
Tak lama berselang lalu makanan pun dihidangkan kepada semua orang.
Akhirnya mereka semua bisa makan, tidak hanya sekedar bisa menonton dua istri Haris dan juga istri Darman, yang makan dengan begitu lahapnya.
Menu makanan ini memang menjadi menu favorit dan istimewa, bagi setiap warga yang berasal dari daerah itu, sehingga ketika semua orang mendapatkan hidangan itu di mejanya, semua akan termotivasi untuk makan banyak, meski itu bagi mereka yang sebelumnya mengalami masalah pada selera makannya.
"Ayo makan Puspa, Wulan.
Riston, Halim dan Amanu ini namanya ikan jurung.
Biasanya makanan ini hanya akan ditemukan, pada acara pesta-pesta adat besar, kalaupun ada terhidang di rumah-rumah biasa.
Itu hanya karena salah seorang anggota keluarga itu punya hobi memancing atau menjala ikan di sungai.
Itupun biasanya yang dimasak itu adalah yang ukurannya kecil-kecil. Karena kalau sudah besar begini ukurannya, harganya cukup fantastis, jadi dirasa sayang untuk dimasak oleh yang mendapatkannya itu.
Mereka lebih tertarik untuk menjualnya, karena harganya yang mahal.
Jadi hari ini kita sedang menikmati makanan raja ini.
Ayo ditambuh selagi masih ada...hahah."
Baik Riston Amanu dan juga Halim yang baru datang dan duduk di mejanya mendapati hidangan itu, terkejut ketika mereka kembali dari sungai.
Mereka terkejut dengan semua orang yang sudah datang di sana dan juga penuturan mertua bos mereka.
"Wah begitu ya pak...?
Jadi ini menu spesial pak, menu luar biasa...?"
"Iya benar nak Riston ini memang menu luar biasa.
Mentahnya saja ikan ini, dengan ukuran seperti yang ada di meja bapak ini, harganya mendekati satu juta.
Nah berapa ekor nih buat kita semua...?
Entah bagaimana harganya kalau sudah masak dan terhidang begini, bapak tahunya ya menikmati sajalah.
Masalah bayarannya nanti biarlah bos kalian saja, yang berurusan sama pihak rumah makan ha...hah."
Ayah Nawir tersenyum melihat mimik wajah Riston dan Amanu serta Halim yang, terbengong dengan apa yang ayah Diana ucapkan.
"Sudah nak Riston nak Amanu dan nak Halim dimakan saja ikannya, kalau sudah terhidang begitu, kalaupun tidak dimakan tetap saja akan dibayar, makanya sayangkan kalau tidak dimakan...?
Jadi makan saja semuanya, dihisap kepalanya begini..sryyuuppp."
Ayah Nawir mencontohkan kepada Riston Amanu dan Halim yang masih terbengong di tempat duduknya.
Mereka yang tadinya meminggir mencari meja di sudut dan bergabung di dekat kelompok Puspa dan Wulan lalu mulai menikmati makanan mereka.
Semua orang dengan 'khusuk' menikmati makanan lezat, yang terasa teramat lezat di lidah mereka itu, dengan penuh kesyukuran.
Setelah orang-orang sudah selesai makan, maka mulai terjadi pembicaraan antara sesama mereka.
"Kalian dari mana sebelumnya nak Haris, kok bisa ada di sini...?"
"Kami pulang meninjau kebun sawit kita, yang baru di beli itu yah."
"Kamu baru beli kebun sawit?
Berapa hektar..?"
"Lima ratus hektarlah yah kurang lebihnya."
"Wah kamu beli kebun lagi seluas 500 hektar...?"
"Iya begitulah yah, mau sekalian investasi tanah.
Tapi Haris juga mau buat usaha kecil-kecilan di sana yah, pabrik pengalengan beberapa jenis ikan, untuk produk ekspor ke luar negeri.
Tapi baru rencana sih yah.
