemudian pergi dari panggung dan masuk ke dalam villanya. Acara berlanjut dengan hiburan berupa penampilan grup band ternama dari ibukota yang sengaja didatangkan untuk menghibur para pengunjung yang hadir di sana.


...***...


[Panggilan dari Rombongan Nando]


"Tuan..! Maaf kami terlambat datang, pesawat kami mengalami penundaan keberangkatan, selain itu sangat sulit untuk mendapatkan pesawat yang lain. Jadi saya tadi dihubungi oleh Pak Wilson, katanya semua teman-teman sudah mengucapkan selamat kepada Tuan, karenanya kami juga ingin menyampaikan ucapan selamat, walau melalui panggilan seperti ini.


"Tidak apa-apa Nando dan kalian semua yang ada di sana. Kalian baik-baik saja bukan.? Kenapa harus memaksakan diri untuk pulang.? Padahal kalian masih bisa berlibur untuk waktu yang lebih lama lagi."


"Ya, tidak begitu juga Tuan, seharusnya malah kami semestinya ada bersama yang lainnya disana pada momen bahagia itu, sebagaimana Tuan selalu ada dan selalu hadir pada setiap momen penting kami seperti sebelumnya."


"Sudahlah lupakan saja Nando, segala sesuatunya baik-baik saja kok di sini. Tidak ada ancaman yang berarti yang sampai bisa mengganggu jalannya prosesi acara ini.


Jadi kalian saat ini sudah berada di mana.?"


"Kami saat ini sudah berada di kota M tuan, tetapi masih harus menunggu untuk bisa berangkat menuju ke daerah kita, karena terbatasnya jumlah penerbangan dari kota M ini ke daerah kita Tuan."


"Ya sudah kalian santai saja di sana, tidak perlu tergesa-gesa. Semua baik-baik saja kok di sini dan selanjutnya nanti setelah sampai di sini kalian bisa melanjutkan masa liburan kalian ke kota S yang saya yakin lokasinya juga tidak kalah indah dari lokasi-lokasi yang ada di sana."


"Iya Tuan, terima kasih Tuan. Oh ya ini teman-teman juga ingin mengatakan langsung ucapan selamat mereka kepada Tuan."


"Ya berikanlah."


"Selamat ya Tuan, ini Erik Tuan. Selamat atas pernikahan Tuan.


Semoga tetap berada dalam keselamatan dan juga kebahagiaan Tuan"


"Ya selamat juga untukmu dan istrimu Erik.


Kalian juga bahagailah selalu kedepannya"


"Ini Riston Tuan. Saya minta maaf Tuan, selama ini saya selalu bersama Tuan, tapi di hari sangat penting ini saya dan teman yang lainnya, justru malah ditakdirkan jauh begini."


"Tidak apa-apa Riston, tidak apa-apa. Tidak usah dianggap sebagai masalah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu dan yang lainnya baik-baik saja kan di sana..?"


"Iya, saya baik-baik saja Tuan. Oh ya Tuan teman yang lain ingin bicara."


"Ya berikan saja HP-nya."


"Selamat ya Tuan semoga sakinah mawadah warohmah."


"Oh itu kamu Halim.? Bagaimana sudah lebih tenangkan sekarang setelah berumah tangga Halim.?"


"Iya Tuan, terima kasih ini semua juga berkat kebaikan Tuan.


Semoga Tuan selalu dalam lindungan Tuhan, makin sukses dan jaya serta bahagia kedepannya"


"He..he tidak perlu berterima kasih Halim. Itu sudah menjadi hak kamu dan kewajiban saya untuk membahagiakan kalian semua.


Aamiin untuk do'a terbaik mu Halim."


"Iya Tuan, saya akan berikan Hp ini pada teman yang lain Tuan."


"Ya..!"

__ADS_1


"Saya Amanu Tuan. Saya juga mau mengucapkan selamat Tuan, sekaligus mendo'akan agar keluarga Tuan selalu harmonis dan semakin bahagia penuh kasih sayang serta saling pengertian dan juga selalu dalam lindungan Tuhan."


"Ya terima kasih juga buatmu Amanu, do'a baik yang sama untuk kita semua."


Setelah beberapa orang pengawal pria milik Haris selesai berbicara, tiba saatnya telepon seluler itu diberikan pada pengawal wanita.


"Saya Puspa Bang, Puspa mengucapkan terima kasih sebelumnya atas segala kebaikan dan perhatian Abang. Tidak lupa saya berdo'a semoga Allah memberikan kesehatan, keselamatan, umur yang panjang kepada abangku, abang kami semua Tuan besar Haris."


"Ha..ha..ha Terima kasih ya Puspa, kamu baik banget lho Puspa."


"Maaf ya Bang, Puspa tidak bisa hadir di sana pada saat acara yang penting itu berlangsung.


"Hu..u...uu..u.."


[Suara tangisan]


"Kenapa kamu menangis.? Jangan menangis, jangan menangis dan jangan bersedih. Hari ini adalah hari bahagia buat kita semua ya. Abang maklum kok dengan keadaan kalian, jangan menangis lagi."


"Ya sudah ya Bang. Ini Wulan Bang, dia juga mau bicara."


"Ya berikan saja pada Wulan."


"Selamat ya Bang. Abang Haris, abang kami yang paling kami sayang dan juga kami hormati.