Masih harus menghubungi beberapa pihak lagi, Haris juga baru saja tadi instruksikan ke ke anggota Haris untuk kepentingan itu, tadi sebelum bapak datang, lewat SMS.
Sekarang mereka sedang menjejaki untuk mengurus semua itu mulai dari mengurus izin lalu mencari orang yang ahli merancang segala sesuatu yang diperlukan dalam pembangunan pabrik, dan dermaga.
Juga yang paling penting tentunya adalah, mencari jalur penampungan atau konsumen dari produk yang akan kita hasilkan nanti, baik di dalam lebih-lebih lagi di luar negeri.
Jadi memang masih bertahaplah yah."
"Bagus nak itu sangat bagus.
__ADS_1
Tapi bapak minta bantulah nak Haris abangmu si Beni tiap hari, dia kudengar selalu mendorong dan meminta sama kakakmu si Butet, agar katanya ditanyakan kerja untuknya dari Haris.
Mau kerja dan kerja aja dia, udah capek jadi supir angkot katanya, mumpung kau adiknya lagi begini keadaannya, apa salahnya yakan bantu abangmu...?"
Beni yang merasa namanya terlibat dalam pembicaraan itu, merasa kurang nyaman dan terlihat merasa bersalah, saat matanya bertemu pandang dengan Haris yang melihatnya.
"Haris rasa Haris sudah membantu abang kok yah selama ini, dan Haris sudah anggap abang Beni kerja selama ini, sejak pertama kali Haris bilang beberapa minggu lalu.
Tiga hari ke depan malah akan gajian bersama Darman Very dan Nando.
Tapi kalau memang abang Beni pengen kerja yang sibuk, nggak apa apa udah cocok itu.
Rencana Haris bos Darman mau dibuat mengurus sawit yang ± 500 hektar lebih itu, lalu Nanti kalau udah sembuh si Jhon akan mengurusi dan mengatur kapal-kapal penangkap ikan yang 10 unit itu, karena bidang si Jhon adalah ikan.
Lalu nanti biar bang Beni yang mengurus usaha ekspedisi kita.
Kemudian untuk pabrik biarkan bang Roni nanti yang akan mengurusi pabrik pengalengan ikan.
Semua sudah dapat pekerjanya bukan...?
Biar Haris dan ayah serta bapak dan ibu berdua saja, yang nggak usah bekerja ha..ha.!"
"Jadi abangmu sudah kerja Ris..?
Malah sudah mau gajian beberapa hari ke depan...?"
"Iya sudahlah kak, sejak Haris bilang abang mulai sekarang kerja sama Haris, saat kejadian yang rumah kita terbakar itu.
Abangkan saat itu minta kerja, jadi Haris bilang ya sudah kerja sama Haris saja bang, nanti apa yang perlu ya abang antar ke mana gitu yakan...?
Sudah Haris bilang tempo hari begitu, cuma ya Haris tunggu-tunggu juga memang abang nggak datang, maunyakan ada nggak ada kerja, abang datang aja gitu, ikut aja sama Haris ke manapun pergi, sama seperti Darman dan Lainnya."
"Oalah inilah yang abangmu nggak tahu dek Haris."
"Kok begitu...?
Tapikan Haris sudah sebutkan dengan jelas saat itu, termasuk kemarin Haris bilangin abang supaya ngajarin si Nawir sama si Andre bawa mobil, nah itukan kerja...?
Lalu memangnya bekerja itu, harus seperti apa...?"
"Jadi berapa gaji abangmu Ris, ini yang mau datang ini...?"
"Ya berapalah itu kak...?
Ya samalah gaji kerjanya sama gaji bos Darman sama Nando juga Very 10 jutaanlah kak..!"
Jadi beberapa hari ini kakak bakal dapat 10 juta, sebagai gaji abangmu yang malah bingung nggak ada kerja itu Ris...?
Butet tertawa dengan kenyataan ini.
"Iya.
Kakak kenapa kok kayak wartawan nanyanya...? he..he..heh."
"Ya kakak enggak nyangka aja gitu-gitu aja kok 10 juta Ris...?"
"Iya bagaimana pula dengan Haris begini-begini aja, tapi uang terus masuk miliaran bahkan puluhan miliar tiap bulan dari perusahaan dan hotel kita...?
Ya memang beginilah nasib kita sekarang...?
Harus bagaimana rupanya kerja...?"
"Oalah abangmu enggak tahu dia itu Ris, yang begitu. "
"Tapi ya sudahlah kak, biar abang merasa serius sudah bekerja, nanti abang mengurus usaha ekspedisi kita saja.
Sambil belajar bagaimana caranya agar maju, jangan malu belajar pada mereka, anggota kita yang sudah lama disana.
Jadi pimpinan usaha ekspedisi kita nanti itu adalah abang, abang yang mengatur mana yang mau dibenahi mau ditambah rutekah..?
Tambah armadakah...? atau apalah yang perlu agar usaha itu maju.
Selain itu Haris nanti berencana kalau pengangkutan ikan yang sudah di kaleng itu juga di cover sama armada ekspedisi kita aja.
Termasuk nanti mengantar sawit-sawit kita itu, biar nanti itu juga masuk ke dalam urusan bang Beni aja yang menyediakan mobilnya gitu.
Jadi nanti bisnis kita itu akan berkumpul di sana, perkebunan pengalengan ikan lalu ada kapal penangkap itu dan juga ekspedisi, selanjutnya Haris juga bercita-cita mau bangun pabrik kelapa sawit (PKS) di situ, meski itu mungkin baru jangka panjang ya.
Intinya kita bangunlah kerajaan bisnis kita di sana.
Tenang saja nanti abang Beni sama bang Roni itu gaji awalnya 15 juta itu baru di awal-awal, seiring makin maju nantinya Perusahaan kita, bersamaan dengan makin banyaknya income, otomatis tentu naik juga nanti gajinya.
__ADS_1
Jadi nggak usah takut soal gaji, diam-diam aja dikasih 10 juta apalagi kerja gitu lho kak.
Pokoknya fokus aja bagaimana kinerja kita menjadi baik.
Bagaimana supaya keluarga kita ini, maju kedepannya.
Bagaimana agar orang-orang yang dekat dengan kita ini bisa maju dan bahagia itu saja cita-cita Haris, enggak muluk-muluk kok.
Jadi bapak, ayah dan juga ibu berdua serta papa sama mama yang kebetulan tidak ada bersama kita disini dan masih di kota K.
Abang juga adek Haris semuanya di sini, termasuk nih ya Puspa Wulan Riston sama Amanu juga Halim yang sudah Haris anggap sebagai keluarga, cita-cita saya itu supaya kalian semua bahagia tidak kurang apa apa."
Semua orang sangat terkejut dengan penuturan Haris dan merasa hangat di hati mereka, ternyata sampai seperti itu Haris memperhatikan mereka.
Para pelayan Haris, baik pria maupun wanita itu juga tidak menyangka, kalau beberapa hari kebersamaan mereka dengan tuan barunya ini, mereka sudah dianggap masuk ke dalam keluarga.
Pantas saja selama ini Haris selalu menawarkan fasilitas yang sama, seperti pada keluarga bagi mereka, bahkan mereka kini menjadi malu karena gaji mereka jauh sekali lebih tinggi di atas keluarga Haris.
Mereka mulai terpikir dan berencana nanti, untuk merevisi jumlah gaji yang akan mereka peroleh setiap bulannya.
Kini mereka malah beranggapan yang penting bagi mereka sekarang adalah terus bisa bekerja dengan Haris dan dianggap sebagai keluarganya walau gajinya lebih kecil, daripada gaji besar seperti saat sekarang, tapi dengan resiko bisa dilempar kapan saja jika tuan Haris tidak merasa puas dengan kinerja mereka.