Maafkan kami semua adik-adik Abang ini, kami malah tidak hadir pada acara yang sangat sakral ini."


"Tidak apa-apa Wulan tidak apa-apa."


"Sehat-sehat kita semua ya Bang, semoga pernikahan Abang juga selamat, sejahtera, langgeng sampai ke anak cucu. Diberikan kemudahan, kemurahan rezeki dan juga keberkahan umur."


"Ya sama-sama Wulan. Do'a yang sama juga buat Wulan dan suaminya serta kita semuanya ya."


"Iya Bang. Ini Hanum juga mau bicara Bang."


"Oh ya mana si Hanum.?"


"Ini Hanum Bang. Hanum mau bilang dibanding Kak Puspa dan Kak Wulan mungkin Hanum yang paling jauh dari Abang, maaf kalau Hanum tidak bisa hadir.


Terima kasih atas segala perhatian dan kecukupan yang telah Abang berikan pada kami, terutama penghormatan dan penghargaan kepada orang tua kami. Mudah-mudahan Abang sehat selalu, murah rezeki panjang umur dan senantiasa berada dalam kebahagiaan dan juga keselamatan."


'Ya do'a yang sama juga untukmu Hanum, jangan merasa jauh. Walaupun jarak kalian saat ini ada ratusan km dari tempat kita ini. Percayalah di hati Abang sendiri, sama sekali tidak ada jarak kepada kalian, atau nol kilometer sama sekali."


"Iya Bang, terima kasih. Hanum jadi ingin menangis, mendengar suara Abang dari jauh begini."


'Tidak apa-apa, tidak apa-apa Hanum."


"Ini orang terakhir dek Juli juga mau bicara kepada Abang."


"Hmmm.si Juli, ya berikan saja padanya Hanum."


"Maaf Juli tidak ada di sana Bang, Juli merasa sangat berdosa tidak bisa datang pada saat yang tepat, maafkan Adik Abang yang kurang berbakti ini."


"He..he tidak apa-apa Juli. Kamu jangan terlalu bersedih, toh di sini juga ada ayah dan ibu kita tidak apa-apa ya Adek Abang. Bagaimana hari-harimu di sana.? Apa kamu bahagia.? Suasananya menyenangkankah di sana.?"


"Iya Bang semua suasananya menyenangkan disini, satu-satunya hal yang membuat kami tidak senang saat ini adalah, kami begitu jauh dari Abang."


"Ya sudahlah. Itu tidak usah lagi kalian pikirkan. Toh kalian juga sudah berada dalam perjalanan. Semoga selamat-selamat dan sehat semuanya.


ke depannya.


Abang berencana untuk membuka usaha di bidang penerbangan, sehingga nanti kedepannya kalau kemana-mana kita sudah punya pesawat sendiri yang tentunya akan memprioritaskan keperluan kita, sehingga kita tidak perlu susah-susah seperti yang kalian alami sekarang ini."


"Iya Abang. Begitu saja ya Bang, Juli tidak terlalu pandai merangkai kata. Tapi percayalah Juli akan selalu meminta kepada Tuhan meminta dengan do'a yang terbaik buat abangku, buat kakak dan buat keluarga kita semua."


"Aamiin... Terima kasih ya Adek Abang yang cantik. Oh ya dari tadi Abang belum mendengar suamimu yang berbicara, di mana dia.?"


"Ini Bang, tadi Adik Abang sangat takut untuk berbicara."


"Apa..? Sudah pergi sampai sejauh itu, sudah sampai keluar pulau tapi masih takut juga untuk bicara dengan Abang.?


Ayo kasih handphone nya sama dia, jangan dibiasakan takut-takut begitu.


"Iya Bang, ini Juli akan berikan HP-nya ke Bang Very."


"Halo Tuan ini Very Tuan."


"Sudah begitu lama dan bahkan setelah menjadi suami dari adikku, kau masih belum bisa memanggilku sebagai Abang iparmu.?"


"Maaf Tuan.. eh, Bang. Maaf Very tidak bisa hadir di sana, pada saat dimulainya acara itu. Kami semua terhalang di sini."


"Ya sudahlah itu sudah kalian ucapkan berkali-kali, yang penting kalian sehat, kalian bahagia dan selamat sampai tujuan serta tidak kekurangan sesuatu apapun.


Bagaimana suasana di sana Very.?"


"Suasananya di sini baik Bang, segala sesuatunya berjalan dengan baik-baik saja."


"Ya okelah, aku telah mendengar semua ucapan selamat dari kalian, aku ucapkan terima kasih dan juga aku berterima kasih atas do'a-do'a kalian semua, karena di sini juga sedang banyak orang dan masih banyak yang harus dilakukan, aku tidak bisa berlama-lama dalam panggilan ini.


Segeralah kalian pulang dengan selamat ya..!"


"Iya Tuan."


Secara serentak, lalu Very dan lainnya menjawab kata-kata dari Haris.


Akhirnya panggilan itupun diakhiri.


[Panggilan berakhir]


Pada saatnya Haris kemudian bisa berhenti dari mendengar ucapan rentetan salam yang dia dan istrinya terima hari ini, sejak dimulainya acara sampai kemudian Haris sudah sore.

__ADS_1


__ADS_2