"Tenang saja Haris dan kedua istri Haris juga masih bekerja kok, jadi jangan ada anggapan wah mereka enak enak aja, nggak kerja cuma kita yang kerja.
Tetap saja Haris sama adik Diana sama Kirana, kami akan mengurusi hotel.
Hotel kitakan saat ini juga lumayan banyak, sekarang ada 14 hotel dan kalau memungkinkan memang Haris juga masih kepingin nambah gitu, biar kemana kita jalan-jalan nantinya, kita punya tempat menginap nggak harus bayar lagi.
Bagaimana kira-kira bang Beni, mau nggak pekerjaan.yang aku bilang...?
Atau Bang Roni mau nggak?"
"Oh bang Roni pasti setuju dek Haris."
Yunita menyahut.
"Iya Abangmu juga pasti setuju itu."
Butet juga ikutan menyahut.
"Lho kok kakak berdua yang bilang setuju..?
Nanti abang merasa terpaksa pula kerjanya."
"Nggak kok Ris abangpun memang sudah setuju.
Mungkin ayah juga sering dengar omongan abang sama kakakmu, pengen nanya kerja nanya kerja.
Makanya tadi udah duluan disampaikan ayah sebenarnya abang sempat nggak nyaman juga tadi.
Mau abang tadikan kepinginnya kita berdua yang ngomong, tapi ya sudahlah bapak udah sampaikan udah lebih bagus lagi lah itu.
"Ya sudah kalau memang abang mau ya abanglah yang sejak saat ini menanganinya.
Besok mungkin Haris akan hubungi pihak kita, menyampaikan juga pada perwakilan kita di sana, agar abang langsung masuk dan bergabung menjadi pimpinan di sana.
Tapi untuk bang Roni ya mungkin kita harus menunggu lagilah bang sebulan ini karena pabriknyapun masih sedang akan diurus izinnya, tapi insya Allah bisa kok itu."
Roni yang tanpa usaha untuk bicara dengan Haris, juga tanpa sibuk meminta kepada Yunita istrinya, agar supaya dijadikan ikut bekerja dengan Haris, merasa bahagia karena dirinya sudah ditunjuk jadi kepala pabrik itu.
"Kalau misal abang Roni suntuk nggak ada kegiatan ikut saja sama bos Darman dan Fauzan serta yang lain ke kebun kita bang, wah pemandangan pantai disana luar biasa indah lho.
Untuk Nawir sama Andre kalian fokus mengurusi ayah dan ibu aja ya, tapi kalian juga harus siap kalau abang telepon kapanpun seperti tadi, saat datang kemari dan Kalian juga dihitung bekerja itu.
Nanti bulanannya akan ada."
Nawir dan Andre saling pandang dan tersenyum lebar, Haris benar-benar menjadi seperti malaikat penolong pada keluarga ini dan itu semua adalah berkat dari sistem canggih yang dia miliki.
"Jadi bos Darman mungkin aku besok nggak bisa ikut pergilah kembali ke kebun sawit kita, karena aku juga harus pergi besok ke kota P ini ada SMS masuk tadi, masih ingatkan bos Darman, abang tempat kita minum tempo hari...?"
"Abang siapa bos Haris..?"
"Abang Edi yang pernah kita janjikan kalau anaknya atau saudaranya yang mau bekerja, supaya datang itu lho bos Darman.
Jadi dia minta jumpa besok, nggak enak jugakan sudah janji kemarin, kamu juga tahulah tempatnya.
Nah dia minta jumpa, katanya anaknya paling besar itu sudah lulus kuliah mau kerja di hotel kita, jadi kami mungkin jadwalnya besok ke sanalah.
Bagaimana Amanu Riston dan Alim perlu ikut ke juga mengawal ke kebun kita sana....?"
"Ya sepertinya sih enggak harus jugalah bos Haris, sudahlah mereka biar kawal bos Haris saja, kami dan Fauzan juga Pak Samsul sudah bisalah kesana bersama."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, keputusan sudah diambil itulah jadwal rencana kegiatan kita besok."